Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Optimalisasi Penyuluhan dan Pelatihan Kesehatan Gigi Mulut Pada Remaja: Tinjauan Efektivitas dan Tantangannya Ariyani, Annisaa Putri; Budiman, Budiman; Sulistyowati, Indrani; Anggraini, Wita; Pratomo, Harris Gadih; Rospita, Fitrani; Lubis, Muhammad Novo Perwira; Amalia, Aurel Zahrein; Harissa, Adlina Putri; Suhardjo, Ranna Radhya Saadyandini
Abdimas Galuh Vol 7, No 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v7i2.20598

Abstract

Masalah gigi berlubang dan karang gigi merupakan masalah gigi mulut yang dapat ditemukan pada usia remaja. Akumulasi plak memicu proses demineralisasi dan menyebabkan terbentuknya gigi berlubang. Kandungan mineral dalam saliva memicu proses mineralisasi plak sehingga membentuk karang gigi. Menyikat gigi merupakan upaya pencegahan primer untuk mengurangi plak. Oleh karena itu, penyuluhan dan pelatihan kesehatan gigi mulut pada remaja berperan penting dalam meningkatkan kesadaran diri dalam memelihara kesehatan gigi mulut. Kegiatan ini bertujuan untuk meninjau efektivitas penyuluhan serta pelatihan kesehatan gigi mulut pada remaja. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan pada 23 Mei 2025 di SMKS Islam Bahagia, Kalianyar, Tambora, Jakarta Barat, DKJ Jakarta melibatkan 76 peserta usia remaja. Kegiatan meliputi penyuluhan terkait anatomi gigi dan masalah kesehatan gigi mulut, serta pelatihan menyikat gigi dengan baik. Evaluasi dilakukan melalui pretest-posttest untuk mengukur tingkat pengetahuan, serta observasi visual menggunakan disclosing solution untuk mengukur kemampuan diri dalam memelihara kebersihan gigi mulut dari plak. Terdapat peningkatan signifikan skor pengetahuan peserta setelah penyuluhan (median pretest 72,54 menjadi posttest 86,39; p<0,001). Visualisasi disclosing solution menunjukkan penurunan signifikan plak pada peserta dengan susunan gigi normal. Namun, peserta dengan gigi berjejal masih menunjukkan sisa plak yang menandakan keterbatasan efektivitas teknik menyikat gigi pada kondisi anatomi tertentu. Penyuluhan dan pelatihan memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan dan kemampuan menyikat gigi pada remaja. Namun, keberhasilan penyuluhan dan pelatihan kesehatan gigi mulut dipengaruhi oleh kondisi individual rongga mulut. Optimalisasi penyuluhan perlu mempertimbangkan pendekatan tambahan seperti edukasi penggunaan alat bantu kebersihan gigi dan evaluasi berkala menggunakan disclosing solution.
Pelatihan Deteksi Dini dan Pencegahan Kanker Mulut pada Kader Lansia Posbindu Harapan Bekasi Amtha, Rahmi; Hartanto, Firstine Kelsi; Sundjojo, Mikha; Ariyani, Annisaa i Putri; Yusra, Yohana; Dewi Kusuma, Riesta Paluvi; Tedja, Christian Henry; Herwanto, Tiffany; Winarto, Jessica Valerie; Natahnie, Fransiskus Arnold; Sudarmi, Elisabeth
Jurnal Abdimas Kesehatan (JAK) Vol. 6 No. 2 (2024): Juni
Publisher : Universitas Baiturrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36565/jak.v6i2.785

Abstract

Oral cancer is one of the malignancies whose numbers continue to increase every year throughout the world including Indonesia.  Oral cancer can be caused by multiple factors that are still unknown to many Indonesians. The WKRI Bekasi organization in collaboration with Pos Binaan Terpadu (PosBindu) Harapan Jaya has monitoring activities and early detection of risk factors for non-communicable diseases (including cancer) is a potential partner to become a cadre of education on how early detection, factors that trigger oral cancer and the role of oral hygiene in its prevention in the local community. The method chosen was counseling about oral cancer and training on how to carry out early detection in Posbindu elderly cadres. The aim is to increase the knowledge and ability of cadres to recognize abnormalities that have the potential to become oral cancer and be able to maintain oral health to prevent oral disease. The results of community service activities on cadres showed an increase in knowledge by 25 points (65%) and there was a significant difference between the level of knowledge of participants before and after training (p=0.000). In addition, cadres can demonstrate mouth-self-assessment very well and correctly under the direction of the educator team.  By training on oral cancer and how to perform oral self-examination on elderly cadres Posbindu Harapan Bekasi provides an opportunity for the community to be more aware of the development of oral cancer.
Stres Kerja Berhubungan dengan Keluhan Muskuloskeletal pada Dokter Gigi Syahril, Ririn Setiawati; Ariyani, Annisaa Putri; Indrawati, Ary; Lintuuran, Rivo Mario Warouw; Anggraini, Wita; Sulistyowati, Indrani; Then, Cheryl Vincenza
Journal of Integrated System Vol. 8 No. 1 (2025): Journal of Integrated System Vol. 8 No. 1 (June 2025)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jis.v8i1.9819

Abstract

Stres kerja yang dialami oleh dokter gigi merupakan salah satu akibat ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kemampuan diri, sehingga memicu menurunnya kondisi mental. Profesi dokter gigi menuntut ketelitian tingkat tinggi dan keterampilan dalam melakukan perawatan gigi. Durasi kerja yang panjang dan postur tubuh yang statis serta canggung, meningkatkan risiko terjadinya keluhan muskuloskeletal dengan keluhan pada struktur tubuh meliputi saraf, tendon, otot, sendi, ligamen, tulang dan sistem sirkulasi darah. Stres kerja berdampak pada keluhan muskuloskeletal melalui efeknya pada psikologis dengan mempengaruhi sistem saraf pusat dan perifer sehingga terjadi ketegangan otot yang meningkatkan risiko keluhan muskuloskeletal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat stress, bagian tubuh yang mengalami keluhan muskuloskeletal, dan hubungan antara keduanya pada dokter gigi. Populasi penelitian ini merupakan dokter gigi di salah satu provinsi di Indonesia. Sebanyak 27 dokter gigi telah memenuhi kriteria inklusi. Kuesioner stres kerja digunakan sebagai alat ukur dalam mengidentifikasi tingkat stres yang muncul akibat pekerjaan dan Nordic Body Map untuk keluhan muskuloskeletal pada bagian tubuh. Ditemukan sebanyak 63% responden mengalami tingkat stres kerja dengan kategori tinggi dan keluhan muskuloskeletal banyak dikeluhkan pada bagian lengan bawah bagian kanan, punggung, dan leher bagian bawah. Data dianalisis dengan uji korelasi Spearman dan diperoleh nilai p-value 0,001, terdapat hubungan antara stres kerja dan keluhan muskuloskeletal.
Dentist: Wrist Position, Handgrip Strength, and Body Mass Index Associated with Carpal Tunnel Syndrome in Daily Practice Ariyani, Annisaa Putri; Anggraini, Wita; Roeslan, Boedi Oetomo; Sulistyowati, Indrani
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 9 (2024): Volume 6 Nomor 9 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i9.15525

Abstract

ABSTRACT Carpal tunnel syndrome (CTS) is one of the most common musculoskeletal disorders affecting dentists and their ability to work. Prolonged work with repetitive flexion and extension of the wrist position and high force may increase the risk of CTS. Exposure to various individual factors (gender, age, work duration, work experience, body mass index), wrist position, and handgrip strength during daily practice may also trigger CTS. To determine whether individual factors, wrist position, and handgrip strength were associated with CTS incidence in dentists. A case-control study in the population of the epidemiological study area. Dentists practicing at the community health center in Tangerang, Banten, agreed to complete the informed consent form. The total population of this present study in the forty-four community health centers in Tangerang was sixty-seven participants. Two participants were excluded due to a history of arthritis and diabetes mellitus. Therefore, only sixty-five participants who met the inclusion criteria were included. The assessment included observation of wrist position, handgrip strength, body mass index, and individual questionnaires (gender, age, work duration, and work experience). The association between these variables and CTS was then analyzed using the chi-squared test. The distribution of CTS among dentists showed that eighteen participants complained of CTS, while forty-seven participants did not. In a case group, the majority of participants complaining of work-related CTS symptoms were female (94.40%). We found that CTS sufferers were over 35 years of age (61.10%), had more than 9 years of work experience (61.10%), and had less than 6 hours of work duration (61.60%). Whereas, 100% of the participants performed wrist position at risk for CTS, 77.80% had weak handgrip strength, and 50% were obese based on body mass index compared to the control group at 80.90%, 4.30%, and 2.10%, respectively. The Chi-square test showed a significant level of wrist position, handgrip strength, and BMI against CTS. CTS is a disease associated with a dentist's wrist position, handgrip strength, and body mass index during dental practice. Keywords: Dentist, Carpal Tunnel Syndrome, Wrist Position, Handgrip Strength, Body Mass Index