Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

LATIHAN NAFAS DALAM MENINGKATKANDAYA TAHAN MENYELAM DIVEMASTERDI PANTAI SEMAWANG, SANUR, DENPASAR Antonius Tri Wahyudi; Indah Pramita; I.G.A Putu Darmaja
Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) Vol 1 (2018): PROSIDING SINTESA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.045 KB)

Abstract

ABSTRAKMenyelam merupakan kegiatan yang dilakukan di bawah permukaan air yang dapat mempengaruhi struktur dan fungsi tubuh.Divemaster berisiko mengalami kelelahan secara umum akibat durasi menyelam. Kelelahan ditandai adanya nilai VO2 max dan nilai kapasitas vital paru dibawah normal, serta keterbatasan ekspansi sangkar toraks. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui latihan nafas dalam mampu meningkatkan daya tahan menyelam divemaster.Desain penelitian pre-ekspiremental dengan rancangan one group pre and post test design denganteknik pengambilan sampel non probability sampling. Sampel penelitian berjumlah 10 orang divemaster di pantai Semawang Sanur Denpasar. Berdasarkan hasil penelitian bahwa latihan nafas dalam mampu meningkatkan durasi menyelam secara bermakna dari 140 menit sampai dengan 160 menit, rerata selisih peningkatan durasi menyelam adalah 1,46 dengan nilai p=0,00 (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa latihan nafas dalam mampu meningkatkan daya tahan menyelam divemaster secara signifikan.Kata kunci: divemaster, daya tahan menyelam, sangkar toraks, latihan nafas dalamABSTRACTDiving is an activity under water that can affect the structure and function of the body. Dive mastesr at risk of fatigue in general due to the duration of diving. Fatigue marked the value of VO2 max and the value of vital capacity of the lung below normal, as well as limited expansion of the thoracic cage. The purpose of this research is to know the deep breathing exercise in able to increase dive master diving endurance. Pre-experimental research design with one group pre and post-test design with non-probability sampling technique. The sample amounted to 10 dive masters at Semawang Beach Sanur Denpasar. The results obtained were in deep breathing exercises and could increase the duration of the dive significantly from 140 minutes to 160 minutes,the mean difference of the increase in the duration of the dive was 1.46 with the value of p = 0.00 (p <0.05). Indicating that deep breathing exercise was able to significantly increase divemasters’ diving endurance.Keywords: divemaster, diving endurance, thoracic cage, deep breathing exercise
SHORT WAVE DIATHERMY DAN CORE STABILITY EXERCISE TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL PADA PASIEN NYERI PUNGGUNG BAWAH MIOGENIK Indah Pramita; Antonius Tri Wahyudi
Jurnal Kesehatan Terpadu Vol 2, No 2 (2018): JURNAL KESEHATAN TERPADU
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.605 KB)

Abstract

ABSTRAKNyeri Punggung Bawah banyak dijumpai di masyarakat dan merupakan salah satu penyebab kesakitan dankecacatan. Nyeri punggung bawah mengakibatkan penderita mengalami kesulitan beraktifitas dan melakukanpekerjaan sehari-hari. Latihan core muscle sangat penting bagi penderita nyeri pungung bawah, karenadengan adanya otot core yang kuat akan memungkinkan kerja yang optimal dari tulang belakang dan posturtubuh akan tetap terjaga. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat dan membuktikan pengaruhpemberian Short Wave Diathermy dan Core Stability Exercise terhadap peningkatan aktivitas fungsionalpada pasien nyeri punggung bawah miogenik. Rancangan penelitian ini bersifat pre eksperimental denganrancangan pretest and posttest design. Penelitian ini dilaksanakan di klinik swasta di denpasar. Dalampenelitian ini diberikan perlakukan 3x seminggu selama 2 minggu. Hasil uji statistik didapatkan, terjadipenurunan skor ODI dengan nilai p=0,001 dengan nilai selisih rerata ODI sebesar 28,86%. Dari hasilpenelitian ini dapat disimpulkan bahwa SWD dan Core Stability Exercise dapat meningkatkan aktivitasfungsional pasien nyeri punggung bawah miogenik.Kata kunci : core stability exercise, SWD, nyeri punggung bawah miogenik.ABSTRACTLow back pain is common in the community and is one of the causes of illness and disability. Low back paincauses the patient to experience difficulty in doing activities and daily work. Exercise core muscle is veryimportant for patient with low back pain, because with a strong core muscle will allow optimal work of thespine and posture will remain intact. This study was conducted with the aim to see and prove the effect ofShort Wave Diathermy and Core Stability Exercise on the increase of functional activity in patients with lowback myogenic. The design of this study is experimental with pre-test and post-test design. The study wasconducted at a clinic in denpasar. In this study treated 3 times a week for 2 weeks.The results of statisticaltest was obtained, occur of decreasing in ODI p = 0.001 and the difference mean value ODI as 28,86% .From the results of the research can be concluded that the core stability exercises increase the functionalactivity in patients with myogenic low back pain. The study is expected to be beneficial in patients withmyogenic low back pain to improving functional activity.Keywords: core stability exercise, SWD, myogenic low back pain.
LATIHAN BERJALAN PADA GARIS LURUS MENINGKATKAN KESEIMBANGAN PADA ANAK AUTISM SPECTRUM DISORDER (ASD) DI PUSAT LAYANAN AUTIS KOTA DENPASAR Ni Putu Mita Ardiasari; Indah Pramita; Antonius Tri Wahyudi
Jurnal Kesehatan Terpadu Vol 4, No 2 (2020): JURNAL KESEHATAN TERPADU
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.885 KB)

Abstract

Anak Autisme mengalami gangguan pada fungsi di otaknya, hal tersebut mengakibatkan terjadinya perlambatan perkembangan. Salah satu perkembangan yang mengalami permasalahan adalah keseimbangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian latihan berjalan pada garis lurus dalam meningkatkan keseimbangan pada anak autism spectrum disorder (ASD) umur 11–14 tahun. Penelitian ini berjenis quasi experimental dengan menggunakan desain one group pre post test. Dalam menentukan sampel digunakan teknik purposive sampling dengan total sampel 8 orang. Berdasarkan analisis data, didapatkan rerata hasil tes awal penelitian sebesar 26,25 dan tes akhir sebesar 55 dengan peningkatan 109,5%. Dilakukan uji pengaruh dengan uji t berpasangan didapatkan nilai p = 0,001. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian latihan berjalan pada garis lurus terbukti meningkatkan keseimbangan pada anak autism spectrum disorder (ASD). Kata Kunci : Latihan Berjalan pada Garis Lurus, Keseimbangan, Autism Spectrum Disorder (ASD)
Hubungan Keluhan Muskuloskeletal Terhadap Fleksibilitas Otot Lumbal Pada Petani Laki-laki Umur 55-65 Tahun di Desa Tibubiu, Kabupaten Tabanan Graselia Dona Pulek; Antonius Tri Wahyudi; I Gede Arya Sena
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol 1, No 2 (2022): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.519 KB)

Abstract

                                                 Abstrak Sikap membungkuk merupakan salah satu kegiatan yang dapat menimbulkan keluhan muskuloskeletal pada petani karena dilakukan dalam waktu yang lama dan berulang. Sikap membungkuk akan membuat otot berkontraksi dan menyebabkan timbul keluhan muskuloskeletal serta membuat otot menjadi kaku dan tegang yang dapat mengakibatkan penurunan fleksibilitas otot lumbal. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional tanpa memberikan perlakuan. Sampel penelitian berjumlah 23 orang yang didapat berdasarkan kriteria penelitian. Untuk menguji hipotesis, dilakukan uji korelasi spearman rank untuk mengetahui hubungan dua variabel dengan hasil signifikan yang diperoleh 0.000 dengan angka koefisien korelasi 0.762 yang berarti hubungan kedua variabel kuat dengan arah negatif yang artinya berlawanan arah. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara keluhan muskuloskeletal terhadap fleksibilitas otot lumbal.Kata kunci: Petani Laki-laki, Keluhan Muskuloskeletal, Fleksibilitas Otot Lumbal                                            Abstract Bowing is one of the activities that can cause musculoskeletal complaints to farmers because it is done for a long time and repeatedly. Bending posture causes muscle contractions and causes musculoskeletal complaints and stiffening muscles which can result in decreased flexibility of the lumbar muscles. This study is a quantitative study with cross sectional design without treatment. The study sample was 23 people obtained based on the research criteria. To test the hypothesis, a spearman rank correlation test was conducted to find the relationship of two variables with a significant result obtained by 0.000 with a correlation coefficient of 0.762 which means the relationship of the two variables is strong in a negative direction. Based on research results, it can be inferred that there is a link between musculoskeletal complaints and lumbar flexibility.Keywords: Male Farmer, Musculoskeletal Complaints, Lumbar Muscle Flexibility
Peningkatan Fleksibilitas dan Koordinasi Tangan Dengan Stretching Dinamis Pada Penabuh Gender Wayang di Sanggar Seni Kebo Iwa Ni Luh Putu Shinta Jayanti Adiparamitha; I Gede Arya Sena; Antonius Tri Wahyudi
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol 1, No 1 (2022): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.38 KB)

Abstract

AbstrakGender Wayang dimainkan dengan cara melakukan gerakan dominan fleksi dan ekstensi pergelangan tangan. Gerakan tersebut memerlukan fleksibilitas dan koordinasi yang baik, fleksibilitas merupakan keleluasaan atau kemudahan gerakan pada persendian pada saat melakukan aktivitas fisik tanpa ada hambatan apapun sedangkan koordinasi merupakan kerja sama antara sistem saraf pusat dengan otot untuk menghasilkan tenaga atau gerakan. Fleksibilitas pada saat memainkan Gender Wayang diperlukan untuk menjangkau nada-nada ke kanan dan ke kiri agar lebih mudah sehingga koordinasi tangan juga semakin bagus. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian One-Group Pre test-Post test Design. Sampel pada penelitian ini berjumlah 5 orang berjenis kelamin laki-laki dan berumur 12-16 tahun di Sanggar Seni Kebo Iwa. Latihan yang diberikan yaitu Stretching Dinamis selama 4 minggu dan diberikan setiap 2 hari. Pengukuran fleksibilitas pergelangan tangan menggunakan alat ukur Goniometer sedangkan untuk mengukur koordinasi tangan menggunakan alat ukur test Ball Warfen Und-fangen yang dilakukan sebelum diberikan latihan dan sesudah diberikan latihan. Penelitian ini melakukan uji normalitas dengan Shapiro Wilk Test dan didapatkan semua sampel berdistribusi normal, setelah itu dilakukan uji hipotesis dengan Paired Sampel t-test diperoleh nilai rata-rata (mean) pre test dan post test pada fleksi dekstra 11.000, fleksi sinistra -7.000, ekstensi dekstra 10.000 dan ekstensi sinistra -8.000. Setelah diberikan latihan peningkatan fleksibilitas pada fleksi dekstra 19.2%, fleksi sinistra 17.5%, ekstensi dekstra 23.9%, dan ekstensi sinistra 16.3% sedangkan peningkatan pada koordinasi yaitu 31.25%. Dari hipotesis penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Stretching Dinamis dapat meningkatkan fleksibilitas pergelangan tangan dan koordinasi tangan pada Penabuh Gender Wayang Bali di Sanggar Seni Kebo Iwa.Kata kunci: Gender Wayang, Fleksibilitas, Stretching Dinamis.AbstractGender Wayang is played by performing dominant movements of wrist flexion and extension. These movements require flexibility and good coordination, flexibility is the flexibility or ease of movement in the joints when doing physical activities without any obstacles, while coordination is the cooperation between the central nervous system and muscles to produce power or movement. Flexibility when playing Gender Wayang is needed to reach the notes to the right and left to make it easier so that hand coordination is also getting better. This study uses a research design of One-Group Pre-test-Post test Design. The sample in this study amounted to 5 people, male and aged 12-16 years at the Kebo Iwa Art Studio. The exercise given is Dynamic Stretching for 4 weeks and is given every 2 days. The measurement of wrist flexibility uses a Goniometer while measuring hand coordination uses the Ball Warfen Und-Fangen test which is carried out before being given exercise and after being given exercise. This study conducted a normality test using the Shapiro Wilk Test and all samples were normally distributed. After that, the hypothesis was tested using the Paired Sample t-test. The average value (mean) for pre-test and post-test was 11,000 in right flexion, -7,000 in left flexion, right extension 10,000 and left extension -8,000. After being given exercise, the increase in flexibility in right flexion is 19.2%, left flexion is 17.5%, right extension is 23.9%, and left extension is 16.3%, while the increase in coordination is 31.25%. From this research hypothesis, it can be concluded that Dynamic Stretching can improve wrist flexibility and hand coordination in Balinese Wayang Gender Players at the Kebo Iwa Art Studio.Keywords: Gender Wayang, Flexibility, Dynamic Stretching.
Peningkatan Fleksibilitas dan Koordinasi Tangan Dengan Stretching Dinamis Pada Penabuh Gender Wayang di Sanggar Seni Kebo Iwa Ni Luh Putu Shinta Jayanti Adiparamitha; I Gede Arya Sena; Antonius Tri Wahyudi
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 1 No. 1 (2022): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/js.v1i1.1958

Abstract

AbstrakGender Wayang dimainkan dengan cara melakukan gerakan dominan fleksi dan ekstensi pergelangan tangan. Gerakan tersebut memerlukan fleksibilitas dan koordinasi yang baik, fleksibilitas merupakan keleluasaan atau kemudahan gerakan pada persendian pada saat melakukan aktivitas fisik tanpa ada hambatan apapun sedangkan koordinasi merupakan kerja sama antara sistem saraf pusat dengan otot untuk menghasilkan tenaga atau gerakan. Fleksibilitas pada saat memainkan Gender Wayang diperlukan untuk menjangkau nada-nada ke kanan dan ke kiri agar lebih mudah sehingga koordinasi tangan juga semakin bagus. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian One-Group Pre test-Post test Design. Sampel pada penelitian ini berjumlah 5 orang berjenis kelamin laki-laki dan berumur 12-16 tahun di Sanggar Seni Kebo Iwa. Latihan yang diberikan yaitu Stretching Dinamis selama 4 minggu dan diberikan setiap 2 hari. Pengukuran fleksibilitas pergelangan tangan menggunakan alat ukur Goniometer sedangkan untuk mengukur koordinasi tangan menggunakan alat ukur test Ball Warfen Und-fangen yang dilakukan sebelum diberikan latihan dan sesudah diberikan latihan. Penelitian ini melakukan uji normalitas dengan Shapiro Wilk Test dan didapatkan semua sampel berdistribusi normal, setelah itu dilakukan uji hipotesis dengan Paired Sampel t-test diperoleh nilai rata-rata (mean) pre test dan post test pada fleksi dekstra 11.000, fleksi sinistra -7.000, ekstensi dekstra 10.000 dan ekstensi sinistra -8.000. Setelah diberikan latihan peningkatan fleksibilitas pada fleksi dekstra 19.2%, fleksi sinistra 17.5%, ekstensi dekstra 23.9%, dan ekstensi sinistra 16.3% sedangkan peningkatan pada koordinasi yaitu 31.25%. Dari hipotesis penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Stretching Dinamis dapat meningkatkan fleksibilitas pergelangan tangan dan koordinasi tangan pada Penabuh Gender Wayang Bali di Sanggar Seni Kebo Iwa.Kata kunci: Gender Wayang, Fleksibilitas, Stretching Dinamis.AbstractGender Wayang is played by performing dominant movements of wrist flexion and extension. These movements require flexibility and good coordination, flexibility is the flexibility or ease of movement in the joints when doing physical activities without any obstacles, while coordination is the cooperation between the central nervous system and muscles to produce power or movement. Flexibility when playing Gender Wayang is needed to reach the notes to the right and left to make it easier so that hand coordination is also getting better. This study uses a research design of One-Group Pre-test-Post test Design. The sample in this study amounted to 5 people, male and aged 12-16 years at the Kebo Iwa Art Studio. The exercise given is Dynamic Stretching for 4 weeks and is given every 2 days. The measurement of wrist flexibility uses a Goniometer while measuring hand coordination uses the Ball Warfen Und-Fangen test which is carried out before being given exercise and after being given exercise. This study conducted a normality test using the Shapiro Wilk Test and all samples were normally distributed. After that, the hypothesis was tested using the Paired Sample t-test. The average value (mean) for pre-test and post-test was 11,000 in right flexion, -7,000 in left flexion, right extension 10,000 and left extension -8,000. After being given exercise, the increase in flexibility in right flexion is 19.2%, left flexion is 17.5%, right extension is 23.9%, and left extension is 16.3%, while the increase in coordination is 31.25%. From this research hypothesis, it can be concluded that Dynamic Stretching can improve wrist flexibility and hand coordination in Balinese Wayang Gender Players at the Kebo Iwa Art Studio.Keywords: Gender Wayang, Flexibility, Dynamic Stretching.
Hubungan Keluhan Muskuloskeletal Terhadap Fleksibilitas Otot Lumbal Pada Petani Laki-laki Umur 55-65 Tahun di Desa Tibubiu, Kabupaten Tabanan Graselia Dona Pulek; Antonius Tri Wahyudi; I Gede Arya Sena
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 1 No. 2 (2022): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/js.v1i2.2324

Abstract

                                                 Abstrak Sikap membungkuk merupakan salah satu kegiatan yang dapat menimbulkan keluhan muskuloskeletal pada petani karena dilakukan dalam waktu yang lama dan berulang. Sikap membungkuk akan membuat otot berkontraksi dan menyebabkan timbul keluhan muskuloskeletal serta membuat otot menjadi kaku dan tegang yang dapat mengakibatkan penurunan fleksibilitas otot lumbal. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional tanpa memberikan perlakuan. Sampel penelitian berjumlah 23 orang yang didapat berdasarkan kriteria penelitian. Untuk menguji hipotesis, dilakukan uji korelasi spearman rank untuk mengetahui hubungan dua variabel dengan hasil signifikan yang diperoleh 0.000 dengan angka koefisien korelasi 0.762 yang berarti hubungan kedua variabel kuat dengan arah negatif yang artinya berlawanan arah. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara keluhan muskuloskeletal terhadap fleksibilitas otot lumbal.Kata kunci: Petani Laki-laki, Keluhan Muskuloskeletal, Fleksibilitas Otot Lumbal                                            Abstract Bowing is one of the activities that can cause musculoskeletal complaints to farmers because it is done for a long time and repeatedly. Bending posture causes muscle contractions and causes musculoskeletal complaints and stiffening muscles which can result in decreased flexibility of the lumbar muscles. This study is a quantitative study with cross sectional design without treatment. The study sample was 23 people obtained based on the research criteria. To test the hypothesis, a spearman rank correlation test was conducted to find the relationship of two variables with a significant result obtained by 0.000 with a correlation coefficient of 0.762 which means the relationship of the two variables is strong in a negative direction. Based on research results, it can be inferred that there is a link between musculoskeletal complaints and lumbar flexibility.Keywords: Male Farmer, Musculoskeletal Complaints, Lumbar Muscle Flexibility