Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Reframing Perilaku Penyalahgunaan Aset dalam Kacamata Fraud Triangle: Sebuah Studi Fenomenologis Ruri Octari Dinata; Tri Utami Lestari; Hilda Salman Said
Owner : Riset dan Jurnal Akuntansi Vol. 10 No. 2 (2026): Artikel Research April 2026
Publisher : Politeknik Ganesha Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33395/owner.v10i2.3180

Abstract

This study examines a case of asset misappropriation that occurred in a subsidiary of a state-owned enterprise in West Java by exploring behavioral factors as the basis of motives, the perpetrators’ modus operandi, and the resulting losses. A qualitative method with a phenomenological approach is employed to understand the phenomenon of asset misappropriation from the perspective of organizational actors’ lived experiences. This study was conducted in a subsidiary of a state-owned enterprise, referred to as PT Aman Sejahtera (pseudonym), employing interviews and observations within a phenomenological approach. This study contributes by extending fraud theory through a phenomenological lens that emphasizes behavioral memory and motivation as central mechanisms of asset misappropriation. The findings indicate that asset misappropriation at PT. Aman Sejahtera cannot be understood merely as a consequence of procedural weaknesses or deficiencies in internal control, but rather as a behavioral phenomenon shaped by cognitive processes, individual experiences, and motivations within the organization. Employees’ perceptions of deviant behavior are influenced by organizational culture, prior experiences, and social interactions, which subsequently shape judgment and decision-making processes involving ethical considerations, personal risk, and structural relations. Internalized experiences and knowledge form behavioral memories that may either normalize or prevent asset misappropriation, while individual motivation serves as a key link between knowledge and action. These findings emphasize that preventing asset misappropriation requires not only the strengthening of systems and procedures, but also the development of ethical awareness, a healthy organizational culture, and a more humanistic, behavior-oriented accounting approach.
PENGELOLAAN BANK SAMPAH DALAM RANGKA KEMANDIRIAN EKONOMI PONDOK PESANTREN MODERN ASSURUUR KABUPATEN BANDUNG Hilda Hilda; Ruri Octari Dinata; Tri Utami Lestari
Jurnal Pengabdian Masyarakat Ekonomi dan Bisnis Digital Vol. 1 No. 4 (2024): Desember
Publisher : Yayasan Nuraini Ibrahim Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70248/jpmebd.v1i4.1773

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan melalui penyuluhan dan sosialisasi kepada Pondok Pesantren Assuruur, yang bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai pengelolaan sampah melalui konsep bank sampah sebagai upaya pemberdayaan santri untuk meningkatkan kemandirian ekonomi. Tahapan kegiatan meliputi: (a) identifikasi kebutuhan terkait pengenalan bank sampah, (b) penyampaian edukasi berdasarkan keberhasilan Universitas Telkom sebagai kampus ramah lingkungan (green campus), (c) evaluasi dan tindak lanjut melalui penilaian proses dan hasil, serta (d) pembangunan kesadaran bagi pengelola pesantren dan santri untuk mengintegrasikan bank sampah dalam aktivitas sehari-hari. Hasil menunjukkan adanya peningkatan kesadaran santri terhadap pengelolaan sampah, munculnya ide-ide kreatif untuk memanfaatkan sampah sebagai peluang ekonomi, dan pendampingan dalam pengelolaan bank sampah di lingkungan pesantren. Kegiatan ini disambut positif oleh peserta, dengan 72% menyatakan "sangat setuju" bahwa materi dan pelaksanaan kegiatan relevan dengan kebutuhan mereka. Simpulan, bank sampah dapat menjadi solusi efektif dalam pengelolaan sampah di pesantren sekaligus menciptakan nilai ekonomis jika dikelola dengan baik. Kegiatan ini diharapkan berlanjut sebagai program pendampingan berkelanjutan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi pesantren melalui pengelolaan sampah berbasis 3R (reduce, reuse, recycle). Kata Kunci: Bank Sampah, Pengelolaan Sampah, Pesantren, Pemberdayaan Ekonomi, Pengabdian Masyarakat
PELATIHAN CANVA SEBAGAI MEDIA KREATIVITAS DAN AKUNTANSI PRIBADI Ruri Octari Dinata; RR Sri Saraswati; Hilda Salman Said
Jurnal Pengabdian Masyarakat Ekonomi dan Bisnis Digital Vol. 2 No. 4 (2025): Desember
Publisher : Yayasan Nuraini Ibrahim Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70248/jpmebd.v2i4.3445

Abstract

Karyawan di sektor layanan kesehatan sering kali menghadapi rutinitas kerja yang padat dan kurang memiliki akses terhadap program pengembangan diri di luar jam kerja. Di era digital saat ini, keterampilan desain grafis sederhana menjadi salah satu kompetensi yang semakin dibutuhkan, baik untuk keperluan profesional, komunikasi internal, maupun pengembangan usaha mandiri. Melalui program pengabdian masyarakat ini, tim dari Telkom University menyelenggarakan pelatihan penggunaan aplikasi Canva yaitu platform desain grafis berbasis daring yang mudah digunakan, bagi karyawan Klinik Utama Perisai Husada. Pelatihan ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan dasar dalam membuat materi visual seperti poster, infografis, dan konten media sosial secara mandiri. Selain meningkatkan kreativitas dan literasi digital, kegiatan ini juga mengintegrasikan unsur literasi akuntansi sederhana, yaitu penggunaan Canva untuk membuat template laporan kas masuk–kas keluar, infografis anggaran rumah tangga, serta poster edukasi keuangan. Dengan demikian, pelatihan ini tidak hanya melatih keterampilan desain visual, tetapi juga memperkuat kesadaran pencatatan keuangan pribadi karyawan. Berdasarkan masukan peserta, pelatihan penggunaan Canva memperoleh tanggapan yang sangat positif karena dinilai menarik, menyenangkan, dan bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan pembuatan konten visual. Hampir 98% peserta menyatakan bahwa pelatihan ini bermanfaat. Materi yang disampaikan dianggap relevan dan baik, meskipun peserta berharap penjelasan contoh konten serta langkah-langkah desain dapat disampaikan lebih rinci. Dari sisi pelaksanaan, mayoritas peserta menilai waktu kegiatan, khususnya sesi praktik, masih terlalu singkat. Peserta mengusulkan agar durasi pelatihan diperpanjang dan kegiatan serupa dilaksanakan secara berkala untuk pendalaman materi lanjutan. Secara keseluruhan, kegiatan ini dinilai efektif meningkatkan literasi desain digital dan layak untuk diteruskan.
Pelatihan Literasi Keuangan Dasar Untuk Peningkatan Kewirausahaan Masyarakat Kelurahan Situ Sumedang Utara Ruri Octari Dinata; Deannes Isynuwardhana; Suhal Kusairi; Alfi Inayati; Dwi Fitrizål Salim
KUAT : Keuangan Umum dan Akuntansi Terapan Vol 8 No 1 (2026): Edisi Maret
Publisher : Politeknik Keuangan Negara STAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31092/kuat.v8i1.3200

Abstract

Masyarakat Kelurahan Situ Sumedang Utara memiliki mata pencaharian sebagai wirausaha. Rata-rata usaha yang dilakukan adalah dengan bertani dan juga berdagang. Dalam meningkatkan produktivitas penjualan, dan efisiensi biaya, masyarakat Kelurahan Situ Sumedang Utara memerlukan pelatihan literasi keuangan dasar sebagai upaya mempertahankan keberlanjutan usahanya. Beberapa masalah yang sering dihadapi masyarakat adalah kurangnya literasi keuangan sehingga keuntungan yang dihasilkan tidak optimal padahal usaha terus berjalan. Berdasarkan masalah tersebut, pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan bertujuan untuk memberikan solusi atas masalah yang dihadapi dengan memberikan pelatihan. Pelatihan dilaksanakan oleh Tim FEB Telkom University pada tanggal 12 Desember 2024. Peserta berjumlah 20 orang yang terdiri dari masyarakat yang memiliki usaha. Hasil kegiatan dievaluasi melalui kuesioner yang diisi oleh peserta terkait tingkat pemahaman peserta terhadap pelatihan yang dilakukan. Hasil pengabdian masyarakat menunjukkan 53% peserta sangat setuju, dan 47% peserta setuju dengan pelatihan yang dilakukan cukup relevan dengan kebutuhan dan mudah dipahami. Hasil evaluasi kuesioner penyelenggaraan menyimpulkan bahwa kebutuhan peserta terpenuhi dengan baik. Peluang keberlanjutan pengabdian masyarakat juga memiliki potensi yang tinggi melihat antusiasme peserta dan kebuutuhan peserta selanjutnya untuk tetap didampingi dalam pengimplementasian literasi keuangan.