Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Edukasi Pemanfaatan Pupuk Organik terhadap Usaha Tani Komoditas Padi di Desa Karangan, Trenggalek Setyawati, Tri; Jannah, Rika Miftakhul; Widiyono, Wahyu; Artini, Widi; Arissaryadin; Andajani, Wiwiek
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v4i2.6147

Abstract

The majority of people in Karangan Village work as rice farmers. The majority of farmers use chemical fertilizers, which, in the long term, can reduce soil fertility and rice productivity. In addition, chemical fertilizers are also scarce and prices are increasing. Therefore, the use of organic fertilizers from cow dung waste can be an alternative to reduce dependence on expensive and scarce chemical fertilizers. Organic fertilizers contain organic materials that can increase soil fertility. Community service activities carried out in Karangan Village aim to provide practical solutions to various problems faced by the community, especially in the agricultural sector and community development. The implementation of this program went smoothly, and most of its objectives were achieved. The community gained new knowledge about organic fertilizers and sustainable agricultural techniques. The results of the demonstration in the field showed an increase in crop yields, which encouraged farmers to adopt this technology. In addition, cooperation activities to improve village infrastructure also increased the accessibility of agricultural land, which had a positive impact on the daily productivity of farmers. Masyarakat di Desa Karangan mayoritas bekerja sebagai petani padi. Mayoritas petani menggunakan pupuk kimia yang dalam jangka panjang dapat menurunkan kesuburan tanah dan produktivitas padi. Selain itu, pupuk kimia juga mengalami kelangkaan dan peningkatan harga. Oleh karena itu, penggunaan pupuk organik dari limbah kotoran sapi dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang mahal dan langka. Pupuk organik mengandung bahan organik yang dapat meningkatkan kesuburan tanah. Kegiatan pengabdian yang dilakukan di Desa Karangan bertujuan untuk memberikan solusi praktis bagi berbagai masalah yang dihadapi masyarakat, khususnya dalam sektor pertanian dan pengembangan komunitas. Pelaksanaan program ini berjalan lancar dan sebagian besar tujuannya tercapai. Masyarakat memperoleh pengetahuan baru tentang pupuk organik dan teknik pertanian berkelanjutan. Hasil dari demonstrasi di lapangan menunjukkan peningkatan hasil panen, yang mendorong petani untuk mengadopsi teknologi ini. Selain itu, kegiatan gotong royong untuk memperbaiki infrastruktur desa juga meningkatkan aksesibilitas lahan pertanian, yang berdampak positif pada produktivitas harian para petani.
Korelasi Regresi Unsur Iklim Terhadap Produktivitas Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum) di Kabupaten Nganjuk Hendrik Setyobudi; Saptorini; Nugraheni Hadiyanti; Wahyu Widiyono; Junaidi, Junaidi
JINTAN : Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 5 No. 1 (2025): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v5i1.6293

Abstract

Korelasi Regresi Unsur Iklim Terhadap Produksi Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum) di Kabupaten Nganjuk, Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memahami bagaimana unsur-unsur iklim mempengaruhi produktivitas tanaman tomat (Solanum lycopersum) di Kabupaten Nganjuk. Penelitian dilakukan pada bulan Januari – Maret 2023 di Kabupaten Nganjuk. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik. Pengumpulan data sekunder berupa data produktivitas tomat tahun 2013 - 2022 dan data unsur iklim (radiasi matahari, suhu udara, kelembaban udara dan curah hujan) tahun 2013 - 2022. Analisis data dilakukan dengan mengaplikasikan metode deskriptif dan kuantitatif. Data yang dianalisis terdiri dari data sekunder, yaitu data iklim dari BMKG Nganjuk dan data produktivitas tomat dari BPS Kabupaten Nganjuk. Data penelitian kemudian dianalisis menggunakan teknik uji korelasi dan regresi. Dari hasil penelitian ditunjukkan bahwa secara spasial unsur iklim memiliki hubungan dan berpengaruh nyata terhadap produktivitas sedangkan secara simultan tidak memiliki hubungan dan tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas tomat di Kabupaten Nganjuk. Unsur iklim radiasi matahari berpengaruh nyata terhadap produktivitas tomat sebesar 41,6%, suhu udara berpengaruh sebesar 40,9% dan kelembaban berpengaruh sebesar 41,8%. Model pendugaan produktivitas tomat berdasarkan radiasi matahari adalah , model pendugaan berdasarkan suhu adalah dan model pendugaan berdasarkan kelembaban adalah . Secara bersama-sama pengaruh unsur iklim terhadap produktivitas tomat 48,7% dengan model pendugaan produktivitas This study aimed to establish a correlation between the climate elements and the productivity of tomato plants (Solanum lycopersum) in Nganjuk Regency.. The research was conducted from January to March 2023 in Nganjuk Regency. The research method used is descriptive analytics. Secondary data was collected in the form of tomato productivity data for 2013 - 2022 and data on climate elements (solar radiation, air temperature, air humidity and rainfall) for 2013 - 2022. The analysis of data involved both descriptive and quantitative methods. The data that was analyzed consisted of climate data obtained from the Nganjuk BMKG and tomato productivity data sourced from the Nganjuk Regency BPS. The data obtained from the research underwent correlation and regression analysis. The results revealed that certain climate elements exhibited spatial corelation and had a significant influence on tomato productivity in Nganjuk Regency. However, other climate elements showed no correlation or significant effect on tomato productivity. Specifically, solar radiation had a significant impact of 41.6% on tomato productivity, while air temperature and humidity had effects of 40.9% and 41.8% respectively.The tomato productivity estimation model based on solar radiation is , temperature-based prediction model is and humidity-based estimation model is . Taken together the influence of climate elements on tomato productivity is 48.7% with the productivity estimation model .
Korelasi Regresi Unsur Iklim Terhadap Produktivitas Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum) di Kabupaten Nganjuk Setyobudi, Hendrik; Saptorini, Saptorini; Hadiyanti, Nugraheni; Widiyono, Wahyu; Junaidi, Junaidi
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 5 No. 1 (2025): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v5i1.6512

Abstract

The productivity of tomato plants is influenced by various factors, including climatic elements such as light intensity, humidity, rainfall, and temperature. These elements play a crucial role in supporting the growth and development of tomato plants. This study aims to analyze the impact of climatic factors on the productivity of tomato plants (Solanum lycopersicum) in Nganjuk Regency. The research was conducted from January to March 2023 using a descriptive-analytical method. Secondary data collected include tomato productivity from 2013 to 2022 and climatic factors such as solar radiation, air temperature, humidity, and rainfall during the same period. Data analysis was performed using descriptive and quantitative methods, including correlation and regression tests. Climatic data were sourced from BMKG Nganjuk, while productivity data were obtained from BPS Nganjuk Regency. The analysis results indicate that, spatially, climatic factors significantly affect tomato productivity. However, when analyzed simultaneously, climatic factors show no significant relationship with tomato productivity in Nganjuk Regency. Specifically, solar radiation accounts for 41.6% of the productivity variance, air temperature contributes 40.9%, and humidity influences 41.8%. Produktivitas tanaman tomat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk unsur-unsur iklim seperti intensitas cahaya, kelembapan, curah hujan, dan suhu. Unsur iklim memainkan peran yang sangat penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman tomat. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari bagaimana unsur-unsur iklim mempengaruhi produktivitas tanaman tomat (Solanum lycopersum) di Kabupaten Nganjuk. Penelitian ini dilaksanakan pada periode Januari hingga Maret 2023. Pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik. Data sekunder yang dikumpulkan mencakup produktivitas tomat selama tahun 2013 hingga 2022, serta data unsur iklim yang meliputi radiasi matahari, suhu udara, kelembapan udara, dan curah hujan tahun 2013 - 2022. Analisis data dilakukan dengan mengaplikasikan metode deskriptif dan kuantitatif. Rekapitulasi data sekunder terdiri atas data iklim dari BMKG Nganjuk dan data produktivitas tomat dari BPS Kabupaten Nganjuk. Data penelitian dianalisis menggunakan teknik uji korelasi dan regresi. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara spasial, unsur iklim memiliki hubungan dan pengaruh nyata terhadap produktivitas tomat. Namun, secara simultan, unsur iklim tidak memiliki hubungan maupun pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas tomat di Kabupaten Nganjuk. Secara rinci, radiasi matahari memberikan pengaruh nyata sebesar 41,6% terhadap produktivitas tomat, suhu udara sebesar 40,9%, dan kelembapan udara sebesar 41,8%.
Optimizing Seedling Media for Tomato (Lycopersicum esculentum Mill.) Cultivation Saptorini, Saptorini; Supandji, Supandji; Widiyono, Wahyu; Tafakresnanto, Chendy; Sari, Intan Permata; Putra, Niko Prismanda
Jurnal Agrinika: Jurnal Agroteknologi dan Agribisnis Vol 9 No 1 (2025): MARCH
Publisher : Kadiri University - Faculty of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/agrinika.v9i1.6453

Abstract

This study evaluates the growth performance and cost-effectiveness of six different seedling media for tomato (Lycopersicum esculentum Mill) cultivation: sand (M1), rice husk charcoal (M2), clay (M3), organic fertilizer (M4), clay-organic fertilizer (M5), and sand-organic fertilizer (M6). The experiment assessed plant height, number of leaves, and number of branches from 7 to 35 days after sowing (DAS). Results showed that media containing organic fertilizer (M4, M5, M6) significantly enhanced all growth parameters compared to non-organic treatments. Among these, M5 (clay-organic fertilizer) achieved the highest values for plant height (34.9 cm), number of leaves (15.5), and number of branches (5.5) at 35 DAS, indicating superior performance. However, cost analysis revealed that M5 also incurred the highest production cost. In contrast, M6 (sand-organic fertilizer) offered a more cost-effective option by providing strong growth performance at a lower cost. These findings highlight the importance of incorporating organic fertilizers into seedling media to improve early growth stages of tomato plants. The use of organic blends, particularly M6, presents a practical and sustainable solution for smallholder farmers aiming to maximize seedling vigor without incurring high input costs, ultimately supporting more efficient and eco-friendly agricultural practices.
Application of potassium fertilizer and plant growth regulators to the growth and productivity of purple sweet potato Sulistyowati, Desty Dwi; Widiyono, Wahyu
Indonesian Journal of Applied Environmental Studies Vol 4, No 2 (2023): Volume 4 Number 2 October 2023
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/injast.v4i2.8966

Abstract

The study aimed to determine the effect of plant growth regulators and potassium fertilizer on the growth and productivity of three clones of purple sweet potato. The experiment was conducted at IPB University experimental station in Leuwikopo Dramaga Bogor for seven months. The study used a split-plot design with three factors and three replications. The first factor was as a subplot, namely plant growth regulators (PGR) application which consisted of two levels of without PGR (S0) and with PGR (S1) concentration of 2 cc l-1 of water (2,000 ppm). The second factor was as a subplot, namely rates of potassium chloride fertilizer (60, 120, 180 kg ha-1 K2O). The third factor as the main plot was sweet potato clones of (K1) Ayamurasaki, (K2) RIS-03063-05, and (K3) MSU 03028-10. The concentration of 2,000 ppm PGR did not significantly affect growth and tuber yield components. Potassium chloride K2O of 60 kg ha-1 up to 180 kg ha-1 did not significantly affect growth and tuber yield components. MSU 03028-10 clone had the highest total tuber yield (1537.8), healthy tuber (1529.9), unmarketable tuber (740.3), and small tuber (709.0). MSU 03028-10 clones have the longest stem length and the largest number of leaves 3-12 WAP. This study indicates that the MSU 03028-10 clone produces better growth and productivity than other clones.ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh dan pupuk kalium terhadap pertumbuhan dan produktivitas tiga klon ubi jalar ungu. Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan IPB University di Leuwikopo Dramaga Bogor selama tujuh bulan. Penelitian menggunakan rancangan petak terbagi (split-plot design) dengan tiga faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama sebagai anak petak yaitu pemberian zat pengatur tumbuh (PGR) yang terdiri dari dua taraf yaitu tanpa PGR (S0) dan dengan PGR (S1) konsentrasi 2 cc l-1 air (2.000 ppm). Faktor kedua sebagai anak petak yaitu takaran pupuk kalium klorida (60, 120, 180 kg ha-1 K2O). Faktor ketiga sebagai petak utama adalah klon ubi jalar (K1) Ayamurasaki, (K2) RIS-03063-05, dan (K3) MSU 03028-10. Konsentrasi PGR 2.000 ppm tidak berpengaruh nyata terhadap komponen pertumbuhan dan hasil umbi. Kalium klorida K2O ukuran 60 kg ha-1 sampai dengan 180 kg ha-1 tidak berpengaruh nyata terhadap komponen pertumbuhan dan hasil umbi. Klon MSU 03028-10 mempunyai hasil total umbi tertinggi (1537,8), umbi sehat (1529,9), umbi tidak layak jual (740,3), dan umbi kecil (709,0). Klon MSU 03028-10 mempunyai panjang batang terpanjang dan jumlah daun terbanyak 3-12 MST. Penelitian ini menunjukkan bahwa klon MSU 03028-10 menghasilkan pertumbuhan dan produktivitas yang lebih baik dibandingkan klon lainnya. 
Respons Morfologi dan Anatomi Kultivar Cabai (Capsicum annuum L) dan Penetapan Tingkat Toleransinya terhadap Defisit Air: Morphological and Anatomical Response of Chili Cultivars (Capsicum annuum L) and Determining Their Tolerance Level to Water Defici Evelyn, Carolina; Gunawan, Indra; Widiyono, Wahyu; Syukur, Muhamad; Trikoesoemaningtyas; Dasumiati; Lestari, Peni
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 3 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.15.3.163-171

Abstract

Kekeringan menyebabkan kerugian ekonomi pada usahatani cabai (Capsicum annuum L.) di Indonesia. Identifikasi kultivar cabai toleran kekeringan diperlukan sebagai langkah awal perakitan varietas cabai toleran kekeringan. Penelitian bertujuan mengidentifikasi perubahan morfo-anatomi beberapa kultivar cabai dan menetapkan tingkat toleransinya terhadap kondisi kekurangan air menggunakan ISK (Indeks Sensitivitas Kekeringan). Penelitian dilaksanakan di bulan Februari – Agustus 2022 di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Cibinong, Jawa Barat. Percobaan disusun berdasarkan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) pola tersarang. Petak utama adalah kelembaban media (80% dan 35% kapasitas lapang). Anak petak adalah enam kultivar cabai. Hasil menunjukkan defisit air menyebabkan tanaman dorman, umur berbunga dan umur panen menjadi lebih lama, kerapatan trikoma meningkat, sedangkan peubah lain menurun. Penurunan pertumbuhan vegetatif dan tertundanya pembungaan (fenologi) mendahului penurunan hasil. SSP dan Genie ditetapkan toleran terhadap kondisi defisit air berdasarkan nilai ISK. Kata kunci: cekaman kekeringan, fenologi, indeks sensitifitas kekeringan, toleransi kekeringan
Pertumbuhan dan Produksi Mentimun (Cucumis sativus L.) akibat Perlakuan Dosis dan Waktu Aplikasi Pupuk Organik Cair Air Limbah Ikan Lele Ayuningtyas, Nanda Widyawati; Supandji; Saptorini; Hadiyanti, Nugraheni; Widiyono, Wahyu
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 4 No. 1 (2024): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v4i1.5277

Abstract

Using liquid organic fertilizer from catfish wastewater is an attractive alternative to increase crop yields. This research is intended to investigate the growth and production of cucumbers, which are influenced by the combination of dose and time of application of liquid organic fertilizer (POC) from catfis wastewater. The experiment was realized from May to July 2022 in Ngantru Village, Trenggalek Regency. The research design was a factorial, Completely Randomized Design (CRD) and 3 repetitions. The treatment tested was the POC dose of catfish waste (D), with 3 levels: 300 ml/polybag/application, 400 ml/polybag/application, and 500 ml/polybag/application. Another treatment was the POC (A) application time, with 3 levels: 3, 5, and once every 7 days. Observation variables were weight and number of fruits per plant, length, and diameter of fruit, number of leaves, and plant length. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA), and results that showed significant differences were tested further with the Least Significant Difference(LSD ) at a significance level of 5%. The interaction between dose and time of application of liquid organic fertilizer (POC) from catfish wastewater showed a significant difference in plant length at 14 and 21 days after planting (DAT). The use of POC doses from catfish wastewater specifically significantly affected the number of leaves at 21 DAT and the length of cucumber fruit. However, separately, the treatment dose and time of administration of POC from catfish wastewater did not significantly affect the number, diameter, and weight of cucumber fruit.   Dalam upaya meningkatkan hasil tanaman, penggunaan pupuk organik cair dari limbah air ikan lele menjadi alternatif yang menarik. Penelitian ini dimaksudkan untuk menyelidiki pertumbuhan dan produksi mentimun yang dipengaruhi oleh kombinasi dosis dan waktu pemberian pupuk organik cair (POC) dari air limbah ikan lele. Percobaan terealisasi pada bulan Mei sampai Juli 2022 di Kelurahan Ngantru, Kabupaten Trenggalek. Rancangan penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dan 3 kali pengulangan. Perlakuan yang diujikan adalah dosis POC limbah ikan lele (D), dengan 3 level, yaitu: 300 ml/polybag/aplikasi, 400 ml/polybag/aplikasi, dan 500 ml/polybag/aplikasi. Perlakuan lainnya adalah waktu aplikasi POC (A), dengan 3 level, yaitu: 3; 5; dan 7 hari sekali. Variabel pengamatan yaitu berat, dan jumlah buah per tanaman, panjang, dan diameter buah, jumlah daun, serta panjang tanaman. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA), dan hasil yang menunjukkan perbedaan signifikan diuji lebih lanjut dengan Beda Nyata Terkecil (BNT) pada tingkat signifikansi 5%. Interaksi antara dosis dan waktu pemberian pupuk organik cair (POC) dari air limbah ikan lele menunjukkan perbedaan signifikan terhadap panjang tanaman pada umur 14 dan 21 hari setelah tanam (HST). Penggunaan dosis POC dari air limbah ikan lele secara khusus berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada umur 21 HST dan panjang buah mentimun. Namun, secara terpisah, perlakuan dosis dan waktu pemberian POC dari air limbah ikan lele tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap jumlah, diameter, dan berat buah mentimun
Inovasi Diversifikasi Pangan Lokal melalui Pemanfaatan Daun Singkong menjadi Keripik sebagai Upaya Pengurangan Limbah dan Peningkatan Pendapatan Masyarakat Pamujiati, Agustia Dwi; Artini, Widi; Andajani, Wiwiek; Widiyono, Wahyu; Mulyadi, Mochtar Nova
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v5i2.7079

Abstract

Community service aims to increase the utilization of cassava leaves as a value-added food ingredient by innovating cassava leaf chips (Daun Crips) in Jombok Village, Pule District, Trenggalek Regency, East Java. Cassava leaves, which have traditionally been considered agricultural waste, have a high protein content and significant economic potential if processed properly. The implementation method was carried out through a participatory approach that involves the community in counseling, technical training in production, packaging, branding, and product economic analysis. Evaluation of activities using pre-tests and post-tests on six assessment aspects revealed an increase in the average score from 57.2 to 86.8, representing a 51.8% improvement. The highest increases were observed in technical processing skills (63.6%) and production cost analysis (57.7%). The resulting product has characteristics of being crispy, savory, and having a low water content (3.8%), in accordance with snack food quality standards. This activity has a positive impact by increasing the knowledge, skills, and entrepreneurial motivation of the community, as well as encouraging the formation of Joint Business Groups as the foundation for productive economic businesses based on local potential. This program is a real-world example of the implementation of local food diversification, which can reduce agricultural waste, increase community income, and support sustainable village economic development. Pengabdian kepada masyarakat memiliki tujuan meningkatkan pemanfaatan daun singkong sebagai bahan pangan bernilai tambah melalui inovasi produk keripik daun singkong (Daun Crips) di Desa Jombok, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Daun singkong yang selama ini dianggap limbah pertanian memiliki kandungan protein tinggi dan potensi ekonomi yang besar apabila diolah secara tepat. Metode pelaksanaan dilakukan melalui pendekatan partisipatif yang melibatkan masyarakat dalam penyuluhan, pelatihan teknis produksi, pengemasan, branding, serta analisis ekonomi produk. Evaluasi kegiatan dengan menerapkan pre-test dan post-test pada enam aspek penilaian menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor dari 57,2 menjadi 86,8 atau meningkat sebesar 51,8%, dengan peningkatan tertinggi pada keterampilan teknis pengolahan (63,6%) dan analisis biaya produksi (57,7%). Produk yang dihasilkan memiliki karakteristik renyah, gurih, serta kadar air rendah (3,8%), sesuai dengan standar mutu pangan ringan. Kegiatan ini memiliki efek positif dengan meningkatnya pengetahuan, keterampilan, dan motivasi kewirausahaan masyarakat, serta mendorong terbentuknya Kelompok Usaha Bersama sebagai embrio usaha ekonomi produktif berbasis potensi lokal. Program ini menjadi contoh nyata penerapan diversifikasi pangan lokal yang mampu mengurangi limbah pertanian, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan mendukung pembangunan ekonomi desa berkelanjutan.