Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

UJI FITOKIMIA DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL UMBI PAKU ATAI MERAH (Angiopteris ferox COPEL) Sundu, Reksi; Sapri, Sapri; Nurhasnawati, Henny
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8.262 KB)

Abstract

Umbi paku atai merah (angiopteris ferox Copel) biasa dimanfaatkan sebagai obat tradisional oleh suku dayak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui metabolit sekunder dan aktivitas antioksidan pada umbi paku atai merah. Pada penelitian ini telah dilakukan uji fitokimia dan uji aktivitas antioksidan ekstrak yang ditentukan dengan metode DPPH (1,1-Difenil-2-pikrilhidrazil) menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil uji fitokimia menunjukan bahwa ekstrak etanol umbi paku atai merah mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan steroid. Sementara itu aktivitas antioksidan ekstrak tersebut tergolong kuat dengan nilai IC50 sebesar 193,20 ppm.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN FRAKSI N-HEKSAN, KLOROFORM DAN ETIL ASETAT DARI EKSTRAK ETANOL UMBI PAKU ATAI MERAH (Angiopteris ferox Copel) Sundu, Reksi; Handayani, Fitri; Sapri, Sapri; Nurhasnawati, Henny
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8.262 KB)

Abstract

Antioksidan memegang peranan penting sebagai faktor perlindungan kesehatan. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antioksidan alami adalah umbi paku atai merah (Angiopteris ferox Copel). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari fraksi n-heksan, kloroform dan etil asetat dari ekstrak etanol umbi paku atai merah. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) menggunakan spektrofotometer UV-Visible. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol umbi paku atai merah fraksi n-heksan memiliki nilai IC50 sebesar 884,14 ppm (kategori lemah), kloroform sebesar 199,72 ppm (kategori lemah), etil asetat sebesar 18,81 ppm (kategori sangat kuat), sedangkan vitamin C sebagai pembanding sebesar 5,09 ppm (kategori sangat kuat).
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL UMBI PAKU ATAI MERAH ( Angiopteris ferox Copel) TERHADAP Propionibacterium acnes Reksi Sundu; Sapri .; Fitri Handayani
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 2 No 2 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.502 KB) | DOI: 10.37874/ms.v2i2.50

Abstract

Kalimantan adalah pulau yang memiliki keanekaragaman hayati dan potensi yang sangat melimpah sebagai tumbuhan berkhasiat obat. Masyarakat suku dayak daerah Kutai Barat di Kecamatan Linggang Bigung Kalimantan Timur menggunakan paku atai merah sebagai obat dengan cara umbi paku atai merah diparut dan dicampur dengan beras kemudian diolah menjadi bedak dingin untuk kulit yang berjerawat. Tujuan penelitian untuk mengetahui aktivitas antibakteri pada ekstrak etanol umbi paku atai merah terhadap Propionibacterium acnes . Penelitian diawali dengan skrining fitokimia yaitu pemeriksaan senyawa golongan alkaloid, flavanoid, saponin, tanin dan steroid/terpenoid selanjutnya dilakukan pengujian aktivitas antibakteri terhadap Propionibacterium acnes dengan metode difusi cakram. Larutan uji dibuat dengan konsentrasi yang berbeda yaitu ekstrak etanol umbi paku atai merah 20%, 40%, 60% dan 80%, kontrol positif clindamycin 0,1%, kontrol negatif DMSO 0,1%. Metode analisis data adalah metode deskriptif yaitu berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data disajikan dalam bentuk tabel dan gambar. Hasil skrining fitokimia menunjukkan positif mengandung golongan alkoloid, flavonoid, tanin, saponin dan steroid. Hasil pengujian aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak etanol umbi paku atai merah memiliki aktvitas antibakteri terhadap Propionibacterium acne dengan diameter zona hambat sebesar 6,83mm ± 0,27 (20%); 8,33 mm ± 0,36 (40%) dan 8,25 mm ± 0,31 (80%) yaitu zona hambat kategori sedang. Ekstrak etanol 60% menunjukkan zona hambat bakteri 11,05 mm ± 1,99 yaitu zona hambat kategori kuat. Clindamycin 0,1 % memiliki zona hambat bakteri 24,10 mm ± 0.61 yaitu zona hambat kategori sangat kuat. Dimetil sulfoksida 0,1% tidak memiliki daya hambat bakteri.
UJI FITOKIMIA DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL UMBI PAKU ATAI MERAH (Angiopteris ferox COPEL) Reksi Sundu; Sapri Sapri; Henny Nurhasnawati
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 3 No 1 (2018): JIIS
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.275 KB) | DOI: 10.36387/jiis.v3i1.128

Abstract

Umbi paku atai merah (angiopteris ferox Copel) biasa dimanfaatkan sebagai obat tradisional oleh suku dayak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui metabolit sekunder dan aktivitas antioksidan pada umbi paku atai merah. Pada penelitian ini telah dilakukan uji fitokimia dan uji aktivitas antioksidan ekstrak yang ditentukan dengan metode DPPH (1,1-Difenil-2-pikrilhidrazil) menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil uji fitokimia menunjukan bahwa ekstrak etanol umbi paku atai merah mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan steroid. Sementara itu aktivitas antioksidan ekstrak tersebut tergolong kuat dengan nilai IC50 sebesar 193,20 ppm.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN FRAKSI N-HEKSAN, KLOROFORM DAN ETIL ASETAT DARI EKSTRAK ETANOL UMBI PAKU ATAI MERAH (Angiopteris ferox Copel) Reksi Sundu; Fitri Handayani; Sapri Sapri; Henny Nurhasnawati
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 3 No 2 (2018): JIIS
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.166 KB) | DOI: 10.36387/jiis.v3i2.176

Abstract

Antioksidan memegang peranan penting sebagai faktor perlindungan kesehatan. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antioksidan alami adalah umbi paku atai merah (Angiopteris ferox Copel). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari fraksi n-heksan, kloroform dan etil asetat dari ekstrak etanol umbi paku atai merah. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) menggunakan spektrofotometer UV-Visible. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol umbi paku atai merah fraksi n-heksan memiliki nilai IC50 sebesar 884,14 ppm (kategori lemah), kloroform sebesar 199,72 ppm (kategori lemah), etil asetat sebesar 18,81 ppm (kategori sangat kuat), sedangkan vitamin C sebagai pembanding sebesar 5,09 ppm (kategori sangat kuat).
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN FRAKSI N-HEKSAN DAUN AFRIKA (Vernonia amygdalina Del.) DENGAN METODE DPPH Nurul Fatimah; Reksi Sundu
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 5 No 2 (2020): JIIS
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.876 KB) | DOI: 10.36387/jiis.v5i2.466

Abstract

Free radicals and reactive species are widely believed to contribute to the development of several diseases by causing oxidative stress and eventually oxidative. Vernonia amygdalina (Astereacea) is a small shrub or tree between 1 and 5m high growing throughout tropical Africa. Plants are generally known as bitter leaves is well cultivated and is a general market for merchandise in several countries. The purpose of this study was to determine the antioxidant activity of hexane fraction from ethanol extract od Frican leaves (Vernonia amygdalina Del.). The method used in this study was the DPPH (1,1-Diphenil-2-Picrylhydrazyl) method. The result of phytochemical screening showed that ethanolic extract of African leaves contained a composition of secondary metabolites of alkaloids, flavonoids, tannins, steroids/triterpenoids and saponins. The antioxidant activity of the extract of n-hexane fraction was classified as very weak with an IC50 value of 317.98 ppm.
KARAKTERISASI SIMPLISIA DAN EKSTRAK KULIT BATANG SEKILANG (Embelia borneensis Scheff.) Risa Supriningrum; Reksi Sundu; Triswanto Sentat; Rakhmadhan Niah; Eka Kumalasari
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 6 No 2 (2021): JIIS
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.634 KB) | DOI: 10.36387/jiis.v6i2.677

Abstract

The Sekilang plant (Embelia borneensis Scheff.) Is one of the plants used by the Dayak community for fishing, leech repellent and as an ingredient for hair care. Empirical use of plants can be developed into products based on natural ingredients. This must be supported by research data. As a first step, the simplicia and ethanol extract of the stem bark were characterized. The research objective was to determine the specific and non-specific characteristics of the simplicia and the extracts of the bark of the sekilang. The research stage includes plant determination, collection of raw materials, manufacture of simplicia, extract preparation, organoleptic, microscopic testing, phytochemical screening, determination of water soluble extract content, determination of ethanol soluble extract content, determination of water content and determination of ash content. Microscopy test results of sekilang stem bark showed the presence of fiber fragments, stone cells, and oxalate crystals. The average water soluble content for simplicia and sekilang bark extract was 7.5% and 80%. The average ethanol soluble content for simplicia and extract was 6% and 30%. The average moisture content for the simplicia and extract was 9.5% and 12%. The mean total ash content for simplicia and extract was 5% and 8.5%. The mean acid insoluble ash content for simplicia and extract was 1% and 0.5%.
PENETAPAN KADAR FLAVONOID EKSTRAK DAUN SINGKIL (Premna corymbosa) BERDASARKAN VARIASI SUHU DAN WAKTU PENGERINGAN SIMPLISIA Risa Supriningrum; Reksi Sundu; Dwi Setyawati
JFL : Jurnal Farmasi Lampung Vol. 7 No. 1 (2018): JFL: Jurnal Farmasi Lampung
Publisher : Fakultas MIPA Universitas Tulang Bawang Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.027 KB) | DOI: 10.37090/jfl.v7i1.31

Abstract

Daun singkil memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder berupa flavonoid, saponin, tanin dan triterpenoid/steroid. Pengeringan merupakan salah satu tahap pembuatan simplisia yang dilakukan agar simplisia tidak mudah rusak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid ekstrak etanol daun singkil berdasarkan variasi suhu dan waktu pengeringan simplisia. Tahapan penelitian meliputi pengambilan sampel, determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia dengan pengeringan oven pada suhu 50 ºC dan 70 ºC dengan waktu 8 dan 10 jam, ekstraksi secara maserasi, skrining fitokimia ekstrak, penetapan kadar flavonoid menggunakan Spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun singkil memiliki senyawa metabolit sekunder yaitu tanin, flavonoid, saponin dan terpenoid/steroid. Kadar rata-rata flavonoid ekstrak etanol daun singkil berdasarkan suhu dan waktu pengeringan simplisia berturut-turut mulai dari yang tertinggi adalah suhu 50oC waktu 10 jam sebesar 1,54% ; suhu 70 ºC waktu 8 jam sebesar 1,50% ; suhu 70 ºC waktu 10 jam sebesar 1,38% dan suhu 50 ºC waktu 8 jam sebesar 0,96% .
PELATIHAN PEMBUATAN HAND SANITIZER BAGI MASYARAKAT KELURAHAN TELUK LERONG ULU DAN BUGIS, SAMARINDA Reksi Sundu; Henny Nurhasnawati; Eka Siswanto Syamsul; Rio Adi Saputra
Jurnal Abdi Masyarakat Kita Vol 1 No 2 (2021): Jurnal Abdi Masyarakat Kita
Publisher : APDFI (Asosiasi Pendidikan Diploma Farmasi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1289.018 KB) | DOI: 10.33759/asta.v1i2.162

Abstract

Health is an important aspect of life. According to the World HealthOrganization (WHO), hand hygiene is one of the most important steps to prevent and control the spread of disease (maintaining health). At the time of activity, hands are often contaminated with microorganisms because the hands are an intermediary for the entry of microbes into the digestive tract. The purpose of this activity is to provide education to the community, especially those in TelukLerong Ulu and Bugis Villages about how to make hand sanitizer. The method of this activity is lecture, discussion and training. Community service activities in TelukLerong Ulu and Bugis Villages on June 24, 2020 went smoothly and received a good response. Each participant brought home their own homemade product.
Edukasi Optimalisasi Pelaksanaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Kelurahan Sei Keledang Ameliora Dwi Astani; Reksi Sundu; Nurul Fatimah
Jurnal Abdi Masyarakat Kita Vol 3 No 1 (2023): Jurnal Abdi Masyarakat Kita
Publisher : APDFI (Asosiasi Pendidikan Diploma Farmasi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33759/asta.v3i1.363

Abstract

Abstract : Malnutrition in East Borneo has been in the chronic-acute category. As the capital city of East Borneo, Samarinda has a high prevalence of stunted dan wasted children. Therefore, the government set up a program called Pro-Bebaya. This program supports the health ministry program to reduce malnutrition among children through a supplementary food program (PMT). In Sei Keledang district (part of Samarinda) there are several problems regarding the PMT program, like inadequate infrastructure, decrement of posyandu visits, and limitation in monitoring nutrition status. Abstrak : Permasalahan gizi di wilayah Kalimantan Timur masuk ke dalam wilayah gizi kronis-akut. Ibukota Kaltim, Kota Samarinda memiliki prevalensi balita pendek dan kurus yang cukup tinggi. Oleh karena itu, dilakukan upaya pengentasan malnutrisi melalui program Pro-Bebaya. Program ini mendukung salah satu program kesehatan, yaitu penyelenggaraan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) yang ditujukan pada anak dan balita. Namun, di wilayah Sei Keledang timbul beberapa kendala, antara lain sarana dan prasana yang tidak memadai, penurunan kunjungan posyandu, dan keterbatasan dalam monitoring status gizi.