Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PENGARUH PERBEDAAN PROPORSI TEPUNG DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) DAN TEH HITAM TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DALAM MINUMAN Budianta, Tarsisius Dwi Wibawa; Widyawati, Paini Sri; Haditanojo, Venny
Jurnal Teknologi Pangan dan Gizi Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Widya Mandala Surabaya Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.036 KB) | DOI: 10.33508/jtpg.v18i1.1985

Abstract

Teh hitam merupakan salah satu produk yang kaya akan kandungan antioksidan. Tanaman sirsak (Annona muricata L.) yang awalnya ditanam secara komersial untuk diambil daging buahnya, sekarang juga diambil daunnya kerena telah ditemukan khasiat daun sirsak untuk kesehatan. Daun sirsak dan teh hitam keduanya mengandung senyawa fitokimia yang berperan sebagai antioksidan yang berpotensi untuk melawan radikal bebas dalam tubuh sehingga dapat menurunkan resiko penyakit degeneratif. Tingginya kandungan senyawa fitokimia dalam teh hitam dan daun sirsak diduga dapat saling menstimulasi aktivitas antioksidan dalam minuman. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan satu faktor yaitu perbedaan proporsi tepung daun sirsak dan daun teh hitam dengan enam taraf perlakuan yaitu 0:100, 10:90, 20:80, 30:70, 40:60, 50:50, dan 100: 0% (b/b) (sebagai kontrol), dengan 4 replikasi tiap perlakuan dan pengujian analisis varian dengan taraf signifikansi 5%. Parameter yang diuji adalah kadar fenol, kadar flavonoid, analisa aktivitas antioksidan dengan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl), kemampuan mereduksi ion besi, dan pengujian identifikasi senyawa fitokimia sebagai pendukung. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh proporsi tepung daun sirsak dan teh hitam terhadap sifat fisikokimia, kadar total fenol, total flavonoid, kemampuan menangkal radikal DPPH dan kemampuan mereduksi ion besi pada produk minuman teh daun sirsak. Kadar total fenol berkisar antara 5,61-25,17 mg GAE/L sampel, kadar total flavonoid berkisar antara 0.83-4,48 mg CE/L sampel, kemampuan menangkal radikal DPPH berkisar antara 0,63-2,47 mg GAE/L sampel, dan kemampuan mereduksi ion besi berkisar antara 19,47-54,25 mg GAE/L sampel.
PERUBAHAN SIFAT FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK SARI KEDELAI DENGAN PENAMBAHAN AIR SEDUHAN BELUNTAS Widyawati, Paini Sri; Ristiarini, Susana; Werdani, Yesiana DW; Kuswardani, Indah; Herwina, Irene Novita
Jurnal Teknologi Pangan dan Gizi Vol 18, No 2 (2019)
Publisher : Widya Mandala Surabaya Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.469 KB) | DOI: 10.33508/jtpg.v18i2.2157

Abstract

Sari kedelai adalah minuman yang terbuat dari kedelai yang bermanfaat bagi kesehatan. Hal ini karena adanya senyawa fitokimia dalam kedelai, seperti isoflavon, saponin, sterol, asam fitat, triterpenoid, oligosakarida, dan lignan. Sari kedelai menunjukkan aktivitas antioksidan dan antidiabetik. Namun aktivitas tersebut belum optimal, oleh karena itu perlu ditambahkan air seduhan daun beluntas. Beluntas merupakan tanaman herba kelompok Asteracea telah terbukti mempunyai aktivitas antioksidan dan antidiabetik karena komposisi senyawa fitokimia yang meliputi tanin, sterol, alkaloid, flavonoid, fenol, kardiak glikosida, dan saponin. Penambahan air seduhan daun beluntas pada sari kedelai diharapkan mampu meningkatkan kemampuannya sebagai sumber antioksidan dan antidiabetik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perubahan sifat fisikokimia dan organoleptik sari kedelai dengan penambahan air seduhan bubuk daun beluntas. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor, yaitu konsentrasi bubuk daun beluntas dalam air seduhan yang terdiri dari enam level, yaitu 0; 1; 2; 3; 4; dan 5 (% b/v) dari berat kering kedelai yang digunakan. Percobaan diulang sebanyak lima kali. Sari kedelai yang ditambahkan air seduhan beluntas yang berasal dari daun beluntas kering dengan kadar air sebanyak 7,97±0,28% (wb), sifat fisikokimia dan organoleptiknya dipengaruhi oleh penambahan berbagai variasi konsentrasi air seduhan daun beluntas. Parameter fisikokimia yang dihasilkan dari sari kedelai beluntas meliputi pH berkisar antara 6,71 ± 0,09 sampai dengan 6,01 ± 0,05, viskositas berkisar antara 21,05±0,93 sampai dengan 26,67±0,75, total padatan terlarut berkisar antara 11,81±0,27 sampai dengan 15,35±0,26, lightness berkisar antara 82,89±0,46 sampai dengan 69,10 ±1,70, chroma berkisar antara 10,57±0,78 sampai dengan 7,59±0,80, ohue berkisar antara 87,59±0,93 sampai dengan 00,14±1,11. Hasil uji grafik Spiderweb berdasarkan skor kesukaan secara organoleptik diperoleh bahwa penambahan air seduhan bubuk daun beluntas belum dapat meningkatkan tingkat kesukaan panelis terhadap sari kedelai beluntas.
KARAKTERISTIK PENGERINGAN ANDALIMAN (Zanthoxylum Acanthopodium DC.) DENGAN PENGERING SWIRL FLUIDIZED BED Simanjutak, Melvin Emil; Widyawati, Paini Sri
Jurnal Teknologi Pangan dan Gizi Vol 19, No 1 (2020)
Publisher : Widya Mandala Surabaya Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (856.224 KB) | DOI: 10.33508/jtpg.v19i1.2449

Abstract

Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) yang sering dikenal sebagai merica Batak, sering digunakan sebagai bahan bumbu dalam masakan tradisional. Andaliman sulit dikonsumsi di daerah lain karena cepat busuk dan mudah ditumbuhi jamur. Untuk mencegah tumbuhnya jamur, andaliman perlu dikeringkan. Standar kadar air yang sesuai sebagaimana tanaman rempah lain adalah sekitar 10%. Andaliman mengandung berbagai senyawa volatil yang mudah menguap pada temperatur tinggi sehingga akan mengurangi aromanya yang khas. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pengeringan terhadap karakteristik andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.)dengan metode swirl fluidized bed. Pada penelitian ini, andaliman dikeringkan dengan metode swirl fluidized bed pada suhu cukup rendah yaitu 40, 45, dan 500C. Massa sampel untuk setiap percobaan adalah 200, 250, dan 300 gr. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengeringan pada temperatur 500C dapat mengurangi kadar air dari 70% menjadi 6% selama 240 menit. Persamaan regresi untuk laju pengeringan mendekati model persamaan logaritmik normal.
PENGARUH PENGGUNAAN AIR SEDUHAN BELUNTAS TERHADAP PERUBAHAN SIFAT FISIKA DAN KIMIA JELLY DRINK BELUNTAS Widyawati, Paini Sri; Ristiarini, Susana; Darmoatmodjo, Laurensia Maria Yulian Dwiputranti; Siregar, Christie Paulien; Lianel, Andreas Lukita
Jurnal Teknologi Pangan dan Gizi Vol 19, No 1 (2020)
Publisher : Widya Mandala Surabaya Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.009 KB) | DOI: 10.33508/jtpg.v19i1.2459

Abstract

Jelly drink adalah sejenis minuman semi padat yang umumnya memiliki tampilan yang jelas dan tekstur kenyal. Jelly dibuat dari ekstrak buah-buahan dan gula menggunakan teknik merebus dengan penambahan zat pembentuk gel untuk membentuk tekstur kenyal. Pluchea indica Less adalah tanaman herbal yang biasanya dikonsumsi sebagai sayuran. Komoditas ini digunakan karena mengandung senyawa fitokimia, seperti tanin, sterol, fenol, flavonoid, terpenoid, saponin, alkaloid, dan glikosida jantung. Daun pluchea dapat digunakan sebagai teh herbal yang berpotensi sebagai sumber antioksidan dan antidiabetik. Air seduhan teh herbal dapat diaplikasikan untuk membuat jelly drink sehingga dapat menghasilkan jelly drink fungsional. Penggunaan daun beluntas sebagai bahan untuk membuat minuman agar dapat meningkatkan manfaat bagi kesehatan tubuh. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan air seduhan bubuk daun beluntas terhadap perubahan sifat fisik dan kimia jelly drink beluntas. Desain penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan faktor tunggal yaitu konsentrasi bubuk daun beluntas dalam air seduhan yang terdiri dari 6 tingkat perlakuan 0, 1, 2, 3, 4, dan 5% (b / v). Setiap perlakuan diulang lima kali. Parameter uji meliputi pH, sineresis pada hari penyimpanan 1, 4 dan 7, daya isap, tekstur,dan warna. Data menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi air seduhan bubuk bubuk beluntas semakin meningkat berpengaruh signifikan terhadap sifat fisik dan kimia dari jelly drink. Semakin tinggi konsentrasi air seduhan menyebabkan semakin tinggi nilai pH, kekerasan dan cohesiveness jelly drink. Sedangkan nilai sineresis menurun seiring peningkatan konsentrasi air seduhan bubuk beluntas. Penambahan air seduhan bubuk beluntas menyebabkan jelly drink berwarna coklat. Pada konsentrasi air seduhan beluntas 1% didapatkan daya hisap dan nilai springiness tertinggi.
Volatile Compounds of Pluchea indica Less and Ocimum basillicum Linn Essential Oiland Potency as Antioxidant PAINI SRI WIDYAWATI; CHRISTOFORA HANNY WIJAYA; PENI SUPRAPTI HARDJOSWORO; DONDIN SAJUTHI
HAYATI Journal of Biosciences Vol. 20 No. 3 (2013): September 2013
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.623 KB) | DOI: 10.4308/hjb.20.3.117

Abstract

This research was conducted to identify volatile compounds of pluchea and basil essential oils and their antioxidant capacity to scavenge a DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl) free radical and inhibit lipid peroxidation. Essential oil of pluchea and basil leaves was prepared by hydrodistillation method and then their volatile compounds were identified by GC-MS. The volatile compounds in the essential oil of pluchea leaves consist of 66 components with (10S,11S)-Himachala-3-(12)-4-diene (17.13%) made up the highest proportion of volatile compounds. Basil leaves had 70 volatile components in which the major components were (E)-3,7-dimethyl-2,6-octadienal  (23.98%) and (Z)- 3,7-dimethyl-2,6-octadienal (17.35%). Total phenol levels in pluchea and basil essential oils were 275 and 209 ppm, respectively. DPPH scavenging activity of the essential oil of pluchea leaves was lower than that of basil leaves, conversely inhibition activity of lipid peroxidation in palm oil of pluchea essential oil was higher than that of basil leaves.
Aktivitas Antioksidan Berbagai Fraksi dan Ekstrak Metanolik Daun Beluntas (Pluchea indica Less) Paini Sri Widyati; Hanny Wijaya; Peni Harjosworo; Dondin Sajuthi
agriTECH Vol 32, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.981 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9618

Abstract

This study has been done to investigate the antioxidant activity of various fractions and methanolic extract of beluntasleaves by using several test system, such as DPPH, superoxide and hydroxyl radical-scavenging activities, hydrogenperoxide scavenging activity, ferric reducing power, iron and haemoglobin chelating capacities and b-carotene–linoleicbleaching assay. The results showed that methanolic extract of beluntas leaves (EMB) and its fractions (ethyl acetatefraction (FEA), water fraction (FA) and n-butanol fraction (FNB)) had scavenging activity of DPPH radical. EMBwhich had highest phenolic content and the strongest ferric reducing power, exhibited b-carotene–linoleic bleachinginhibition and the highest superoxide scavenging activity, while FEA showed antioxidant activity based on superoxideradical-scavenging activity, iron and haemoglobin chelating capacities and ferric reducing power.ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan berbagai fraksi dan ekstrak metanolik daun beluntasdengan berbagai sistem uji, seperti aktivitas menangkap radikal DPPH, superoksida, hidroksil dan hidrogen peroksida,mereduksi ion besi, mengkelat ion besi dan hemoglobin (Hb) dan menghambat pemucatan asam linoleat-b-karoten.Hasil menunjukkan bahwa ekstrak metanolik daun beluntas (EMB) dan fraksi-fraksinya (etil asetat (FEA), air (FA)dan n-butanol (FNB)) berpotensi menangkap radikal bebas DPPH. EMB mempunyai kadar fenolik total dan kekuatanreduksi tertinggi lebih berpotensi menangkap radikal superoksida, mereduksi ion besi dan menghambat pemucatanasam linoleat-b-karoten, sedangkan fraksi etil asetat (FEA) mempunyai aktivitas antioksidan berdasarkan kemampuanmenangkap radikal superoksida, mereduksi ion besi, mengkelat ion besi dan hemoglobin.
Kinetika Adsorpsi Ion Besi (II) Oleh Biomassa Chaetoceros sp. Paini Sri Widyawati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 11, No 3 (2006): October 2006
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v11i3.2542

Abstract

This research was done to study the adsorption kinetic of ferrous ionic by Chaetoceros sp. Many variables influenced the adsorption capacity of absorbent on ferrous ionic including interaction time, ferrous ionic concentration and pH. Two absorbens were used in this study i.e. pure culture and natural spoiled product called Diatomite/ Diatomae earth / Diatomaceous earth / Diatomooze of Chaetoceros sp. biomass. The adsorption capacity by biomass was measured by atomic absorption spectrophotometry method (AAS). The result showed that the adsorption process of two absorbents happened very fast. The time needed to get maximal adsorption were 10 and 15 minutes respectively. Adsorption pattern of two biomass can be interpreted by Langmuir and Freundlich isoterm showing monolayer. The adsorption capacity of Diatomite was five times higher than that of the pure culture biomass because it was influenced by surface group charge and wide surface area of porous. Acidity degree (pH) of solution determined surface active group charge and solubility of iron (II). The increased pH value, the biomass adsorption capacity was added because surface active group had negative charge. The adsorption of biomass was maximal around pH 5 while for pH higher than 5, it wasn’t significantly increased because the iron (II) formed insoluble hydroxide compound.
Phytochemical Phytochemical Compounds and Antihyperglycemic Activities from Beverage Composed Pluchea indica Less-Black Tea-Honey Paini Sri Widyawati; Liza Frebriana
Food Science and Technology Journal (Foodscitech) Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Dr Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/fst.vi.5209

Abstract

Pluchea indica Less has been developed into tea bag because it contains a number of phytochemical compounds, such as lignin, terpenes, benzoids, phenylpropanoids, alkanes, saponins, catechins, alkaloids, tannins, sterols, phenolhydroquinones, and flavonoids, which have been shown to have several biological activities, such as antioxidants, anti-inflammatory, anticholesterol, and antihyperglycemic. In its development, pluchea tea can be combined with black tea to produce certain functional values. Consumption of pluchea-black tea in daily life can be done with the addition of lemon or honey to increase antihyperglycemic activity. However, this study focused on determining the profile of phytochemical compounds and antihyperglycemic activity of pluchea-black tea honey drink. The research design used was a Randomized Block Design (RAK) with one factor including honey concentration consisting of six treatment levels: 0, 1, 2, 3, 4 and 5% (v/v). Each treatment was repeated four times. Parameters carried out are the profile of phytochemical compounds and antihyperglycemic activity through in vitro analysis, namely the activity of inhibiting a-amylase and a-glucosidase enzymes. The results showed that the use of honey in the manufacture of pluchea-black tea had an effect on the profile of phytochemical compounds and antihyperglycemic activity. The use of honey with a concentration of 5% produced the highest antihyperglycemic activity, 73.21±3.57% for the ability to inhibit the alpha-amylase enzyme and 77.27±5.25% for the ability to inhibit the alpha-glucosidase enzyme, respectively
Peningkatan Literasi Biodiversitas Menggunakan Model Kebun Botani di Madiun Darmoatmodjo, Laurensia Maria Yulian Dwiputranti; Epriliati, Indah; Widyawati, Paini Sri; Purwanto, Agus; Ganjari, Leo Eladisa
Warta LPM WARTA LPM, Vol. 27, No. 2, Juli 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/warta.v27i2.4134

Abstract

The improvement of literacy on biodiversity growing in the residential areas can support the attitude of society to sustain the ecology, even improving the life quality based on local potentials. However, there are limited live-learning facilities available for biodiversity education. Hence, a community service was carried out by the Study Program of Biology and Study Program of Food Technology, Faculty of Agricultural Technology, Widya Mandala Surabaya Catholic University, Indonesia. Its objective was to improve literacy on biodiversity of the societal partners through knowledge enrichment and awareness of biodiversification potentials which grow in their residential areas. The societal partners are alumni, high school students (St. Bonaventura and the 6th State High School, Madiun), and Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) group “Asman Toga” from Rejomulyo village, Madiun; totally 45 participants. The activities included (a) building a botanical garden named Arbor Vitae”, (b)focused group discussion (FGD), and (c) workshop.  Currently, it finished a clearing land and planting more than 50 species for foods and nutraceutical/medicinal sources as well as ecological services. The “Arbor Vitae” had been embedded into university institution by appointing a management in charged. Meanwhile, the improvement of literacy was measured from pre- and post-test during FGD which indicated a significant increase in partners’ literacy by 45.44%; after screening 18 respondents completely filled the tests. The test statements grouped into four indicators of literacy on biodiversity. Moreover, the workshop was complementarily improving the partners’ skill with technology of telang flower jelly drink, purslane medical simplisia, and water clarification using moringa seeds.
Pelatihan dan Pendampingan Penentuan Kualitas Produk Mi Basah Pada IRT Dapure Indah, Wonorejo, Surabaya Widyawati, Paini Sri; Widjajaseputra, Anna Ingani; Ristiarini, Susana; Widyastuti, Theresia Endang widoeri
Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma Vol 5 No 2 (2024): Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma
Publisher : LPPM Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jakw.v5i2.409

Abstract

IRT Dapure Indah adalah IRT yang bergerak pada penjualan pangsit mi ayam dengan akun bisnis Dapure Indah Restoran yang berjualan secara online. Kontaminasi mi basah yang terjadi selama produksi menyebabkan perlu dilaksanakan pelatihan dan pendampingan bagi IRT Dapure Indah dengan menentukan kualitas produk mi basah yang dihasilkan berdasarkan pengujian fisikokimia dan sensoris. Produk mi basah yang diproduksi IRT Dapure Indah diamati perubahan kualitasnya pada penyimpanan 0, 4 dan 7 hari yang disimpan di refrigerator. Hasil menunjukkan bahwa mi basah di kondisi awal mempunyai kadar air 18,16% bb, Aw 0,981, lightness (L*) 82,8, redness (a*) 3,33, yellowness (b*) 12,5, chroma 12,5, Hue (oh) 74,47. Penyimpanan menurunkan kadar air, L*, oh, springiness, cohesiveness, tingkat kesukaan terhadap warna, aroma dan kenampakan. Sedangkan nilai Aw, a*, b*, C, hardness, gumminess, chewiness and resilience meningkat seiring lama penyimpanan. Mi basah produksi IRT Dapure Indah tidak lengket, tidak berlendir, kenyal, berwarna putih kekuningan, dan beraroma mi pada umumnya. Setelah penyimpanan, mi basah cenderung berwarna coklat, kering, dan beraroma asam, apek dan tengik. Oleh karena itu produksi mi basah oleh IRT Dapure Indah memerlukan bahan tambahan pangan (BTP) sebagai pengawet agar kualitasnya tetap terjaga, namun untuk mengetahui keefektifan BTP tersebut masih diperlukan pendampingan lebih lanjut.