Iwan Abdul Rachman
Department Of Anesthesiology And Intensive Care, Faculty Of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung

Published : 28 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Pengelolaan Anestesi untuk Cedera Otak Traumatik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Nency Martaria; Iwan Abdul Rachman; MM. Rudi Prihatno
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 8, No 3 (2019)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2974.56 KB) | DOI: 10.24244/jni.v8i3.235

Abstract

Cedera otak traumatik (COT) merupakan salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas di seluruh dunia. Kelompok yang paling berisiko mengalami COT adalah pasien geriatrik, dimana mayoritas disebabkan oleh jatuh. Kejadian jatuh salah satunya dikaitkan dengan hemiparesis akibat riwayat stroke. Seorang laki-laki, 68 tahun dengan Glasgow Coma Scale (GCS) M3V1E4. Pasien mengalami cedera kepala akibat jatuh ketika naik tangga. Pasien memiliki riwayat gangguan keseimbangan akibat stroke iskemik dan mendapatkan terapi clopidogrel. Hasil pemeriksaan CT scan memperlihatkan adanya perdarahan akut sub dural dengan penyimpangan garis tengah 0,9 cm. Operasi pertama yang dilakukan adalah kraniektomi dekompresi dan pemasangan kasa untuk kontrol perdarahan. Perdarahan baru ketika operasi, timbul di midparietal kanan dan diduga berasal dari vena penghubung yang dekat dengan sinus. Perdarahan sulit dihentikan dengan total perdarahan 2500 cc. Tanda vital selama operasi stabil dengan topangan norepinefrin 0,2 mcg/kg/menit. Anestesi dengan menggunakan fentanyl 200 mcg, propofol 100 mg dan vecuronium berkelanjutan. Pemeliharaan dengan oksigen, compressed air dan sevofluran 2%. Pasien ditransfusi pack red cel (PRC) 700 ml. Setelah delapan hari perawatan ICU, kadar fibrinogen dan hemoglobin menjadi normal,dilakukan pengangkatan kassa dari dalam kepala pasien. Saat ini pasien telah dipulangkan dari rumah sakit dengan Glasgow Outcome Scale 3 dan hemiparese sinistra. Pengelolaan anestesi pada operasi pasien memperhatikan kondisi otak akibat COT, stroke iskemik dan efek dari terapi Clopidogrel pada operasi cito. Brain Trauma Foundation memberikan panduan untuk pengelolaan COT yang bertujuan untuk memberikan luaran yang lebih baik. Anesthetic Management for Traumatic Brain Injury in Patient with Ischemic StrokeAbstractTraumatic brain injury (TBI) is one of the leading cause of death and disability around the world. Geriatric being the most vulnerable group, mainly because of falling, of which associated with hemiparesis following stroke. A 68 years old man with Glaslow Coma Scale (GCS) M3V1E4 had brain injury after falling from stairs. The patient is having balance disorder following stroke and receiving clopidogrel afterwards. CT-scan showed acute subdural hemorrhage (SDH) with 0.9cm midline shift. Decompression craniectomy and gauze insertion to stop the bleeding was done on the first surgery. New onset of bleeding occurred in right midparietal. Bleeding was uncontrollable with total volume of 2500cc. Vital signs remained stable with norepinephrine 0.2mcg/kg/min. Anesthesia under fentanyl 200 mcg, propofol 100mg, and continuous vecuronium. Patient was transfused with pack red cel (PRC) total of 700 cc. After eight days in ICU, fibrinogen and hemoglobin returned to normal level, therefore the patient undergone gauze removal. The patient discharged with GOS 3 and left hemiparesis. Anesthesia management in this patient’ surgery focused on brain condition following TBI, ischemic stroke and the effect of clopidogrel therapy in emergency operation. Brain Trauma Foundation issued a management guideline of TBI for better outcome.
Tatakelola Anestesi untuk Dekompresi Kraniektomi pada Cedera Otak Traumatik Berat dengan Penyulit Obesitas Morbid Fitri Sepviyanti Sumardi; Iwan Abdul Rachman; Bambang J. Oetoro
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2618.353 KB) | DOI: 10.24244/jni.v9i1.247

Abstract

Anestesi dan pembedahan mungkin meyebabkan risiko yang cukup besar untuk pasien obesitas, apalagi obesitas morbid. Populasi orang gemuk meningkat, baik di negara maju dan berkembang, sehingga para ahli anestesi lebih sering menghadapi tantangan dalam mengelola pasien obesitas. Trauma multipel bertanggung jawab atas 5 juta kematian per tahun di seluruh dunia dan merupakan penyebab kematian utama bagi orang-orang muda di bawah 40 tahun, mewakili peristiwa akut dan tak terduga. Kami akan melaporkan seorang lelaki 36 tahun dengan obesitas morbid, BMI 48,97 kg/m2, yang mengalami multipel trauma akibat kecelakaan lalulintas, yang akan menjalani operasi evakuasi perdarahan subdural dan dekompresi kraniektomi. Pemilihan obat dan dosis aman sangat sulit pada pasien dengan multipel trauma, karena mungkin status volumenya tidak diketahui secara akurat. Rencana anestesi harus mempertimbangkan status resusitasi dan riwayat penyakit penyerta lain. Peran penting lainnya dari anestesiologis adalah pencegahan cedera sekunder yang disebabkan oleh syok berulang atau resusitasi tidak tepat. Anesthesia Management for Craniectomy Decompression on Severe Brain Traumatic Injury with Comorbid Morbid Obesity AbstractAnesthesia and surgery may cause considerable risk for obese patients, especially morbid obesity. Obese populations increase, both in developed and developing countries, so anesthesiologists more often face challenges in managing obese patients. Multiple traumas is responsible for 5 million deaths per year worldwide and is the leading cause of death for young people under 40, representing acute and unexpected events. We will report a 36-year-old man with morbid obesity, a BMI of 48.97 kg/m2, who experienced multiple traumas due to a traffic accident, who will undergo an evacuation operation for subdural hemorrhage and craniectomy decompression. The selection of drugs and safe doses is very difficult in patients with multiple traumas, because their volume status may not be accurately known. Anesthetic plan must consider resuscitation status and history of other comorbidities. Another important role of anesthesiologist is the prevention of secondary injury caused by recurrent shock or improper resuscitation.
Penatalaksanaan Anestesi pada Tindakan Bedah Tumor Fossa Posterior: Serial Kasus Iwan Abdul Rachman; Tatang Bisri
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3346.039 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol5i1.57

Abstract

Fossa posterior atau fossa infratentorial merupakan kompartemen yang padat serta kaku dan tidak dapat melakukan penyesuaian terhadap penambahan volume isinya. Sedikit penambahan volume isi misalnya akibat tumor atau hematoma, dapat mengakibatkan peningkatan tekanan yang signifikan di dalam kompartemen tersebut sehingga terjadi penekanan pada batang otak yang mengancam kehidupan. Tindakan operasi pada fossa posterior memberikan tantangan bagi ahli anestesiologi dikarenakan risiko tinggi terjadinya disfungsi batang otak, posisi pasien, pengawasan neurofisiologis intraoperatif, dan risiko potensial terjadinya emboli udara vena (venous air embolism/VAE). Berikut ini serial kasus mengenai pasien yang dilakukan tindakan kraniotomi pengangkatan tumor atas indikasi tumor infratentorial pada cerebellopontine angle (CPA) dan serebellar astrositoma. Data telah menunjukkan risiko terjadinya VAE pada posisi duduk yaitu antara 40%–45%, sedangkan pada posisi lateral, telungkup, park bench lebih rendah yaitu antara 10%–15%. Pada serial kasus ini posisi ketiga pasien diposisikan dengan posisi park bench dan tidak terjadi adanyaVAE. Kasus ini dapat memperkuat data dalam penurunan resiko terjadinya VAE adalah dengan posisi park bench. Oleh karena itu, pencegahan dari terjadinya VAE sangatlah penting diketahui oleh ahli anestesiologi untuk mengurangi mortalitas pada pasien dengan tindakan bedah fossa posterior.Anesthesia in Surgical Management Measures Posterior Fossa Tumors: Serial CaseThe posterior fossa or infratentorial fossa is a compact and rigid compartment with poor compliance. Small additional volumes (e.g. tumour, haematoma) within the space can result in significant elevation of the compartmental pressure resulting in life-threatening brainstem compression. Surgery in the posterior fossa presents the significant challenges in addition to special problems related to brain stem dysfunction, patient positioning, intraoperative neurophysiologic monitoring, and the potential for venous air embolism (VAE). This serial case present anaesthetic management in tumor removal surgeries (infratentorial in cerebello pontine angle/CPA and cerebellar astrocytoma). Data have shown the risk of VAE in the sitting position 40% - 45%, lateral and park bench position 10% – 15%. In these three cases all the patient with park bench position. This case can strenghthen data in a decrease in the risk of VAE is the park bench position. Therefore, prevention of the occurrence of VAE is very important to be known by the anesthesiologist to reduce mortality in patients with posterior fossa surgery.
Gambaran Jumlah Perdarahan pada Seksio Sesarea Spektrum Plasenta Akreta di RSUP Hasan Sadikin Bulan Januari 2020-Desember 2021 Okky Harsono; Dewi Yulianti Bisri; Iwan Abdul Rachman
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 6 No 2 (2023): Juli
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v6i2.135

Abstract

Latar Belakang: Masalah morbiditas dan mortalitas pada pasien dengan spektrum plasenta akreta (SPA) berkaitan erat dengan perdarahan masif perioperatif, sehingga diperlukan strategi pemberian transfusi darah yang tepat.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran jumlah perdarahan pada seksio sesarea atas indikasi dengan spektrum plasenta akreta.Subjek dan Metode: Penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dari Januari 2020 sampai Desember 2021 dengan sampel penelitian berjumlah 50 orang yang terbagi dua berdasarkan skor Placenta Accreta Index (PAI), yaitu kelompok skor PAI <5 dan >5. Dicatat kadar hemoglobin pra dan pascabedah, jenis tindakan penjepitan aorta dan yang tidak dilakukan penjepitan, jumlah perdarahan, serta jumlah pemberian transfusi darah.Hasil: Penelitian ini memperoleh hasil perdarahan rata-rata sebesar 3.135 cc dan Hb pascaoperasi rata – rata 8,32 pada kelompok skor PAI <5 dan 8.186 cc dan Hb pasacaoperasi rata – rata 7,73 pada skor PAI >5.Simpulan: Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pasien dengan gangguan spektrum plasenta akreta dengan skor PAI ≥ 5 memiliki jumlah perdarahan yang lebih banyak dan tindakan penjepitan aorta dilakukan lebih dari 80% pasien
Tatalaksana Anestesi pada Pasien Geriatri dengan Hematoma Subdural, Intraserebral, dan Subarahnoid yang Menjalani Kraniotomi Evakuasi Hematoma Widiastuti, Monika; Rachman, Iwan Abdul; Umar, Nazaruddin
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.391 KB) | DOI: 10.24244/jni.v11i2.449

Abstract

Cedera otak traumatik pada geriatri memiliki insiden 734% dengan penyebab utama adalah jatuh. Perdarahan subdural merupakan jenis cedera yang paling sering terjadi pada populasi geriatri. Hal ini sesuai dengan proses penuaan yang terjadi pada jaringan otak sehingga menyebabkan populasi ini sering mengalami perdarahan subdural jika mengalami cedera. Pasien perempuan berusia 72 tahun datang dengan keluhan nyeri kepala pasca terjatuh 6 hari sebelum masuk rumah sakit. Dari pemeriksaan fisik ditemukan kesadaran E3M5V6, tanpa adanya kelainan dan defisit neurologis dan hemodinamika stabil. Dari pemeriksaan penunjang Computed Tomography (CT) scan ditemukan subdural hematoma di regio frontotemporoparietalis dextra dan regio frontalis et temporalis sinistra yang menyebabkan midline shift ke arah sinistra, perdarahan subarahnoid di regio frontalis sinistra, perdarahan intraserebral di lobus temporalis sinistra. Operasi kraniotomi evakuasi hematoma dilakukan selama 3 jam dengan anestesi umum. Pertimbangan anestesi pada pasien ini adalah neuroanestesi dan anestesi geriatri dengan memperhatikan proses penuaan yang mempengaruhi perubahan fisiologi dan farmakologi pada pasien geriatri, riwayat komorbiditas dan polifarmasi. Tatalaksana perioperatif yang baik penting untuk mencegah cedera sekunder pada jaringan otak.Anesthetic Management of Geriatri Patient with Subdural, Intracerebral, and Subarachnoid Hemorrhage Underwent Craniotomy for Hematoma EvacuationAbstractWorldwide, the incidence of traumatic brain injury in geriatrics is 734%, with falls as the most common cause. Subdural hemorrhage is the most common injury that occur and is associated with the aging process of the brain, making geriatric patients prone developing subdural hemorrhage. A 72-years-old female came with a headache after fell to the ground 6 days before hospital admission. Physical examination revealed E3M5V6 without neurologic deficits and hemodynamically stable. A computed tomography scan resulted in subdural hematoma in right frontotemporoparietal region causing midline shifting to the left, subarachnoid hemorrhage in the left frontal region, intracerebral hemorrhage in the left temporal lobe. The patient underwent craniotomy evacuation of hematoma and lasted for 3 hours under general anesthesia. Anesthetic concerns are neuroanesthesia and geriatric patient considering the aging process affects physiologic and pharmacologic changes, comorbidities and polypharmacy. Comprehensive perioperative management is essential to prevent secondary brain injury and improve the outcome.
Penatalaksanaan Anestesi pada Perdarahan Intraserebral dengan Hidrosefalus dan Diabetes Melitus Longdong, Djefri Frederik; Rachman, Iwan Abdul; Bisri, Dewi Yulianti; Sudadi, Sudadi; Saleh, Siti Chasnak
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2509.245 KB) | DOI: 10.24244/jni.v11i1.355

Abstract

Perdarahan Intraserebral (PIS) adalah ekstravasasi darah yang masuk kedalam parenkim otak, yang dapat berkembang ke ruang ventrikel dan subarahnoid, terjadi spontan dan bukan disebabkan oleh trauma (non traumatis) dan merupakan salah satu penyebab tersering pada pasien yang dirawat di unit perawatan kritis saraf. Kejadian PIS 10-15% dari semua stroke dengan tingkat angka kematian tertinggi dari subtipe stroke dan diperkirakan 60% tidak bertahan lebih dari satu tahun. Kasus: Laki-laki 57 tahun, datang dengan keluhan penurunan kesadaran yang terjadi pada saat mau makan. Pada pemeriksaan didapatkan kesadaran GCS E1M4V1 dengan hemodinamik stabil, dan terdapat hemiplegi sinistra. Pasien diintubasi dan memakai ventilator di ruangan Instalasi Gawat Darurat Disaster sambil menunggu hasil skrining Covid 19 dengan swab polymerase chain reaction (PCR). Pada CT-scan ditemukan adanya PIS 48,93 cc di basal ganglia, capsula eksterna sampai periventrikel lateralis kanan, terjadi distorsi midline sejauh 1 cm ke kiri. Ventrikulomegali disertai perdarahan intraventrikel yang mengisi ventrikel lateralis kanan dan kiri, ventrikel III dan IV. Laboratorium menunjukkan gula darah di atas 200 mg/dl setelah dilakukan koreksi gula darah diputuskan untuk dilakukan tindakan kraniotomi evakuasi segera dengan pemeriksaan penunjang yang cukup. Tindakan kraniotomi evakuasi pada pasien PIS menjadi tantangan bagi seorang anestesi, sehingga diperlukan pengetahuan akan patofisiologi, mortalitas PIS dan tindakan anestesi yang harus dipersiapkan dan dikerjakan dengan tepat.Anesthesia Management in Intracerebral Hemorrhage with Hydrocephalus and Diabetes MellitusAbstractIntracerebral hemorrhage (ICH) is the extravasations of blood into the brain parenchyma, which may develop into ventricular and subarachnoid space, there was spontaneous and not caused by trauma (nontraumatic), and one of the most common cause in patients treated in the neurological critical care unit. ICH represents perhaps 1015% of all strokes with the highest mortality rates of stroke subtypes and about 60% of patients with ICH do not survive beyond one year. Case: a man 57 years, came with complaints of loss of consciousness when he just want to eat. On examination of consciousness obtained GCS E1M4V1 with hemodynamic was stable, there left hemiplegic. Patients is intubated and connected with ventilator at Emergency Room Disaster while waiting for result from PCR. From the CT Scan we found 48,93 cc at basal ganglia, capsula externa until lateral periventricle dextra there is a midline distortion 1 cm to the left. Ventriculomegali with intraventricle hemorrhage wich is fill the lateral ventricle right and left, third ventricular and fourth ventricular. The laboratorium result show the glucose up to 200 mg/dl. After glucose correction, it was decided to evacuate immediately craniotomy action with adequate investigation. Procedure of craniotomy evacuation in ICH patients be a challenge for an anesthesiologist, so knowledge of the pathophysiology, mortality ICH and anesthetic procedure that should be prepared and done properly.
Diagnosis dan Manajemen Anestesi pada Pituitary Apopleksia Tidak Fatal dengan Manifestasi Schizofrenia Cahyadi, Arief; Rachman, Iwan Abdul; Jasa, zafrullah Khany; Mafiana, Rose
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2401.668 KB) | DOI: 10.24244/jni.v11i1.393

Abstract

Tumor hipofisis dapat disertai gejala neuropsikiatri. Apopleksia pituitari (AP) merupakan kejadian jarang akibat infark dan perdarahan tumor hipofisis. Pemulihan total masih mungkin terjadi walaupun pada kasus berat dengan terapi pembedahan maupun konservatif. Terapi pembedahan dipilih bila adanya tanda peningkatan intrakranial dengan kondisi klinis dan neurologis yang tidak stabil. Seorang laki laki, umur 36 tahun dengan keluhan gangguan bicara mendadak sehari sebelum masuk RS, dengan riwayat terapi skizofrenia selama 8 bulan. Pasien mengalami penurunan kesadaran dalam perawatan dan didiagnosis tumor hipofisis anterior dengan komponen apopleksia dari CT-scan kepala. Pasca operasi transphenoid urgensi diterapi vasopresin intramuskular akibat poliuria. Penatalaksanaan anestesi pada pembedahan AP tidak berbeda dengan tumor hipofisis lainnya, hanya saja kondisi AP dapat bersifat urgensi. Satu bulan pasca pembedahan, pasien sudah lebih mudah berbicara, mulai beraktifitas fisik, dan halusinasi suara sudah tidak ada. Tatalaksana AP memberikan tantangan dalam manajemennya. Keluhan yang ditemukan dapat berupa halusinasi. Hingga kasus ini dilaporkan, ada satu publikasi kasus AP dengan psikosis akut dan keterlambatan diagnosis masih mungkin terjadi. Kecurigaan gangguan organik tetap perlu dipikirkan pada gangguan neuropsikiatri. Gangguan produksi urin bisa terjadi pasca operasi yang disebabkan beberapa hal sehingga memerlukan pemantauan ketat status hidrasi untuk menghindari morbiditas dan mortalitas yang mungkin terjadi.Anesthesia Management in Urgency Transsphenoidal Tumor Resection with Pituitary Apoplexy Presenting and SchizophreniaAbstractPituitary tumors may be accompanied by neuropsychiatric symptoms. Pituitary Apoplexy (PA) is a rare condition due to infarct or bleeding in pituitary tumors. Complete recovery is still possible even in severe cases with either surgical or conservative therapy. Surgery is a choice if there is evidence of increased intracranial pressure with unstable clinical and neurological conditions. Adult man, 36 yo, with sudden difficulty to speak a day before, with history of schizophrenia since 8 months ago. The patient suffered a decrease in consciousness in hospitalization and was diagnosed with anterior hypophysis tumor with apoplexy by CT-scan results. Post transsphenoidal urgency surgery, the patient was treated with vasopressin IM due to polyuria. Anesthesia management in PA surgery is the same as other pituitary tumor surgery, however, PA can be urgent. One month after surgery, the patient is more easier to talk, start physical activities, and auditory hallucination is not heard again. Management PA had its own challenge. Symptoms can be hallucinations. Until this case was reported, there was one published case of AP with acute psychosis and delay in diagnosis is still possible. Suspicion of organic disorders still needs to be considered in neuropsychiatric disorders. Impaired urine production might occur postoperatively due to several reasons so it requires close monitoring of hydration status to prevent possible morbidity and mortality.
Manajemen Anestesi pada Pasien Patent Ductus Arteriosus dengan Hipertensi Pulmonal Berat dan Regurgitasi Trikuspid Berat Sugiarto, Tomi; Rachman, Iwan Abdul
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 11 No 3 (2023)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v11i3.14678

Abstract

Patent ductus arteriosus (PDA) merupakan penyakit jantung bawaan asianotik yang didefinisikan sebagai persistensi dari pintasan janin antara arteri pulmonalis dan aorta, menyebabkan terjadinya oversirkulasi pulmoner dan hipoperfusi sistemik. Pasien PDA yang menjalani operasi nonkardiak memiliki resiko morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Kondisi diperberat dengan adanya hipertensi pulmonal yang diketahui memberi kontribusi kasus henti jantung perioperatif, dan regurgitasi tricuspid menimbulkan overload volume ventrikel kanan dan meningkatkan resiko gagal jantung kanan. Dilaporkan satu kasus multiple karies dengan PDA disertai hipertensi pulmonal berat dan regurgitasi tricuspid berat pada anak usia 6 tahun yang akan menjalani operasi mouth preparation. Pasien datang dengan keluhan gigi berlubang sejak 1 tahun, disertai dengan sesak nafas dan batuk. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya peningkatan denyut nadi dan laju nafas disertai dengan penurunan saturasi oksigen perifer, bunyi jantung tambahan dan clubbing finger disertai akral cyanosis. Foto rontgent thoraks menunjukkan kesan kardiomegali disertai bronkopneumonia bilateral dd/ edema paru perbaikan, efusi pleura kiri perbaikan. Hasil echokardiografi didapatkan PDA 7-8 mm bidirectional shunt, RV dan RA dilatasi dengan TR severe, dengan EF 52,6%. Pasien dikategorikan status ASA III. Pasien diberikan premedikasi intravena dengan midazolam 0,5 mg, dilakukan anestesi umum, preoksigenasi dengan oksigen 100%, diinduksi secara intravena dengan fentanyl 35 mcg dan midazolam 3 mg, dan diberikan pelumpuh otot atracurium 6 mg. Pasien diintubasi dengan menggunakan endotracheal tube no. 5,0. Saat operasi diberikan rumatan anestesi dengan sevoflurance 2-3vol% dalam O2:udara. Paska operasi pasien dipindahkan ke ruang semiintensif dengan oksigenasi nasal kanul dan diberikan analgetik berupa paracetamol 240mg/6 jam secara intravena dan ketoprofen supositoria 25mg. Operasi dengan kondisi PDA, hipertensi pulmonal berat dan perlu dipastikan agar tercapai keseimbangan aliran darah, sehingga tidak terjadi peningkatan aliran darah pulmonal yang dapat menyebabkan desaturasi dan penurunan perfusi oksigen ke jaringan. Ventilasi perlu diberikan secara cukup; tidak hipoventilasi yang memicu peningkatan PVR, dan tidak berlebihan agar menghindari overdistensi alveolar yang dapat berakibat meningkatkan tekanan arterial paru. Anestesi umum menjadi pilihan agar tercapai kontrol ketat oksigenasi dan ventilasi.
Opioid-Free Anesthesia Technique for Anterior Cervical Discectomy and Fusion (ACDF): Anesthesia Management Cobis, Albinus Yunus; Bisri, Dewi Yulianti; Rachman, Iwan Abdul
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 14, No 2 (2025)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v14i2.660

Abstract

Anterior cervical discectomy and fusion (ACDF) is a safe and effective surgical procedure to treat cervical spine pathology. ACDF treats Cervical Spondylotic Myelopathy (CSM), where degeneration of the cervical vertebrae compresses the spinal cord, causing sensory, motor, reflex, and bowel function impairment. The use of opioids can have unpleasant effects, hence opioid-free anaesthesia techniques were developed as a strategy to reduce this risk. A man, 62 years old, complained of weakness in the upper limbs until it was difficult to move the hands. Supportive examination revealed cervical myeloradiculopathy due to multiple hernia nucleus pulposus (HNP). Management of opioid-free anaesthesia techniques using multimodal analgesics. During the operation, haemodynamics were relatively stable. Extubation was performed in the operating room and then the patient was transferred to the intensive care unit. The choice of opioid-free anaesthesia technique in the case was to provide multimodal using specific agents that have anaesthetic or analgesic properties. Opioid-free anaesthesia methods that support the Enhanced Recovery after Surgery (ERAS) concept are considered highly beneficial in accelerating recovery time, reducing length and cost of treatment and minimizing opioid-related unpleasant risks. The opioid-free anaesthetic technique in this case report demonstrates the feasibility and benefits of opioid-free anaesthesia in effective pain management and minimizing opioid-related risks, especially in ACDF surgical procedures. This technique is in line with the ERAS protocol.
Pengelolaan Anestesi pada Pasien yang dilakukan Eksisi Tumor Medula Spinalis Servikal 2-3 dengan Ventrikel Ekstra Sistole Maharani, Nurmala Dewi; Rachman, Iwan Abdul; Bisri, Dewi Yulianti; Sudadi, Sudadi; Saleh, Siti Chasnak
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3511.729 KB) | DOI: 10.24244/jni.v10i2.354

Abstract

Penyakit yang mengakibatkan kompresi medulla spinalis dapat mengakibatkan iritasi pada sistem saraf otonom. Hiperinervasi saraf simpatis berisiko tinggi pada aritmia ditandai adanya perubahan pada elektrokardiografi, yakni perubahan durasi gelombang P, durasi QRS, depresi segmen ST, interval puncak gelombang T dan ventrikel ekstrasistol. Laki- laki 52 tahun dengan tumor intra-ektramedullar pada area cervikalis 2-3 dengan tetraparesis dan ventrikel ektrasistol dilakukan wide eksisi tumor dan stabilisasi posterior. Pemeriksaan fisik nadi 90 x/menit teraba tidak teratur. Elektrokardiogarfi (EKG) didapatkan hasil irama irreguler 82 x/menit, ventrikel ektrasistol 10 x/menit. Echocardiography menunjukkan disfungsi diastolik grade 3 preserved LV function. Sebelum operasi pasien diberikan terapi ventrikel ektrasistol dengan menggunakan analgetik dan amiodaron 150 mg (10 mL) pada 10 menit pertama, dilanjutkan dengan 360 mg (200 mg) untuk 6 jam selanjutnya, 540 mg untuk 18 jam berikutnya dan analgetik. Induksi anestesi dilakukan dengan midazolam 3 mg, fentanyl 200 mcg, lidokain 60 mg, propofol 100 mg, dan atricurium 30 mg serta intubasi manual in-line. Dilakukan pemasangan arteri line dan kateter vena sentral setelahnya pasien diposisikan prone. Pembedahan berlangsung 6 jam. Pasien dirawat di ICU 2 hari sebelum pindah ruang rawat biasa. Pemberian amiodarone sendiri dapat dipertimbangkan pada ventrikel ekstrasistol maligna yang memerlukan tatalaksana segera dengan pertimbangan hemodinamik pasien dalam keadaan stabil.Anesthesia Management for Cervical 2-3 Spinal Cord Tumor with Ventricles ExtrasystoleAbstractCompression of the spinal cord can cause irritation to the autonomic nervous system. Hyperinervation of sympathetic nerves at high risk for arrhythmias characterized by electrocardiographic results in changes in P-wave duration, QRS duration, ST-segment depression, T-wave peak interval, and ventricular extrasystole. A 52-year-old male with an intra-extramedullar tumor in cervical 2-3, tetraparesis, dysrhythmias, and ventricular extrasystole bigemini. Wide excision of tumor and posterior stabilization would be performed. The pulse was 90x/minute palpable irregularly. Electrocardiography examination revealed irregular rhythm 82 x/minute and ventricular extrasystole 10 x/minute. Echocardiography showed grade 3 diastolic dysfunction with preserved LV function. Before the procedure, the patient was given management for the dysrhythmia and ventricular extrasystole with analgetics and amiodaron 150mg (10ml) in the first 10 minutes followed by 360mg (200mg) for the next 6 hours, 540mg for the next 18 hours and analgetics. General anesthesia carried out with midazolam 3mg, fentanyl 200mcg, lidocaine 60mg, propofol 100mg, and atricurium 30mg, with manual intubation in-line. After arterial line and central venous catheter insertion, the patient was placed in the prone position. Surgery lasted for approximately 6 hours. The patient was treated in the ICU for 2 days before moving to the usual ward. Amiodarone can be considered in ventricular extrasystole requiring immediate treatment with stable hemodynamic.