Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Peran Kalium dan Kalsium Pada Peningkatan Kualitas dan Masa Simpan Tomat (Lycopersicum esculentum var. servo) Puguh Catur Wicaksana; Ketut Anom Wijaya; Sigit Soeparjono
Agriprima : Journal of Applied Agricultural Sciences Vol 3 No 2 (2019): SEPTEMBER
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/agriprima.v3i2.173

Abstract

Tomat memiliki karakteristik mudah mengalami kerusakan. Kerusakan fisiologis pada produk buah tomat dapat disebabkan oleh kualitas dalam buah dan atribut sensorik yang kurang baik sehingga rentan terjadi kerusakan. Kehilangan produksi tomat saat panen di negara-negara berkembang mencapai 50% karena lamanya distribusi tomat. Varietas servo banyak diminati oleh petani karena memiliki beberapa keunggulan yaitu, produktivitasnya yang tinggi dan bobot buah yang besar. Kekurangan varietas servo tomat adalah umur simpan buah yang singkat, yaitu hanya 7 hari setelah panen. Umur simpan yang singkat dipengaruhi oleh ketebalan daging buah dan kelunakan buah. Dalam meningkatkan kualitas dan umur simpan tomat, nutrisi kalium (K) berperan dalam translokasi fotosintesis, memperkuat dinding sel dan terlibat dalam proses lignifikasi jaringan sklerenkim. Tomat merupakan produk yang memiliki tingkat respirasi tinggi yang dipengaruhi oleh etilen. Produksi etilen dapat dihambat oleh aplikasi kalsium (Ca) secara eksogen dengan memperkuat mekanisme dinding sel dan dapat meningkatkan sensitivitas terhadap kerusakan fisiologis. Berdasarkan perlakuan penelitian ini, kualitas dan varietas tomat meningkat.
Pengaruh Cekaman Suhu Tinggi pada Fase Bibit terhadap Pertumbuhan dan Hasil Umbi Dua Varietas Tanaman Kentang (Solanum Tuberosum L.) Riani Ningsih; Slameto; Ketut Anom Wijaya
Agriprima : Journal of Applied Agricultural Sciences Vol 5 No 2 (2021): SEPTEMBER
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/agriprima.v5i2.390

Abstract

Kentang umumnya dapat tumbuh optimal di dataran tinggi, ketika kentang ditanam di dataran medium maka pertumbuhan tanaman akan terganggu. Hal ini dikarenakan pada dataran medium memiliki suhu yang relative tinggi. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui respon tanaman kentang jika ditanam pada suhu tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh cekaman suhu tinggi pada fase bibit terhadap pertumbuhan dan hasil pada tanaman kentang yang dilaksanakan di Jember dengan ketinggian di atas 500 mdpl (suhu rerata 320C). Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari dua faktor yaitu faktor pertama perlakuan suhu yaitu, Suhu Kontrol 320C (T0), Suhu 250C 16 jam dan 350C, 8 jam selama 15 hari (T1), Suhu 420C selama 8 jam (T2). Faktor kedua perlakuan varietas yaitu, varietas atlantik (V1), dan varietas granola (V2). Sehingga terdapat 6 kombinasi perlakuan dengan ulangan 4 kali. Data dianalisis menggunakan uji lanjut jarak berganda duncan 5%. Hasil penelitian interaksi antara perlakuan cekaman suhu kontrol 320C dan varietas granola kembang menunjukkan hasil terbaik pada variabel pengamatan tinggi tanaman sebesar 36,31 cm, jumlah daun sebanyak 15,95 helai, dan kandungan karbohidrat sebesar 22,49 mg/g. Sedangkan interaksi antara perlakuan cekaman suhu kontrol 320C dan varietas atlantik menunjukkan hasil terbaik pada variabel pengamatan berat umbi sebesar 17,4 g.
Respon Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor L.) Pada Tingkat Cekaman Salinitas Dengan Aplikasi Kalsium Lutfi Pramukyana; Didik Puji Restanto; Ketut Anom Wijaya
Agriprima : Journal of Applied Agricultural Sciences Vol 5 No 2 (2021): SEPTEMBER
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/agriprima.v5i2.418

Abstract

Sorgum merupakan salah satu tanaman yang sudah lama dibudidayakan di Indonesia namun dalam areal yang masih terbatas karena lahan pertanian yang subur dan produktif semakin menyempit. Kebanyakan lahan subur dan produktif tersebut pada umumnya lebih intensif ditanami padi dan terjadinya alih fungsi lahan subur untuk pembangunan industri, perumahan dan lain-lain. Salah satu upaya untuk mengembangkan komoditas sorgum adalah dengan memanfaatkan lahan marginal dekat pantai yang memiliki permasalahan yaitu memiliki tingkat salinitas yang tinggi. Permasalahan salinitas dapat dikendalikan dengan pemanfaatan unsur kalsium untuk menjaga agar tanaman sorgum dapat tumbuh secara optimum. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan potensi lahan salin dan mengetahui dosis kalsium yang terbaik untuk menekan pengaruh dari cekaman salinitas untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman sorgum. Percobaan ini dilakukan di rumah plastik buatan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdapat 2 faktor yang mana faktor pertama adalah tingkat salinitas yaitu 100 mM, 150 mM, 200 mM dan 250 mM. Faktor kedua adalah perbedaan konsentrasi Kalsium Klorida (CaCl2) yaitu 0 mM, 10 mM, 20 mM dan 30 mM. Setiap kombinasi perlakuan diulang 3 kali. Varietas yang digunakan adalah Super 1. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, panjang akar, umur berbunga, umur panen, bobot biji per malai, kandungan klorofil, kadar air relatif daun dan kandungan prolin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan S0C1 (Cekaman salin 100 mM + Kalsium 10 mM) memberikan hasil terbaik pada variabel tinggi tanaman dan panjang akar. Kombinasi perlakuan S0C2 (Cekaman salin 100 mM + Kalsium 20 mM) memberikan hasil terbaik pada variabel bobot biji per malai, klorofil dan kadar air relatif.
EFEK SUPLAI NITROGEN TERHADAP KADAR GULA NIRA TEBU VARIETAS BULULAWANG [EFFECT OF NITROGEN SUPPLY ON SUGAR CONTENT OF SUGAR CANE VARIETY BULULAWANG] Ketut Anom Wijaya; Sigit Soepariono
AGRITROP Vol 12, No 2 (2014): Agritrop: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/agr.v12i2.712

Abstract

Impor gula terus dilakukan setiap tahun oleh Pemerintah Indonesia untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang mencapai angka 3,5 juta ton/tahun, sedangkan produksi gula nasional hanya sekitar 1,5 juta ton. Penyebab dari masalah ini antara lain adalah rendahnya produktivitas lahan dan rendemen gula rata -rata nasional yaitu di bawah angka 6% (Ditjed Industri Agro dan Kimia, 2009). Untuk memenuhi kebutuhan gula  nasional, pemerintah menargetkan menaikkan rendemen tebu rakyat menjadi 8,4% di tahun 2014 dan menaikkan produksi gula  konsumsi menjadi 3,57 juta ton tahun 2014.  Salahsatu penyebab rendahnya rendemen/kadar gula adalah pemenuhan nutrisi tanaman  yang  tidak  akurat, terutama  pemenuhan unsur N.  Secara  fisiologis, tanaman tebu membutuhkan suplai N dalam jumlah yang tepat untuk dapat menghasilkan rendemen tinggi. Sampai hari ini cara pemupukan tebu masih menggunakan paket dosis anjuran yang dikeluarkan oleh pabrik gula (PG). Cara ini tidak memperhitungkan N yang terkandung di dalam tanah, padahal tanah mengandung N yang sangat bervariasi. Tanah di daerah Semboro, sebagai contoh, mengandung N mulai dari 217 sampai 532 kg/ha. Penelitian berupa percobaan lapang yang  menggunakan varietas Bululawang yang memiliki potensi rendemen 15% dan varietas ini mendominasi areal tebu di Jawa Timur.  Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RCBD) dengan 6 taraf suplai N yang masing-masing diulang 4 kali. Taraf suplai N yang diperlakukan adalah:   231; 252; 273; 294; 315; dan 336 kg N/ha. Pengertian suplai adalah pemenuhan kebutuhan nitrogen yang bersumber dari N tanah dan N pupuk, sehingga untuk menetapkan besar suplai, N tanah dianalisis terlebih dulu dan kekurangannya ditambahkan dalam bentu pupuk. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan angka kebutuhan nitrogen tanaman tebu bahan baku industri gula berkadar gula tinggi. Berdasarkan data yang dihasilkan maka dapat disimpulkan bahwa, untuk mencapai kadar gula tinggi tanaman tebu membutuhkan nitrogen sebanyak 315 kg/ha. Kata kunci: suplai Nitrogen, kebutuhan Nitrogen, kadar gula, bululawang.
APLIKASI PUPUK LEWAT DAUN PADA TANAMAN KAILAN (Brassica oleracea) Ketut Anom Wijaya
AGRITROP Vol 11, No 1 (2013): Agritrop: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/agr.v11i1.674

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan frekuensi aplikasi pupuk organic cair (POC) yang memberihasil kalian paling baik dibandingkan dengan pupuk anorganik standar bermerek dagang (sebagai kontrol) lewat daun. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan lima perlakuan dan 4 kali ulangan. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: pemberian POC 2 hari sekali (F1) memberikan hasil berat segar kailan paling baik dan lebih baik dari yang dihasil perlakuan control yaitu mencapai berat segar 126,23 gram/tanaman dengan beratkering 9,68 gram/tanaman. Perlakuan pemberian pupuk Gandasil D (F0, sebagai kontrol) memberikan hasil 124,63 g/tanaman. Aplikasi POC yang lain yaitu F2, F3 dan F4 menghasilkan berat segar yang berbeda tidak nyata dengan F0 dan F1. Dapat disimpulkan, bahwa POC konsentrasi 50% yang disemprotkan setiap 2 hari mampu menghasilkan kailan lebih baik dari perlakuan kontrol. Kata kunci: kailan, pemupukan lewat daun,  pupuk organic cair, frekuensi, hasil.
OPTIMASI DOSIS N PADA BIBIT KOPI ARABIKA VARIETAS KOMASTI PASCA PINDAH TANAM Distiana Wulanjari; Ketut Anom Wijaya
JURNAL BIOSENSE Vol 5 No 01 (2022): Edisi Juni 2022
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.643 KB) | DOI: 10.36526/biosense.v5i01.1979

Abstract

Kebutuhan kopi arabika dunia yang belum tercukupi menjadi alasan untuk terus meningkatkan produktifitas kopi arabika. Proses pindah tanam kedua menjadi salah satu kendala pada bibit kopi arabika yang tidak segera ditanam. Petani biasanya memupuk bibit tersebut untuk menstimulasi pertumbuhan tanaman pada media yang baru, namun hal ini sangat beresiko mengingat bibit yang baru saja dipindah tanam harus melakukan adaptasi. Oleh karena itu perlu diketahui dosis pupuk N yang sesuai untuk pertumbuhan bibit kopi pasca pindah tanam untuk mengurangi kegagalan pembibitan pasca pindah tanam. Penelitian ini dilakukan menggunakan RAL satu faktor dengan 5 kali ulangan. Dosis pupuk urea yang dicobakan sebanyak 4 taraf, yaitu kontrol/tanpa pupuk urea (N1), dosis pupuk urea 15 g/tanaman atau setara dengan 6,9 g N (N2), dosis pupuk urea 30 g/tanaman atau setara dengan 13,8 g N (N3), dan dosis pupuk urea 45 g/tanaman atau setara dengan 20,7 g N (N4). Pupuk diaplikasikan bertahap pada bibit yang telah ditransplanting dan di adaptasikan selama 7 hari. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh terhadap variabel yang diamati. Hal ini diduga tanaman dalam kondisi stress akibat waktu adaptasi yang singkat, sehingga semakin tinggi dosis urea yang diberikan maka semakin banyak pula tanaman yang mati.
Pengaruh Pemberian Kalium dan Pembalikan Tanaman terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) Rosyid Rohmadani; Ketut Anom Wijaya
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 5 No 4 (2022): November
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.573 KB) | DOI: 10.19184/bip.v5i4.35329

Abstract

Ubi jalar merupakan salah satu tanaman pangan non biji yang dimanfaatkan umbinya sebagai sumber karbohidrat. Kebutuhan konsumsi ubi jalar setiap tahun mengalami peningkatan namun produksinya menurun. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman ubi jalar denan cara pemupukan dan teknik budidaya yang benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis kombinasi dosis pupuk kalium dan frekuensi pembalikan tanaman yang sesuai untuk pertumbuhan dan produksi ubi jalar. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 2 faktor yang terdiri dari dosis pupuk kalium K1= 150 kg/ha, K2= 200 kg/ha, K3=250 kg/ha dan K4=300 kg/ha sedangkan faktor kedua yaitu pembalikan tanaman P0= tanpa pembalikan, P1= pembalikan setiap 15 hari dan P2= pembalikan setiap 30 hari. Setiap perlakuan akan diulang sebanyak 3 kali sehingga jumlah keseluruhan terdapat 36 unit percobaan. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis sidik ragam (ANOVA). Hasil yang diperoleh selanjutnya diuji menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) taraf α 5% untuk membandingkan pengaruh antar perlakuan terhadap variabel pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan pemberian dosis pupuk kalium dan pembalikan tanaman memberikan interaksi pada variabel diameter umbi, berat umbi per tanaman, berat umbi layak jual, berat rata-rata umbi dan produktivitas tanaman. Kombinasi perlakuan K3P1 memberikan hasil terbaik pada produktivitas tanaman dan lebih efisien didalam penggunaan pupuk, sedangkan perlakuan K4P2 menunjukkan hasil yang berbeda tidak nyata namun lebih efisien didalam tenaga kerja. Faktor tunggal dosis pupuk kalium 300 kg/ha menghasilkan panjang tanaman dan panjang umbi tertinggi. Faktor tunggal pembalikan tanaman setiap 15 hari (P1) mampu menghambat panjang tanaman, jumlah cabang dan ruas yang muncul akar adventif.
Pendampingan Pengolahan Metode Basah Di LMDH Argo Santoso, Desa Curapoh, Kecamatan Curahdami, Bondowoso Muhammad Ghufron Rosyady Rosyady; Ketut Anom Wijaya; Sholeh Avivi; Bambang Kusmanadhi
Literasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Vol 2 No 2 (2022)
Publisher : Pengelola Jurnal Politeknik Negeri Ketapang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.466 KB) | DOI: 10.58466/literasi.v2i2.672

Abstract

Coffee productivity in the village of Curah poh is low. Based on the data we have obtained from discussions with the Village Head of Curahpoh, coffee productivity is around ± 300 ku/ha. This is due to several things, namely unclear coffee varieties, not optimal coffee care and poor harvest and post-harvest handling. Improper harvest and post-harvest handling will damage the coffee product, reducing its quality and quantity. Farmers currently only carry out dry method processing. Processing Wet Method will bring out the distinctive taste of coffee. The distinctive taste of coffee arises from the fermentation process in the wet method. Escort and mentoring of wet method processing needs to be done because there are several stages in the process. The conclusions that can be drawn from several service activities that have been carried out are: Coffee farmers have been able to process coffee with wet, honey and natural methods; and the coffee farmers of Curahpoh are committed to processing coffee using the wet or honey method if the market can appreciate the processed coffee beans at a good price. In 2022, it is hoped that OCE coffee beans can be roasted and powdered and packaged properly
Aplikasi Unsur Mineral Efektif sebagai Natural Immune Booster Tanaman Kopi Arabika Lowland Fase TBM Distiana Wulanjari; Ketut Anom Wijaya; Muhammad Ghufron Rosyady
National Multidisciplinary Sciences Vol. 1 No. 2 (2022): Proceeding SEMARTANI 1
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.338 KB) | DOI: 10.32528/nms.v1i2.53

Abstract

Upaya peningkatan produksi kopi arabika terus dilakukan mengingat peluang pasar masih terbuka lebar, diantaranya melalui ekstensifi-kasi area penanaman kopi arabika ke dataran rendah. Tingginya serangan penyakit karat daun menyebabkan produksi kopi arabika di dataran rendah sangat kecil, oleh karena itu dibutuhkan perlakuan khusus untuk meningkatkan ketahanan alaminya agar dapat ber-produksi optimal. Unsur mineral Ca, K, dan I mampu menstimulasi ketahanan alami kopi arabika yang ditanam di dataran rendah. Penelitian ini menguji coba dosis dari campuran ketiga larutan mineral pada kopi arabika fase TBM. Masing-masing larutan stok dicam-pur sesaat sebelum aplikasi sesuai dosis yang ditentukan. Aplikasi dilakukan secara foliar dengan interval pemberian 7 hari sekali. Pasca aplikasi terakhir dilakukan inkubasi selama 30 hari. Variabel pertumbuhan yang diukur adalah kandungan klorofil, jumlah daun, jumlah pucuk, dan, indeks luas daun, sedangkan variabel ketahanan seperti polifenol, lignin, selulosa dan hemiselulosa. Hasil analisis me-nyebutkan bahwa perlakuan D2 (dosis 57 ml/tanaman) berpengaruh sangat nyata terhadap kandungan hemiselulosa dan memiliki kan-dungan polifenol tertinggi. Kandungan hemiselulosa dan polifenol yang tinggi pada daun diharapkan dapat mencegah infeksi karat daun pada tanaman kopi arabika yang ditanam di dataran rendah. Pertumbuhan vegetatif tanaman tidak terpengaruh akibat perlakuan yang diaplikasikan, sehingga penambahan unsur mineral ini dapat diaplikasikan sebagai suplemen peningkat ketahanan tanaman.
Kandungan Unsur N, P dan K Pada Buah Kopi Arabika (Coffea Arabica) di Lima Lokasi Kebun Kopi Rakyat Kabupaten Bondowoso Muhammad Ghufron Rosyady; Dieni Risma Viani; Ketut Anom Wijaya; Distiana Wulanjari; Oria Alit Farisi
National Multidisciplinary Sciences Vol. 2 No. 3 (2023): Proceeding SEMARTANI 2
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/nms.v2i3.295

Abstract

Kopi arabika merupakan salah satu komoditi perkebunan penopang ekonomi masyarakat Bondowoso. Produktivitas kopi arabika rakyat wilayah Kabupaten Bondowoso belum optimal. Pada tahun 2020, produktivitas kopi rakyat Bondowoso yaitu 0,33 ton/ha dibandingkan dengan produktivitas milik perkebunan nusantara (PTPN) Jawa Timur tahun 2013 yaitu 0,71 ton/ha. Hal ini disebabkan, sebagian besar petani tidak memiliki acuan sederhana dalam menentukan jumlah pupuk N, P dan K yang harus diberikan agar produktivitas stabil. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi kandungan unsur hara N, P dan K yang dibawa oleh hasil panen buah kopi arabika untuk mengembangkan metode pemupukan N, P dan K yang lebih mudah dipahami oleh petani. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari satu faktor lima perlakuan. Penelitian dilakukan di Desa Kampung Baru Kecamatan Ijen Kabupaten Bondowoso dengan ketinggian 1.050 s/d 1.500 meter diatas permukaan laut. Persiapan sampel buah dan kulit kopi dilakukan di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Jember Kampus Bondowoso, sedangkan analisis kandungan N, P dan K pada tanah, biji dan kulit kopi dilakukan di Pusat Penelitian Sukosari PT. Perkebunan Nusantara. XI Kabupaten Lumajang. Faktor yang digunakan adalah perbedaan lokasi yang diberlakukan sebagai perlakuan yaitu terdiri dari 5 lokasi kebun (K) yaitu K1, K2, K3, K4, dan K5. Hasil analisis tanah pada 5 lokasi percobaan didapatkan jika kandungan unsur hara N, P dan K paada tanah secara umum pada level rendah-sangat rendah. Dapat disimpulkan dari hasil penelitian ini, Kandungan unsur hara yang terdapat pada buah kopi arabika gelondong segar yaitu sebesar 28,11 g N/kg buah segar; 4,35 g P/kg buah segar; dan 27,5 g K/kg buah segar