Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Perbandingan Penyembuhan Luka Sayat menggunakan Kopi Robusta dan Polyurethane foam pada Tikus (Rattus novergicus) Akhmad Fatharoni; Hendro Sudjono Yuwono; Susanti Dharmmika
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6057

Abstract

Abstract. Wounds damage the integrity of biological tissues, including skin, mucous membranes, and tissue organs. Various types of trauma can cause wounds, and it is very important to clean the wound and dress it properly to limit the further spread of infection and injury. Wound care can be done in various ways, can use natural materials and artificial materials. A natural ingredient that is often used in wound care is coffee. The antioxidant, anti-inflammatory, and antibacterial effects of coffee can prevent new injuries to the growth of epithelial cells at the base of the wound, thereby promoting better wound cell proliferation. This study used a preclinical in-vivo experimental method with factorial design with repeated measurements. The number of rats used in this study was 27 wistar rats. In this study, three treatment groups were needed, where the experimental group consisted of two experimental groups and one other group, namely the control group. The study was conducted on 27 male wistar rats (Rattus novergicus), which were divided into three groups and each group consisted of 9 rats. The third group had almost the same effectiveness except that there was a significant difference in the degree of wound edge hyperemia between the 3 groups in group H-14 (p=0.002). The results of the paired comparison test showed a significant difference between the Robusta coffee and Polyurethane foam groups in the assessment of hyperemic edges (p=0.012), indicating a significant difference between the two variables, suggesting wound healing process preferred in the coffee group. Keywords: Robusta Coffee, Wistar Rat, Polyurethane foam, Wound healing Abstrak. Luka merupakan kerusakan keutuhan jaringan biologis, termasuk kulit, membran mukosa, sertajaringan organ. Berbagai jenis trauma dapat menimbulkan luka, dan sangat penting untuk melakukan pembersihan luka dan dibalut dengan tepat untuk membatasi penyebaran infeksi dan cedera lebih lanjut. Perawatan luka dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, bisa menggunakan bahan alami dan bahan buatan. Bahan alami yang cukup sering digunakan dalam perawatan luka yaitu kopi. Efek antioksidan, anti-inflamasi, dan antibakteri pada kopi dapat berperan untuk mencegah cedera baru pada pertumbuhan sel epitel pada dasar luka, hal tersebut membuat proliferasi sel luka lebih baik. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental preklinik in-vivo desain faktorial dengan repetition measurement. Jumlah tikus yang digunakan dalam penelitian ini 27 ekor tikus wistar. Dalam penelitian ini diperlukan tiga kelompokperlakuan, dimana kelompok untuk eksperimen terdiri dari dua kelompok experimental groups dan satu kelompok lainya yaitu control groups. Penelitian dilakukan pada tikus wistar (Rattus novergicus) jantan sebanyak 27 ekor, yang dibagi menjadi tiga kelompok dan masing-masing kelompok terdiri 9 tikus. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa perbandingan antara kopi robusta dan Polyurethane foam pada penilaian tepi hiperemis memiliki nilai p 0,012, dimana memilki perbedaan yang signifikan antara kedua variabel tersebut, menunjukan penyembuhan luka kelompok kopi lebih baik. Kata Kunci: Kopi Robusta, Tikus Wistar, Polyurethane foam, Penyembuhan luka.
Perbandingan Daya Hambat Ekstrak Air dengan Ekstrak Etanol Bubuk Kopi Robusta (Coffea Canephora) pada Kultur Bakteri Propionibacterium Acnes (ATCC© 11827™) Sassty Julya Hidayat; Hendro Sudjono Yuwono; Ismawati
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6605

Abstract

Abstract. Acne vulgaris is a skin abnormality in the pilosebaceous glands, characterized by the clinical appearance of blackheads, papules, pustules, and nodules that commonly occur in adolescents aged 12-25 years to adults aged 25-30 years. One of the causes of acne vulgaris is Propionibacterium acne bacteria. One of the plants that can be used to inhibit the growth of bacteria as an antibacterial is robusta coffee. This research aims to measure the size of the inhibitory zone of water extract compared to the ethanol extract of robusta coffee powder against Propionibacterium acnes using the disc diffusion method. This research uses an in vitro laboratory experimental study. Bacterial isolate P. acnes ATCC© 11827™ obtained from the Unisba Pharmacy laboratory followed by an inhibition test adapted to the McFarland 0.5 standard taken from the Unpad Teaching Hospital laboratory, with the independent variable of robusta coffee extract while the dependent variable was inhibition against Propionibacterium acnes. This research uses water extract and ethanol extract of robusta coffee, each made in 3 concentrations namely 50%, 75%, and 100%. The positive control is the antibiotic clindamycin, and the negative control is aquadest. The research results show no significant difference between the inhibitory power of water extract and ethanol extract against Propionibacterium acnes at concentrations of 50% and 75%. There is a substantial difference between the water extract and ethanol extract of robusta coffee at 100% concentration. Abstrak. Akne vulgaris merupakan kelainan kulit pada kelenjar pilosebasea, ditandai dengan gambaran klinis komedo, papula, pustula maupun nodul yang umum terjadi pada masa remaja usia 12 – 25 tahun hingga dewasa usia 25-30 tahun. Salah satu penyebab Akne vulgaris yaitu bakteri Propionibacterium acnes. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk menghambat pertumbuhan bakteri tersebut sebagai antibakteri yaitu kopi robusta. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur besar zona daya hambat ekstrak air dibandingkan ekstrak etanol bubuk kopi robusta terhadap Propionibacterium acnes menggunakan metode disc diffusion. Penelitian ini menggunakan studi eksperimental laboratorium secara in vitro. Isolat bakteri P. acnes ATCC© 11827™ didapatkan dari laboratorium Farmasi Unisba dilanjutkan uji daya hambat disesuaikan dengan standar McFarland 0,5 yang diambil dari laboratorium Rumah Sakit Pendidikan Unpad, dengan variabel bebas ekstrak kopi robusta sedangkan variabel terikat daya hambat terhadap Propionibacterium acnes. Penelitian ini menggunakan ekstrak air dan ekstrak etanol kopi robusta yang masing-masing dibuat dalam 3 konsentrasi yaitu 50%, 75%, dan 100%. Kontrol positif yang digunakan yaitu antibiotik klindamisin, kontrol negatif aquadest. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara daya hambat ekstrak air dan ekstrak etanol terhadap bakteri pada konsentrasi 50% dan 75%. Terdapat perbedaan yang bermakna ekstrak air dan ekstrak etanol kopi robusta pada konsentrasi 100%.
Perbandingan Penyembuhan Luka Sayat pada Tikus Wistar Menggunakan Bubuk Kopi dengan Bubuk Kafein Muhammad Rifky Dzikrillah; Hendro Sudjono Yuwono; Tryando Bhatara
Jurnal Riset Kedokteran Volume 3, No.2, Desember 2023, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v3i2.3001

Abstract

Abstract. The content of caffeine and chlorogenic acid in coffee have anti-inflammatory and antioxidant effects that can suppress reactive oxygen species which has the effect of accelerating wound healing in the inflammatory phase. The research was conducted in August. This research is an experimental type research conducted in the laboratory with an in vivo preclinical experimental design that compares the appearance of wound healing in Wistar rats (Rattus novergicus) using robusta coffee powder and caffeine powder. The rats used in this study were about 24 rats. In this study, rats were divided into two coffee and caffeine treatment groups and two positive and negative control groups. In one group consists of 6 rats. The study was conducted for 1 week by assessing the description of wound healing through indicators; 1) dryness of the wound, 2) assessment of the wound edges (hyperemic or not), and 3) wound size. Data were obtained by observing the progress of wound healing in rats. Based on the results of statistical tests using one way ANOVA and Kruskall Wallis, the results showed that there was no significant difference in wound healing in the coffee and caffeine groups. This result is likely due to the influence of several factors such as; bandage sticking, stress, temperature, doses exceeding the LD50, excessive vasodilation, and disease in rats during the study period. Abstrak. Kandungan kafein, dan asam klorogenat dalam kopi memiliki efek anti-inflamasi dan antioksidan yang dapat menekan dari reactive oxygen species yang efeknya mempercepat penyembuhan luka pada fase inflamasi. Penelitian dilaksanakan bulan Agustus. Penelitan merupakan penelitian jenis eksperimental yang dilakukan di laboratorium dengan rancangan eksperimental preklinik in vivo yang membandingkan gambaran penyembuhan luka sayat pada subjek tikus wistar (Rattus novergicus) dengan menggunakan bubuk kopi robusta dan bubuk kafein. Tikus yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 24 ekor tikus. Dalam penelitian tikus terbagi menjadi dua kelompok perlakuan kopi dan kafein serta dua kelompok kontrol positif dan negatif. Dalam satu kelompok terdiri dari 6 tikus. Penelitian dilakukan selama 1 minggu dengan menilai gambaran penyembuhan luka melalui indikator; 1) kekeringan luka, 2) penilaian tepi luka (hiperemis atau tidak), dan 3) ukuran luas luka. Data diperoleh dengan memantau proses penyembuhan luka pada tikus. Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan one way anova dan kruskall wallis di dapatkan hasil tidak ada perbedaan yang signifikan pada penyembuhan luka pada kelompok kopi maupun kelompok kafein. Hasil ini kemungkinan dikarenakan pengaruh dari beberapa faktor seperti; perban menempel, stres, suhu, dosis yang melebihi LD50, vasodilatasi yang berlebih, dan penyakit yang menimpa tikus pada masa penelitian.
Perbandingan Efek Antibakteri Ekstrak Air Kopi Arabika dengan Ekstrak Air Teh Hijau pada Kultur Bakteri Methicillin-resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) ATTC 33951 Muhammad Gibran Al Madani; Hendro Sudjono Yuwono; Ismet Muchtar Nur
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10332

Abstract

Abstract. Arabica coffee and green tea are known as plants that contain active antibacterial compounds such as alkaloids, tannins, phenolic compounds, flavonoids, triterpenoids, and glycosides. Methicillin-resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) is a common bacteria that emerges due to methicillin resistance, posing a significant infection problem in both hospitals and the general population. This study aims to analyze the comparative antibacterial strength of Arabica coffee water extract and green tea water extract against MRSA bacteria. This research is a pure in vitro experiment using the Disk Diffusion method on MRSA ATCC 33951 bacterial cultures conducted at the Microbiology Laboratory of the Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran, Bandung. The arabica coffee water extract and green tea water extract used were at concentrations of 50% and 100%, while vancomycin was used as the positive control in this study. The inhibition zones were measured in millimeters. Statistical analysis was performed using the Kruskal-Wallis test at a 95% confidence level. The research results showed that the Arabica coffee water extract at concentrations of 50% and 100% had average inhibition zones of 9,75 mm and 14,25 mm, while the green tea water extract at concentrations of 50% and 100% had average inhibition zones of 22,25 mm and 26 mm. Vancomycin as the positive control had an average inhibition zone of 21,75 mm. The green tea water extract had a larger inhibition zone compared to the Arabica coffee water extract with p = 0,000 (p < 0,05). In conclusion, the green tea water extract has a stronger antibacterial effect compared to the arabica coffee water extract. Abstrak. Kopi arabika dan teh hijau dikenal sebagai tanaman yang memiliki kandungan zat aktif yang bersifat antibakteri seperti alkaloid, tanin, senyawa fenolik, flavonoid, triterpenoid, dan glikosida,. Bakteri yang sering muncul akibat resistensi methicillin adalah Methicillin-resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) yang menjadi masalah infeksi di rumah sakit dan masyarakat umum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan kekuatan antibakteri ekstrak air kopi arabika dan ekstrak air teh hijau terhadap bakteri MRSA. Penelitian ini merupakan eksperimen murni in vitro dengan metode Disk Diffusion pada biakan bakteri MRSA ATCC 33951 yang dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung. Ekstrak air kopi arabika dan teh hijau yang digunakan adalah konsentrasi 50% dan 100%, sedangkan kontrol positif pada penelitian ini menggunan vankomisin. Zona hambat diukur dalam satuan millimeter. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak air kopi arabika konsentrasi 50% dan 100% memiliki daya zona hambat rata-rata sebesar 9,75 mm dan 14,25 mm, sedangkan ekstrak air teh hijau pada konsentrasi 50% dan 100% memiliki zona hambat rata-rata sebesar 22,25 mm dan 26 mm. Vankomisin sebagai kontrol positif memiliki zona hambat rata-rata sebesar 21,75 mm. Ekstrak air teh hijau memiliki zona hambat yang lebih besar dari ekstrak air kopi arabika dengan p = 0,000 (p < 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak air teh hijau lebih memiliki efek antibakteri yang lebih kuat dibandingkan dengan ekstrak air kopi arabika.
Uji Daya Hambat Ekstrak Air Biji Kopi Arabika pada Kultur Bakteri MRSA Daisy Grace Agustina; Hendro Sudjono Yuwono; Eka Hendryanny
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10577

Abstract

Abstract. The emergence of Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) strains has led to the need for alternative treatments to natural products such as coffee. Arabica coffee contains chlorogenic acid and caffeic acid which play an antibacterial role against MRSA. Arabica coffee water extract also has antibacterial properties against S.aureus. This experimental research tested the inhibitory power of Arabica coffee bean water extract against MRSA bacteria. The method used was Kirby-Bauer disk diffusion with Arabica coffee bean water extract treatment groups of 100% and 50% concentration, vancomycin positive control and distilled water negative control. The research was carried out in the Microbiology Lab of FK Unpad from March to October 2023. The results of the antibacterial test showed that there was an inhibition zone in the Arabica coffee bean water extract with a concentration of 100% and 50% in the MRSA bacterial culture. The results of the inhibition zone diameter test for each concentration will be analyzed and explained descriptively. This can be concluded that there is an inhibitory effect of Arabica coffee bean water extract at concentrations of 100% and 50% on MRSA bacterial cultures. Abstrak. Munculnya strain resisten Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) menyebabkan dibutuhkannya pengobatan alternatif produk alam seperti kopi. Kopi Arabika mengandung asam klorogenat dan asam kafeat yang berperan antibakteri terhadap MRSA. Ekstrak air kopi Arabika juga memiliki antibakteri terhadap S.aureus. Penelitian eksperimental ini menguji daya hambat ekstrak air biji kopi Arabika terhadap bakteri MRSA Metode yang digunakan adalah disk diffusion Kirby-Bauer dengan kelompok perlakuan ekstrak air biji kopi Arabika konsentrasi 100% dan 50%, kontrol positif vankomisin dan kontrol negatif aquades. Penelitian dilakukan di Lab Mikrobiologi FK Unpad bulan Maret hingga Oktober 2023. Hasil uji antibakteri menunjukkan adanya zona inhibisi pada ekstrak air biji kopi Arabika konsentrasi 100% dan 50% pada kultur bakteri MRSA. Hasil uji daya hambat diameter zona hambat dari masing-masing konsentrasi akan dianalisis dan dijelaskan secara deskriptif. Hal ini dapat disimpulkan terdapat daya hambat ekstrak air biji kopi Arabika pada konsentrasi 100% dan 50% pada kultur bakteri MRSA.
Perbandingan Efektivitas Antibakteri Ekstrak Air Kopi Arabika dengan Ekstrak Air Teh Hitam terhadap Kultur Bakteri Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) ATCC© 33591™ Secara Eksperimental in Vitro Rizky Alifian Ramadhan; Hendro Sudjono Yuwono; Meike Rachmawati
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10771

Abstract

Abstract. S. aureus infections often occur in a community or hospital environment and management is still difficult due to the emergence of strains that are resistant to many antibiotics such as Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Herbal medicine is an alternative treatment that is often used, including Arabica Coffee (Coffea Arabica) and black tea (Camelia Sinensis). Arabica coffee and black Tea contain polyphenols known as caffeine, chlorogenic acid and catechins. The catechins in black tea, namely epigallocatechin gallate (EGCG) and chlorogenic acid in coffee, have been proven to have antibacterial power against gram-positive bacteria. In gram-positive bacteria, EGCG and chlorogenic acid are able to inhibit the synthesis of the bacterial wall. This research used an experimental in vitro study with the method used by Kirby Bauer disc diffusion with 5 samples, Arabica coffee water extract and black tea water extract in two concentrations, 50% and 100% as treatment, and the antibiotic Vancomycin with a concentration of 100% as a positive control. The research results showed that Arabica coffee water extract had an average zone of inhibition, at a concentration of 100% (14.2 mm) and a concentration of 50% (9.7 mm) with a probability value (p-value) of 0.009 (p≤0, 01), while an inhibition zone was found in black tea water extract at a concentration of 100% (16.2 mm) and a concentration of 50% (11.5 mm) with a probability value (p-value) of 0.009 (p≤0.01) against Methicillin-resistant S. aureus. In conclusion, the inhibitory power of Black Tea water extract is stronger than that of Arabica coffee water extract against Methicillin-resistant Staphylococcus aureus bacteria. Abstrak. Infeksi S. aureus sering terjadi pada suatu komunitas atau lingkungan rumah sakit dan untuk pengelolaannya menjadi sulit karena munculnya strain yang resisten terhadap banyak obat antibiotik seperti Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Obat herbal merupakan salah satu pengobatan alternatif yang sering dipergunakan, diantaranya terdapat kopi Arabika (Coffea Arabika) dan teh hitam (Camelia Sinensis). Kopi arabika dan teh hitam memiliki kandungan polifenol yang dikenal sebagai kafein, asam klorogenat dan katekin. Katekin pada teh hitam yaitu epigallocatechin gallat (EGCG) dan asam klorogenat pada kopi terbukti memiliki daya antibakteri terhadap bakteri gram positif. Pada bakteri gram positif EGCG dan asam klorogenat mampu menghambat sintesis dari dinding bakteri. Penelitian ini menggunakan studi eksperimental in vitro dengan metode yang digunakan disc diffusion Kirby Bauer dengan 5 sampel, yakni ekstrak air kopi Arabika dan ekstrak air teh hitam dalam dua konsentrasi yaitu 50% dan 100% sebagai perlakuan, dan antibiotik Vancomycin degan konsentrasi 100% sebagai kontrol positif. Hasil penelitian didapatkan ekstrak air kopi Arabika memiliki rata-rata zona inhibisi yaitu pada konsentrasi 100%, (14,2 mm) dan konsentrasi 50% (9,7 mm) dengan nilai probabilitas (p-value) sebesar 0,009 (p≤0,01), sedangkan ditemukan zona inhibisi pada ekstrak air teh hitam pada konsentrasi 100%, (16,2 mm) dan konsentrasi 50% (11,5 mm) dengan nilai probabilitas (p-value) sebesar 0,009 (p≤0,01) terhadap Methicillin-resistant S. aureus. Kesimpulannya, bahwa daya hambat ekstrak air Teh Hitam lebih kuat dibandingkan dengan ekstrak air kopi Arabika terhadap bakteri Methicillin-resistant Staphylococcus aureus.
Perbandingan Efek Antibakteri Ekstrak Air Kopi Arabika dengan Ekstrak Air Dark Chocolate pada Kultur Bakteri Methicillin – Resistant Staphylococcus Aureus Rifira Hanifah; Hendro Sudjono Yuwono; Rizki Perdana
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10880

Abstract

Abstract. The emergence of new strains of Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) has led to the need for alternative antibiotics, one of which comes from natural ingredients, namely arabica coffee and dark chocolate, which are known to have ingredients that act as antibacterials. The aim of the study was to compare the inhibition zone of arabica coffee water extract with dark chocolate water extract against MRSA bacteria. The method used was Kirby-Bauer disc diffusion consisting of treatment groups of arabica coffee water extract with concentrations of 50% and 100%, dark chocolate water extract with concentrations of 50% and 100%, positive control (vancomsin), and negative control distilled water. This study was conducted at the Microbiology Laboratory of the Faculty of Medicine, Padjadjaran University (FK Unpad) from October 2022 to December 2023. Data processing using ANOVA (Analysis of Variance) Post Hoc Games-Howell test with IBM SPSS 26 statistical application. The results showed that the average value of the largest inhibition zone was found in the positive control vancomycin which was 21.75 mm, then 100% arabica coffee extract which was 14.25 mm, 50% arabica coffee extract which was 9.75 mm. The 50% and 100% concentrations of dark chocolate aqueous extract did not form an inhibition zone, equivalent to the negative control. It is concluded that 50% and 100% arabica coffee water extracts have inhibitory ability while 50% and 100% dark chocolate water extracts do not have inhibitory ability. Abstrak. kemunculan galur baru Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) membuat dibutuhkannya alternatif antibiotik lain, salah satunya berasal dari bahan alam yaitu kopi arabika dan dark chocolate yang diketahui memiliki kandungan yang berperan sebagai antibakteri. Tujuan penelitian adalah membandingkan zona hambat ekstrak air kopi arabika dengan ekstrak air dark chocolate terhadap bakteri MRSA. Metode yang digunakan adalah difusi cakram kirby-Bauer yang terdiri dari kelompok perlakuan ekstrak air kopi arabika dengan konsentrasi 50% dan 100%, ekstrak air dark chocolate dengan konsetrasi 50% dan 100%, kontrol positif (vankomsin), dan kontrol negatif akuades. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) pada bulan oktober 2022 sampai desember 2023. Pengolahan data menggunakan Uji ANOVA (Analysis of Variance) Post Hoc Games-Howell dengan aplikasi statistik. Hasil penelitian menunjukan rerata nilai zona hambat terbesar terdapat pada kontrol positif vankomisin yaitu 21,75 mm, kemudian ekstrak kopi arabika 100% yaitu 14.25 mm, ekstrak kopi arabika 50% yaitu 9.75 mm. Pada ekstrak air dark chocolate konsentrasi 50% dan 100% tidak terbentuk zona hambat, setara dengan kontrol negatif. Simpulan ekstrak air kopi arabika 50% dan 100% memiliki kemampuan daya hambat sedangkan ekstrak air dark chocolate 50% dan 100% tidak memiliki kemampuan daya hambat.
Scoping Review: Efektifitas Ekstrak Air Kopi terhadap Pembentukan Zona Hambat pada Kultur Propionibacterium Acnes Andre Akbar Mubarok; Hendro Sudjono Yuwono; Meike Rachmawati
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.12424

Abstract

Abstract. Acne vulgaris is an inflammatory disease that affects various age groups, especially teenagers. Based on the course of the disease, acne vulgaris is a primary inflammatory disease that affects the pilosebaceous unit and one of the causes is Cutibacterium acnes or previously known as Propionibacterium acnes. The prevalence of acne vulgaris in the world ranks 8th in terms of the total prevalence of skin diseases. In Indonesia, the prevalence of this disease is 80-85%, which occurs in adolescence with a peak at the age of 15-18 years. It is felt that the use of antibiotics as main line therapy has side effects that are considered to be detrimental to long-term health, namely resistance. The aim of this research is to analyze and compare the benefits of coffee as an alternative therapy for acne vulgaris. This research uses a Scoping review study to analyze, analyze and publish scientific papers through data sources, Pubmed, SpringerLink, Science Direct, ProQuest, and Garuda that meet the inclusion, exclusion and eligibility criteria using the JBI Critical Appraisal Checklist summarized in the PRISMA diagram. 17,508 articles were generated from 5 data sources, 487 articles met the inclusion criteria and 3 articles met the exclusion and eligibility criteria. The results of 3 articles stated that there were research results showing that the active substances in coffee, especially in the Coffea Canephora (robusta) variety, were effective in inhibiting the growth of Propionibacterium acnes bacteria which is the main etiology of acne vulgaris. The antibacterial ability of coffee has been proven to be quite good, with the level of effectiveness increasing with higher concentrations of coffee extract. These results give a positive impression of the potential use of coffee, especially Robusta, as an antibacterial agent to treat the problem of acne vulgaris. Abstrak. Acne vulgaris merupakan penyakit inflamasi yang dimiliki berbagai kelompok usia terutama remaja. Berdasarkan perjalanan penyakitnya acne Vulgaris merupakan penyakit inflamasi primer yang mempengaruhi unit pilosebaceous dengan salah satu pencetusnya adalah Cutibacterium acnes atau yang sebelumnya disebut sebagai Propionibacterium acnes. Prevalensi acne vulgaris di dunia menempati urutan ke-8 dari total prevalensi penyakit kulit. Di Indonesis prevalensi penyakit ini memiliki jumlah sebesar 80-85%, yang terjadi pada usia remaja dengan puncaknya pada usia 15-18 tahun. Penggunaan antibiotik sebagai terapi lini utama dirasa memiliki efek samping yang dinilai dapat merugikan utuk kesehatan jangka panjang yaitu resistensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis serta membandingkan manfaat kopi sebagai terapi alternatif akne vulgaris. Penelitian ini menggunakan studi Scoping reaview untuk mengidentifikasi, menganalisis dan mengevaluasi tulisan ilmiah melalui sumber data, Pubmed, SpringerLink, Science Direct, ProQuest, dan Garuda yang memenuhi kriteria inklusi, eklusi dan kelayakan menggunakan JBI Critical Appraisal Checklist dirangkum dalam diagram PRISMA. Dihasilkan 16.037 dari 5 sumber data, 479 artikel memenuhi kriteria inklusi dan 3 artikel memenuhi kriteria eklusi dan kelayakan. Hasil 3 artikel menyatakan terdapat hasil Penelitian menunjukkan bahwa zat aktif dalam kopi, terutama pada varietas Coffea Canephora (robusta), efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes yang menjadi etiologi utama acne vulgaris. Kemampuan antibakteri kopi terbukti cukup baik, dengan tingkat efektivitas yang meningkat seiring dengan konsentrasi ekstrak kopi yang lebih tinggi. Hasil ini memberikan implikasi positif terhadap potensi penggunaan kopi, khususnya robusta, sebagai agen antibakteri untuk mengatasi masalah acne vulgaris.
EFEK ANTIBAKTERI VIRGIN COCONUT OIL TERHADAP METHICILLIN RESISTANT STAPHYLOCOCCUS AUREUS Susanto, Tirta Darmawan; Sujatno, Muchtan; Yuwono, Hendro Sudjono
Medicinus Vol. 4 No. 8 (2015): February 2015 - May 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/med.v4i8.1186

Abstract

Kejadian infeksi, baik di lingkungan rumah sakit yang disebut infeksi nosokomial maupun di luar rumah sakit, cukup besar. Infeksi mempertinggi angka kematian dan kesakitan, serta memperlama waktu perawatan di rumah sakit. Saat ini banyak tanaman yang terbukti secara empiris memiliki efek antibakteri, diantaranya adalah minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil / VCO), oleh karena itu perlu dilakukan penelitian ini guna mengetahui efek anti bakteri VCO pada luka yang telah diinfeksi dengan Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA).Telah dilakukan penelitian eksperimental laboratorium dengan desain penelitian Rancangan Acak Lengkap. Hewan coba yang digunakan adalah marmut jantan galur albino sebanyak 15 ekor . Dermis hewan coba diinsisi hingga diperoleh luka berukuran 9cm2 dasar otot, luka diinfeksi dengan suspensi bakteri MRSA, kemudian diberi 3 macam perlakuan yaitu dibiarkan saja tanpa pengobatan untuk control negatif, terapi VCO per oral 3 cc / hari dan terapi VCO topikal 0,4 cc / hari. Data yang diperoleh dianalisis dengan analysis of variance (ANOVA) dan two sample - T test.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian VCO topikal dengan dosis 0,4 cc / hari mampu mengobati infeksi dan mempercepat penyembuhan luka hewan coba secara bermakna (p = 0,043 < α = 0,05), tetapi pemberian VCO peroral 3 cc / hari menunjukkan hasil yang tidak bermakna (p = 0,376 > α = 0,05). Pemberian VCO per oral 3 cc / hari dan topikal 0,4 cc / hari mampu menurunkan jumlah lekosit darah pada hewan coba. Pemberian VCO topikal 0,4 cc / hari mampu membunuh bakteri sehingga dapat mengurangi jumlah bakteri pada luka secara bermakna (p = 0,0092 < α = 0,05), namun pemberian VCO per oral tidak mampu mengurangi jumlah bakteri pada luka secara bermakna (p = 0,17 > α = 0,05). Pada hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa pemberian VCO topikal menunjukkan efek antibakteri yang bermakna untuk mengatasiinfeksi MRSA.