Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : NALARs

Identifikasi Klimatik Tropis Arsitektur Tradisional Rumah Tinggal Suku Melayu Terhadap Kenyamanan Termal Zairin Zain; Muhammad Arshy Oktafiansyah
NALARs Vol 22, No 1 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 1 Januari 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.22.1.1-8

Abstract

ABSTRAK. Rumah Melayu adalah bentuk arsitektur yang sangat penting bagi semua orang Melayu, dan bangunan itu mewujudkan tanggung jawab keluarga untuk memberikan kenyamanan bagi keluarga. Rumah tinggal melayu umumnya dipengaruhi oleh ajaran Islam, adat  Melayu Pontianak, dan Keraton Kadariyah Pontianak. Pengaruh iklim terhadap arsitektur bangunan terlihat dalam beberapa aspek, Dalam perancangan arsitektur harus memperhatikan keserasian antara kebutuhan manusia dengan lingkungan, alam, serta kondisi  cuaca dan iklim setempat. Bangunan rumah tradisional Melayu  sangat baik dalam merespon iklim tropis, Suhu dianggap hangat dan nyaman di daerah iklim tropis yaitu 25,8°C-27,1 °C. Studi ini dilakukan dengan metode observasi pengukuran terhadap kenyamanan termal. Variabel dalam penelitian ini adalah pencahayaan, suhu dan kelembapan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kenyamanan termal, respon bangunan terhadap iklim, serta faktor-faktor yang mempengaruhi kenyamanan termal. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi objek dalam pencapaian standar dari kenyamanan termal terkait kelembaban dan suhu di ruangan pada rumah tersebut. Penelitian ini menggunakan alat pengukur termal selama pengukuran termal di lapangan yang kemudian data–data hasil tabulasi tersebut dianalisis menggunakan metode CFD untuk melihat simulasi hasil dari pengukuran di lapangan untuk mengetahui apakah bangunan tersebut mencapai kenyamanan termal. Dikarenakan adanya faktor bukaan yang mempengaruhi rumah tersebut yang tidak memiliki ventilasi pada rumah tersebut yang hanya mengandalkan sirkulasi udara dari lantai panggung. Nilai-nilai temperatur pada titik ukur yang diperoleh pada simulasi komputer kemungkinan sama persis dengan yang diperoleh pada pengukuran hygrometer sangatlah sulit. namun terdapat persamaan kecenderungan yang terjadi, di antaranya nilai temperatur mencapai titik tertinggi pada area ruangan yang berhubungan dengan area luar dan cenderung menurun pada area ruangan dalam. Kata kunci: Rumah Melayu, Iklim Tropis, Kenyamanan Termal, Computating Fluid Dynamic (CFD) ABSTRACT. The Malay house is a significant architectural form for all Malays, and the building embodies the family's responsibility to provide comfort. Islamic teachings, Pontianak Malay customs, and the Pontianak Kadariyah Palace generally influence Malay houses. The influence of climate on building architecture can be seen in several aspects. It is necessary to pay attention to the harmony between human needs and the environment, nature, and local weather and climate conditions in architectural design. Traditional Malay house buildings are outstanding in responding to the tropical climate. The temperature is considered warm and comfortable in tropical climates, 25.8 ° C - 27.1 ° C. This study carried out the method of observation measurement of thermal comfort. The variables in this study are lighting, temperature, and humidity, the purpose of knowing the level of thermal comfort, building responses to the climate, and resistant factors that comfort the occupants. The variables in this study are lighting, temperature, and humidity, to know the level of thermal comfort, the response of the building to the climate, and what factors affect thermal comfort. This study uses a thermal measuring device during thermal measurements in the field. Then the tabulated data are analyzed using the CFD method to see the simulation results from measurements in the area to determine whether the building achieves thermal comfort. This study aims to identify objects in achieving standards from thermal comfort related to humidity and temperature in the room in the house. Due to the opening factor that affects the house, which does not have ventilation, and only relies on air circulation from the stage floor. Temperature values at measuring points obtained in computer simulations are likely to be the same as those obtained in hygrometer measurements are very difficult. However, similar trends occur, including the temperature value reaching the highest point in the area of the room that is related to the outside area and tends to decrease in the indoor area. Keywords: Malay House, Tropical Climate, Thermal Comfort, Computating Fluid Dynamic (CFD)
POLA PERMUKIMAN KAMPUNG TRADISIONAL STUDI KASUS : KAMPUNG KAMBOJA KELURAHAN BENUA MELAYU LAUT KOTA PONTIANAK Zain, Zairin; Pranata, Muhammad Hadi
NALARs Vol. 24 No. 1 (2025): NALARs Vol 24 No 1 Januari 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.24.1.%p

Abstract

Proses terbentuknya pola permukiman di dasar dari berbagai aspek yang membentuk suatu permukiman. Secara topografi permukiman Kampung Kamboja terbentuk dari penyusun unsur lingkungan yaitu air sungai. Unsur lingkungan tersebut menjadi wadah untuk melakukan aktivitas masyarakat setempat. Kondisi lingkungan bermukim diharapkan dapat menunjang aktifitas baik dari segi finansial dan aksesibilitas. Kebudayaan suatu permukiman juga tidak terlepas dari tradisi maupun adat istiadat dari sebuah permukiman. Suatu komunitas memilih lokasi  permukiman berdasarkan tradisi atau adat istiadat yang telah di turunkan secara turun temurun . Penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi pola permukiman yang berada di Kelurahan Benua Melayu Laut, Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan data geo-spasial, survei lapangan, dan digital tracing untuk mengidentifikasi pola permukiman yang ada. Termasuk distribusi bangunan, dan aksesibilitas. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya 2 pola dalam penggunaan lahan: pola linier pada permukiman yang berada di bantaran sungai dan mengelompok, pada permukiman yang berada di dekat jalur jalan kota.The process of forming a settlement pattern at the base of various aspects that make up a settlement. Topographically, Cambodian Village settlements are formed from the constituent elements of the environment, namely river water. These environmental elements are a forum for carrying out local community activities. The condition of the living environment is expected to support activities both in terms of finance and accessibility. The culture of a settlement is also inseparable from the traditions and customs of a settlement. A community chooses the location of a settlement based on traditions or customs passed down from generation to generation. This study also aims to identify settlement patterns in Benua Melayu Laut Village, South Pontianak District, Pontianak City, and West Kalimantan. This study uses qualitative methods with geospatial data, field surveys, and digital tracing to identify settlement patterns, including building distribution and accessibility. This study's results show two patterns in land use: linear patterns in settlements located on riverbanks and clustering in settlements located near city roads.