Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

EDUKASI TUBERKULOSIS DI TEMPAT KERJA PADA SUATU PERUSAHAAN DISTRIBUSI BESI BAJA DI JAKARTA Theresia Theresia; Maria Maxmila Yoche; Fransiska Ompusunggu; Lina Berliana Togatorop; Gracia Aktri Manihuruk; Laura Sianturi
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 5 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i5.17429

Abstract

Abstrak: Populasi pekerja merupakan kelompok yang penting untuk mendapatkan perhatian mengingat jumlahnya yang besar di Indonesia. Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi salah satu penyebab menurunnya produktifitas kerja. Hasil observasi singkat di PT Panca Logam Sukses Mandiri didapatkan bahwa usaha kesehatan dan keselamatan kerja masih terbatas dan berpotensi untuk ditingkatkan. Tujuan PKM ini yaitu untuk memberikan edukasi terkait penyakit tuberkulosis di lingkungan kerja dan pemeriksaan kesehatan para karyawan. Metode yang digunakan yaitu penyuluhan dan melakukan pretest dan posttest untuk mengukur capaian peningkatan pengetahuan peserta. Edukasi tentang tuberculosis diikuti oleh 42 orang dan 31 orang diberikan soal pretest dan posttest. Hasil PKM ini didapatkan peningkatan pengetahuan dari peningkatan hasil rerata pretest 55,91 menjadi 85,39 pada hasil posttest. Persepsi bahwa tuberkulosis merupakan penyakit keturunan dinyatakan oleh 7 karyawan (22.58%); menderita tuberkulosis dan berakibat pada pemutusan hubungan kerja dinyatakan oleh 7 karyawan (22.58%); menderita tuberkulosis dan berakibat pemutusan hubungan kerja dinyatakan oleh 7 karyawan (22.58%). Jumlah karyawan yang memiliki empat gejala tuberkulosis yaitu satu orang dan persepsi terkait perasaan malu bila terkena yaitu 4 orang. Pengetahuan terkait tuberkulosis juga masih dapat ditindaklanjuti pada penekanan pemahaman yang tepat. Hasil dapat ditindaklanjuti dalam edukasi TB ini, melakukan rujukan untuk dilakukan pemeriksaan pada kedua karyawan tersebut.Abstract: Working population in Indonesia is an important group to receive attention considering its large quantity. Tuberculosis as infectious disease is one cause of decreasing working productivity The results of brief observations at PT Panca Logam Sukses Mandiri show that occupational health and safety efforts are still limited and have the potential to be improved. The aim of this community services is to provide education regarding tuberculosis in the work place setting and health check up for employees. The method used is health education and conducting pre- and post-tests to measure the achievement of increasing participants' knowledge. The results of this PKM obtained an increase in knowledge from an increase in the average pretest result from 55.91 to 85.39 in the post-test results. The perception that tuberculosis is a hereditary disease expressed by 7 employees (22.58%); suffering from tuberculosis and resulting in termination of employment stated by 7 employees (22.58%); suffering from tuberculosis and resulting in termination of employment stated by 7 employees (22.58%). The number of employees who have four symptoms of tuberculosis is one person and the perception related to feelings of shame if exposed was 4 people. Knowledge related to tuberculosis can also still be followed up by emphasizing proper understanding. Things that can also be done as a follow-up in TB education include making referrals.
Women’s Health Decision-Making: Evidence From 2017 Demographic and Health Surveys Data Agustina Saputri; Theresia Theresia; Deby Kristiani Uligraff; Novita Sari Barus
SEHATI: Jurnal Kesehatan Vol 5, No 1 (2025)
Publisher : Pelantar Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52364/sehati.v5i1.84

Abstract

Women’s decision-making is an important element in preventing treatment delays. Indonesian women traditionally always depend on their family to decide on treatment. Therefore, this study aims to find out who makes decisions about health problems and analyze the factors associated with the characteristics of women who act as decision-makers in their families when facing health problems.  This study used the individual subset data on married women from the 2017 Indonesia Demographic and Health Survey, which included women of reproductive age (15-49 years). Descriptive statistical analysis will be used in this study. Results: Women’s health decision-making had a significant relationship with all demographic variables. Factors that have influenced women to decide about their health issues were higher educational level (p-value=0.000), have been exposed to the media (p-value=0.047), used the internet (p-value=0.000), had a bank account (p-value=0.000), employed (p-value=0.000), and lived in urban areas (p-value=0.000). Based on this result highly educated women are 2.5 times more likely to be health-related decision-makers.  Conclusion: Highly educated women increased the authority of women to be decision-makers in their families, especially in health issues. By having a high education, women can determine the actions taken for manage health of themselves and their families 
PENINGKATAN PENGETAHUAN CAREGIVER FORMAL PEMULA DALAM MERAWAT ORANG SAKIT MELALUI EDUKASI KESEHATAN Yulia Sihombing; Theresia Theresia; Elysabeth Sinulingga; Adventina Delima Hutapea; Mega Sampepadang; Gracia Aktri Margareth Manihuruk
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 6 (2024): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i6.26770

Abstract

Abstrak: Kebutuhan akan caregiver meningkat terkait lebih banyak prevalensi penyakit tidak menular dan degeneratif serta populasi orang tua. Caregiver adalah orang yang membantu orang memenuhi kebutuhan sehari-hari dan terlibat dalam perawatan dan pengobatan orang yang sakit dan menderita disabilitas akibat penyakitnya. Caregiver formal merupakan caregiver yang membantu pasien selain caregiver informal/familial caregiver. Kebutuhan akan jasa pendamping orang sakit (caregiver) formal semakin meningkat disebabkan oleh keluarga yang belum siap/mampu berperan sebagai familial caregiver. Tujuan PkM: Tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan caregiver formal pemula yang berasal dari yayasan dalam merawat orang sakit. Metode: Metode pelaksanaan PkM adalah dengan memberikan edukasi tentang cara merawat orang sakit melalui seminar daring dan edukasi diberikan oleh anggota tim PkM. Kegiatan ini diikuti oleh caregiver formal yang berasal dari tiga mitra berlokasi di Jakarta, Tangerang dan Bali berjumlah 59 orang. Kegiatan dievaluasi dengan pre-posttest masing-masing sebanyak 10 pertanyaan. Hasil: Kegiatan PKM dilakukan dengan baik dan tepat waktu. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan caregiver formal pemula tentang merawat orang sakit meningkat, naik dari nilai rata-rata pretest 38.17 menjadi nilai rata-rata posttest 49.75. Kegiatan dirasakan berdampak bagi caregiver dengan respon antusias dalam pengajuan pertanyaan dalam sesi diskusi. Pelatihan ini dapat dilakukan berkelanjutan dengan pemberian pelatihan yang melatih keterampilan dan psikomotorik sesuai panduan kementrian kesehatan.Abstract: The The need for caregivers is increasing due to the greater prevalence of non-communicable and degenerative diseases and the aging population. Caregivers are people who help people fulfill their daily needs and are involved in the care and treatment of people who are sick and suffer from disabilities due to their illness. Formal caregivers are caregivers who assist patients in addition to informal/familial caregivers. The need for formal caregiver services is increasing due to families who are not able to act as familial caregivers. PkM Objectives: The purpose of this activity is to increase the knowledge of novice formal caregivers from foundations in caring for the sick. Methods: The method of implementing PkM is by providing education on how to care for the sick through online seminars and education provided by PkM team members. This activity was attended by formal caregivers from three partners located in Jakarta, Tangerang and Bali totaling 59 people. The activity was evaluated with a pre-posttest. Results: PKM activities are carried out well and on time. The results of the activity showed that the level of knowledge of novice formal caregivers about caring for the sick increased, rising from the pretest mean score of 38.17 to the posttest mean score of 49.75. The activity was felt to have an impact on caregivers with an enthusiastic response in asking questions in the discussion session. This training can be carried out continuously by providing training that trains skills and psychomotor skills according to the Ministry of Health guidelines.
PELATIHAN PERCAKAPAN BAHASA INGGRIS DALAM HOSPITALITI Sandra Maleachi; Diena Mutiara Lemy; Kezia Christine; Verena Kimberly; Theresia Alexandra
Jurnal Sinergitas PKM & CSR Vol. 6 No. 2 (2022): February
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jspc.v6i2.5748

Abstract

English as an international language is very important in facilitating communication, especially in this era of globalization. It is important for those who work in the hospitality world and dealing with guests to have the ability to speak English. Having a workforce with the ability to speak English is very much needed because there are more and more foreign tourists in Indonesia. The ability to speak English is required by hotel employees so that they can communicate and provide good hospitality services and can be more easily understood by foreign guests. The basic level hospitality English conversation training for Emmanuel Foundation students aims to provide training to students at the Emmanuel Foundation so that they can have a broader knowledge in English, as well as how to speak English in the hospitality sector. The implementation is carried out online through the Google Meet platform as a support for activities that can be easily accessed by everyone. There is a preparation stage and an implementation stage (online training). This activity went well and systematically according to the arrangement of events that had been made. The pre-test and post-test sessions have the same questions. The pre-test was used to see the Emmanuel Foundation students' understanding of the material for simple English statements. The post-test was used to see whether or not there was an increase in the understanding of the Emmanuel Foundation students after the material was presented. Based on the results of the pre-test and post-test, it was shown that there was an increase in students' understanding from before and after the presentation of the material, although the results were not significant. Therefore, in the future this kind of training can be done even better.Keywords: English, conversation, hospitalityAbtract in bahasaBahasa Inggris sebagai bahasa internasional sangatlah penting dalam mempermudah komunikasi khususnya di era globalisasi ini.  Penting bagi mereka yang bekerja di dunia hospitaliti dan berhubungan langsung dengan tamu untuk memiliki kemampuan berbahasa Inggris. Memiliki tenaga kerja dengan kemampuan berbahasa Inggris sangat dibutuhkan karena turis asing semakin banyak di Indonesia. Kemampuan berbahasa Inggris diwajibkan oleh para karyawan hotel agar mereka dapat berkomunikasi dan memberikan pelayanan keramahtamahan yang baik dan dapat lebih mudah dimengerti oleh para tamu asing. Pelatihan percakapan bahasa inggris hospitaliti tingkat dasar bagi siswa/i Yayasan Emmanuel bertujuan  untuk memberikan pelatihan kepada siswa-siswi di Yayasan Emmanuel agar dapat memiliki pengetahuan yang lebih luas dalam Bahasa Inggris, serta cara berbicara dalam Bahasa Inggris di bidang hospitaliti. Pelaksanaan dilakukan secara daring melalui platfrom google meet sebagai penunjang kegiatan yang bisa diakses dengan mudah oleh setiap orang. Terdapat tahap persiapan dan tahap pelaksanaan (pelatihan daring). Kegiatan ini  berjalan dengan baik dan sistematis sesuai dengan susunan acara yang sudah dibuat. Sesi pre-test dan post-test memiliki pertanyaan yang sama. Pre-test digunakan untuk melihat pemahaman siswa/i Yayasan Emmanuel mengenai materi pernyataan bahasa Inggris sederhana. Post-test digunakan untuk melihat ada atau tidaknya peningkatan pemahaman siswa/i Yayasan Emmanuel setelah materi dipaparkan. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test menunjukkan terdapat peningkatan pemahaman siswa/i dari sebelum dan sesudah pemaparan materi meskipun hasilnya tidak signifikan. Oleh karena itu, di masa yang akan datang pelatihan seperti ini bisa dilakukan lebih baik lagi.Kata Kunci: Bahasa Inggris, percakapan, hospitaliti 
PEKERJA SEHAT PRODUKTIVITAS KERJA MENINGKAT: EDUKASI PANDUAN ERGONOMI KEPADA KARYAWAN Gracia Aktri Margareth Manihuruk; Theresia Theresia; Maria Maxmila Yoche; Fransiska Ompusunggu; Lina Berliana Togatorop; Fernaldi Dopong; Varel Hizkia Putra Rahawarin
Jurnal Sinergitas PKM & CSR Vol. 6 No. 3 (2022): June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jspc.v6i3.6234

Abstract

Ergonomi bermanfaat untuk meningkatkan keselamatan kerja dan produktivitas karyawan. Pekerjaan yang tidak dilakukan sesuai prinsip ergonomi akan menimbulkan berbagai masalah kesehatan yang akan merugikan pekerja dan organisasi. Edukasi program ergonomi dinilai efektif dalam mengurangi masalah kesehatan akibat pekerjaan terutama di bidang konstruksi sehingga hal ini diharapkan menciptakan perilaku serta budaya kerja yang aman. Pekerja di warehouse dan di kantor berisiko mengalami gangguan otot, sendi, dan tulang akibat pola gerak yang tidak ergonomis. Para pekerja yang belum pernah menerima edukasi panduan ergonomi dan skrining kesehatan serta K3 yang belum terselenggara menjadi perhatian bagi tim PKM. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui status kesehatan dan meningkatkan pengetahuan para pekerja mengenai ergonomi di lingkungan kerja. Kegiatan edukasi panduan ergonomi terdiri dari pemaparan materi, demonstrasi, pemberian poster, pelaksanaan pre-test dan post-test, serta pemeriksaan kesehatan. Hasil yang didapatkan adalah terjadi peningkatan nilai rerata post-test sebesar 2.74 apabila dibandingkan dengan nilai rerata pre-test. Selain itu, setelah edukasi terjadi peningkatan nilai minimum dari 25 pada pre-test menjadi 50 pada post-test. Sebagian besar peserta pemeriksaan kesehatan berada dalam kategori obesitas (47%). Hal ini menjadi masukan serta bahan pertimbangan bagi mitra dalam pengambilan keputusan untuk keselamatan karyawan dan efisiensi perusahaan.