Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

TRADISI LOKAL DALAM MEMPERKUAT SOLIDARITAS SOSIAL DI MASYARAKAT PESISIR Wira Parawangsa wira; Hamidsyukrie ZM; Jepri Utomo
Journal of Social Education Sasambo Vol 3 No 03 (2025): Journal of Social Education Sasambo (SOCED SASAMBO)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Mataram - Sociology Education Program Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/socedsasambo.v3i03.9792

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran tradisi lokal dalam memperkuat solidaritas sosial dalam masyarakat pesisir Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan metode telaah pustaka, penelitian ini mengidentifikasi tradisi lokal yang masih lestari dan kontribusinya dalam membangun kohesi sosial di tengah tantangan modernisasi dan globalisasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tradisi seperti gotong royong saat panen ikan, ritual laut (Labuh Saji/sedekah laut), dan sistem bagi hasil dalam kegiatan penangkapan ikan berperan penting dalam menumbuhkan rasa kebersamaan, memperkuat nilai-nilai keadilan sosial, dan mendorong partisipasi masyarakat. Tradisi lokal ini juga berfungsi sebagai mekanisme adaptif yang membantu masyarakat pesisir bertahan terhadap perubahan sosial dan ekologis. Namun, tantangan seperti menurunnya partisipasi pemuda, komersialisasi budaya, dan perubahan lingkungan laut harus diatasi melalui strategi pelestarian yang inovatif dan keterlibatan antar generasi. Dengan demikian, tradisi lokal dapat terus berfungsi sebagai elemen dasar dalam meningkatkan solidaritas sosial dan ketahanan budaya dalam masyarakat pesisir.
PERAN SISTEM KEKERABATAN DALAM PEMBENTUKAN POLA PERMUKIMAN SUKU BAYAN DI LOMBOK UTARA Yuliana Zahraini; Yulianti Saputri; Yennysa Puspita Dewi; Ahmad Dianul Hayezi; Yusni Febrian; Agung Firmansyah; Hamidsyukrie ZM
Journal of Social Education Sasambo Vol 3 No 03 (2025): Journal of Social Education Sasambo (SOCED SASAMBO)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Mataram - Sociology Education Program Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/socedsasambo.v3i03.9804

Abstract

Suku Bayan yang berada di wilayah Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, dikenal dengan budaya dan tradisi yang kaya serta sistem kekerabatan yang kuat. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis peran sistem kekerabatan dalam pembentukan pola organisasi suku Bayan dan pengaruhnya terhadap kehidupan sosial dan budaya mereka. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem kekerabatan suku Bayan, yang didasarkan pada prinsip patrilineal, mempengaruhi struktur keluarga dan komunitas, serta pola organisasi yang dibangun di lokasi strategis. Keluarga-keluarga yang saling berhubungan kekerabatan menciptakan jaringan sosial yang solid, yang mendukung interaksi sosial dan pengelolaan sumber daya. Implikasi sosial dan budaya dari pola organisasi ini menciptakan rasa solidaritas dan tanggung jawab bersama, serta memudahkan pelestarian tradisi dan nilai-nilai budaya. Kesimpulannya, pemahaman tentang sistem kekerabatan dan pola organisasi sangat penting untuk menjaga kelangsungan kehidupan sosial dan budaya suku Bayan di masa depan.
TRADISI BAU NYALE: KEARIFAN LOKAL YANG TETAP HIDUP DI ERA MODERN Widiyanti widi; Siti Saniah; Dian Astuti; Duwiq Wahyu Febrianti; Yuliana Zahraini; Hamidsyukrie ZM; Jepri Utomo
Journal of Social Education Sasambo Vol 3 No 4 (2025): Journal of Social Education Sasambo (SOCED SASAMBO)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Mataram - Sociology Education Program Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/socedsasambo.v3i4.9791

Abstract

ABSTRAK Tradisi bau nyale merupakan salah satu warisan budaya masyarakat suku sasak di Lombok Tengah yang memiliki nilai spiritual, sejarah, dan budaya yang mendalam. Tradisi ini dilakukan secara rutin setiap tahun dengan tujuan untuk menghormati legenda Putri Mandalika, simbol pengorbanan dan keberkahan. Dalam perkembangannya, bau nyale tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga menjadi atraksi wisata yang menarik perhatian ribuan pengunjung local maupun internasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi literature (studi pustaka) untuk menggambarkan dinamika keberlanjutan tradisi bau nyale di tengah arus modernisasi serta upaya menjaga keaslian dan maknanya agar tetap relevan di era modern. Data dikumpulkan melalui sumber pustaka seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, tesis, dan sumber terpercaya lainnya yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi bau nyale mengahdapi pergeseran makna dari yang sacral menjadi lebih profane dan konsumtif, upaya pelestarian melalui pendidikan dan promosi budaya mampu mempertahankan esensi nilai-nilai spiritual dan simbolik dari tradisi bau nyale. Selain itu, integrasi nilai-nilai lokal ke dalam pendidikan dan kegiatan budaya menjadi strategi penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi ini di era modern.
TRADISI NYELAMAK DI LAOK SEBAGAI REFLEKSI RASA SYUKUR DAN DOA KESELAMATAN NELAYAN DI DESA TANJUNG LUAR LOMBOK TIMUR Sri Wahyuni Sri; Febi Yanti; Ilmi Ainushofa; Grita Inggrid L; Alabani Adam Kamal; Hamidsyukrie ZM; Jepri Utomo
Journal of Social Education Sasambo Vol 3 No 1 (2025): Journal of Social Education Sasambo (SOCED SASAMBO)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Mataram - Sociology Education Program Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/socedsasambo.v3i1.9793

Abstract

ABSTRAK Artikel ini membahas tradisi Nyelamak Dilaok yang dilaksanakan oleh masyarakat pesisir di Desa Tanjung Luar, Kabupaten Lombok Timur, sebagai refleksi rasa syukur dan doa keselamatan bagi nelayan. Tradisi ini tidak hanya menjadi warisan budaya turun-temurun, tetapi juga memperlihatkan hubungan erat antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Nyelamak Dilaok memiliki makna religius, sosial, dan ekologis yang kuat. Nilai rasa syukur tercermin dalam persembahan sesajen dan pelarungan kepala kerbau ke laut, sementara doa keselamatan diwujudkan melalui ritual yang melibatkan seluruh komunitas. Tradisi ini juga memperkuat solidaritas sosial, gotong royong, serta pelestarian lingkungan laut. Di tengah arus modernisasi dan heterogenitas budaya di Tanjung Luar, Nyelamak Dilaok tetap dipertahankan sebagai identitas budaya lokal yang mencerminkan keharmonisan hidup manusia dengan alam.
NILAI SOSIAL DAN RELIGI PROSESI BISOQ MENIK (CUCI BERAS) DALAM TRADISI MAULID ADAT BAYAN Hana Maulida Safitri hana; Sukma Maulida Afriani; Ulfi Kamalia; Wardhatul Sa’adah; Alfi Nur Hafiz; Hamidsyukrie ZM; Jepri Utomo
Journal of Social Education Sasambo Vol 3 No 1 (2025): Journal of Social Education Sasambo (SOCED SASAMBO)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Mataram - Sociology Education Program Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/socedsasambo.v3i1.9796

Abstract

ABSTRAK Tradisi Bisoq Menik merupakan salah satu rangkaian dalam perayaan Maulid Adat Bayan di Desa Karang Bajo, Kabupaten Lombok Utara, yang mengandung nilai sosial dan religius yang tinggi. Prosesi mencuci beras oleh perempuan adat ini bukan sekadar ritual fisik, tetapi simbol kebersihan lahir dan batin serta bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur dan ajaran Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengungkap makna di balik ritual tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bisoq Menik mencerminkan integrasi antara nilai spiritual, nilai sosial, dan kearifan lokal masyarakat Sasak. Tradisi ini memperkuat solidaritas, menjaga stabilitas sosial, serta menjadi sarana pewarisan nilai budaya melalui mekanisme kontrol sosial yang ketat. Didasarkan pada teori fungsionalisme struktural Emile Durkheim, prosesi ini berfungsi menjaga keteraturan sosial dan identitas kolektif masyarakat di tengah arus modernisasi.
DEKONSTRUKSI MAKNA BAHASA DALAM TRADISI KEAGAMAAN WETU TELU MASYARAKAT BAYAN Wahyu Firman Agil; Siti Saniah; Sri Wahyuni; Sukma Maulida Afriani; Ulfi Kamalia; Hamidsyukrie ZM; Agung Firmansyah
Journal of Social Education Sasambo Vol 3 No 03 (2025): Journal of Social Education Sasambo (SOCED SASAMBO)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Mataram - Sociology Education Program Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/socedsasambo.v3i03.9806

Abstract

Penelitian ini mengkaji makna bahasa adat Bayan dalam tradisi keagamaan Wetu Telu masyarakat Lombok Utara menggunakan pendekatan etnografi linguistik. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi linguistik untuk memahami bagaimana bahasa adat digunakan dalam aspek sosial dan budaya. Data diperoleh dari wawancara dengan tokoh adat, dan masyarakat setempat, serta melalui pengamatan atau observasi langsung di lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa adat Bayan tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai simbol identitas budaya yang menyimpan makna spiritual, kosmologis, dan filosofis terkait hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan leluhur. Wetu Telu sendiri lebih dari sekadar praktik ritual, melainkan mencerminkan sistem kepercayaan yang kompleks dan bernilai tinggi. Namun, pengaruh modernisasi dan minimnya penggunaan bahasa adat berpotensi mengikis warisan budaya ini. Oleh karena itu, pelestarian bahasa dan pemahaman mendalam terhadap makna simboliknya sangat penting untuk menjaga keberlanjutan identitas budaya masyarakat Bayan di tengah dinamika zaman.
INTEGRASI SLOGAN PATUT, PATUH, PATJU, KABUPATEN LOMBOK BARAT DAN POLA IMPLEMENTASI PADA KEGIATAN PROGRAM SEKOLAH DI SMAN 1 GERUNG Ramdhayani, Novia; Hairil Wadi; Suud; Hamidsyukrie ZM
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 9 No. 2 (2024): Volume 09 No. 2 Juni 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v9i2.13998

Abstract

The problem in this research is how to integrate the slogan Patut, Patuh, Patju and implementation patterns in school program activities. The aim of this research is to determine the integration of the slogan Patut, Patuh, Patju, and implementation patterns in West Lombok Regency school program activities. This research uses a qualitative approach to the phenomenological method with data types, namely primary data and secondary data. Data collection techniques through interviews, observation, documentation through determining subjects and informants using purposive sampling techniques. Meanwhile, the Miles and Hubberman model data analysis involves data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The research results found; 1) Integration of the slogan Patut, Patuh, Patju through: a) integration of the knowing slogan Patut in the P5 program and the arts program (gendang beleq); b) integration of the feeling of the slogan Patut, obey in the imtaq program, 3S, and the cultural program; c) integration of the action slogan Patut, Patuh, Patju in the 3S program, imtaq program, cultural saturday program, P5, and arts (gendang beleq); 2) Pattern of implementation of the slogan Patut, Patuh, Patju through: a) pattern of implementation of directed and organized planning, is implemented the imtaq and 3S programs; b) the collaborative implementation pattern is implemented the P5 program, arts (gendang beleq), and cultural saturday programs; c) and the pattern of direct action implementation which is implemented in programs Imtaq, programs 3S, cultural saturday programs, P5, and arts (gendang beleq).
SUBORDINASI PERAN PEREMPUAN DALAM KEGIATAN GUNDEM PRANATA ADAT BAYAN Eko Pratandi; Hamidsyukrie ZM; Suud; Masyhuri
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 9 No. 2 (2024): Volume 09 No. 2 Juni 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v9i2.15108

Abstract

This research aims to understand the form and impact of subordination in the gundem activities of Bayan traditional institutions. The approach used is a qualitative approach using the case study method. The types of data and data sources in this research are primary data and secondary data with data sources in the form of Subjects and Informants. Data collection techniques in this research are observation, interviews and documentation. The data analysis technique in this research is the Miles and Huberman model data analysis technique with procedures namely data reduction, data presentation and conclusions. The results of this research found a form of subordination of women's roles in the gundem activities of Bayan traditional institutions; 1) During the gundem in Berugak Agung three women were involved; 2) The task of women in gundem is only to provide betel lime and dishes for the characters carrying out gundem; 3) If there are problems involving women, they are invited but only to hear the results of the gundem. The impact of the subordination of women's roles in gundem activities of Bayan traditional institutions; 1) Women cannot be involved in formulating gundem results; 2) Limited role of women in gundem; 3) Women must accept the results of gundem