Krisis ekologis di Indonesia mencerminkan persoalan moral akibat pembangunan ekstraktif yang mengabaikan keberlanjutan lingkungan dan keadilan antargenerasi. Artikel ini bertujuan mengkaji krisis tersebut melalui perspektif Ahmad Syafii Maarif dengan menempatkan moralitas publik, kemanusiaan, keadilan sosial, dan tanggung jawab etis sebagai kerangka etika ekologis. Pembahasan diperkaya oleh temuan penelitian teknik lingkungan mengenai pengolahan limbah dan fitoremediasi sebagai ilustrasi empiris. Artikel ini menunjukkan bahwa pemikiran Ahmad Syafii Maarif memberikan kontribusi konseptual dalam memahami krisis ekologis sebagai krisis nurani bangsa serta menegaskan bahwa pemulihan lingkungan memerlukan transformasi paradigma pembangunan yang mengintegrasikan inovasi teknologi, tanggung jawab moral, dan penghormatan terhadap martabat manusia.