Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

PERANCANGAN SISTEM MONITORING LEVEL CAIRAN MENGGUNAKAN POWER LINE COMMUNICATIONS Amperawan Amperawan; Sudirman Yahya; Ali Nurdin; Sabilal Rasyad
Jurnal Ampere Vol 1, No 2 (2016): JURNAL AMPERE
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/ampere.v1i2.897

Abstract

ABSTRAKPower line communications adalah suatu alat yang digunakan untuk berkomunikasi melalui label listrik (tegangan tinggi), teknik ini merupakan terobosan baru yang banyak dikembangkan saat ini. Secara umum level cairan yang digunakan untuk mengukur volume cairan didalam suatu tangki penampungan dengan cara manual melalui pipa kaca atau pipa transparan. Metode manual tersebut tidak dapat mengukur jumlah cairan didalam tangki secara tepat melalui pengembangan power line communications, jumlah cairan di dalam tangki penampungan ditentukan secara akurat dari jarak jauh. Desain alat ukur monitor volume cairan ini mengunakan Arduino UNO, sebagai sensor pembacanya melalui sensor ultrasonic.  Selanjutnya, komunikasi melalui power line communications akan menampilkan visual data volume dan waktu pengisian. Tujuan studi ini adalah memungkinkan untuk memonitor jumlah cairan dalam tangki penampungan dari jarak jauh melalui proses power line communications  tipe 7 inova 200 Mb Melalui jaringan komputer. Di dalam studi ini, pembacaan volume cairan yang ditampilkan secara visual  pada program delphi melalui  power line communications sebagai client dan power line communications sebagai server pada tegangan 220 Vac menghasilkan volume yang sama. Kata Kunci : Power Line Communications,  Arduino Uno, Sensor Ultrasonic
Isolation and Identification of Mycorrhizosphere Bacteria and Their Antagonistic Effects Towards Ganoderma boninense in vitro YENNI BAKHTIAR; SUDIRMAN YAHYA; WAHONO SUMARYONO; MEITY SURADJI SINAGA; SRI WILARSO BUDI; TEUKU TAJUDDIN
Microbiology Indonesia Vol. 4 No. 2 (2010): August 2010
Publisher : Indonesian Society for microbiology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8578.755 KB) | DOI: 10.5454/mi.4.2.9

Abstract

Basal stem rot caused by Ganoderma boninense is the most serious disease of oil palm (Elaeis guineensis) in Indonesia and it has caused major loss in palm oil production. Mycorrhizosphere bacteria offer possible advantages as biocontrol agents as they live and proliferate together with arbuscular mycorrhizal fungi, which have an ability to increase plant resistance against pathogens. A study was conducted to isolate mycorrhizosphere bacteria from spores of arbuscular mycorrhizal fungi and test their antagonistic effects against G. boninense in vitro. All bacterial isolates were identified based on 16S rDNA analysis and it revealed that eleven out of twenty mycorrhizosphere bacteria isolated were related to Bacillus with similarity ranging from 97 to 100%, whereas other isolates were identified as Pseudomonas, Streptomyces, Kocuria, Enterobacter, Brevundimonas, and Alcaligenes with similarities ranging from 96 to 100%. Fourteen out of twenty mycorrhizosphere bacteria showed a varying degree of inhibition towards the growth of G. boninense in vitro. Of these, isolate B10 (closely related to Bacillus subtilis ZJ06) showed the highest inhibitory effect followed by B17 (closely related to Bacillus subtilis N43). Therefore, these bacteria have a potential to be used as biocontrol agents to control basal stem rot disease caused by G. boninense in oil palm.
Respons tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) terhadap cekaman kekeringan Respons of oil palm (Elaeis guineensis Jacq) to water stress Nurita TORUAN-MATHIUS; Gede WIJANA; Edi GUHARJA; Hajrial ASWIDINNOOR; Sudirman YAHYA; . SUBRONTO
E-Journal Menara Perkebunan Vol 69, No 2: Desember 2001
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.455 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v69i2.166

Abstract

SummaryWater stress affect many physiological andbiochemical processes of oil palm. A series ofexperiments were conducted to characterize thewater stress-induced changes in physiologicalrespons of oil palm to water stress, in glass housecondition. The experiment consisted of (1)permanent leaf wilting point measured based onsoil water content, leaf water content, specificleaf area and leaf water potential . Plants wereconducted by termination of watering to theplants, and control plants were maintained wellwatered during 0,3,6,9,12,15,18 and 21 days ofMK356 and MK365 clones. Experiment (2)effect of water stress on changes of leaf waterpotential, protein bands pattern, proline,glycine-betaine, osmotical sugar, and abcisicacid (ABA) of MK356 and MK365 clones.Water stress was induced by termination ofwatering to the plants and maintained wellwatered during 0, 7,14, and 18 days.Experiment (3) changes of protein bands patternby total protein and electrophoresis SDS-PAGEand SDS-PAGE 2D protein. of H2(D10DxD8D)x(L9TxL2T); H12 (D8D Self) x(L9T x L2T). H3 and H9 (BJ028D x BJ2117P)hybrids. H2 and H12, H3 and H9 potentiallytolerant and untolerant to water stress,respectively. The results showed that permanentwilting point reached in 18 days of water stress.Water stress caused the decreased soil watercontent, leaf water potential, leaf water content,relative leaf water content , and relative leafarea of two clones. Water potential, leaf watecontent dan relative leaf water content ofMK365 decrease faster compare with MK356.Soil water content sharply decrease after 6 hoursand in 18 days of water stress leaf waterpotential value < - 2.55 Mpa. Proline, glycine-betaine and glucose content were affect by waterstress. Interaction among water stress and cloneswere significantly appear in stachiose content.Leaf water potential values decrease, whereasproline, ABA and glycine-betaine contentsincrease during water stress especially inMK356. Generally showed that ABA content inMK356 higher than MK 365. The differencesresponses of MK356 with MK 365 obtained fromprolin,xylose and ABA content. Induction of newprotein pI 4.7-36 kDa, pI5.3-34 kDa, pI 4.6-32kDa and pI 5.3-36 kDa obtained from hybridspotentially tolerant to water strees, none inuntolerant hybrids.RingkasanCekaman kekeringan mempengaruhiproses fisiologis dan biokimia tanaman kelapasawit. Serangkaian percobaan bertujuan untukmengkarakterisasi perubahan fisiologis tanamankelapa sawit terhadap cekaman kekeringan,dalam kondisi rumah kaca telah dilakukan.Percobaan terdiri atas (1) penetapan titik layupermanen, berdasarkan perubahan potensial airdaun, kadar air daun, kadar air daun relatif, danluas daun relatif dengan perlakuan tanpa dandengan penyiraman selama 0, 3, 6, 9, 12, 15, 18dan 21 hari. Percobaan (2) penetapan perubahankadar prolin, glisin-betain, gula-gula osmotikaldan asam absisik (ABA), terhadap cekamankekeringan. Perlakuan adalah tanpa dan denganpenyiraman selama 0, 7, 14, dan 18 hari.Percobaan (3) analisis perubahan pola pita proteindaun hibrida H2 (D10DxD8D)x(L9TxL2T); H12(D8D Self) x (L9T x L2T). H3 dan H9 (BJ028Dx BJ2117P) terhadap cekaman kekeringan dengantotal protein, dan pola pita protein dengan SDSPAGE dan SDS-PAGE 2D. H2 dan H12 serta H3dan H9 masing-masing berpotensi toleran danpeka terhadap cekaman kekeringan. Hasil yangdiperoleh menunjukkan bahwa titik layupermanen dicapai pada hari ke 18 setelah dibericekaman kekeringan. Cekaman kekeringanmenurunkan kadar air tanah media tumbuh,potensial air daun, kadar air daun, kadar air daunrelatif, dan luas daun relatif untuk kedua klon.Potensial air daun, kadar air daun dan kadar airdaun relatif klon MK365 menurun lebih cepatdibandingkan dengan klon MK356. Kadar airtanah menurun tajam setelah 6 hari dibericekaman air dan potensial air daun mencapai<-2.55 MPa pada 18 hari setelah diberi cekaman.Cekaman kekeringan nyata berpengaruh terhadapkadar prolin, glisin betain dan glukosa. Interaksiantar lama cekaman kekeringan dan perbedaanklon diperoleh pada perubahan gula stahiosa.Tampak bahwa semakin menurun nilai potensialair daun menyebabkan kadar prolin semakinmeningkat. Hal yang sebaliknya terjadi terhadapkadar glisin-betain yang mengalami penurunanterutama untuk klon MK356. Kadar ABAMK356 dan MK365 meningkat sejalan dengansemakin lama diberi cekaman. Secara umumtampak bahwa kadar ABA pada MK356 lebihtinggi dibandingkan dengan MK 365. Perbedaanrespons klon MK356 dengan MK 365 terjadipada kadar prolin, gula silosa dan ABA.Hibridaberpotensi toleran memberikan respon terhadapcekaman kekeringan dengan menginduksi proteinbaru pI 4,7-36 kDa, pI5,3-34 kDa, pI 4,6-32 kDadan pI 5,3- 36 kDa, sedangkan pada hibridayang berpotensi peka protein tersebut tidakditemukan
Agronomic Improvement of Argomulyo Soybean Variety [Glycine max (l) merr] through Induced Mutation by Gamma Irradiation in M1 and M2 Generation Diana Sofia Hanafiah; Trikoesoemaningtyas Trikoesoemaningtyas; Sudirman Yahya; Desta Wirnas
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 27, No 3 (2010)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2010.27.3.199

Abstract

Gamma ray irradiation, especially applied at low doses, is one of methods to produce plant genetic diversity by means of micromutation. The objectives of this research was to determine the radiosensitivity of Argomulyo variety of soybeans (Glycine max (L) Merr) by gamma ray irradiation and to estimate genetic variablity of the crop after  irradiation. To determine the radiosensitivy, the seeds of Argomulyo variety were treated with gamma ray irradiation at  200 Gy, 400 Gy, 600 Gy, 800 Gy, and 1000 Gy. Curve-fit analysis was employed to find the Lethal Doses 50 (LD50) value . To evaluate the genetic variablity after irradiation with gamma ray, seeds of Argomulyo was irradiated under LD50  at doses of 0 Gy, 50 Gy, 100 Gy, 150 Gy, and 200 Gy.  The results showed that LD50 value was 457.17 Gy. The study found that for Argomulyo variety the LD20 was 490.93 Gy and the LD50 was 457.17 Gy.  Genetic variability was observed in various agronomic characters of M2 generation after low dose of gamma ray irradiation treatment of 50, 100, 150 and 200 Gy. The highest genetic variability was found at 200 Gy for plant height, number of productive nodes, and number of pods.  The variability of agronomic characters of soybean after irradiation was due to genetic factors. The highest heritability estimates was observed in plant height and number of productive pods. The succeding generation of putative mutants will be selected for productivity and drought tolerance.
Respons tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) terhadap cekaman kekeringan Respons of oil palm (Elaeis guineensis Jacq) to water stress Nurita TORUAN-MATHIUS; Gede WIJANA; Edi GUHARJA; Hajrial ASWIDINNOOR; Sudirman YAHYA; . SUBRONTO
Menara Perkebunan Vol. 69 No. 2: 69 (2), 2001
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v69i2.166

Abstract

SummaryWater stress affect many physiological andbiochemical processes of oil palm. A series ofexperiments were conducted to characterize thewater stress-induced changes in physiologicalrespons of oil palm to water stress, in glass housecondition. The experiment consisted of (1)permanent leaf wilting point measured based onsoil water content, leaf water content, specificleaf area and leaf water potential . Plants wereconducted by termination of watering to theplants, and control plants were maintained wellwatered during 0,3,6,9,12,15,18 and 21 days ofMK356 and MK365 clones. Experiment (2)effect of water stress on changes of leaf waterpotential, protein bands pattern, proline,glycine-betaine, osmotical sugar, and abcisicacid (ABA) of MK356 and MK365 clones.Water stress was induced by termination ofwatering to the plants and maintained wellwatered during 0, 7,14, and 18 days.Experiment (3) changes of protein bands patternby total protein and electrophoresis SDS-PAGEand SDS-PAGE 2D protein. of H2(D10DxD8D)x(L9TxL2T); H12 (D8D Self) x(L9T x L2T). H3 and H9 (BJ028D x BJ2117P)hybrids. H2 and H12, H3 and H9 potentiallytolerant and untolerant to water stress,respectively. The results showed that permanentwilting point reached in 18 days of water stress.Water stress caused the decreased soil watercontent, leaf water potential, leaf water content,relative leaf water content , and relative leafarea of two clones. Water potential, leaf watecontent dan relative leaf water content ofMK365 decrease faster compare with MK356.Soil water content sharply decrease after 6 hoursand in 18 days of water stress leaf waterpotential value < - 2.55 Mpa. Proline, glycine-betaine and glucose content were affect by waterstress. Interaction among water stress and cloneswere significantly appear in stachiose content.Leaf water potential values decrease, whereasproline, ABA and glycine-betaine contentsincrease during water stress especially inMK356. Generally showed that ABA content inMK356 higher than MK 365. The differencesresponses of MK356 with MK 365 obtained fromprolin,xylose and ABA content. Induction of newprotein pI 4.7-36 kDa, pI5.3-34 kDa, pI 4.6-32kDa and pI 5.3-36 kDa obtained from hybridspotentially tolerant to water strees, none inuntolerant hybrids.RingkasanCekaman kekeringan mempengaruhiproses fisiologis dan biokimia tanaman kelapasawit. Serangkaian percobaan bertujuan untukmengkarakterisasi perubahan fisiologis tanamankelapa sawit terhadap cekaman kekeringan,dalam kondisi rumah kaca telah dilakukan.Percobaan terdiri atas (1) penetapan titik layupermanen, berdasarkan perubahan potensial airdaun, kadar air daun, kadar air daun relatif, danluas daun relatif dengan perlakuan tanpa dandengan penyiraman selama 0, 3, 6, 9, 12, 15, 18dan 21 hari. Percobaan (2) penetapan perubahankadar prolin, glisin-betain, gula-gula osmotikaldan asam absisik (ABA), terhadap cekamankekeringan. Perlakuan adalah tanpa dan denganpenyiraman selama 0, 7, 14, dan 18 hari.Percobaan (3) analisis perubahan pola pita proteindaun hibrida H2 (D10DxD8D)x(L9TxL2T); H12(D8D Self) x (L9T x L2T). H3 dan H9 (BJ028Dx BJ2117P) terhadap cekaman kekeringan dengantotal protein, dan pola pita protein dengan SDSPAGE dan SDS-PAGE 2D. H2 dan H12 serta H3dan H9 masing-masing berpotensi toleran danpeka terhadap cekaman kekeringan. Hasil yangdiperoleh menunjukkan bahwa titik layupermanen dicapai pada hari ke 18 setelah dibericekaman kekeringan. Cekaman kekeringanmenurunkan kadar air tanah media tumbuh,potensial air daun, kadar air daun, kadar air daunrelatif, dan luas daun relatif untuk kedua klon.Potensial air daun, kadar air daun dan kadar airdaun relatif klon MK365 menurun lebih cepatdibandingkan dengan klon MK356. Kadar airtanah menurun tajam setelah 6 hari dibericekaman air dan potensial air daun mencapai<-2.55 MPa pada 18 hari setelah diberi cekaman.Cekaman kekeringan nyata berpengaruh terhadapkadar prolin, glisin betain dan glukosa. Interaksiantar lama cekaman kekeringan dan perbedaanklon diperoleh pada perubahan gula stahiosa.Tampak bahwa semakin menurun nilai potensialair daun menyebabkan kadar prolin semakinmeningkat. Hal yang sebaliknya terjadi terhadapkadar glisin-betain yang mengalami penurunanterutama untuk klon MK356. Kadar ABAMK356 dan MK365 meningkat sejalan dengansemakin lama diberi cekaman. Secara umumtampak bahwa kadar ABA pada MK356 lebihtinggi dibandingkan dengan MK 365. Perbedaanrespons klon MK356 dengan MK 365 terjadipada kadar prolin, gula silosa dan ABA.Hibridaberpotensi toleran memberikan respon terhadapcekaman kekeringan dengan menginduksi proteinbaru pI 4,7-36 kDa, pI5,3-34 kDa, pI 4,6-32 kDadan pI 5,3- 36 kDa, sedangkan pada hibridayang berpotensi peka protein tersebut tidakditemukan
Optimalisasi Produksi dan Pertumbuhan Tanaman Jahe pada Beberapa Naungan Kurnianingsih, Astuti; Sudradjat; Sudirman Yahya; Suryo Wiyono; Happy Widiastuti
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 13 No. 3 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.13.3.133-139

Abstract

Jahe (Zingiber officinale) merupakan tumbuhan herba tahunan termasuk famili Zingiberaceae. Rimpang tanaman jahe mengandung dua kelas konstituen: minyak atsiri dan oleoresin, yang bermanfaat untuk mengobati berbagai penyakit seperti; diabetes, tekanan darah tinggi, kanker dan banyak penyakit lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh naungan terhadap pertumbuhan tanaman, biomassa dan kandungan gingerol. Percobaan dilakukan di Kebun Pendidikan Cikabayan bulan Juli 2021-April 2022. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok satu faktor yaitu naungan yang terdiri dari empat taraf yaitu N0 0% (cahaya penuh), dan paranet dengan kerapatan N1 = 25%, N2 = 50% dan N3 = 75%. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali, sehingga terdapat 12 unit percobaan, masing-masing unit percobaan memiliki 6 tanaman contoh. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian naungan dengan kerapatan 50% dan 75% menghasilkan tinggi tanaman dan jumlah daun jahe tertinggi dibandingkan tanpa naungan dan naungan kerapatan 25%. Komponen biomassa tanaman dipengaruhi oleh pemberian naungan. Pemberian perlakuan naungan tidak berbeda nyata terhadap tebal daun, jumlah stomata dan kerapatan stomata. Perlakuan pemberian naungan terhadap kadar senyawa gingerol pada tanaman jahe memberikan perbedaan yang nyata pada perlakuan naungan 75%, nilai tertinggi terdapat pada perlakuan naungan dengan kerapatan 50% dengan nilai 12.10. Tanaman jahe dapat ditanam dan beradaptasi baik pada intensitas cahaya yang rendah.Kata kunci: biomass, gingerol, intensitas, rimpang
Tanggap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung terhadap Waktu Tanam yang Berbeda Sudirman Yahya; Supijatno; Humoen, Maria Imelda
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 48 No. 2 (2020): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.748 KB) | DOI: 10.24831/jai.v48i2.30713

Abstract

Determination of the appropriate sowing date can reduce the negative impact of the low water availability and solar radiation in the growth phase and yield of maize. This research aimed to (1) determine the effective sowing date to get the optimal solar radiation, water, and yields, (2) determine the appropriate varieties for the sowing date to optimize the utilization of radiation and water. The experiment was conducted at the Agricultural Technology Assessment Station (BPTP) Naibonat, NTT from February to July 2019. The three-factor factorial experiment using a split-split plot design. The main plot, namely three sowing dates were 26 February 2019, 12 March 2019, and 26 March 2019. The subplots, namely three varieties of maize consisted of Pena muti m’naes, Lamuru, and Pioneer-36. The sub-sub plot, namely 2 levels of watering consisting of not watered and watered. The results showed that the sowing date of 12 March 2019, was the appropriate sowing date and corresponding with the level of availability of water and solar radiation with more efficient use and higher levels of solar radiation interception to provide Pioneer-36 production of 8.47 tons ha-1, which was better than the production of Local and Lamuru varieties of maize at other sowing dates. This is supported by the synchronized responses of both source capacity (leaf area) and sink capacity (ear size). Keywords: leaf area index, production, varieties, watering
Produksi dan Kualitas Umbi serta Ketahanan terhadap Hama pada Bawang Merah Fidiansyah, Arief; Sudirman Yahya; Suwarto
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 49 No. 1 (2021): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.806 KB) | DOI: 10.24831/jai.v49i1.33761

Abstract

Penggunaan pupuk anorganik yang tinggi dalam jangka panjang pada pemupukan bawang merah disertai tingginya biaya pemupukan anorganik dapat mengakibatkan penurunan kualitas bawang merah. Penelitian dilaksanakan bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan pupuk kotoran kambing dengan dosis pupuk anorganik terhadap pertumbuhan, produksi, dan kualitas bawang merah, serta ketahanan terhadap hama. Penelitian dilaksanakan pada musim kemarau di bulan September hingga Desember 2019 di Desa Sukorejo, Nganjuk dengan kondisi suhu 23-33 oC dan ketinggian 60 sampai 140 mdpl. Penelitian ini menggunakan rancangan petak tersarang (nested design), empat ulangan dengan dua faktor. Faktor pertama yaitu pupuk kandang yang terdiri atas dua taraf, dan faktor kedua yaitu pupuk anorganik yang terdiri atas lima taraf. Pupuk anorganik yang digunakan yaitu urea, KCl, dan NPK. Dosis acuan pupuk anorganik menggunakan dosis petani setempat. Pupuk kandang tidak berhasil mengurangi dosis pupuk anorganik pada pertumbuhan bawang merah. Pemberian pupuk kandang secara nyata menurunkan tinggi tanaman 36.88 cm lebih rendah dari tanpa pupuk kandang 39.03 cm tetapi meningkatkan jumlah daun, jumlah anakan dan bobot umbi per rumpun. Penambahan pupuk organik kotoran kambing menyebabkan persentase kerusakan bawang merah 1.40% pada umbi 6 minggu setelah simpan (MSS) tetapi masih di bawah 5% sesuai syarat mutu SNI 01-3159-1992 bawang merah. Kata kunci: bobot umbi, kotoran kambing, pupuk kandang, Super Philip