Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Tradisi Boke dalam Pesta Panen pada Masyarakat Kulisusu di Desa Lapandewa Kecamatan Kulisusu Barat Kabupaten Buton Utara Jusman Jusman; Rahmat Sewa Suraya; La Ode Marhini
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 6 No 2 (2023): Volume 6 No 2, Desember 2023
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v6i2.2833

Abstract

This study aims to exmine the oral history of haroaano laa, the implementation process and the meanings of Bhoke in the boke tradition in the harvest festival in the community in Lapandewa Village, West Kulisusu District, North Buton Regency. The study used a qualitative descriptive method. The location of the study chosen was in Lapandewa Village, West Kulisusu District, North Buton Regency. Data collection techniques were carried out by direct observation, interviews with informants and documentation. Determination of informants using purposive techniques. Data were analyzed in four stages, namely; (1) data collection stage, (2) data reduction, (3) data presentation stage (4) conclusion drawing stage. The informants in the study numbered 5 people, Data collection in this study was carried out using observation, interview and documentation techniques which were then analyzed descriptively qualitatively. The results of this study are; (1) the harvest festival (haroano laa) is an annual tradition that has been carried out from ancient times to the present. The history of the harvest festival (haroano laa) when two people Labalubi and Labaura came to a place now called Lapandewa village. In this place there is a big river and is inhabited by many crocodiles, these two people also marked the place with a red flag and this flag is symbolized as a sign of danger. (2) The process of implementing Boke (a) Boke Preparation Stage (i) Determining a Good Day (ii) Time and place (iii) Tools and materials (iv) (b) Implementation stage (i) Pecking (Pompapecucu) (ii) Installing spurs (iii) Cockfighting (perumpa) (3). The meaning of Chicken in the Boke tradition in the Lapandewa Village community compares chickens to land that will be wagered where the chicken that wins the fight is considered land that has fertility and is free from disease outbreaks and disturbances from wild animals. The meaning of the Surabi and Bana spurs symbolizes harmony between communities.
Tradisi Metirangga pada Masyarakat Suku Tolaki di Kelurahan Nambo Kecamatan Nambo Kota Kendari lala andriani lestari; Rahmat Sewa Suraya; La Ode Marhini
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 6 No 2 (2023): Volume 6 No 2, Desember 2023
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v6i2.2834

Abstract

The purpose of this study was to describe the implementation process and analyze the symbolic meaning of the tools and materials used in the implementation of the Metirangga tradition. The results of the study showed that the Metirangga tradition is still carried out now and the process of implementing the Metirangga tradition consists of (1) the preparation stage, the family first prepares the requirements for tools and materials such as pillows, seven sarongs, banana leaves, plates, henna leaves, powder, oil and water. and prepare the bride and groom by making them look beautiful and handsome. (2) the implementation stage, first; completing the Al-Quran, second; reciting the prophet Muhammad SAW, reciting the prophet's shalawat is also marked as the time when the Metirangga tradition ritual will be carried out, when the parents stand at that time the person appointed and trusted by the family will come forward to perform the Metirangga tradition ritual on the bride and groom. Fourth; the joint prayer that is combined after the reciting the bersanji is a form of joint prayer that is followed by the family and relatives. (3) the final stage is a joint meal and greetings to the bride and groom. The tools and materials used contain symbolic meanings: 1) pillows, in addition to functioning as a base in the first arrangement, also contain symbolic meanings, namely throne or honor. 2) seven sarongs) contain symbolic meanings, namely fortune. 3) banana leaves contain symbolic meanings, namely cold. 4) henna leaves contain symbolic meanings, namely harmony. 5) powder contains symbolic meanings, namely pure white. 6) oil contains symbolic meanings, namely slippery. 7) water contains symbolic meanings, namely cleansing. 8) plates contain symbolic meanings, namely respect.
Motif-Motif Tenun di Desa Mabolu Kecamataan Lohia Kabupaten Muna La Ode Kadir; La Ode Dirman; La Ode Marhini
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 6 No 1 (2023): Volume 6 No 1, Juni 2023
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v6i1.2835

Abstract

                The objectives of this study were (1) to find out what knowledge is known by the community about woven cloth motifs ini mabolu Village. Lohia District, Muna Regenci. (2) To describe the function of Woven fabric of Motifs in Mabolu Village, Lohia District, Regenci. This research uses a qualitative descriptive method. The research location chosen was in mabolu Village. Lohia District, Muna Regency. Data collection techniques were carried out by direct  observation  (observation), interviewsto purposive. Data were analyzed in three stages, namely; (1) data editing, (2) data review, (3) drawing conclusions. Informants in this study amounted to 5 people, data collection in this study was carried out using observation techniques, interviews and documentation which were then analyzed descriptively qualitatively. The resultsof this study are; (1) knowledge the community regarding motives there are 12 motifs along with the groups that use them, namely the bhia-bhia motif for walaka, the samasili motif for kaomu, the lante-lante motif for maradika or small people, the kambeano bhontu motif for walaka, the bhotu motif for kaomu, the kambeano sirikaea motif for kaomu, bharalu motif for walaka, kambeano kuni motif for kaomu, manggo-manggopa motif for kaomu, mosituli motif for kaomu, ledha motif for walaka, kambeano bhanggai motif for kaomu, (20 There are 3 functions of the wuna woven sarong, namely for prayer, sleeping and for sacred events.
Tuturan Tari Mangaru di Desa Nepa Mekar Kecamatan Lakuko Kabupaten Buton Tengah Sartika Sartika; La Niampe; La Ode Marhini; La Ode Muhammad Sardiin
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 No 2, Desember 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i2.2977

Abstract

Tari Mangaru menggambarkan keberanian para lelaki yang berperang di masa lampau. Tarian ini menampilkan dua orang laki-laki yang berperan sebagai pejuang di medan perang. Keduanya menjadi elemen penting dalam pertunjukan karena merepresentasikan semangat dan suasana pertempuran. Dalam pertunjukan Tari Mangaru, keris digunakan sebagai alat utama. Sebagai tarian yang melambangkan keberanian, penggunaan senjata seperti keris menjadi unsur wajib bagi setiap penari. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan Tari Mangaru di Desa Nepa Mekar, dengan fokus pada: (1) fungsi dan makna Tari Mangaru; (2) pola pewarisan tradisi lisan Tari Mangaru di Desa Nepa Mekar, Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah. Informan dalam penelitian ini ditentukan melalui metode purposive. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan empat tahapan, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi dan makna Tari Mangaru bagi masyarakat Desa Nepa Mekar, Kecamatan Lakudo, adalah sebagai simbol kesatria atau laki-laki perkasa. Tari Mangaru merupakan tarian perang yang awalnya digunakan untuk melawan penjajah yang berusaha menguasai wilayah Buton. Namun, saat ini Tari Mangaru difungsikan sebagai sarana hiburan dan penyambutan tamu dalam berbagai acara adat. Pewarisan Tari Mangaru dilakukan oleh tokoh adat melalui beberapa metode, di antaranya: (1) sosialisasi dan (2) pelatihan kepada generasi muda.
Pewarisan Tari Pajogi Pada Masyarakat Desa Patuno Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi Nur Iman; Rahmat Sewa Suraya; La Ode Marhini
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 No 2, Desember 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i2.2978

Abstract

Tari Pajogi merupakan tarian tradisional yang berasal dari masyarakat Desa Patuno, Kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi. Tarian ini dilaksanakan sebagai bentuk hiburan bagi masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui bentuk pertunjukan Tari Pajogi pada masyarakat Desa Patuno, Kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi; dan 2) Mengetahui cara pewarisan Tari Pajogi pada masyarakat Desa Patuno, Kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi. Penelitian ini menggunakan beberapa konsep, yaitu konsep tradisi lisan, konsep pewarisan, konsep tari tradisional, dan konsep Tari Pajogi. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Pajogi merupakan salah satu tarian hiburan di masyarakat Desa Patuno, Kecamatan Wangi-Wangi. Pertunjukan Tari Pajogi biasanya dilakukan oleh 3 hingga 6 penari. Tarian ini terdiri dari tiga gerakan utama, yaitu: 1) Gerakan Umba Peku-Peku, 2) Gerakan Biasa, dan 3) Gerakan Mangu-Mangu. Pewarisan Tari Pajogi di Desa Patuno dilakukan melalui dua cara, yaitu: 1) Pewarisan formal, yang dilakukan melalui pertunjukan dalam perlombaan kebudayaan dan acara perpisahan sekolah; dan 2) Pewarisan nonformal, yang dilakukan melalui pertunjukan pada acara adat seperti Karia serta lingkungan keluarga, di mana orang tua yang memiliki pengetahuan tentang Tari Pajogi mengajarkannya kepada anak-anak mereka.
Tradisi Wandile Pada Masyarakat Wolio di Desa Lambusango Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton Putri Purnama Sari; Rahmat Sewa Suraya; La Ode Marhini
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 No 2, Desember 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i2.2980

Abstract

Tradisi Wandile merupakan tradisi khas masyarakat Lambusango yang secara khusus dilaksanakan untuk anak pertama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan dan makna yang terkandung dalam tradisi Wandile. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi, yang dianalisis melalui proses reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pelaksanaan tradisi Wandile terdiri atas tiga tahapan: (1) tahap persiapan, meliputi penentuan hari baik serta persiapan alat dan bahan; (2) tahap pelaksanaan, yang berlangsung di rumah pelaku tradisi dan dipimpin oleh bisa (dukun); dan (3) tahap akhir, yaitu pembacaan doa selamat. Tradisi Wandile memiliki makna simbolis di setiap tahapannya, yakni sebagai upaya menjauhkan anak yang diwandile dari hal-hal buruk menurut kepercayaan masyarakat Lambusango. Hingga saat ini, tradisi Wandile masih dilestarikan dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Lambusango.
Makna Ungkapan Adat Melamar dalam Proses Menikah (Fenagho Tungguno Karete) pada Masyarakat Muna di Desa Katobu Kecamatan Wadaga Kabupaten Muna Barat Rahmat Saban; Samsul Samsul; La Ode Marhini; Agus Rihu
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 No 2, Desember 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i2.2982

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna ungkapan adat melamar dalam proses pernikahan (feenagho tungguno karete) pada masyarakat Desa Katobu, Kecamatan Wadaga, Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini secara khusus mendeskripsikan ungkapan-ungkapan yang terdapat dalam adat melamar serta makna simbolik yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling, yaitu memilih informan yang dianggap mengetahui secara mendalam adat melamar. Analisis data dilakukan melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adat melamar dalam masyarakat Muna dikenal dengan istilah feenagho tungguno karete, yang secara harfiah berarti "menanyakan penjaga pekarangan." Proses penyampaian adat ini dilakukan dalam forum atau pertemuan adat menggunakan bahasa Muna antara delegasi pihak pelamar dan pihak yang dilamar. Adat ini memiliki makna simbolik, di mana kata tungguno menyimbolkan seseorang yang menjaga, merawat, atau mengikat/melamar, sedangkan karete menyimbolkan pekarangan tempat bunga berada, yang menjadi simbol seorang gadis. Proses adat melamar terdiri dari tiga tahapan, yaitu musyawarah (rompu), membawa janji (deowa too), dan melamar secara resmi (fofeena).
Tradisi Kadamba Pada Masyarakat Desa Moko Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah Muhamad Risal; La Niampe La Niampe; La Ode Marhini
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 1 (2025): Volume 8 No 1, Juni 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/vb8yzt49

Abstract

Tradisi kadamba adalah suatu kebiasaan yang dilakukan sebelum kegiatan pelamaran selesai, bentuk kesepakatan serta keikhlasan seorang laki-laki kepada calon mempelai wanita dari pihak keluarga untuk selalu mengunjungi calon istri, pihak laki-laki mengunjungi calon mempelai wanita dianggap sebagai bukti bahwa keduanya sudah saling mengikat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fungsidan nilai-nilai di Desa Moko Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah.. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil Penelitian Tradisi kadamba adalah salah satu tradisi masyarakat Moko di buton tengah yang dilakukan setelah pelamaran. Tradisi kadamba bentuk kesepakatan serta keikhlasan seorang laki-laki kepada calon mempelai wanita dari pihak keluarga untuk selalu mengunjungi calon istri, pihak laki-laki mengunjungi calon mempelai wanita di anggap sebagai bukti bahwa keduanya sudah saling mengikat. Kegiatan yang sering dilakukan dengan membawakan bahan-bahan keperluan dapur, seperti beras, sayur-sayuran. Selain bentuk makan ada juga bentuk tenaga seperti, mempelai pria selalu membantu orang tua wanita dalam hal berkebun atau membersihkan pekarangan rumah dan lain. Fungsi yang terdapat dalam tradisi kadamba pada masyarakat desa moko, yakni; Adaptasi, Pencapain Tujuan, Integrasi, dan Pemeliharaan Pola.Nilai- nilai yangterkandung dalam tradisi kadamba pada masyarakat desa moko yakni; Nilai Komunikatif, Nilai Tanggung Jawab, Nilai Silaturahmi, Nilai Keikhlasan, Nilai Kejujuran.