Claim Missing Document
Check
Articles

Pelatihan Pembuangan Masker Sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Infeksi di Desa Sukowati Kecamatan Kapas Kabupaten Bojonegoro Saputri, Romadhiyana Kisno; Hutahaen, Titi Agni; Ni'am, Musfirotun; Albabi, Nabila Ulul
Journal of Research Applications in Community Service Vol. 1 No. 1 (2022): Journal of Research Applications in Community Service
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32665/jarcoms.v1i1.885

Abstract

Pemakaian masker sekali pakai meningkat 30% -50% selama pandemi COVID-19. Sampah masker masuk ke dalam sampah infeksius atau sampah yang dapat menyebabkan penyakit infeksi, sehingga sebelum dibuang, perlu penanganan khusus yaitu didisinfeksi lalu dirusak masker dengan cara dilepas tali masker atau disobek.  Sampah masker skala rumah tangga harus dikumpulkan tersendiri, digunting, direndam dengan larutan disinfektan dan dibungkus dengan kantong plastik sebelum dibuang. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam membuang masker sebagai upaya pencegahan penyakit infeksi. Metode yang digunakan pada kegiatan ini adalah metode ceramah dan simulasi atau praktik langsung di depan sasaran. Sasaran adalah ibu-ibu PKK yang berjumlah 40 orang. Kegiatan ini memberikan hasil adanya peningkatan tingkat pengetahuan mengenai pembuangan masker yang tepat sebesar 55% dan peningkatan keterampilan mengenai pembuangan masker yang tepat sebesar 87,5%. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam membuang masker sebagai upaya pencegahan penyakit infeksi.
Pengembangan Produk Pangan Olahan Kerupuk Telur Asin dalam Mengatasi Stunting di Desa Sarimulyo Kabupaten Blora Hutahaen, Titi Agni; Sari, Astrid Chandra; Ningrum, Ifa Khoiria
Journal of Research Applications in Community Service Vol. 2 No. 1 (2023): Journal of Research Applications in Community Service
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32665/jarcoms.v2i1.1307

Abstract

Status gizi pada 1000 hari pertama kelahiran akan mempengaruhi kualitas kesehatan, intelektual, dan produktivitas balita pada masa yang akan datang. Ibu dan bayi memerlukan gizi yang cukup dan berkualitas untuk menjamin status gizi dan status kesehatan (kemampuan motorik, sosial, dan kognitif), kemampuan belajar dan produktivitas balita. Informasi yang disampaikan tahun 2022 bulan November pada acara penerimaan mahasiswa KKN Unugiri menjelaskan ada hubungan antara angka stunting balita dan anak yang tinggi dengan hubungan banyaknya pernikahan di bawah umur. Hal tersebut menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi bayi dengan perkembangan psikomotorik orang tua muda, keadaan sosial ekonomi, kesehatan reproduksi selama kehamilan ibu yang dengan umur relatif di bawah umur untuk menikah. Oleh karena itu diperlukan kegiatan pengabdian yang dilaksanakan secara rutin melalui kerjasama institusi pendidikan kesehatan dan institusi kesehatan yang salah satunya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang 1000 hari pertama, makanan bergizi dan hasil olahan pangan yang memiliki nilai gizi yang tinggi dalam pemenuhan kebutuhan gizi ibu dan balita, dan gizi seimbang serta adanya perubahan perilaku gizi yang baik. Selain itu edukasi kepada kader, kader PKK juga harus dilakukan agar kader dapat memberikan edukasi secara berkelanjutan kepada para ibu yang mempunyai balita. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan topik “Sosialisasi dan Pelatihan UMKM Kerupuk Telur Asin”. Gambaran cara pengolahan panganan yang sehat dan bergizi pada anak,demi menghilangkan mitos telur dan memangkas stunting pada desa Sarimulyo Kabupaten Blora dan IPTEKS yang diberikan kepada kader masyarakat berupa penyampaian informasi mengatasi stunting, serta melakukan pelatihan UMKM pada Desa Sarimulyo Kabupaten Blora dalam pemulihan bidang kesehatan dan ekonomi.
Analisis Kuantitatif dan Kualitatif Penggunaan Antibiotik pada Pasien Rawat Inap di Ruang Penyakit Dalam RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro Anwar, M. Rosichan; Hutahaen, Titi Agni; Basith, Abdul; Noer, Sebilah Sabil
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.826

Abstract

Infeksi merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang masih menjadi perhatian utama karena berdampak luas terhadap masyarakat. Antibiotik merupakan terapi untuk penyakit infeksi yang diakibatkan oleh bakteri. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dengan indikasi, dosis, dan lama pemberian dapat mengakibatkan resistensi antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan antibiotik secara kuantitatif dan kualitatif guna mendukung penggunaan antibiotik menjadi lebih bijak dan rasional. Penelitian ini bersifat observasional dengan pendekatan deskriptif secara retrospektif menggunakan teknik purposive sampling yang dilakukan di ruang penyakit dalam RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro selama periode Juli hingga Desember 2024. Analisis secara kuantitatif dilakukan menggunakan metode ATC/DDD serta analisis DU90%, sementara analisis kualitatif dilakukan berdasarkan Pedoman Penggunaan Antibiotik Kemenkes RI 2021, Formularium RSUD, serta referensi klinis internasional seperti Johns Hopkins Antibiotic Guidelines, Drug Information Handbook dan British National Formulary. Hasil menunjukkan bahwa total DDD/100 hari rawat adalah 80,83, dengan seftriakson adalah antibiotik yang sering digunakan sebesar 26,97 atau 33,37%. Antibiotik dalam segmen DU90% meliputi seftriakson, prokain benzil penisilin, metronidazol, sefepim, dan meropenem. Analisis kualitatif pada 107 pasien menunjukkan ketepatan indikasi dan pasien sebesar 100%, ketepatan pemilihan obat 81,31%, dan ketepatan dosis sebesar 67,29%. Hasil ini menekankan bahwa pentingnya upaya berkelanjutan dalam mengoptimalkan praktik pemberian dosis serta mendukung program pengendalian resistensi antimikroba untuk meningkatkan penggunaan antibiotik yang rasional dan menurunkan risiko terjadinya resistensi.
Rationality Analysis of Antibiotic Use in Chronic Kidney Disease Patients at Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo Regional HospitalUsing the Gyssens Method Dian Aisyah Aprilina; Titi Agni Hutahaen; Ainu Zuhriyah; Sabilah Sebil Noer
Jurnal FARMASIMED (JFM) Vol 8 No 1 (2025): Jurnal Farmasimed (JFM)
Publisher : Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35451/6xrbg306

Abstract

Chronic kidney disease (CKD) requires special attention in antibiotic therapy due to pharmacokinetic changes that can affect drug concentration and efficacy. Inappropriate antibiotic selection or dosing may increase toxicity risk and further impair renal function. This study aimed to analyze the rationality of antibiotic use in CKD patients in the internal medicine ward of Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo Regional Hospital, Bojonegoro. A retrospective design was used, analyzing patient medical records from July to December 2024. The rationality of antibiotic use was assessed using the Gyssens method, which evaluates the appropriateness of indication, dosage, interval, duration, and antibiotic selection. Among 91 patients, the largest age group was 45–55 years (26.37%), with a hospital stay of 1–3 days (51.65%). The most frequently used antibiotics were ceftriaxone (43.96%) and cefepime (32.97%). The Gyssens analysis showed that 63.74% of antibiotic use was rational (category 0), while 36.26% was irrational, with the most common issue being category IVd (availability of a narrower-spectrum alternative) at 37.36%. Although most antibiotic use complied with clinical guidelines, there remains a need for improvement in selecting antibiotics with a more appropriate spectrum. Strengthening antibiotic stewardship programs is expected to improve therapeutic outcomes, minimize toxicity risks, and prevent antimicrobial resistance in hospital settings. 
Hubungan Kepatuhan Pengobatan Kombinasi Amlodipine Dan Candesartan Terhadap Efek Terapi Pasien Hipertensi Di Puskesmas Kapuan, Blora Satriyo Tantyo Danu Saputro; Titi Agni Hutahaen; Abdul Basith; Budy Cahayany Halimatun Ni’mah
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v12i1.1123

Abstract

Di Indonesia maupun di seluruh dunia, hipertensi merupakan masalah kesehatan yang serius. Seringkali hipertensi tidak terdeteksi atau tidak diobati dengan baik, sehingga meningkatkan risiko konsekuensi seperti penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke. Pasien dengan hipertensi yang memerlukan terapi jangka panjang dan modifikasi gaya hidup terkadang kesulitan dalam mematuhi pengobatan hipertensi. Amlodipin seringkali dikombinasi dengan candesartan karena dapat meningkatkan kepatuhan dan kontrol hipertensi yang adekuat. Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti hubungan antara kepatuhan pengobatan pasien yang menerima kombinasi amlodipine dan candesartan dengan efek terapeutik. Penelitian ini merupakan cross-sectional survey di Puskesmas Kapuan Blora pada bulan Desember 2025 menggunakan teknik purposive sampling. Kuesioner MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale-8) digunakan untuk mengevaluasi kepatuhan pengobatan, dan pedoman manajemen hipertensi kementrian kesehatan RI 2021 digunakan untuk mengevaluasi efek terapeutik pasien. Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu sebanyak 31 pasien. Temuan menunjukkan bahwa pasien 61,3% patuh dan tekanan darah terkontrol; 38,7% tidak patuh dan tekanan darah tidak terkontrol. Faktor dominan yang berkontribusi terhadap ketidakpatuhan pengobatan pada penelitian kali ini yaitu lupa mengonsumsi obat, penghentian terapi tanpa konsultasi dengan tenaga kesehatan, dan timbulnya ketidaknyamanan atau penolakan untuk minum obat setiap hari. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan pengobatan dan efek terapeutik pasien yang menerima amlodipine dan candesartan, dengan nilai Fisher’s Exact test sig (2 Sided) <0,001.
Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Antibiotik “Cefadroxil” pada Pasien Dewasa di Puskesmas Tambakrejo Bojonegoro Tri Wahyuni Puji Lestari; Titi Agni Hutahaen; Abdul Basith; Novita Dyah Andriyana
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v12i1.1127

Abstract

Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat meningkatkan risiko terjadinya resistensi antimikroba, terutama di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Cefadroxil merupakan salah satu antibiotik yang sering diresepkan di puskesmas untuk menangani infeksi bakteri ringan hingga sedang sehingga evaluasi rasionalitas penggunaannya perlu dilakukan secara berkala. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis tingkat rasionalitas penggunaan antibiotik cefadroxil pada pasien dewasa peserta BPJS Kesehatan di Puskesmas Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro berdasarkan prinsip 5 Tepat meliputi tepat pasien (tidak terdapat kontraindikasi), tepat indikasi (sesuai diagnosis menurut Formularium Nasional dan Pedoman Terapi Nasional), tepat obat (pemilihan antibiotik lini yang direkomendasikan), tepat dosis (dosis dan frekuensi sesuai standar), dan tepat waktu pemberian (durasi terapi sesuai pedoman). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain retrospektif menggunakan data rekam medis periode Juni–September 2025. Dari total 119 pasien pengguna antibiotik diperoleh sampel sebanyak 55 pasien menggunakan rumus Slovin. Penilaian rasionalitas dilakukan dengan membandingkan diagnosis, pemilihan obat, dosis, frekuensi, dan lama pemberian terhadap standar terapi nasional. Hasil analisis menunjukkan ketepatan pasien sebesar 100%, ketepatan indikasi 83,6%, ketepatan obat 85,5%, ketepatan dosis 90,9%, dan ketepatan waktu pemberian 87,3%. Secara umum, penggunaan cefadroxil di Puskesmas Tambakrejo telah memenuhi sebagian besar kriteria penggunaan obat rasional. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik cefadroxil pada pasien dewasa peserta BPJS Kesehatan periode Juni–September 2025 tergolong rasional, namun masih diperlukan peningkatan pada aspek ketepatan indikasi dan pemilihan obat untuk mendukung penggunaan antibiotik yang lebih optimal serta mencegah resistensi antimikroba.
Hubungan Tingkat Kepatuhan Minum Obat Dengan Data Hasil Laboratorium Pasien Tuberkulosis di Puskesmas Padangan Rachma, Nur Isnaini Alfiyatur; Hutahaen, Titi Agni; Pitaloka, Ria Indah Kusuma
Jurnal Lentera Farma Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Lentera Farma
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/qq97e449

Abstract

Mycobacterium tuberculosis is the infectious agent that causes tuberculosis (TB), which is still a serious public health concern in Indonesia. Patients' adherence to Anti-Tuberculosis Drug (ATD) therapy is crucial to the success of tuberculosis treatment because non-adherence can result in treatment failure, disease recurrence, and drug resistance. The purpose of this study was to ascertain the degree of medication adherence among tuberculosis patients at Padangan Public Health Center and to examine the connection between medication adherence and laboratory result data. This study used a cross-sectional design, a quantitative method, and an analytical observational design. Thirty tuberculosis patients who satisfied the inclusion criteria made up the sample. The Medication Adherence Report Scale-5 (MARS-5) questionnaire was used to measure medication adherence, and patient medical records were used to gather laboratory results, such as Molecular Rapid Test (TCM) and Acid-Fast Bacilli (AFB) examination results. The Chi-Square test with a 95% confidence level was used to examine the data. According to the findings, 7 respondents (23.3%) were classified as non-adherent, whereas 23 respondents (76.7%) were classified as adherent. Compared to non-adherent individuals, the majority of adherent patients showed superior test results. Medication adherence and laboratory results data among tuberculosis patients at Padangan Public Health Center are significantly correlated, according to the Chi-Square test, which produced a significance value of p = 0.001 (p < 0.05). In conclusion, among tuberculosis patients, medication adherence was substantially correlated with laboratory results. Therefore, to increase adherence and maintain the effectiveness of tuberculosis therapy, ongoing education, monitoring, and patient care are required. Mycobacterium tuberculosis adalah agen infeksius penyebab tuberkulosis (TB), yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Kepatuhan pasien terhadap Obat Anti-Tuberkulosis (OAT) sangat penting untuk kemanjuran pengobatan TB karena ketidakpatuhan dapat mengakibatkan kegagalan terapi, kekambuhan, dan resistensi obat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kepatuhan pengobatan dan meneliti korelasi antara kepatuhan pengobatan dan data laboratorium pasien tuberkulosis di Puskesmas Padangan. Penelitian ini menggunakan metodologi kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan desain analitik observasional. Tiga puluh pasien tuberkulosis yang memenuhi kriteria inklusi menjadi sampel penelitian. Hasil tes Molecular Rapid Test (TCM) dan Acid-Fast Bacilli (AFB) diperoleh dari rekam medis pasien, dan kuesioner Medication Adherence Report Scale-5 (MARS-5) digunakan untuk mengukur tingkat kepatuhan. Uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% digunakan untuk menganalisis data. Berdasarkan temuan, 7 responden (23,3%) tidak patuh, sedangkan 23 responden (76,7%) patuh. Dibandingkan dengan individu yang tidak patuh, mayoritas pasien yang patuh memiliki hasil tes yang membaik. Tingkat kepatuhan pengobatan dan data laboratorium pasien tuberkulosis di Puskesmas Padangan berkorelasi signifikan, menurut hasil uji Chi-Square, yang menunjukkan nilai signifikansi p = 0,001 (p < 0,05). Temuan penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan pengobatan sangat berkorelasi dengan data laboratorium pasien tuberkulosis, sehingga memerlukan edukasi, pemantauan, dan dukungan pasien lebih lanjut.  
Monitoring Adverse Drug Reactions to Tuberculosis Drugs among Category 1 Patients at Bojonegoro Health Center Kholillah, Nadhi Fatul; Hutahaen, Titi Agni; Pitaloka, Ria Indah Kusuma
Jurnal Biologi Tropis Vol. 26 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v26i2.12276

Abstract

Tuberculosis caused by Mycobacterium tuberculosis remains a major public health issue in Indonesia. Prolonged use of anti-tuberculosis medications may lead to adverse drug reactions (ADRs). This study aimed to describe the incidence and characteristics of ADRs among Category 1 tuberculosis patients at Bojonegoro Health Center. A descriptive observational study with a retrospective design was conducted during April–May 2026 using medical records and structured interviews. The study sample consisted of 37 patients selected from a population of 40 using the Slovin formula and purposive sampling technique. Data were analyzed descriptively using frequency and percentage distributions, while ADR causality was evaluated using the Naranjo algorithm. The results indicated that ADRs were more frequently observed in female patients, individuals aged 46–55 years, and during the intensive phase of treatment. The most commonly reported ADR was reddish urine discoloration (100.0%), followed by anorexia (67.6%) and nausea (59.5%). Most ADRs were classified as mild to moderate in severity, while decreased vision was reported in 10.8% of patients. Based on the Naranjo scale, 93.4% of ADRs were categorized as probable. Regular monitoring of ADRs is recommended to support early detection and appropriate management during anti-tuberculosis therapy.
Hubungan Kepatuhan Obat dan Gaya Hidup dengan Parameter Laboratorium Pasien Prolanis Di Puskesmas Maya Hapsari; Titi Agni Hutahaen; Ria Indah Kusuma Pitaloka
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1511

Abstract

Hipertensi dan diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan jangka panjang untuk mencegah komplikasi. Keberhasilan pengendalian penyakit tidak hanya ditentukan oleh terapi farmakologis, tetapi juga dipengaruhi oleh kepatuhan obat dan gaya hidup pasien. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kepatuhan obat dan gaya hidup dengan parameter laboratorium pada pasien Prolanis hipertensi dan diabetes melitus di Puskesmas Soko. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 38 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data kepatuhan obat dikumpulkan menggunakan kuesioner Medication Adherence Rating Scale (MARS-5), gaya hidup menggunakan Healthy Lifestyle Questionnaire (HLQ), sedangkan data tekanan darah, gula darah puasa (GDP), dan HbA1c diperoleh dari rekam medis. Analisis data dilakukan menggunakan uji Fisher’s Exact Test dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan obat berhubungan signifikan dengan tekanan darah (p=0,013), GDP (p=0,045), dan HbA1c (p=0,005). Gaya hidup juga berhubungan signifikan dengan tekanan darah (p=0,000), GDP (p=0,022), dan HbA1c (p=0,000). Disimpulkan bahwa kepatuhan obat dan gaya hidup memiliki hubungan signifikan dengan pengendalian tekanan darah, GDP, dan HbA1c pada pasien Prolanis hipertensi dan diabetes melitus di Puskesmas Soko.
Analisis Interaksi Obat Antihipertensi Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik di RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo Rika Amelia; Titi Agni Hutahaen; Sebilah Sabil Noer; Ria Indah Ria Indah Kusuma Pitaloka
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1501

Abstract

Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan penurunan fungsi ginjal progresif selama ≥3 bulan yang ditandai kerusakan struktur atau fungsi ginjal maupun penurunan laju filtrasi glomerulus (eGFR) <60 mL/menit/1,73 m². Hipertensi berperan sebagai komorbid sekaligus komplikasi GGK. Penanganan hipertensi pada pasien GGK memerlukan berbagai obat antihipertensi dan obat lain sehingga penggunaan obat secara bersamaan (polifarmasi) meningkatkan risiko interaksi obat. Penelitian ini bertujuan menganalisis interaksi obat antihipertensi berdasarkan pola peresepan pada pasien GGK di instalasi rawat inap RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo. Data diperoleh secara retrospektif dari rekam medis pasien periode Oktober–Desember 2025 yang memenuhi kriteria. Hasil penelitian menunjukkan 63 pasien mengalami interaksi obat, sedangkan 7 pasien tidak. Interaksi yang ditemukan terdiri atas 85 kejadian farmakodinamik dan 23 kejadian farmakokinetik. Berdasarkan tingkat keparahan, terdapat 4 interaksi minor, 100 interaksi moderat, dan 4 interaksi mayor. Disimpulkan bahwa interaksi obat antihipertensi pada pasien GGK rawat inap didominasi interaksi moderate dengan mekanisme farmakodinamik. Kombinasi furosemid dan omeprazol merupakan interaksi yang paling sering ditemukan, sehingga diperlukan pemantauan terapi yang optimal untuk mencegah dampak klinis yang merugikan.