Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Analisis Stabilitas Timbunan Sampah akibat Pengaruh Air Hujan dengan Menggunakan Metode Limit Equilibrium Eric Ramadhani Asharil Putra; Arief Rachmansyah; Harimurti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2024): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan populasi, terutama di daerah perkotaan, menyebabkan lonjakan volume limbah padat permukiman. Pengelolaan sampah di tempat penampungan akhir (TPA) seringkali tidak efektif, menyebabkan kapasitas terlampaui dan risiko longsor, seperti yang terjadi di TPA Cipayung (Januari 2023) dan TPAS Regional Payakumbuh (Desember 2023). Peristiwa longsor ini menekankan pentingnya analisis stabilitas lereng timbunan sampah untuk menentukan ketinggian aman tumpukan sampah berdasarkan kemiringan lereng. Penelitian ini memodelkan TPA Segawe menggunakan Limit Equilibrium Method pada software Geostudio, dengan ketinggian 23 meter dan sudut kemiringan 30 dan 45 derajat, serta menggunakan parameter sampah dari laboratorium Universitas Brawijaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa lereng dengan kemiringan 30 derajat aman hingga ketinggian 25 meter dalam kondisi kering dan basah, sementara lereng 45 derajat berada dalam kondisi kritis pada ketinggian 23 meter. Faktor keamanan lebih tinggi dalam kondisi kering dibandingkan basah. Disarankan agar ketinggian maksimum timbunan sampah dibatasi pada 23 meter, terutama pada kemiringan 45 derajat dalam kondisi basah. Faktor lain seperti perubahan komposisi sampah dan kondisi geologi juga perlu dipertimbangkan. Penelitian lanjutan di TPA lain diperlukan untuk memperluas pengetahuan dan mengembangkan model analisis stabilitas lereng yang lebih canggih. Secara keseluruhan, analisis stabilitas lereng timbunan sampah penting untuk mencegah longsor dan memastikan pengelolaan TPA yang aman dan berkelanjutan, serta meminimalkan risiko bencana yang dapat membahayakan masyarakat dan lingkungan. Kata Kunci : Analisis Stabilitas Timbunan Sampah, Limbah Sampah Padat, Limit Equilibrium Method, Software Geostudio
ANALISIS STABILITAS TIMBUNAN SAMPAH DI TPA SEGAWE, KABUPATEN TULUNGAGUNG AKIBAT PENGARUH AIR HUJAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA Tuhepaly, Achmad Fahmi; Arief Rachmansyah; As’ad Munawir
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2024): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan pertumbuhan penduduk akibat fertilitas (angka kelahiran) maupun migrasi (perpindahan) telah menyebabkan produksi sampah meningkat. Menurut BPS (Badan Pusat Statistik), jumlah penduduk Kabupaten Tulungagung pada tahun 2020 berjumlah 66.321 jiwa dengan luas daerah Kabupaten Tulungagung kurang lebih 1.055,65 km². DLH (Dinas Lingkungan Hidup) mencatat pada tahun 2022 jumlah sampah mencapai 120 ton/hari. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tulungagung mengoperasikan fasilitas pembuangan dan pengolahan limbah rumah tangga yang dijuluki TPA Segawe yang memiliki luas TPA sekitar 5 hektare serta memiliki status sebagai aset milik pemerintah daerah. Apabila peningkatan produksi sampah ini tidak diiringi dengan evaluasi dan perbaikan fasilitas pengelolaan sampah, berbagai masalah serius dapat timbul, seperti pencemaran lingkungan dan kerugian kesehatan masyarakat. Berdasarkan informasi dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tulungagung, pada tahun 2022, kapasitas TPA diperkirakan hanya mampu menampung sampah selama dua tahun lagi dari masyarakat Kabupaten Tulungagung. Oleh karena itu, diperlukan analisis stabilitas lereng untuk mengetahui ketinggian maksimum lereng agar efisiensi dan umur TPA dapat diperhitungkan sesuai kondisi di lapangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui stabilitas kondisi timbunan sampah pada saat kering dan basah di TPA Segawe, Kabupaten Tulungagung, serta mengetahui hasil analisis stabilitas timbunan sampah pada saat ketinggian maksimum dalam keadaan tanah yang stabil. Penelitian dilakukan dengan pengambilan sampel tanah pada TPA Segawe pada bulan Desember 2023 dan referensi terdahulu. Sampel tanah dasar diuji di Laboratorium Mekanika Tanah & Geologi Universitas Brawijaya dan disimulasikan berdasarkan komposisi/properties sampah di TPA Segawe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketinggian maksimum dari stabilitas lereng pada TPA Segawe adalah 23 meter dengan kemiringan sudut 30 derajat. Nilai faktor keamanan lereng timbunan sampah di TPA Segawe pada bulan Desember 2023 memiliki ketinggian maksimum 23 meter dengan sudut kemiringan 30°. Nilai faktor keamanan timbunan sampah pada kondisi eksisting adalah 1,99, yang menunjukkan bahwa lereng dalam kondisi aman dan masih dapat ditinggikan. Hasil analisis stabilitas lereng menunjukkan bahwa lereng dengan sudut kemiringan 30 derajat berkategori aman hingga ketinggian 23 meter (SF>1,25). Untuk kemiringan lereng 45 dan 60 derajat, lereng berkategori labil pada ketinggian 23 meter (SF<1,2). Penambahan ketinggian timbunan yang melebihi nilai tersebut tidak disarankan karena sudah memasuki batas keruntuhan lereng. Nilai faktor keamanan lebih besar ketika lereng dan material dalam keadaan kering daripada basah, dikarenakan adanya air yang sangat berpengaruh terhadap kestabilan lereng. Sebagai contoh, lereng akan mengalami penurunan faktor keamanan sebesar 33,3% atau sama dengan koefisien pengali sebesar 2/3 ketika dalam kondisi basah. Kata kunci: Stabilitas, Timbunan, Sampah, TPA, Tulungagung, Hujan, Lereng, Kemiringan, Keamanan, Analisis
A Fuzzy Approach on Earned Value Method to Evaluate Project Performance in Solojebres Commuter Depot Ahmad Kahfi Firdausi; M. Ruslin Anwar; Arief Rachmansyah
Rekayasa Sipil Vol. 18 No. 3 (2024): Rekayasa Sipil Vol. 18 No. 3
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.rekayasasipil.2024.018.03.3

Abstract

The high level of public interest in using the Solo-Jogja commuter needs to be accompanied by an effort to improve the services and reliability of facilities, one of which is the establishment of a Commuter Depot located at Solojebres Station. In the 18th month of work, the construction of the Commuter Depot experienced delays in work performance with a deviation between plan progress and actual progress of -3.5415%. This research aims to evaluate project performance, including the project's cost and schedule performances, and estimate the cost and schedule of the project at completion due to delays that occur using the Earned Value Method with a fuzzy approach. The required data are the Budget Plan, Weekly Project Report, S-curve, and Actual Cost data. Based on the analysis result, until the 18th month of work, obtained the total Planned Value of IDR 64,581,925,585 (simplified to IDR 6,458.2), the total Actual Cost of IDR 63,954,955,399 (simplified to IDR 6,395.5), the total Fuzzy Earned Value of IDR 62,740,381,379.42 (simplified to IDR 6,274.0), the Cost Performance Index indicates that the project is ahead of budget condition, the Schedule Performance Index indicates that the project is behind schedule condition, the Cost Estimate at Completion of IDR 96,048,508,686 with the cost needed to complete the rest of work of IDR 32,093,553,287 and the Schedule Estimate at Completion of 27.03 months with the time required to complete the rest of work of 9.03 months.
ANALISIS PENENTUAN SKALA PRIORITAS PERBAIKAN JALAN KABUPATEN DI KECAMATAN NGAWI Arfandi, Hendrojati; Arief Rachmansyah; Lasmini Ambarwati
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 1 (2025): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Ngawi, terletak di bagian barat Provinsi Jawa Timur, memiliki jumlah penduduk sebanyak 877.432 jiwa berdasarkan sensus tahun 2022 dengan tingkat pertumbuhan penduduk 0,6% per tahun selama 2010–2022. Kecamatan Ngawi, sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) sesuai Pasal 9 ayat 2 RT/RW Ngawi Tahun 2010–2030, memerlukan peningkatan fungsi kawasan perkotaan untuk mendukung pertumbuhan sosial, budaya, dan ekonomi melalui pengembangan aksesibilitas dan konektivitas jalan. Analisis terhadap konektivitas wilayah menunjukkan pentingnya preservasi jalan untuk meningkatkan keselamatan pengguna dan mendukung mobilitas regional. Penelitian ini mengevaluasi kondisi kerusakan pada empat ruas jalan, yaitu Jalan Lombok (3,35%), Jalan Supriyadi (4,1%), Jalan Patiunus (4,56%), dan Jalan Letjen Sutoyo (4,67%) berdasarkan nilai Road Condition Index (RCI) dengan delapan parameter kerusakan, meliputi retak memanjang, retak kulit buaya, pelepasan butir, tambalan, sungkur, lubang, retak bahu jalan, dan amblas. Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk menentukan prioritas perbaikan berdasarkan delapan kriteria: pendidikan (0,182), kondisi jalan mantap (0,164), perdagangan (0,163), arus stabil (0,159), pariwisata (0,146), kemacetan (0,0677), arus tidak stabil (0,0636), dan kondisi jalan tidak mantap (0,0555). Hasil analisis menunjukkan prioritas perbaikan ruas jalan adalah Jalan Lombok (0,68235), Jalan Supriyadi (0,5333), Jalan Patiunus (0,5128), dan Jalan Letjen Sutoyo (0,5), mengacu pada kebutuhan masyarakat untuk mendukung aktivitas sehari-hari.
Rainfall-Induced Slope Stability on Soil-Rock Mixture Adefi Abioga; Arief Rachmansyah; Yulvi Zaika
Rekayasa Sipil Vol. 19 No. 1 (2025): Rekayasa Sipil Vol. 19 No. 1
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.rekayasasipil.2025.019.01.11

Abstract

Many landslides are caused by rainfall, and antecedent rainfall plays a major role in slope failure. The landslide in Bululawang, Blitar, is one example of a slope that failed during a rainfall event. The stratification of the rock and soil in this area is complicated. There are several blocks of rock and clay-based soil in the landslide region, along with limestone. This study aims to examine how rainfall affects rock-mixed soil. Electrical resistivity tomography (ERT) was conducted to model the slope stratification combined with boring to verify the results. Soil properties mixed with rock (SRM) were estimated by rock block proportion on the slope. A transient model of slope stability analysis was created using the SEEP/W program to simulate slope seepage and SLOPE/W to compute slope stability. Following the antecedent precipitation, an extreme rainfall event occurred. The findings demonstrate how the slope in Bululawang Blitar is affected by antecedent rainfall, affecting the slope's initial state before applying intense rainfall. The elevation of the groundwater level and the pore water pressure on the slope are altered by antecedent rainfall. When examined, this phenomenon will impact the slope's safety factor. The slope safety factor (FoS) was reduced by 31.48% from 1.542 to 1.057 in the event of extreme rainfall, which does not satisfy the requirement for a slope safety factor of 1.25. The slope design utilizing a counterweight can optimally elevate the slope safety factor (FoS) from 1.057 to 1.461, which exceeds the required value of 1.25. SRM-type soil possesses high permeability, resulting in a rapid decline in the stability value of the slope in the event of extreme rainfall. Consequently, an early warning system tool is necessary to alert against landslide hazards.
Efektivitas Vertical Drain pada Geosynthetic-Encased Geofoam Recycled Concrete Column dengan Variasi Jarak dan Diameter dalam Perbaikan Tanah Lunak Muhammad Adiethya Ekaviandra; Yulvi Zaika; Arief Rachmansyah
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2025): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanah lunak dengan karakteristik kompresibilitas tinggi dan daya dukung rendah kerap menjadi kendala dalam konstruksi, terutama di wilayah pesisir dan dataran rendah. Salah satu metode perbaikan tanah yang umum digunakan adalah vertical drain, yang berfungsi mempercepat konsolidasi dengan mengurangi tekanan air pori. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas Geosynthetic-Encased Geofoam Recycled Concrete Column (GEGRCC), yaitu kolom yang tersusun dari limbah beton daur ulang dan geofoam yang dibungkus geosintetik, sebagai sistem vertical drain yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Analisis dilakukan dengan metode numerik Finite Element Method (FEM 2D). Simulasi dilakukan sebelum dan sesudah perbaikan tanah, menggunakan variasi jarak antar kolom (2D, 2,5D, 3D, 4D) dan diameter kolom (0,6 m, 1,0 m, 1,2 m, 1,5 m), serta mempertimbangkan efek smear akibat pemasangan kolom. Hasil analisis kondisi tanah eksisting menunjukkan waktu untuk mencapai konsolidasi 90% selama 1596 hari. Setelah perbaikan menggunakan GEGRCC, waktu konsolidasi menurun dengan konfigurasi terbaik tanpa smear terjadi pada jarak 2D (198,7 hari), dan dengan smear pada jarak 2,5D (333,1 hari). Rasio jarak terhadap diameter sebesar 2D menghasilkan efisiensi konsolidasi tertinggi, dengan reduksi waktu hingga 87,7% dibandingkan kondisi awal. Kata kunci: tanah lunak, vertical drain, GEGRCC, geofoam, beton daur ulang, konsolidasi,
Analisis Simulasi Numerik Pengaruh Kedalaman Curtain Grouting terhadap Pola Flow Nets dan Faktor Keamanan Bendungan Zonal pada Kondisi Steady-State dan Transient Seepage Isadur Rofiq; Eko Andi Suryo; Arief Rachmansyah
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2025): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bendungan zonal merupakan struktur urugan tanah yang umum digunakan dengan inti kedap air yang dilindungi oleh zona filter dan shell. Salah satu potensi kegagalan terbesar berasal dari rembesan air yang tidak terkendali, yang menyumbang sekitar 30% dari total kegagalan bendungan. Curtain grouting adalah metode pengendalian rembesan melalui injeksi grout ke dalam rekahan batuan untuk mengurangi permeabilitas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kedalaman curtain grouting terhadap pola flow net dan faktor keamanan bendungan zonal pada kondisi rembesan steady-state dan transient. Simulasi numerik dilakukan menggunakan GeoStudio SEEP/W dan SLOPE/W dengan variasi kedalaman grouting 0 m, 20 m, 30 m, 40 m, 50 m, dan 60 m. Kondisi steady-state dimodelkan pada elevasi muka air hulu +280 m, sedangkan kondisi transien meliputi rapid drawdown dari +280 m ke +262,9 m dan impounding dari dasar sungai ke +280 m dan elevasi hilir tetap +222 m. Hasil menunjukkan bahwa grouting memperpanjang jalur rembesan, menurunkan gradien hidraulik, dan memindahkan garis freatik menjauh dari permukaan hilir. Debit rembesan turun hingga 81,66% pada steady-state dan >84% pada impounding. Faktor keamanan tanpa grouting tidak memenuhi standar (FK < 1,5), dan dibutuhkan grouting minimal 30 m untuk mencapai kestabilan. Faktor keamanan terhadap piping sebesar 10,692 dan kecepatan rembesan jauh di bawah batas kritis. Perbandingan hasil simulasi numerik dengan perhitungan manual menunjukkan deviasi yang tidak jauh berbeda. Kata Kunci: bendungan zonal, flow nets, faktor keamanan, steady-state, transient seepage
PENENTUAN SKALA PRIORITAS PERBAIKAN JALAN MENGGUNAKAN METODE PAVEMENT CONDITION INDEX (PCI) DAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Wiratsongko, Rahmad Prasetyo; Arief Rachmansyah; Lasmini Ambarwati
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2025): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Infrastruktur jalan yang andal merupakan prasyarat fundamental bagi mobilitas penduduk dan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Kecamatan Widodaren di Kabupaten Ngawi menghadapi tantangan signifikan terkait kondisi jaringan jalan yang kurang memadai, yang berpotensi menghambat aktivitas ekonomi masyarakat, terutama di sektor pertanian dan industri kreatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model penentuan skala prioritas perbaikan jalan yang objektif dan komprehensif dengan mengintegrasikan dua metode: Pavement Condition Index (PCI) untuk penilaian kondisi fisik perkerasan dan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk analisis keputusan multikriteria. Empat ruas jalan utama dianalisis: Jalan Raya Ngawi, Jalan Raya Maospati, Jalan Ngrambe, dan Jalan Nglondan. Metode PCI digunakan untuk mengukur tingkat kerusakan secara visual, sementara AHP digunakan untuk membobotkan prioritas berdasarkan tiga kriteria utama: Kondisi Perkerasan Jalan (KPJ), Kinerja Jalan (KJ), dan Tata Guna Lahan (TGL). Data dikumpulkan melalui survei lapangan, studi literatur, dan kuesioner yang diisi oleh para ahli dari instansi terkait. Hasil analisis PCI menunjukkan bahwa Jalan Ngrambe berada dalam kondisi "Buruk" (PCI 39,56), sedangkan tiga ruas lainnya dalam kondisi "Sedang". Namun, hasil analisis AHP menunjukkan urutan prioritas perbaikan yang berbeda: Jalan Raya Maospati (skor 0,257) menjadi prioritas utama, diikuti oleh Jalan Raya Ngawi (0,237), Jalan Nglondan (0,107), dan Jalan Ngrambe (0,099). Temuan ini menyoroti bahwa faktor strategis tata guna lahan dan pendekatan pemeliharaan preventif pada aset jalan nasional menjadi pertimbangan yang lebih dominan dari pada tingkat kerusakan fisik semata. Kombinasi metode PCI dan AHP terbukti efektif dalam menyediakan kerangka kerja pengambilan keputusan yang berbasis data dan komprehensif bagi pemerintah daerah. Kata kunci : Pavement Condition Index (PCI), Analytical Hierarchy Process (AHP), Prioritas Perbaikan Jalan, Manajemen Aset Jalan, Widodaren.