Mohamad Rosyidin
Departement Of International Relations, Faculty Of Social And Political Sciences, Universitas Diponegoro. Jl. Prof. H. Soedarto, S.H. – Tembalang Semarang, Indonesia 50275

Published : 77 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Global South Review

Etika Global dalam Dunia yang Sedang Berubah: Mengelola Kebangkitan Asia dan Kemunduran Barat Mohamad Rosyidin
Global South Review Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Institute of International Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/globalsouth.28824

Abstract

Kebangkitan Cina, yang menurut David Shambaugh, adalah sebab utama kebangkitan Asia (Asia Rising), kerap dipersepsi secara negatif oleh sebagian pakar geopolitik Barat. John Mearsheimer berpendapat bahwa “Jika Cina terus mengalami pertumbuhan ekonomi yang luar biasa selama beberapa dekade mendatang, maka Amerika Serikat dan Cina akan saling bersaing dalam hal keamanan yang dapat memicu perang”. Senada dengan itu, David Shambaugh juga berpendapat bahwa “Beijing cenderung menunjukkan perilaku yang keras dan kasar kepada banyak negara tetangganya di Asia, selain kepada Amerika Serikat dan Uni Eropa. Pesimisme semacam itu sangat mendominasi cara pandang Barat terhadap Cina. Akibatnya, sikap Barat kepada Cina cenderung dilandasi oleh logika ancaman ketimbang peluang kerjasama.
The South in World Politics Mohamad Rosyidin
Global South Review Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Institute of International Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/globalsouth.28854

Abstract

Pahlawan Perang Dunia II Winston Churchill suatu ketika pernah berkata, “Sejarah dibuat oleh para pemenang”. Jika kita membaca dan mencermati sejarah dunia dari masa ke masa, kata-kata tersebut barangkali ada benarnya. Para penakluk Spanyol (conquistadores) mulai dari Christopher Columbus, Fransisco Pizzaro, sampai Hernan Cortez mengarang cerita bahwa orang-orang Indian Amerika adalah masyarakat barbar (uncivilized) sehingga menjustifikasi penaklukan oleh masyarakat Eropa yang ‘tercerahkan’ (civilized). Pasca Perang Dunia II Sekutu sebagai pihak yang menang punya otoritas penuh untuk mereka-ulang rancang-bangun tatanan internasional. Dalam konteks ini, pendukung setia hegemoni Amerika John Ikenberry mengatakan dalam bukunya berjudul ‘After Victory: Institutions, Strategic Restraint, and the Rebuilding of Order After Major Wars’ bahwa munculnya institusi-institusi global semacam GATT yang kemudian berubah menjadi WTO, IMF, Bank Dunia, bahkan PBB tak luput dari upaya Amerika Serikat untuk merekonstruksi dunia menurut sudut pandangnya.Jika benar dunia dibentuk oleh kekuatan besar, lantas bagaimana peran negara-negara lain, lebih khusus negara-negara berkembang? Kita semua mahfum bahwa negara-negara berkembang dulunya adalah negara terjajah. Negara-negara ini rata-rata baru lahir dalam kurun waktu pasca Perang Dunia II sampai dengan dekade 1960-an. Dari segi geografis, negara-negara ini menempati tiga kawasan besar dunia yakni Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Ketiga kawasan itu secara ekonomi dulunya dianggap sebagai kawasan marjinal, atau periphery menurut istilah penganut teori dependensia klasik. Kombinasi antara faktor politik sebagai negara terjajah dan faktor ekonomi sebagai negara ‘kelas dua’ membuat negara-negara berkembang tidak memiliki andil besar dalam arsitektur tatanan internasional.Tetapi apakah benar demikian?
Co-Authors A Rizki Tahmi Adinda Kinanti Prameswari, Adinda Kinanti Agnes, Pretty Al Sarah, Enno Nuri Alfian, Muhammad Faizal Alvian Rizky H, Alvian Rizky Ammar, Faishal Andi Akhmad Basith Dir, Andi Akhmad Annisa Antania Hanjani Ardianti Mawardika Ardianti, Dinar Elly Aulianisa Rahma Dyah Rusyadi Auliaur Rahman, Maulana Ammar Auva Syiahnaz Rizky Shafira Ayu Sabrina Ayu Sabrina Ayu, Albadii Fadhil Mila Birendra, Muhammad Basyir Buntaran, Veronika Suci Novitasari Charlotte, Shary Christanti, Naomi Febri Dea Tunjung Jatra Saputra, Dea Tunjung Jatra Dir, Andi Akhmad Basith Faiz Fadhlurrakhman, Faiz Fatoni, Muhamad Afi Fendy E Wahyudi, Fendy E Fendy Eko Wahyudi, Fendy Eko Firdaus, Yoga Arfiansyah Fitria, Dwita Artsy Gumilar, Duanda Handoyo, Khalda Khairunnisa Haryadi, Yulius Helga Prashernanda Hermini Susetianingsih, Hermini Hermini Susiatiningsih Himalia, Mia Risa Ika Riswanti Putranti Indra Kusumawardhana Ines Florence Tabita Hutauruk Irfansyah, Fadhila Islamawati, Dian Jecklin Saragih, Jecklin Karisma, Dela Kevin Ronaldo Sirait Khairunisa, Adilah Hasna Khasanah, Yulian Maulida Kusumawardany, Chintya Kusumawardhana, Indra Lintang Suproboningrum Lyra Asaria Uthan Mahardika, Asyifa Margareth, Fitri Kamelia Marten Hanura, Marten Maruf, Wakhid Aprizal Mikael Witarka Muhammad Faiza; Alfian Muhammad Faizal Alfian Nadia Farabi, Nadia Nadya Yolanda Nainggolan Nur Ilmi Pangestu, Muhammad Rizky Putra, Tomy Darma Putri, Sapen Sartika Unyi Rachmat Hidayatullah, Rachmat Rahman, Dzulfiqar Fathur Ramdhani, Hafrian Yusuf Reni Windiani Roziqi, Muhammad Afif Maulana Rr. Hermini S, Rr. Hermini Satwika Paramasatya, Satwika Sekarini Santoso, Nabilla Ayu Sesarianto, Kevin Ali Shary Charlotte Shary Charlotte H.P, Shary Charlotte Sheiffi Puspapertiwi, Sheiffi Sinaga, Irene F Sirait, Kevin Ronaldo Syahputra, Eqqi Tri Cahya Utama Tri Cahyo Utomo Ula, Syarifatul Ungsi, Dien Nur Rahmaniar Wardhani, Ratna Kusuma Welas, Ibnu Rasyid Wicaksono, Wahyu Setyo Wulandari, Cintya Yovanka Ayunita Deborah Lasut Yulian Maulida Khasanah