Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Pengembangan Terigu (Triticum aestivum) Lokal Tati Nurmala
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i3.235

Abstract

Selera makan masyarakat Indonesia telah terkondisikan mengarah ke pangan hasil olahan yang praktis, hygienis, dan cepat saji yang sebagian besar diperoleh dari bahan baku tepung terigu. Keistimewaan tepung terigu dibandingkan tepung-tepung serealia lain adalah proteinnya tinggi dan mengandung gluten yang dapat memberi daya kembang pada adonan sehingga menjadi tepung yang serbaguna (allpurpose). Namun demikian, gluten kurang bagus untuk penderita autis. Gluten hampir tidak ditemukan di tepung-tepung yang lain, sehingga peranannya di tepung terigu tidak mudah tergantikan. Di sisi lain, Indonesia merupakan lima negara terbesar pengimpor terigu. Padahal, gandum dapat tumbuh di dataran tinggi Indonesia (zona frost) dengan produktivitas yang semakin prospektif tergantung waktu tanam yang tepat dan kesungguhan petani dan fasilitas dari penguasa daerahnya, misalnya di daerah Malang dan Pasuruan (Jawa Timur), Salatiga (Jawa Tengah), Arjasari dan Cikancung (Jawa Barat). Dengan kondisi input produksi yang tidak optimal ("ceb lur") hasil panen telah dapat mencapai 2,5 ton/ha, karena gandum memiliki keunggulan anatomi serta fisiologi yaitu umurnya pendek dan memiliki ekor lemna yang memanjang yang berfungsi untuk menyerap kadar uap air di atmosfir, sehingga kebutuhan air setelah fase reproduktif dipenuhi dari kabut dan kelembaban udara yang tinggi, sehingga dikatakan tahan kekeringan dibandingkan tanaman dataran tinggi lainnya. Pengembangan tanaman terigu di daerah zona frost dapat memberi tambahan kegiatan usaha pada musim tanam ke 3 dimana produktivitas tanaman lain lebih rendah karena kekeringan dan lebih lama umurnya, tentunya dengan memperhatikan konservasi tanah untuk keberlanjutan usaha tani.
Perbedaan Komponen Hasil Dan Hasil 4 Genotip Ubi Jalar Di Lahan Basah Dan Lahan Kering Dengan Pemberian Kombinasi Pupuk Kalium Dan Bokashi Jerami (The Difference of Storage Root Yield Component and Yield of 4 Genotype of Sweet Potato in Wet Land and Dry Land with Aplication of Fertilizers Combination of KCl and Straw Bokashi) Hanny Hidayati Nafi’ah; Tati Nurmala; Agung Karuniawan
JURNAL PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v25i1.302

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui komponen hasil dan hasil beberapa genotip ubi jalar yang ditanam di lahan basah dan lahan kering dengan pemberian kombinasi pupuk KCl dan bokashi jerami. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan UNPAD Ciparanje Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat dari bulan Februari hingga Juli 2015. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial, yaitu faktor genotip yang terdiri dari 4 genotip dan 1 check, dan faktor kedua kombinasi bokashi jerami dan KCl terdiri dari 6 kombinasi dan 1 kontrol. Masing-masing satuan percobaan diulang 2 kali, sehingga secara keseluruhan terdapat 70 satuan percobaan di tiap lahan. Penelitian menunjukkan komponen hasil dan hasil ubi jalar lebih baik di lahan basah daripada di lahan kering. Genotip 95 [265 (653)] lebih dominan di lahan basah sedangkan genotip Rancing lebih dominan di lahan kering. Kombinasi pupuk 50 kg/ha KCl + 20 t/ha bokashi jerami dapat meningkatkan komponen hasil dan hasil ubi ubi jalar di lahan sawah, sedangkan kombinasi pupuk  50 kg/ha KCl + 15 t/ha bokashi jerami dan 100 kg/ha KCl + 15 t/ha bokashi jerami dapat meningkatkan komponen hasil dan hasil ubi ubi jalar di lahan kering.The  aims of this study were to see the difference characters of genotype in two agro ecosystems, wet and dry lands fertilized with KCL and straw Bokashi.  The research was conducted at the Experimental Field of Faculty of Agricultural UNPAD Ciparanje Jatinangor from February to July 2015. The research was carried out using Randomized Block Design (RBD) two factorials. The first factor was genotype, consisted of 4 genotypes and 1 control, second factor was combination of KCl and straw bokashi that consisted of 6 combinations and 1 control. The study was repeated twice so there were 70 treatments. Storage root yield component and storage root yield growth were better in wet land than dry land. Genotype 95 [265 (653)] was dominant in wet land and Rancing was dominant in dry land. Combination of fertilizers 50 kg/ha KCl + 20 t/ha straw bokashi could increase storage root yield component and storage root yield in wet land, while in dry land combination of fertilizers 50 kg/ha KCl + 15 t/ha straw bokashi and 100 kg/ha KCl + 15 t/ha straw bokashi could increase storage root yield component and storage root yield.
Karakterisasi dan Kekerabatan 23 Genotip Jawawut (Setaria italica L. Beauv) yang Ditanam Tumpangsari dengan Ubi Jalar Berdasarkan Karakter (Agromorfologi Characterization and Relationship of 23 Foxtail Millet (Setaria italica L. Beauv) Genotypes Intercropped With Sweet Potato Based on Agromorphological Traits) Warid Ali Qosim; Alan Randall; Yuyun Yuwariah; Anne Nuraini; Tati Nurmala; Aep Wawan Irwan
JURNAL PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v25i1.303

Abstract

Diversifikasi pangan lokal merupakan salah satu upaya untuk mengantisipasi krisis pangan akibat pertambahan jumlah penduduk di Indonesia setiap tahun. Produksi dan pengembangan jawawut di Indonesia masih tergolong rendah karena terbatas oleh ketersediaan lahan. Tumpangsari merupakan praktek pertanian berkelanjutan dan alternatif dalam pengembangan jawawut di Indonesia. Namun, sistem tanam tumpangsari dapat menyebabkan kompetisi antar tanaman. Strategi untuk mengurangi tingkat kompetisi antar tanaman dapat dilakukan dengan penanaman dua jenis tanaman yang mempunyai morfologi, perakaran dan umur panen yang berbeda. Budidaya jawawut dan ubi jalar tidak membutuhkan irigasi. Berdasarkan informasi tersebut, jawawut dan ubi jalar dapat dibudidayakan secara tumpangsari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter agromorfologi yang memberikan kontribusi yang nyata terhadap keragaman 23 genotip jawawut yang ditanam secara tumpangsari dengan ubi jalar. Hasil penelitian menunjukkan koefisien ketidakmiripan yang terbentuk di antara 23 genotip jawawut yang diamati karakter agromorfologinya yaitu berkisar antara 0,24 - 2,34, dan membagi dua klaster utama, yaitu klaster A dan B. Karakter tinggi tanaman 14 hst, 28 hst, 42 hst dan 56 hst, jumlah daun 14 hst dan 42 hst, indeks luas daun 49 hst dan umur panen merupakan karakter yang memberikan kontribusi terhadap keragaman paling tinggi yaitu sebesar 46,82 persen.Local food diversification is one of attempt to anticipate food crisis due to population growth in Indonesia every year. Production and development of millet in Indonesia is still relatively low because it is limited by the availability of land. Intercropping is sustainable and alternative farming practices in the development of millet in Indonesia. However, intercropping system may be occur competition between plants. Strategies to reduce the level of competition between plants by planting two types of plants which have different morphology, root and harvesting time. Cultivation of millet and sweet potatoes do not require irrigation. Based on the information millet and sweet potatoes can be cultivated intercropped. The purpose of this study was to determine the agromorplogical traits which make a significant contribution to the diversity of 23 genotypes of millet were planted with sweet potatoes. Result showed that dissimilarity coefficient between 23 genotypes of millet were 0,24 to 2,34, and split two main clusters, cluster A and B. Plant height at 14 DAP, 28 DAP, 42 and 56 DAP, leaf number at 14 DAP and 42 DAP, leaf area index at 49 DAP and harvesting time were the highest character which contributes to the diversity, 46,82 percent. 
Pengembangan Produk Pangan Baru ‘Pasayu’ Bernutrisi, Berbasis Kearifan Lokal sebagai Bahan Baku (Development of New Food Product of Nutritious Pasayu, Based on Local Wisdom as Raw Materials) Marleen Sunyoto; Tati Nurmala; Roni Kastaman; Deddy Muchtadi
JURNAL PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v25i1.305

Abstract

‘Pasayu’ adalah produk pangan baru pasta fettuccine yang menggunakan  tepung komposit yang terdiri dari tepung limbah ubi kayu, tepung jagung dan tepung kacang hijau. Tujuan dari penelitian adalah untuk memperoleh formula yang tepat, antara tepung limbah ubi kayu, tepung jagung dan tepung kacang hijau untuk meningkatkan kandungan protein dan serat. Metode eksperimen terdiri dari analisis cluster pada data yang diperoleh dari metode survei, menghasilkan varietas Karikil dengan 0,023 persen kandungan HCN, 11,9 persen pati, serat 7,2 persen serat dan rendemen 16,6 persen, dan Metoda Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 6 perlakuan dan 4 pengulangan. Hasilnya memperlihatkan bahwa Perlakuan B (20 : 80) pada ‘Pasayu’ jagung adalah perlakuan terbaik dengan karakteristik sebagai berikut : 9,2 persen protein, 9,5 persen kandungan uap air, 3,57 persen serat, 62,39 persen pati, 6,84 persen kandungan lemak, 72,8 persen karbonhidrat, 1,6 persen kandungan abu, kekerasan 208,7429 gF dan daya rehidrasi 73,385 gF. Perlakuan terbaik pada ‘Pasayu’ kacang hijau adalah 70 : 30 dengan karakteristik: kandungan protein 12,23 persen, kandungan uap air 8,97 persen, serat 5,23 persen, pati 33,2 persen, lemak 5,03 persen, karbohidrat 69,32 persen dan  kandungan abu 4,45 persen, kekerasan 1543.524 dan daya rehidrasi 149.23 gF.High nutrient’s Pasayu is a new fettucine-type pasta food product with composite flour as the basic material that consisting of cassava waste flour, mixed with corn flour and mungbean flour. The study was aimed to obtain the proper formulation of the ratio of cassava waste flour to corn flour and cassava waste flour to mungbean flour, to increase protein content and Pasayu fiber that exceed commercial pasta products. Experiment method consisted of cluster analysis on the data previously obtained from survey method, giving a Karikil variety with 0.023persen HCN content, 11,9 percent starch, 7,2 percent fiber and 16,6 percent rendemen and a Randomized Block Design (RBD) with 6 treatments and 4 repetitions. Results show that B treatment (20 : 80) of corn Pasayu is the best treatment with the characteristics of: 9,2 percent protein, 9.5 percent water content, 3,57 percent, fiber,  62,39 percent starch, 6,84 percent fat content, 72.8 percent carbohydrates, 1,6 percent ash content, hardness  208,7429 gF and 73,385 of rehydration power. The best treatment of mungbean Pasayu is 70 : 30 with the characteristic: 12.23 percent protein content, 8,97 percent water content, 5,23 percent fiber content, 33,2 percent starch content, 5,03 percent fat, 69,32 percent carbohydrates  and 4,45 percent ash content, hardness is 1543.524 149,23 gF and rehydration power.
KOMPONEN HASIL UMBI DAN KANDUNGAN FISIKOKIMIA 43 GENOTIP UBI JALAR BERDAGING UMBI JINGGA PADA PENANAMAN DI LAHAN KERING DAN LAHAN BASAH Hanny Hidayati Nafi'ah; Tati Nurmala; Agung Kurniawan; Budi Waluyo
JAGROS : Jurnal Agroteknologi dan Sains (Journal of Agrotechnology Science) Vol 2, No 1 (2017): JAGROS: Jurnal Agroteknologi dan Sains (Journal of Agrotechnology and Sciences)
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jagros.v2i1.316

Abstract

Ubi jalar berdaging jingga potensial untuk bahan pangan karena mengandung karbohidrat, untuk pangan fungsional karena mengandung beta karoten dan untuk industri karena bisa dijadikan pati dan alkohol. Ada 43 genotip ubi jalar berdaging jingga yang telah terseleksi dari penelitian pendahuluan untuk diuji komponen hasil umbi dan kandungan fisikokimianya di lahan kering dan lahan basah yang bertujuan untuk melihat perbedaan karakter genotip pada kedua agroekosistem. Metode yang digunakan adalah Augmented design tahap I dengan 5 check. Blok percobaan dibagi menjadi 4 (empat) blok, plot berbentuk guludan dengan panjang 5 meter dan lebar 1 meter. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan respon karakter pada 43 genotip ubi jalar berdaging jingga di laha tegalan dan lahan bekas sawah. Karakter yang menjadi penciri spesifik adalah karakter pada sektor V adalah jumlah umbi per plot (G), pada sektor ini genotip yang beragam ada 17 genotip di lahan tegalan, yaitu 194 (276), 186 (322), 193 (275), 199 (294), 195 (281), 42 (10), 217 (493), 219 (473), 190 (350), 201 (295), 28 (106), 110 (237), 117 (240), 112 (232), 119 (247), 203 (290), dan 113 (222). Sedangkan di lahan bekas sawah tidak ada genotip yang beragam. Genotip dengan jumlah rata-rata karakter tertinggi paling banyak adalah 224 (399b), 42 (10), dan 199 (294) yaitu masing-masing 17, 16, dan 15. Kata kunci : Ubi jalar jingga, beta karoten, lahan basah, lahan kering.
Model Persamaan Prediksi Produktivitas dan Produksi Kedelai (Glycine max L.) di Kabupaten Karawang Akibat Perubahan Iklim Ramdhani; Ruminta; Tati Nurmala; Mochamad Arief Soleh
Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech) Vol. 7 No. 2 (2022): Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33661/jai.v7i2.7031

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan model persamaan prediksi produktivitas dan produksi Kedelai (Glycine max L.) di Kabupaten Karawang akibat perubahan iklim. Data yang digunakan adalah data tehunan rerata suhu udara dan jumlah curah hujan dari stasion cuaca yang terdapat pada lokasi penelituan. Sedangkan data produktivitas dan produksi Kedelai tahunan menggunakan data yang diterbitkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Karawang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara rerata suhu udara tahunan terhadap produksi kedelai sebesar 0,867 dan korelasi antara jumlah curah hujan tahunan terhadap produksi kedelai sebesar -0,56. Persamaan linier ganda yang menghubungkan produktivitas kedelai dengan rerata suhu udara dan jumlah curah hujan tahunan adalah. Ypt(i) = b0 + b1.X1 + b2.X2, dimana Ypt =produktivitas kedelai tahunan (tons/ha, X1 = jumlah curah hujan tahunan (mm/year, X2 = rerata suhu udara tahunan (oC), dan b0, b1, dan b2 =koefisien regresi linier berganda. Masing-masing sebesar b0 = -0.385, b1= -0.00026, and b2= 0.86. Persamaan prediksi produktivitas tahunan yang dihasilkan adalah Ypt = 0.0158 X – 29.996, dengan R2= 0,675, where X = tahun dan Ypt = produktivitasKedelai tahunan, dan persamaan prediksi produksi Kedelai tahunan yang dihasilkan adalah Yp = 221,98 X – 445973, with R2= 0,597, dimana X = tahun dan Yp = produksi Kedelai tahunan
Studi Pemangkasan dan Aplikasi Sitokinin-Giberelin pada Tanaman Teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) Produktif Klon GMB 7 Dewi Anjarsari, Intan Ratna; Jajang Sauman Hamdani; Cucu Suherman; Tati Nurmala; Heri Syahrian Khomaeni; Vitria Puspitasari Rahadi
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 49 No. 1 (2021): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.468 KB) | DOI: 10.24831/jai.v49i1.32046

Abstract

Pemangkasan pada tanaman teh yang dilakukan di kebun teh produktif menyebabkan sebagian besar atau secara keseluruhan organ fotosintesis tanaman hilang dan diperlukan waktu sekitar 2-3 bulan utuk tumbuh kembali. Pemangkasan dilakukan dengan jenis dan tinggi pangkasan yang bervariasi. Penambahan sitokinin benzil amino purine (BAP) dan giberelin (GA) diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan pucuk setelah dipangkas. Tujuan penelitian adalah mempelajari pengaruh pemangkasan serta aplikasi BAP dan GA terhadap pertumbuhan dan hasil pucuk teh. Percobaan dilaksanakan kebun percobaan Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung bulan Agustus 2017-Oktober 2018 menggunakan rancangan split-split plot terdiri dari jenis pemangkasan (pemangkasan bersih dan pemangkasan ajir) sebagai petak utama, tinggi pangkasan sebagai anak petak (40 cm, 50 cm, dan 60 cm), aplikasi BAP dan GA sebagai anak-anak petak (0 ppm, 60 ppm BAP, 50 ppm GA, 60 ppm BAP+ 50 ppm GA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemangkasan bersih dan 60 ppm BAP + 50 ppm GA menghasilkan pertumbuhan terbaik pada tinggi tunas. Tinggi pangkasan 60 cm dan 60 ppm BAP menunjukkan indeks klorofil daun tertinggi bulan ke-3 sebesar 91.58 (lebih tinggi daripada hasil penelitian sebelumnya yaitu 62.5-75.28), sedangkan tinggi pangkasan 60 cm dan 60 ppm BAP + 50 ppm GA memberikan bobot basah pucuk per perdu tertinggi pada pemetikan produksi. Secara tunggal, tinggi pangkasan 50 cm menurunkan jumlah pucuk burung serta 50 ppm GA mempersingkat lamanya masa dormansi pucuk menjadi 22 hari. Kata kunci: dormansi pucuk, pucuk burung, teh produktif