Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

JALUR DISTRIBUSI PRODUK BATIK DI KELURAHAN LAWEYAN, KOTA SURAKARTA Dian Pramita Sari; Istijabatul Aliyah; Rufia Andisetyana Putri
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v4i1.54893.16-37

Abstract

Batik merupakan produk unggulan bagi Kota Surakarta. Salah satu kelurahan yang ditetapkan sebagai sentra batik di Kota Surakarta berdasarkan Surat Keputusan Walikota Surakarta Nomor 536/60 Tahun 2019 adalah Kelurahan Laweyan. Berdasarkan hasil interpretasi, Kelurahan Laweyan sebagai sentra batik memiliki dominasi aktivitas perdagangan dibandingkan dengan industri. Selama ini diketahui bahwa sentra batik di Kota Surakarta mampu memasarkan produknya hingga pasar global. Saluran distribusi memiliki peranan dalam memenuhi permintaan batik yang luas tersebut untuk terus berkembang dan meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui saluran distribusi produk batik dari produsen di Kelurahan Laweyan. Penelitian ini merupakan penelitian deduktif dengan teknik analisis deskriptif kuantitatif dan pemetaan. Data didapat dari menyebar kuesioner kepada lembaga distribusi batik di Kelurahan Laweyan, observasi, dan melakukan studi literatur pembahasan terkait yang dipublikasikan secara resmi. Temuan pertama menunjukkan bahwa secara garis besar, produsen batik di Kelurahan Laweyan terbagi menjadi dua jenis, yaitu produsen batik cap-tulis dan produsen batik printing. Temuan kedua adalah produsen cenderung terletak mengikuti Jalan Sidoluhur, selebihnya memiliki persebaran yang acak. Temuan terakhir, sebanyak 25% produsen batik printing di Kelurahan Laweyan menyalurkan produknya kepada konsumen saja, 75% lainnya menyalurkan produknya ke pedagang besar dan pengecer. Sedangkan, 86% produsen batik cap dan tulis  menyalurkan kepada konsumen saja, dan 14% lainnya menyalurkan produknya kepada konsumen dan pengecer. Sehingga, saluran distribusi yang terbentuk dari produsen batik di Kelurahan Laweyan adalah produsen – pedagang besar – pengecer – konsumen, produsen – pengecer – konsumen, dan produsen – konsumen. Secara keseluruhan, 53% wilayah yang menjadi tujuan produk batik dari produsen batik di Kelurahan Laweyan adalah Pulau Jawa, diikuti luar negeri sebanyak 35%, dan luar Pulau Jawa sebanyak 12%. Maka dapat disimpulkan bahwa produsen batik di Kelurahan Laweyan menggunakan saluran distribusi langsung, tidak langsung, dan campuran dengan wilayah pemasaran yang mendominasi berada di dalam Pulau Jawa.
Kesesuaian sepuluh destinasi wisata terhadap konsep Community-based Tourism di Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar Aulia Basundhari Widyaningsih; Istijabatul Aliyah; Rufia Andisetyana Putri
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 2 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i2.43886

Abstract

Kecamatan Ngargoyoso merupakan kecamatan yang dicanangkan menjadi wisata dengan Konsep Community Based Tourism. Potensi wisata yang dikembangkan antara lain pelestarian budaya lokal, makanan khas setempat, sumber mata air yang melimpah, serta pelibatan masyarakat dalam berbagai bentuk. Namun, terdapat beberapa atraksi yang ditengarai merusak lingkungan lokal seperti wisata di tengah kebun teh dan pembangunan goa di ujung tebing. Peberdaan tersebut memunculkan kebutuhan penelitian yang bertujuan menganalisis kesesuaian pengembangan destinasi wisata terhadap Konsep Community Based Tourism di Kecamatan Ngargoyoso. Dengan pendekatan penelitian kuantitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara, dan kuesioner. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat 15 sub komponen dari total 23 komponen yang tidak sesuai dengan pengembangan destinasi wisata terhadap Konsep Community Based Tourism.
Perubahan penggunaan lahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi di kawasan Jalan Ahmad Yani Kartasura berdasarkan persepsi masyarakat Qonnita Putri Mulya; Istijabatul Aliyah; Galing Yudana
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 2 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i2.38660

Abstract

Pesatnya perkembangan Kota Surakarta berdampak pada kawasan di sekitarnya. Salah satu kawasan yang terdampak adalah Kartasura di Kabupaten Sukoharjo yang berkembang pesat didukung oleh keberadaan Jalan Ahmad Yani sebagai jalan arteri primer yang melayani kegiatan dalam skala luas. Perkembangan Kartasura terlihat dari perubahan penggunaan lahan pada kawasan Jalan Ahmad Yani Kartasura. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan pada kawasan Jalan Ahmad Yani Kartasura berdasarkan persepsi masyarakat menggunakan analisis skoring. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deduktif dengan menggunakan kuesioner untuk memperoleh persepsi masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan pada kawasan penelitian terjadi karena faktor-faktor peluang ekonomi, ketersediaan sarana dan prasarana, aksesibilitas, kondisi fisik lingkungan, kebijakan pengembangan, harga lahan, dan sosial ekonomi.
Manifestasi konsep kosmologi Jawa dalam perkembangan pola ruang kawasan pusat pemerintahan Surakarta Arnindya Afifah Urfan; Istijabatul Aliyah; Galing Yudana
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 2 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i2.35009

Abstract

Pusat pemerintahan merupakan tempat berlangsungnya kegiatan politis dan administratif bagi suatu wilayah. Kota Surakarta yang sebelumnya merupakan ibukota Kerajaan Mataram Islam telah mengalami banyak perkembangan termasuk pada kawasan pusat pemerintahan. Terbentuknya Kota Surakarta pada awalnya didasari oleh konsep kosmologi Jawa, yaitu  kepercayaan dan cara pandang masyarakat Jawa terhadap dunia, serta keterkaitan manusia dan lingkungan pada penataan ruang. Sebagai kota budaya pada masa kini, elemen kebudayaan tidak lagi menonjol dalam penataan pusat pemerintahan. Hal ini melatarbelakangi kajian manifestasi konsep kosmologi Jawa pada dinamika pola ruang pusat pemerintahan Kota Surakarta. Pada penelitian ini digunakan analisis deskriptif yang mencakup (1) identifikasi konsep kosmologi Jawa, (2) analisis pola ruang pusat pemerintahan berdasarkan kosmologi Jawa, dan (3) perkembangan pola ruang pusat pemerintahan berdasarkan kosmologi Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Keraton Kasunanan Surakarta adalah satu-satunya pusat pemerintahan yang menggunakan kosmologi Jawa dalam penataan ruangnya. Walaupun demikian, beberapa konsep dari kosmologi Jawa, seperti mancalima dan mancapat, saat ini sudah hilang akibat peristiwa politik dan sosial yang terjadi di Kota Surakarta.
Pengaruh perkembangan aktivitas mina wisata terhadap fungsi lahan di Desa Janti dan Desa Wunut, Kabupaten Klaten Anindiya Novita Sari; Istijabatul Aliyah; Hakimatul Mukaromah
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 18, No 1 (2023)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v18i1.53970

Abstract

Kawasan minapolitan memiliki berbagai kegiatan mina bisnis, salah satunya  mina wisata. Mina wisata merupakan bentuk wisata yang memanfaatkan produksi perikanan  sebagai atraksi wisata. Desa Janti dan Desa Wunut merupakan dua desa di Kabupaten Klaten yang telah ditetapkan dalam pengembangan kawasan minapolitan Kabupaten Klaten sebagai sentra pemasaran dan sebagai peruntukan pariwisata buatan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Klaten Tahun 2011-2031. Kedua desa ini memiliki atraksi berupa warung makan produk ikan, pemandian, dan pemancingan. Mina wisata di Desa Janti dan Desa Wunut terus mengalami perkembangan, pada tahun 2009 hingga 2020 terdapat penambahan 11 objek wisata baru. Perkembangan aktivitas mina wisata di kedua desa ini memberikan pengaruh terhadap perubahan fungsi lahan di sekitarnya. Banyak lahan pertanian yang berubah fungsi menjadi usaha wisata untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perkembangan mina wisata terhadap fungsi lahan di Desa Janti dan Desa Wunut. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif yang kemudian dilakukan analisis spasial untuk mengetahui pengaruh dan perubahan yang dihasilkan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perkembangan aktivitas mina wisata mendorong adanya penyediaan atraksi mina wisata, aksesibilitas, serta sarana prasarana penunjang mina wisata yang memerlukan lahan. Adanya kebutuhan akan penyediaan lahan mendorong terjadinya perubahan pada penggunaan lahan, salah satunya pada perubahan fungsi lahan. Pada Desa Janti dan Desa Wunut penambahan fungsi lahan terbesar pada pariwisata sebesar 9,5 ha.
Pemanfaatan Ruang Publik Kawasan Kuliner sebagai Destinasi Wisata di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat Nadhifa Fadhila; Istijabatul Aliyah; Chrisna Trie Hadi Permana
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.69452.172-183

Abstract

Seiring dengan bertambahnya kebutuhan hidup manusia, kebutuhan ruang untuk melayani aktivitas manusia sehari-hari semakin meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, masyarakat dituntut inovatif memanfaatkan ruang. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan ruang publik sebagai destinasi wisata kuliner. Namun, pemanfaatan ruang publik tersebut dapat menimbulkan beberapa masalah seperti meningkatnya kemacetan kawasan serta masalah kebersihan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kondisi eksisting pemanfaatan ruang publik sebagai destinasi wisata kuliner di Kawasan Kuliner Kota Padang Panjang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Proses identifikasi kondisi eksisting pemanfaatan ruang publik sebagai destinasi wisata kuliner di kawasan kuliner kota dilakukan dengan melakukan observasi terhadap kondisi fisik ruang publik, kebutuhan wisatawan dan masyarakat setempat, kebijakan dan regulasi yang berlaku, serta hal-hal yang terkait dengan iklim sosial, ekonomi, dan budaya yang mempengaruhi pemanfaatan ruang publik sebagai destinasi wisata kuliner di Kawasan Kuliner Kota Padang Panjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang publik yang dimanfaatkan sebagai destinasi wisata kuliner di kawasan kuliner kota memiliki desain, bentuk, dan aktivitas beragam. Kawasan kuliner memiliki desain ruang publik tertutup, ruang publik terbuka, dan ruang publik semi terbuka. Desain ruang publik tersebut memiliki dua yaitu persegi (square) dan memanjang (linier). Dengan adanya ruang publik tersebut, masyarakat memiliki keragaman aktivitas, baik aktivitas utama maupun aktivitas kuliner yang ada di kawasan kuliner. Selain itu, kawasan kuliner memiliki desain yang unik dan menarik, keragaman kuliner, hingga lingkungan yang menarik sehingga memiliki daya tarik wisata bagi para wisatawan serta dapat meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
Pengaruh pandemi Covid-19 terhadap perubahan lingkup pelayanan pasar tradisional di Kota Surakarta Firman Hadi Santoso; Istijabatul Aliyah; Rufia Andisetyana Putri
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 18, No 2 (2023)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v18i2.54826

Abstract

Pasar tradisional merupakan pusat kegiatan perekonomian yang sangat penting dalam mendukung aktivitas kota. Selama pandemi Covid-19, pemerintah menerapkan kebijakan kesehatan untuk mencegah penularan virus, seperti pembatasan aktivitas dan pergerakan terutama pergerakan penduduk dari luar kota yang menyebabkan penurunan jumlah pengunjung pasar tradisional. Adanya perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan pedagang untuk memasarkan barang dagangannya karena mempermudah pembeli melakukan transaksi tanpa harus datang langsung ke pasar yang mendorong perubahan lingkup pelayanan pasar tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana pengaruh pandemi Covid-19 terhadap perubahan lingkup pelayanan pasar tradisional di Kota Surakarta dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan dengan observasi dan wawancara, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandemi mengubah level jangkauan pelayanan pada pasar dengan lingkup internasional menjadi lingkup nasional karena pembatasan perjalanan selama pandemi. Pandemi juga menyebabkan perubahan saluran distribusi barang dari pedagang di pasar tradisional ke pembeli. Sebelum masa pandemi, pembeli dari lingkup lokal hingga lingkup internasional dapat bebas datang ke pasar tradisional untuk membeli barang secara langsung. Karena kebijakan kesehatan seperti pembatasan aktivitas dan pergerakan,  pembeli yang berada di luar lingkup regional membeli barang menggunakan platform online dan menggunakan saluran distribusi tidak langsung.
Pengaruh Pedagang Kaki Lima terhadap Kenyamanan Jalur Pejalan Kaki di Jalan Jenderal Sudirman, Salatiga Triska Aisha Murti; Istijabatul Aliyah; R. Chrisna Trie Hadi Permana
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 2 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i2.72490.170-180

Abstract

Padatnya aktivitas komersial perkotaan memicu tingginya pertumbuhan aktivitas pendukung di sepanjang jalur pejalan kaki di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Salatiga. Namun dalam perkembangannya, terjadi kecenderungan aktivitas Pedagang Kaki Lima (PKL) yang tidak dikembangkan dengan baik dan mengganggu fungsi jalur pejalan kaki. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat kenyamanan pengguna jalur pejalan kaki terhadap keberadaan aktivitas pendukung di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Salatiga berdasarkan aspek kejelasan sirkulasi, aksesibilitas pejalan kaki, keamanan dan keselamatan pejalan kaki, kebersihan jalur, serta keindahan jalur. Penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif. Data penelitian diperoleh dari hasil observasi dan kuesioner yang kemudian dianalisis melalui kelima aspek tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kenyamanan pejalan kaki terhadap keberadaan PKL di Jalan Jenderal Sudirman berada pada kategori cukup nyaman. Guna menghindari penurunan tingkat kenyamanan yang lebih jauh lagi, diperlukan pemeliharaan dan peningkatan kualitas jalur pejalan kaki, baik fisik maupun nonfisik, penataan PKL pada tempat yang disediakan secara khusus, peningkatan peraturan dari Pemerintah Kota Salatiga menjadi lebih tegas mengenai penyediaan jalur pejalan kaki guna meminimalisir terjadinya konflik ruang pejalan kaki antara PKL dan pejalan kaki.
Manajemen Bencana Kawasan Wisata Lereng Gunung Lawu di Kabupaten Karanganyar dari Aspek Struktur Pembiayaan Lidya Ariyani; Istijabatul Aliyah; Tendra Istanabi
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 2 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i2.73562.87-99

Abstract

Kabupaten Karanganyar merupakan kawasan prioritas pengembangan wisata yang memiliki risiko bencana banjir dan longsor. Risiko kebencanaan merupakan salah satu faktor eksternal yang dapat menghambat pertumbuhan pariwisata. Selian itu, masih banyak permasalahan terkait manajemen bencana lainnya, termasuk anggaran, khususnya terkait porsi anggaran. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui struktur pembiayaan program manajemen bencana kawasan wisata lereng Gunung Lawu di Kabupaten Karanganyar. Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dengan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Kasus terkait pembiayaan yang diambil untuk peneltian ini adalah program pembiayaan pada 30 objek wisata yang terpilih dengan menggunakan teknik quota sampling pada Kecamatan Jenawi, Kecamatan Ngargoyoso, Kecamatan Tawangmangu, dan Kecamatan Jatiyoso. Data yang digunakan adalah data tahun 2018 hingga tahun 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan penelitian memiliki potensi wisata yang dilengkapi oleh unsur-unsur pengembangan wisata, yaitu atraksi, amenitas, aksesibilitas, dan organisasi pengelola, tetapi memiliki risiko bencana alam longsor, gempa bumi, dan letusan gunung api. Kawasan wisata Kabupaten Karanganyar telah melakukan seluruh tahap manajemen bencana, yaitu pencegahan, peringatan dini, kesiapsiagaan, mitigasi, tanggap darurat bencana, rehabilitasi, dan rekonstruksi. Pembiayaan manajemen bencana bersumber dari pembiayaan pemerintah dan nonpemerintah. Diketahui bahwa pembiayaan manajemen bencana linier dengan kejadian bencana yang terjadi. Sementara itu, jumlah kunjungan wisata linier terhadap kebutuhan pembiayaan manajemen bencana. Struktur pembiayaan manajemen bencana paling tinggi ada pada tahap rekonstruksi yang digunakan untuk penambahan sarana maupun pembangunan ulang objek wisata yang terdampak kejadian bencana.
Evaluasi Pemenuhan Kebutuhan Aksesibilitas Jalur Pedestrian bagi Penyandang Disabilitas di Kawasan Pumpunan Moda CSW ASEAN Dicky Prayoga; Istijabatul Aliyah; Candraningratri Ekaputri Widodo
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 2 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i2.72092.12-27

Abstract

Seiring dengan masifnya pembangunan fasilitas publik di perkotaan saat ini, inklusivitas fasilitas publik bagi penyandang disabilitas dalam pemenuhan kebutuhan aksesibilitas seringkali terabaikan. Untuk memenuhi kebutuhan aksesibilitas tersebut, dibutuhkan evaluasi fasilitas publik yang mempertimbangkan kebutuhan dan hambatan penyandang disabilitas. Ketersediaan jalur pedestrian sebagai salah satu fasilitas publik belum dapat mengakomodasi pergerakan penyandang disabilitas dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi eksisting jalur pedestrian dalam pemenuhan kebutuhan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas di Kawasan Pumpunan Moda CSW ASEAN yang merupakan salah satu kawasan yang direncanakan sebagai kawasan transit sesuai RTRW DKI Jakarta 2011-2030. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif untuk mengevaluasi nilai aksesibilitas jalur pedestrian bagi penyandang disabilitas. Evaluasi kondisi eksisting jalur pedestrian dilakukan dengan mengidentifikasi kebutuhan lebar, konektivitas, dan fasilitas pendukung jalur pedestrian, serta fasilitas khusus penyandang disabilitas yang terhubung secara langsung dengan jalur pedestrian. Temuan penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan aksesibilitas jalur pedestrian bagi penyandang disabilitas, seperti ketidaktersediaan jalur pedestrian yang cukup lebar, fasilitas khusus yang tidak ramah penyandang disabilitas, dan terputusnya jalur pedestrian oleh fungsi penggunaan lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi eksisting jalur pedestrian memiliki nilai aksesibilitas dalam kategori sedang dalam pemenuhan kebutuhan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Hal tersebut menjadikan Kawasan Pumpunan Moda CSW ASEAN belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas.