Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Leeway Space Mandibula pada Siswa Suku Minang di Sekolah Dasar Lubuk Sikaping, Sumatera Barat Ayu Shafira; Hafni Bachtiar; Didin K
Andalas Dental Journal Vol 6 No 2 (2018): Andalas Dental Journal
Publisher : Faculty of Dentistry Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.246 KB) | DOI: 10.25077/adj.v6i2.157

Abstract

The prediction of permanent size of theet which haven’t errupted to determine the value of place needed, availability of space and predict the storage of space. Is one of important aspect in diagnosis and treatment planning on the period of mixed dentition. Prediction method that used commonly is Moyers method which the data is taken from Kaukasoid ras. The objective of the research is to see the difference of leeway space of mandibula on Minang man and woman students of elemantary school Lubuk Sikaping. The method of this research is cross sectional comprative study. 56 samples of mandibula study are taken from the student of SDN 06 Pauh, SDN 09 Pauh, and SDN 10 Pauh Lubuk Sikaping at the age of 8 to 10 years and they are Minangnese. The results are analyzed statistically by t-test on significant degree 95%. This research indicates that the large average of man mandibula leeway space on the left (1,76 mm) and on the right (1,85 mm). And the average of leeway space of woman mandibula leeway space on the left (2,03 mm) and on the right (2,16 mm). The analyze t-test result on the significant degree 95% show there is no significant difference (p>0,05) between man and woman students. Therefore, it can be concluded that the large average of leeway space of man and woman mandibula in Minang students of elementary school Lubuk Sikaping showed no significant difference in size.
Diagnostic of lingual tonsil hypertrophy with lateral soft tissue cervical X-ray on laryngopharyngeal reflux Ade Asyari; Novialdi -; Bonny Murizky; Wahyu Julianda; Esmaralda Nurul Amany; Tuti Handayani; Hafni Bachtiar
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol. 51 No. 1 (2021): Volume 51, No. 1 January - June 2021
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v51i1.381

Abstract

Background: Lingual tonsil hypertrophy (LTH) evaluation could be performed by flexible fiberoptic laryngoscopy, lateral soft tissue cervical X-ray, CT scan, and magnetic resonance imaging (MRI). Lateral soft tissue cervical X-ray examination is considered as a procedure-of-choice for diagnostic testing of LTH, which, aside from being low cost, the examination could also be conducted in all hospitals and easy to be performed on children. Objective: To compare the lingual tonsil enlargement with examination procedure using lateral soft tissue cervical X-ray as an LTH diagnostic measure compared to the flexible fiberoptic laryngoscopy examination as the gold standard examination. Methods: A retrospective analytic study with cross-sectional design on 30 respondents of laryngopharyngeal reflux (LPR) patients who came for routine ENT physical examination, followed by flexible fiberoptic laryngoscopy examination along with lateral soft tissue cervical X-ray. Results: The sensitivity level of 65.38% was acquired from the statistical tests, along with specificity level of 100%, positive predictive value (PPV) of 100%, and negative predictive value (NPV) of 30.37%. Conclusion: Based on sensitivity and specificity, lateral soft tissue cervical X-ray examination could be used as a diagnostic measure and have an accurate capability to diagnose LTH.ABSTRAK Latar belakang: Evaluasi hipertrofi tonsil lingual (HTL) dapat dilakukan menggunakan laringoskopi serat optik fleksibel, foto Rontgen cervical soft tissue lateral, CT scan, dan magnetic resonance imaging (MRI). Foto Rontgen cervical soft tissue lateral dapat dipertimbangkan sebagai pilihan pemeriksaan diagnostik HTL, karena selain biayanya terjangkau, pemeriksaan ini dapat dilakukan di semua rumah sakit serta mudah dilakukan pada pasien anak. Tujuan: Membandingkan hasil pemeriksaan pembesaran tonsil lingual menggunakan foto Rontgen cervical soft tissue lateral dengan pemeriksaan laringoskopi serat optik fleksibel sebagai pemeriksaan baku emas. Metode: Penelitian analitik retrospektif dengan desain potong lintang pada 30 pasien laryngopharyngeal reflux (LPR) yang dilakukan pemeriksaan fisik THT rutin, diikuti dengan pemeriksaan laringoskopi serat optik fleksibel serta foto Rontgen cervical soft tissue lateral. Hasil: Didapatkan tingkat sensitivitas dari uji statistik sebesar 65,38%, dengan tingkat spesitivitas sebesar 100%, dan didapatkan nilai prediksi positif (NPP) sebesar 100% serta nilai prediksi negatif (NPN) sebesar 30,37%. Kesimpulan: Berdasarkan sensitivitas dan spesifisitas, foto Rontgen cervical soft tissue lateral dapat digunakan sebagai alat diagnostik dan memiliki kemampuan yang akurat dalam diagnosis HTL. Kata kunci: hipertrofi tonsil lingual, laryngopharyngeal reflux, laringoskopi serat optik fleksibel, foto Rontgen cervical soft tissue lateral 
Perbedaan Alel Human Leucocyte Antigen A*02 antara Pasien Karsinoma Nasofaring dengan Kontrol pada Etnik Minangkabau Debby Apri Grecwin; Sukri Rahman; Al Hafiz; Eti Yerizel; Hafni Bachtiar
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 1 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v1i1.20

Abstract

Pendahuluan: Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas yang berasal dari sel epitel nasofaring dengan pola epidemiologi yang unik. Etiologi keganasan ini merupakan interaksi kompleks antara faktor genetik, infeksi laten virus Epstein-Barr (VEB) dan paparan terhadap karsinogen lingkungan. Secara genetik, terdapat gen human leucocyte antigen (HLA) yang berperan pada patogenesis KNF. Gen ini dikelompokkan menjadi kelas I dan kelas II yang bersifat sangat polimorfik. Kerentanan genetik terhadap KNF pada populasi dengan risiko tinggi berhubungan dengan gen HLA kelas I. Beberapa penelitian menyatakan bahwa alel HLA-A*02 berhubungan dengan kejadian KNF. Tujuan: Mengetahui perbedaan alel HLA-A*02 antara pasien KNF dengan kontrol pada etnik Minangkabau. Metode: Penelitian analitik dengan menggunakan disain potong lintang dilakukan terhadap 16 pasien KNF etnik Minangkabau dan 16 orang sehat etnik Minangkabau sebagai kontrol. Pemeriksaan molekuler dilakukan pada responden untuk melihat ekspresi HLA-A*02 dengan metode polymerase chain reaction-sequence spesific primer(PCR-SSP). Data dianalisis secara statistik dengan program komputer dan dinyatakan bermakna jika p < 0,05. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan 6 orang pasien KNF dan 3 orang kontrol dengan HLA-A*02 positif. Secara statistik tidak didapatkan perbedaan yang bermakna alel HLA-A*02 antara pasien KNF dengan kontrol pada etnik Minangkabau. Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan alel HLA-A*02 antara pasien KNF dengan kontrol etnik Minangkabau.
Perbedaan Ekspresi Transforming Growth Factor Beta 1 antara Rinosinusitis Kronis dengan Polip dan Tanpa Polip Rahmadona Rahmadona; Bestari Jaka Budiman; Effy Huriyati; Hirowati Ali; Hafni Bachtiar
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 1 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v1i1.23

Abstract

Latar belakang: Rinosinusitis kronis (RSK) merupakan inflamasi pada mukosa hidung dan sinus paranasal. Rinosinusitis kronis berdasarkan perbedaan ekspresi sitokin dan pola remodeling inflamasi dibedakan menjadi dua fenotipe, RSK dengan polip dan RSK tanpa polip. Transforming growth factor–?1 (TGF–?1) merupakan salah satu sitokin yang berperan pada remodeling jaringan.       Tujuan: Mengetahui ekspresi gen TGF–?1 pada RSK dengan polip dan RSK tanpa polip. Metode: Penelitian analitik komparatif menggunakan desain potong lintang (cross sectional comparative study) pada 12 responden RSK dengan polip dan 12 responden RSK tanpa polip. Sampel diambil saat operasi Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF) pada jaringan polip dan mukosa sinus etmoid atau maksila. Semua sampel dilakukan pemeriksaan ekspresi gen dengan metode Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Data dianalisis dengan SPSS, dikatakan bermakna jika p<0,05. Hasil: Ekspresi TGF-?1 pada RSK tanpa polip lebih tinggi (18,63±24,58) dibandingkan RSK dengan polip (2,82±4,02). Secara statistik perbedaan antara RSK polip dan RSK tanpa polip ini bermakna (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat peningkatan ekspresi TGF-?1 pada RSK tanpa polip yang bermakna secara statistik dibandingkan dengan RSK dengan polip.  
Kajian Faktor Organisasi dengan Kinerja Perawat Pelaksana dalam Pendokumentasian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat Inap RSUD Pariaman : Study of Organizational Factors with Implementing Nurses' Performance in Nursing Care Documentation in the Inpatient Room of Pariaman Hospital Dewi Murni; Hafni Bachtiar; Happi Sasmita
NERS Jurnal Keperawatan Vol. 12 No. 1 (2016): NJK Volume 12, Number 1
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/njk.v12i1.231

Abstract

Nursing care documentation is a record and report in nursing setting that is useful for patients, nurse and medical team in providing services on communication accurately and completely in writing as nurse’s responsibility. An effective documentation could ensure the continuity of service, saving time and minimizing the risk of error. The implementation of nursing documentation is one way to measure , determine, monitor and conclude a nursing care service in a hospital. The implementation of nursing documentation in Pariaman Public Hospital shows are still low (49.5%) than their own limit 65%, while, according to the Ministry of Health, 80% as the limit. Nurse’s performance in the nursing care implementation was influenced by organizational factors (Leadership of head nurse, remuneration, supervision and coaching). The purpose of this study was to find out whether organizational factors related to nurses' performance in the implementation of nursing care in hospitals Pariaman. This study used cross sectional design. Population and sample in this study were 89 nurses in hospitals Pariaman, with simple random sampling. Instrument used questionnaire. The results showed that there was a significant relationship between leadership (p = 0.000), rewards (p = 0.005), supervision (p = 0.000) and coaching (p = 0.003). This study recommended to the head of Pariaman Public Hospital to improve supervision in each room, leadership, rewards and guidance on the implementation of nursing care to nurses.
Kajian Faktor Organisasi Dengan Kinerja Perawat Pelaksana dalam Pendokumentasian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Pariaman : Study of Organizational Factors with Implementing Nurses' Performance in Nursing Care Documentation in the Inpatient Room of Pariaman Regional General Hospital Dewi Murni; Hafni Bachtiar; Happi Sasmita
NERS Jurnal Keperawatan Vol. 11 No. 2 (2015): NJK Volume 11, Number 2
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/njk.v11i2.293

Abstract

Dokumentasi asuhan keperawatan merupakan bukti pencatatan dan pelaporan yang dimiliki perawat dalam asuhan keperawatan yang berguna bagi pasien, perawat dan tim serta tanggung jawab perawat. Dokumentasi yang efektif menjamin kesinambungan pelayanan, menghemat waktu, dan meminimalisasi resiko kesalahan. Pelaksanaan dokumentasi keperawatan sebagai salah satu alat ukur untuk mengetahui, memantau dan menyimpulkan suatu pelayanan asuhan keperawatan yang diselenggarakan oleh Rumah Sakit. Data menunjukkan pendokumentasian asuhan keperawatan masih rendah (49,5%), dengan ketentuan RSUD Pariaman mengunakan asuhan keperawatan adalah 65% sedangkan, menurut Depkes 80%. Kinerja Perawat dalam pelaksanaan asuhan keperawatan dipengaruhi oleh faktor organisasi (Kepemimpinan kepala ruangan, imbalan, supervisi dan pembinaan). Tujuan penelitian ini untuk melihat factor organisasi yang berhubungan dengan kinerja perawat dalam pelaksanaan asuhan keperawatan di RSUD Pariaman. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah perawat pelaksana di RSUD Pariaman dengan jumlah sampel 89 orang, dengan teknik pengambilan sampel Simpel random sampling. Instrument yang digunakan angket. Hasil uji statistik bivariat chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kepemimpinan (p = 0,000), imbalan (p = 0,005), supervisi (p = 0,000) dan pembinaan (p = 0,003). Rekomendasi bagi Direktur RSUD Pariaman untuk meningkatkan supervisi di setiap ruangan, kepemimpinan, imbalan dan pembinaan terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan kepada perawat pelaksana.