Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Diagnostic of lingual tonsil hypertrophy with lateral soft tissue cervical X-ray on laryngopharyngeal reflux Ade Asyari; Novialdi -; Bonny Murizky; Wahyu Julianda; Esmaralda Nurul Amany; Tuti Handayani; Hafni Bachtiar
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol. 51 No. 1 (2021): Volume 51, No. 1 January - June 2021
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v51i1.381

Abstract

Background: Lingual tonsil hypertrophy (LTH) evaluation could be performed by flexible fiberoptic laryngoscopy, lateral soft tissue cervical X-ray, CT scan, and magnetic resonance imaging (MRI). Lateral soft tissue cervical X-ray examination is considered as a procedure-of-choice for diagnostic testing of LTH, which, aside from being low cost, the examination could also be conducted in all hospitals and easy to be performed on children. Objective: To compare the lingual tonsil enlargement with examination procedure using lateral soft tissue cervical X-ray as an LTH diagnostic measure compared to the flexible fiberoptic laryngoscopy examination as the gold standard examination. Methods: A retrospective analytic study with cross-sectional design on 30 respondents of laryngopharyngeal reflux (LPR) patients who came for routine ENT physical examination, followed by flexible fiberoptic laryngoscopy examination along with lateral soft tissue cervical X-ray. Results: The sensitivity level of 65.38% was acquired from the statistical tests, along with specificity level of 100%, positive predictive value (PPV) of 100%, and negative predictive value (NPV) of 30.37%. Conclusion: Based on sensitivity and specificity, lateral soft tissue cervical X-ray examination could be used as a diagnostic measure and have an accurate capability to diagnose LTH.ABSTRAK Latar belakang: Evaluasi hipertrofi tonsil lingual (HTL) dapat dilakukan menggunakan laringoskopi serat optik fleksibel, foto Rontgen cervical soft tissue lateral, CT scan, dan magnetic resonance imaging (MRI). Foto Rontgen cervical soft tissue lateral dapat dipertimbangkan sebagai pilihan pemeriksaan diagnostik HTL, karena selain biayanya terjangkau, pemeriksaan ini dapat dilakukan di semua rumah sakit serta mudah dilakukan pada pasien anak. Tujuan: Membandingkan hasil pemeriksaan pembesaran tonsil lingual menggunakan foto Rontgen cervical soft tissue lateral dengan pemeriksaan laringoskopi serat optik fleksibel sebagai pemeriksaan baku emas. Metode: Penelitian analitik retrospektif dengan desain potong lintang pada 30 pasien laryngopharyngeal reflux (LPR) yang dilakukan pemeriksaan fisik THT rutin, diikuti dengan pemeriksaan laringoskopi serat optik fleksibel serta foto Rontgen cervical soft tissue lateral. Hasil: Didapatkan tingkat sensitivitas dari uji statistik sebesar 65,38%, dengan tingkat spesitivitas sebesar 100%, dan didapatkan nilai prediksi positif (NPP) sebesar 100% serta nilai prediksi negatif (NPN) sebesar 30,37%. Kesimpulan: Berdasarkan sensitivitas dan spesifisitas, foto Rontgen cervical soft tissue lateral dapat digunakan sebagai alat diagnostik dan memiliki kemampuan yang akurat dalam diagnosis HTL. Kata kunci: hipertrofi tonsil lingual, laryngopharyngeal reflux, laringoskopi serat optik fleksibel, foto Rontgen cervical soft tissue lateral 
PERBEDAAN LEVEL RERATA KEKUATAN OTOT DASAR PANGGUL SEBELUM DAN SETELAH PERSALINAN SPONTAN PADA KELOMPOK INKONTINENSIA URIN DAN KELOMPOK NORMAL Bobby Indra Utama; Hasni Kemala Sari; Hafni Bachtiar
Andalas Obstetrics And Gynecology Journal Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/aoj.1.1.7-14.2017

Abstract

Trauma to the pelvic floor during delivery is now recognized as a major etiological factor against PFM disorders such as urinary incontinence, pelvic organ prolapse and fecal incontinence. This study was conducted to analyze the differences in mean levels of differences of pelvic muscle strength before and after spontanous labor between stress urinary inconti-nence group and normal group. This research was done using analytic method with cross sectional design in 13 women with stress urinary incontinence, and 17 women with normal group. Subjects were collected in hospitals of Pariaman, Padang from May to December 2014. Examination of the pelvic floor muscle strength was performed with a perineometer. Differences between the mean difference in the strength of the pelvic floor muscles before and after spontaneous delivery between the two groups were analyzed using independent t test. The mean difference between the strength of the pelvic floor muscles before and after spontaneous labor in stress urinary incontinence group was larger than normal group (3.85 + 1.281 cmH2O vs 2,00 + 1.173 cmH2O, p = 0.000). The mean difference between the strength of the pelvic floor muscles before and after spontaneous labor in stress urinary incontinence group was significantly greater than the normal group.Keywords: Pelvic Floor Muscle, Urinary Incontinence, Spontaneous Labor
Perbedaan Alel Human Leucocyte Antigen A*02 antara Pasien Karsinoma Nasofaring dengan Kontrol pada Etnik Minangkabau Debby Apri Grecwin; Sukri Rahman; Al Hafiz; Eti Yerizel; Hafni Bachtiar
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 1 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v1i1.20

Abstract

Pendahuluan: Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas yang berasal dari sel epitel nasofaring dengan pola epidemiologi yang unik. Etiologi keganasan ini merupakan interaksi kompleks antara faktor genetik, infeksi laten virus Epstein-Barr (VEB) dan paparan terhadap karsinogen lingkungan. Secara genetik, terdapat gen human leucocyte antigen (HLA) yang berperan pada patogenesis KNF. Gen ini dikelompokkan menjadi kelas I dan kelas II yang bersifat sangat polimorfik. Kerentanan genetik terhadap KNF pada populasi dengan risiko tinggi berhubungan dengan gen HLA kelas I. Beberapa penelitian menyatakan bahwa alel HLA-A*02 berhubungan dengan kejadian KNF. Tujuan: Mengetahui perbedaan alel HLA-A*02 antara pasien KNF dengan kontrol pada etnik Minangkabau. Metode: Penelitian analitik dengan menggunakan disain potong lintang dilakukan terhadap 16 pasien KNF etnik Minangkabau dan 16 orang sehat etnik Minangkabau sebagai kontrol. Pemeriksaan molekuler dilakukan pada responden untuk melihat ekspresi HLA-A*02 dengan metode polymerase chain reaction-sequence spesific primer(PCR-SSP). Data dianalisis secara statistik dengan program komputer dan dinyatakan bermakna jika p < 0,05. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan 6 orang pasien KNF dan 3 orang kontrol dengan HLA-A*02 positif. Secara statistik tidak didapatkan perbedaan yang bermakna alel HLA-A*02 antara pasien KNF dengan kontrol pada etnik Minangkabau. Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan alel HLA-A*02 antara pasien KNF dengan kontrol etnik Minangkabau.
Perbedaan Ekspresi Transforming Growth Factor Beta 1 antara Rinosinusitis Kronis dengan Polip dan Tanpa Polip Rahmadona Rahmadona; Bestari Jaka Budiman; Effy Huriyati; Hirowati Ali; Hafni Bachtiar
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 1 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v1i1.23

Abstract

Latar belakang: Rinosinusitis kronis (RSK) merupakan inflamasi pada mukosa hidung dan sinus paranasal. Rinosinusitis kronis berdasarkan perbedaan ekspresi sitokin dan pola remodeling inflamasi dibedakan menjadi dua fenotipe, RSK dengan polip dan RSK tanpa polip. Transforming growth factor–?1 (TGF–?1) merupakan salah satu sitokin yang berperan pada remodeling jaringan.       Tujuan: Mengetahui ekspresi gen TGF–?1 pada RSK dengan polip dan RSK tanpa polip. Metode: Penelitian analitik komparatif menggunakan desain potong lintang (cross sectional comparative study) pada 12 responden RSK dengan polip dan 12 responden RSK tanpa polip. Sampel diambil saat operasi Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF) pada jaringan polip dan mukosa sinus etmoid atau maksila. Semua sampel dilakukan pemeriksaan ekspresi gen dengan metode Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Data dianalisis dengan SPSS, dikatakan bermakna jika p<0,05. Hasil: Ekspresi TGF-?1 pada RSK tanpa polip lebih tinggi (18,63±24,58) dibandingkan RSK dengan polip (2,82±4,02). Secara statistik perbedaan antara RSK polip dan RSK tanpa polip ini bermakna (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat peningkatan ekspresi TGF-?1 pada RSK tanpa polip yang bermakna secara statistik dibandingkan dengan RSK dengan polip.