Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Kandungan Bakteri Asam Laktat dalam Mikroorganisme Lokal (MOL) dari Isi Rumen Domba Aninda Ayu Arizka; Joko Daryatmo; Muzizat Akbarrizki; Fika Asti Fanani
Jurnal Penelitian Peternakan Terpadu Vol 4, No 6 (2022): April
Publisher : UPPM Politekik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36626/jppt.v4i6.856

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi isi rumen sebagai bahanbaku probiotik yang mengandung bakteri asam laktat sebagai alternatif penggantiprobiotik komersial. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode RancanganAcak Lengkap (RAL) pola searah dengan tiga perlakuan setiap perlakuan diulangsebanyak tiga kali sehingga jumlah satuan percobaan ada sembilan unit. Perlakuanadalah sebagai berikut: Perlakuan Kontrol adalah Probiotik Komersial (P0), PerlakuanI menggunakan Isi rumen +Molases+dedak (P1); Perlakuan II menggunakan Isirumen+molases (P2). Dapat disimpulkan bahwa Mikroorganisme lokal (MOL) yangdibuat dengan bahan isi rumen domba dan molases (P2) menghasilkan jumlah bakteriasam laktat (BAL) paling banyak yakni 4,22x10⁸ ± 65,301 daripada probiotik komersial(P0) dan mikroorganisme lokal (MOL) dengan bahan iri rumen domba, molases, dan dedak yang dibuat menggunakan derigen (P1) (P<0,01). Nilai pH padamikroorganisme lokal (MOL) yang dibuat dengan bahan isi rumen domba dan molases(P2) memiliki pH paling tinggi yakni 3,84 ± 0,378 namun masih dalam kisaran pHnormal yakni 3,9-4,2 (P<0,01).ABSTRACTThis study aimed to determine the potential of rumen contents as raw materialfor probiotics containing lactic acid bacteria as an alternative to commercial probiotics.nine units. The study treatments were as follows: Control treatment was CommercialProbiotics (P0), Treatment I used rumen contents + molasses + bran (P1); Treatment II used rumen contents + molasses (P2). The results showed that local microorganisms (MOL) made with lamb rumen contents and molasses (P2) produced the highest number of lactic acid bacteria (LAB) which was 4.22x10⁸ ± 65.301 than commercial probiotics (P0) and local microorganisms. (MOL) with sheep rumen envy, molasses, and bran prepared using a derrigen (P1) (P<0.01). The pH of local microorganisms (MOL) made with lamb rumen contents and molasses (P2) had the highest pH of 3.84 ± 0.378 but was still in the normal pH range of 3.9-4.2 (P<0.01) .Keywords: Lactic Acid Bacteria, Local Microorganisms, Sheep Rumen Contents, Fermentation
Persepsi Peternak Terhadap Fodder Jagung (Zea mays) Hidroponik Sebagai Pakan Domba di Desa Kwadungan, Kalikajar, Wonosobo Joko Daryatmo; Sunarsih Sunarsih; Muhammad Nur Ichsan
Jurnal Pengembangan Penyuluhan Pertanian Vol 19, No 35 (2022): Juli
Publisher : UPPM Politekik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36626/jppp.v19i35.853

Abstract

ABSTRAKPenelitian dilakukan bertujuan untuk mengetahui persepsi peternak terhadapfodder jagung (Zea mays) hidroponik sebagai alternatif pakan domba dan faktorfaktoryang mempengaruhi persepsi peternak. Penelitian dilakukan di DesaKwadungan, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive random sampling denganjumlah responden 30 orang. Alat yang digunakan yaitu panduan wawancara dankuesioner. Variabel yang diamati yaitu persepsi peternak domba yang dilihat darikarakteristik inovasi keuntungan relatif, kesesuaian, kerumitan, ketercobaan danketerlihatan, selanjutnya dianalisis dengan metode deskriptif menggunakan skalalikert. Variabel berikutnya yaitu faktor-faktor yang diduga mempengaruhi persepsipeternak yaitu umur, pendidikan, pengalaman beternak, kepemilikan ternak dan luaslahan, kemudian dianalisis dengan analisis statistik regresi linear berganda. Hasilanalisis diperoleh skor keuntungan relatif sebesar 411, kesesuaian 399, kerumitan402, ketercobaan 397 dan keterlihatan 399, dengan skor total 2008 dengan kategorisangat baik. Variabel independen secara simultan berpengaruh nyata (P<0,05)dengan persepsi peternak. Sedangkan secara parsial, umur berpengaruh nyata(P<0,05) terhadap persepsi peternak, namun pendidikan, pengalaman beternak,kepemilikan ternak dan luas lahan berpengaruh tidak nyata terhadap persepsi.Kesimpulan bahwa persepsi peternak terhadap alternatif pakan domba fodder jagung(Zea mays) hidroponik dengan kategori sangat baik, dan hanya faktor umur yangberpengaruh nyata pada persepsi peternak (P<0,05). ABSTRACTThe research was carried out in Kwadungan Village, Kalikajar District,Wonosobo Regency. The purpose of this study was to determine the farmer'sperception of hydroponics fodder corn (Zea mays) as sheep feed and the factors thatinfluence the farmer's perception. Sampling was done by purposive random samplingtechnique with the number of respondents 30 people. The tool used is a questionnaireand interview guide, the observed variable is the perception of sheep breeders seenfrom the characteristics of innovation relative advantage, suitability, complexity,trialability and visibility, then analyzed by descriptive method using a Likert scale. Thesecond variable is the factors that are thought to influence the perception of farmers,namely age, education, livestock experience, livestock ownership and land area, thenanalyzed by statistical analysis of multiple linear regression. The results of the analysisobtained are relative advantage of 411, suitability of 399, complexity of 402, trialability of 397 and visibility of 399, with a total score of 2008 in the very good category. The independent variable simultaneously had a real effect (P<0.05) on the farmer's perception. Meanwhile, partially, age had a significant effect (P<0.05) on farmers' perceptions, but education, livestock experience, livestock ownership and land area had no significant effect on perceptions. The conclusion is that the farmer's perception of the hydroponic fodder corn (Zea mays) sheep feed alternative was in the very good category, while only the age factor had a significant effect on the farmer's perception (P<0.05).Keywords: Perception, Sheep Breeder, Corn Fodder, Hydroponics, Zea mays
Pengaruh Lama Fermentasi Terhadap Jenis Dan Jumlah Bakteri Asam Laktat Dalam Pembuatan Starter Isi Rumen Dan Feses Domba Joko Daryatmo; Eko Apriliyanto; Suharti Suharti
Jurnal Penelitian Peternakan Terpadu Vol 5, No 1 (2023): April 2023
Publisher : UPPM Politekik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36626/jppt.v5i1.1040

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan jenis dan jumlah bakteri asam laktat (BAL) pada lama fermentasi yang berbeda dalam pembuatan starter yang terbuat dari isi rumen dan feses domba. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas 4 perlakuan dengan masing-masing perlakuan 5 ulangan. Variabel yang diteliti yaitu Jenis dan Jumlah Bakteri Asam Laktat (BAL). Metode analisis data menggunakan metode Analisis Variansi (ANOVA) dan selanjutnya apabila ada perbedaan nyata pengaruh perlakuan tersebut maka diuji lanjut memakai Uji Duncan Multiple Ring Test (DMRT).Berdasarkan hasil analisis statistik dapat disimpulkan bahwa jumlah bakteri asam laktat pada perlakuan P0 berbeda tidak nyata dengan P1 tetapi P0 berbeda nyata dengan P2 dan P3. Sedangkan antara P1, P2, dan P3 berbeda tidak nyata. Probiotik dengan fermentasi 14 hari (P3) memiliki jumlah bakteri asam laktat jenis Lactobacillus sp cenderung lebih tinggi dibanding dengan probiotik P1 dan P2, namun secara statistik berbeda tidak nyata. Sedangkan untuk bakteri asalam laktat jenis Bifidobacterium sp menunjukkan bahwa perlakuan lama waktu fermentasi berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap jumlah bakteri asam laktat jenis Bifidobacterium sp dari setiap perlakuan.Perlakuan dengan jumlah bakteri asam laktat cenderung terbanyak didapatkan pada perlakuan dengan lama waktu fermentasi 14 hari (P3) dengan jumlah bakteri asam laktat jenis Lactobacillus sp 3,13 CFU/ml dan Bifidobacterium sp 4,33 CFU/ml. Penelitian dapat disimpulkan bahwa lama waktu fermentasi berbeda tidak nyata terhadap perbedaan jenis bakteri asam laktat yang terkandung dalam probiotik, namun lama waktu fermentasi berbeda sangat nyata terhadap jumlah bakteri asam laktat jenis Lactobacillus sp tetapi untuk bakteri asam laktat jenis Bifidobacterium sp berbeda tidak nyata.
Correlation of Farmers Characteristics to Motivation in Sheep Farming at Ngudi Makmur II and Tirto Kencono Farmers Groups Banyudono Village Dukun District Haris Tri Wibowo; Joko Daryatmo
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 18 No 1 (2023)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51852/jpp.v18i1.585

Abstract

Motivation is one aspect that determines the success of livestock business as an economic activity in increasing income and fulfilled family needs. The research was carried out in Ngudi Makmur II Farmers Group and Tirto Kencono Farmers Group, Banyudono Village, Dukun District from 05 March to 30 April 2018. The aim were to know the level of motivation of farmers in the cultivation of sheep and determine the relation between characteristics of the farmers to motivation in sheep farming. The study design used was descriptive quantitative. The variables of this research consisted of independent variables such as the characteristics of farmers (age, education level, farming experience, the number of livestock ownership and the number of family dependents) and the dependent variable in the form of farmers motivation. Respondents in this study were 35 people taken by census method. Data were collected by observation and interview. Motivation levels were analyzed descriptively while the relationship between variables were analyzed by Rank Spearman correlation. The results showed that 2.86% of farmers at moderate level, 42.86% of farmers at high level and 54.29% of farmers at very high level. The aging of farmers is likely to decrease the motivation in the cultivation of sheep, the higher the level of education of farmers that motivation increases, the more the number of livestock owned by the motivation tends to increase, farmers with more experience tend to have a higher motivation and the greater number of dependents the motivation of farmers tend more increasing.
PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN VITAMIN E TERHADAP POST PARTUS ESTRUS DAN POST PARTUS MATING SAPI PERANAKAN FRIESIEN HOLSTEIN Sunardi, Sunardi; Nugroho, Dimas; Daryatmo, Joko
ZIRAA'AH MAJALAH ILMIAH PERTANIAN Vol 49, No 3 (2024)
Publisher : Pusat Publikasi Jurnal Universitas Islam Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/zmip.v49i3.15750

Abstract

This study aimed to determine the effect of the frequency of vitamin E application on the reproductive performance of postpartum FH crossbreed cows, which Include Post Partus Estrous (first estrus after calving) and Post Partus Mating (first mating after calving). The study used treatment giving vitamin E to cows after calving with treatment 0 (P0)/control, treatment 1 (P1) was injected on the 7th and 14th days after calving and treatment 2 (P2) was injected on the 7th day, the 14th day after calving and 17th day after calving. Post Partus Estrous (PPE) and Post Partus Mating (PPM) were the treatment variables observed. Giving vitamin E on the 7th, 14th, and 17th days after calving (P2) showed a very significant effect (P<0.01) on Post Partum Estrous (PPE). The results of ANOVA analysis of treatment 2 (P2) days 7, 14, and 17 after calving showed a very significant effect (P<0.01) on Post Partus Mating (PPM). This study shows that the P2 treatment with vitamin E injection on days 7, 14, and 17 after calving obtained the best reproductive performance by producing the shortest Post-Partus Estrus (PPE) of 51 days and the shortest Post-Partus Mating (PPM) of 71.83 days.
PENGARUH PENGGUNAAN BERBAGAI SUMBER WATER SOLUBLE CARBOHYDRATE TERHADAP KUALITAS SILASE RUMPUT PAKCHONG (Pennisetum purpureum cv Thailand): The Effect of Various Water-Soluble Carbohydrate Sources on the Quality of Pakchong Silage (Pennisetum purpureum cv Thailand) Joko Daryatmo; Sunardi; Haris Tri Wibowo; Abu Zaenal Zakariya; Wardi, Wardi
Wahana Peternakan Vol. 8 No. 3 (2024): Wahana Peternakan
Publisher : Faculty of Animal Science, University of Tulang Bawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jwputb.v8i3.1865

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh penggunaan berbagai sumber water soluble carbohydrate (WSC) terhadap kualitas silase rumput Pakchong. Perlakuan terdiri atas 3 perlakuan dimana tiap perlakuan terdapat 8 ulangan. Faktor yang diamati adalah macam sumber WSC. Perlakuan adalah sebagai berikut: 1. Rumput Pakchong dengan tanpa penambahan sumber WSC sebagai Kontrol, 2. Rumput Pakchong dengan ditambah 4% tepung tapioka, dan 3. Rumput Pakchong ditambah 4% Molasses. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Rancangan Acak Lengkap Pola Searah. Hasil yang berbeda nyata akan dilanjutkan dengan uji Duncan (Duncan’s New Multiple Range Test). Data skor kualitas fisik silase dianalisis menggunakan uji Deskriptif. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa silase yang dihasilkan pada perlakuan P0 (tanpa aditif), P1 (tepung tapioka) dan P2 (molases) memiliki skor warna, bau, tekstur yang setara, namun pada penilaian gumpal dan jamur, silase pada perlakuan P1 menghasilkan skor yang cenderung lebih baik dibanding silase P0 dan P2. Bahan kering tertinggi didapatkan pada Silase P1, sedangkan pH terendah didapatkan pada silase P2. Skor Fleigh tertinggi dihasilkan oleh silase P2, sedangkan silase P1 dan P0 memiliki skor Fleigh yang setara. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa P2 memiliki kualitas silase yang lebih baik dibanding P0 dan P1. Kata kunci: Rumput Pakchong, Kualitas, Silase, Water Soluble Carbohydrate
PENGARUH SUPLEMENTASI SODIUM SELENITE DAN VITAMIN E TERHADAP PERFORMANS ESTRUS PADA DOMBA TEXEL Salsadava, Nova Asrul; Daryatmo, Joko; Pranatasari, Dewi; Andanawari, Suci; Zulfikhar, Rosa; Akbarrizki, Muzizat; Sukoco, Hendro; Cahyani, Annisa Putri
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.3785

Abstract

This study aims to determine the effect of sodium selenite and vitamin E on estrus signs, estrous cycles and the percentage of pregnancies. The study used a completely randomized design (CRD) with 3 treatments and each treatment consisted of 6 replications, data analysis used the (ANOVA) test with Duncan's advanced test for parametric data, while for non-parametric data using the Kruskall Wallis test with Mann Whitney's advanced test U Test and descriptive test. This study used 18 female Texel sheep with an average age of 2 years. The treatment consisted of: P0 (without treatment/as control, P1 (Sodium selenite 5ml), P2 (Sodium selenite 5ml and vitamin E 400IU). The variables observed included signs of heat, estrus cycle and pregnancy percentage. The results showed the treatment of administration sodium selenite 5ml and vitamin E 400IU that the variables of lust signs include vaginal temperature 39.45 ± 0.28 C˚, vulvar color 2.66 ± 0.51, and estrus cycle 17.75 ± 75 showed significant results (P<0 .05) and the percentage of pregnancy showed a yield of 83.33%. Based on the results of the study it can be concluded that 5ml Sodium Selenite and 400IU vitamin E can affect signs of heat, estrus cycle and pregnancy percentage.Keywoords: Texel Sheep, Pregnancy Percentage, Sodium Selenite, Signs of Estrus and Vitamin E                                                                       INTISARIPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Sodium selenite dan vitamin E terhadap tanda birahi, siklus estrus dan persentase kebuntingan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan setiap perlakuan terdiri dari 6 ulangan, analisis data menggunakan (ANOVA) Test dengan uji lanjut Duncan untuk data parametrik, sedangkan untuk data non-parametrik menggunakan uji Kruskall Wallis Test dengan uji lanjut Mann Whitney U Test dan uji deskriptif. Penelitian ini menggunakan ternak domba Texel betina umur rata-rata 2 tahun sebanyak 18 ekor. Perlakuan terdiri atas : P0 (tanpa perlakuan/ selaku kontrol, P1 (Sodium selenite 5ml), P2 (Sodium selenite 5ml dan vitamin E 400IU). Variabel yang diamati meliputi tanda birahi, siklus estrus dan persentase kebuntingan. Hasil menunjukkan pada perlakuan pada pemberian Sodium selenite 5ml dan vitamin E 400IU bahwa pada variabel tanda birahi meliputi suhu vagina 39,45 ± 0,28 C˚, warna vulva 2,66 ± 0,51, dan siklus estrus 17,75 ± 75 menunjukkan hasil yang signifikan (P<0,05) dan pada presentase kebuntingan menunjukkan hasil 83,33%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Sodium selenite 5ml dan vitamin E 400IU dapat berpengaruh terhadap tanda birahi, siklus estrus dan persentase kebuntingan Kata kunci: Domba Texel, Presentase Kebuntingan, Sodium Selenite, Tanda Birahi dan Vitamin E
Pengaruh Level Tepung Gamal (Gliricidia sepium) dan Lamtoro (Leucaena leucocephala) Terhadap Kandungan Nutrisi Complete Feed Daryatmo, Joko; Dayo, Falahi; Sumaryanto, Sumaryanto
Jurnal Penelitian Peternakan Terpadu Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER 2023
Publisher : UPPM Politekik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36626/jppt.v5i2.1179

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan nutrisi complete feed berbasis hijauan gamal dan lamtoro dengan penggunaan yang berbeda- beda dilihat dari kadar air, bahan kering, kadar abu, bahan organik, serat kasar, dan protein kasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 5 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan penelitian sebagai berikut. P0: Tepung Gamal 0% + Tepung Lamtoro 0% + Ransum basal, P1: Tepung Gamal 30% + Tepung Lamtoro 40% + Ransum basal, P2: Tepung Gamal 40% + Tepung Lamtoro 30% + Ransum basal, P3: Tepung Gamal 50% + Tepung Lamtoro 20% + Ransum basal, P4: Tepung Gamal 60% + Tepung Lamtoro 10% + Ransum basal. Beradasarkan penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penggunaan tepung gamal dan lamtoro dengan leve berbeda berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan nutrisi complete feed dengan level tepung gamal dan lamtoro terbaik pada complete feed yaitu 40% tepung gamal + 30% tepung lamtoro (P2).
Pengaruh Dosis Hormon Gonadotropin Releasing Hormon pada Metode Ovsynch Protocol Terhadap Kualitas Estrus dan Tingkat Keberhasilan Kebuntingan pada Domba Ekor Tipis Dewi, Dias Aprita; Baihaqi, Lukfi; Daryatmo, Joko
Jurnal Penelitian Peternakan Terpadu Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER 2023
Publisher : UPPM Politekik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36626/jppt.v5i2.1180

Abstract

Sinkronisasi pada domba ekor tipis adalah secara intramuscular (IM) Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Respons estrus, Intensitas estrus, Onset estrus dan keberhasilan kebuntingan dalam pemberian hormon prostaglandin yang di kombinasikan dengan hormon GnRH pada domba ekor tipis. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 16 ekor dengan kriteria umur 2 sampai 3 tahun, minimal sudah beranak 1 kali, bobot badan 20-30 kg. penelitian ini menggunakan 4 perlakuan dan 4 pengulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu perlakuan kontrol yaitu dengan pemberian hormon PGF2α 1 ml. Perlakuan 1 yaitu dengan pemberian hormon PGF2α 1 ml dan GnRH 0,5 ml. Perlakuan 2 yaitu dengan pemberian hormon PGF2α 1 ml dan GnRH 1 ml. Perlakuan 3 yaitu dengan pemberian hormon PGF2α 1 ml dan GnRH 1,5 ml. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis staistik ANOVA. Deteksi estrus, intensitas estrus, onset estrus dilakukan pengamatan visual, perkawinan dilakukan dengan cara Inseminasi Buatan dan pemeriksaan kebuntingan dengan menggunakan deteksi kebuntingan H2so4. Hasil pengamatan berupa persentase respon estrus, keberhasilan kebuntingan ditabulasikan kemudian dideskripsikan, onset estrus dan lintensitas estrus data dianalisa dengan statistik ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan sangat nyata dalam penggunaan dosis berbeda, hal ini mampu mempengaruhi onset estrus 0,00 (P<0.01), dan juga terdapat perbedaan nyata (P<0.05) pada intensitas estrus. Hal ini berpengaruh pada tingkat keberhasilan kebuntingan, dimana semakin bagus kualitas estrus maka semakin tinggi tingkat keberhasilan kebuntingan pada domba yang di lakukan sinkronisasi estrus. Perlakuan dosis terbaik terdapat pada perlakuan 3 (P3) dengan dosis GnRH sebanyak (1,5 ml).
Pengaruh Penambahan Trichoderma sp dan Lama Fermentasi Terhadap pH, Sifat Fisik dan Kandungan Nutrisi Jerami Kacang Tanah Fermentasi Sunardi, Sunardi; Seftian, Werdy; Daryatmo, Joko
Jurnal Penelitian Peternakan Terpadu Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER 2023
Publisher : UPPM Politekik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36626/jppt.v5i2.1183

Abstract

Jerami kacang tanah memiliki serat kasar yang tinggi dibangdingkan protein kasar, sehingga perlu dilakukan fermentasi dengan penambahan kapang Trichoderma sp yang bertujuan untuk mengubah serat kasar menjadi protein kasar yang meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pH, kualitas fisik, dan kandungan nutrisi yang terkandung dalam Jerami kacang tanah fermentasi dengan penambahan Trichoderma sp dan lama fermentasi yang berbeda. Penelitian dilaksanakan mulai pada tanggal 18 April 2022 sampai tangal 30 Juni 2022 yang berlokasi di Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial (3x3) yaitu faktor A adalah level penambahan Trichoderma sp 0%, 5%, dan 10%. Faktor B yaitu lama fermentasi 0 hari, 21 hari, dan 28 hari dengan 3 ulangan. Variabel yang diamati yaitu pH, kualitas fisik (warna, tekstur, dan aroma), kandungan nutrisi (protein kasar, kadar air, kadar abu, bahan kering, dan bahan organic) dan Data dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) dan jika ada perbedaan secara nyata dilanjutkan dengan Uji Duncan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan penambahan dosis Trichoderma sp sebanyak 5% dengan lama fermentasi 21 hari sebagai metode pengolahan jerami kacang tanah yang efektif untuk menghasilkan protein kasar yang cenderung lebih tinggi.