Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Buletin Keslingmas

HIGIENE SANITASI DAN KANDUNGAN BORAKS PADA PUDAK (Studi di Industri X Kecamatan Gresik Kabupaten Gresik) Intan Alfionita Anggraeni; Anita Dewi Moelyaningrum
Buletin Keslingmas Vol 41, No 1 (2022): BULETIN KESLINGMAS VOL.41 NO.1 TAHUN 2022
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/keslingmas.v41i1.7443

Abstract

Pudak adalah satu jenis makanan khas tradisional dari kabupaten Gresik. Makanan tradisional sering kali perlu peningkatan dalam hal higiene sanitasi makanan. Penelitian ini bertujuan menggambaran higiene sanitasi dan kandungan boraks pada pudak. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di industri X Kecamatan Gresik Kabupaten Gresik, Indonesia. Dilakukan wawancara kepada pemilik industri terkait pengetahuan terhadap bahan makanan tambahan, serta 15 orang karyawan terkait pelaksanaan higiene. Dilakukan pengambilan 6 sampel pudak setiap rasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan pemilik terkait bahan tambahan makanan masih kurang, Pelaksanaan higiene penjamah makanan masih kurang yaitu pada penggunaan baju khusus, sarung tangan, sepatu. Lokasi, bangunan, peralatan dan pengolahan masuk katergori baik. Dari ke enam sampel pudak menunjukkan hasil tidak ditemukan kandungan berbahaya seperti boraks, sehingga pudak aman dikonsumsi. Perlu peningkatan pengetahuan terkait bahan tambahan makanan dan perilaku higiene penjamah oleh pemerintah terkait.  Pudak is a type of traditional food from Gresik district. Traditional food often needs improvement in terms of food hygiene and sanitation. This study aims to describe sanitation hygiene and borax content in Pudak. This research is a descriptive research with a quantitative approach. This research was conducted in Industry X, Gresik District, Gresik Regency. Interviews were conducted with industry owners regarding knowledge of food additives, as well as 15 employees related to the implementation of hygiene. There were six samples of each taste were taken. The results showed that the owner's knowledge regarding food additives was still lacking, the implementation of food handler hygiene was still lacking, namely the use of special clothes, gloves, shoes. Location, building, equipment and processing are in good category. From the six samples of Pudak, no harmful ingredients such as borax werent found, so that Pudak is safe for consumption. It is necessary to increase knowledge related to food additives and hygienic behavior of handlers by the relevant government
HIGIENE SANITASI dan KEBERADAAN MIKROBA PADA LULUR TRADISIONAL Study pada industry kosmetik tradisional X, Kabupaten Jember Anita Dewi Moelyaningrum
Buletin Keslingmas Vol 40, No 2 (2021): BULETIN KESLINGMAS VOL.40 NO.2 TAHUN 2021
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.929 KB) | DOI: 10.31983/keslingmas.v40i2.6645

Abstract

Abstrak Kosmetik aman digunakan jika memenuhi persyaratan yaitu bebas dari cemaran mikroba seperti bakteri dan jamur. Tingkat kerawanan pencemaran mikroba pada kosmetik tradisional sangat tinggi karena teknologi yang digunakan sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis higiene sanitasi pembuatan lulur tradisional serta kandungan cemaran mikroba dalam produk lulur tradisional pada industri rumah tangga kosmetik tradisional X di Kabupaten Jember. Jenis penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengambilan sampel lulur dilakukan  dengan metode simple random sampling sebanyak 3 buah dan 9 orang konsumen diwawancara. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, uji laboratorium (Angka Lempeng Total dan patogen) serta dokumentasi. Penyajian data menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukan konsumen menggunakan lulur rata-rata dengan lama pemakaian ±3 bulan dan tidak ditemukan keluhan. Industri Rumah Tangga pembuatan lulur tradisional “X” belum sepenuhnya menerapkan peraturan BPOM Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pedoman Penerapan Higiene Sanitasi dan Dokumentasi pada Industri Kosmetika Golongan B. Hasil Uji Laboratorium diketahui terdapat 1 sampel dari 4 sampel  uji tidak memenuhi syarat karena mengandung Angka Lempeng Total, Angka Kapang, dan Angka Khamir sebanyak 13.400 koloni/g. Saran bagi konsumen adalah meningkatkan pengetahuan tentang kosmetik yang aman untuk digunakan serta cara penyimpanan kosmetik yang baik dan benar. Saran bagi industri pembuatan kosmetik adalah meningkatkan pengetahuan dan menerapkan cara pembuatan kosmetik yang baik dan benar sesuai dengan peraturan yang ditetapkan.Kata kunci: kosmetik tradisional, lulur, Angka Lempeng Total, Angka Khamir, mikroba Abstract One of the safety levels of cosmetics is free from microbial contamination. The level of vulnerability to microbial contamination in traditional cosmetics is very high because the technology used is a simple technique. This study aims to analyze the sanitary hygiene of traditional scrub making and the content of microbial contamination in the traditional cosmetic household industry X in Jember Regency. It used a quantitative approach with a descriptive method. It used simple random sampling techniques for 3 pieces of scrubs and accidental sampling techniques for 9 people of consumer. The data collection was from observation, interviews, laboratory tests (Total Plate Count and pathogens), and documentation. Data presentation used descriptive statistics. The result showed that consumers used the scrub with a length of ±3 months and no complaints were found. The industry making of traditional body scrub "X" has not fully implemented the Indonesian national Food and Drug agency Number 11 of 2016 concerning Guidelines for the Application of  Sanitary Hygiene and Documentation in the Cosmetics Industry for Category B. Laboratory test results showed that one of four samples was not in accordance with the regulation of microbial contamination in cosmetics requirements because it contained a Total Plate Count, Fungi and Yeast Count of 13,400 colonies / g. The suggestions for consumers are able to increase knowledge about safe cosmetics, the correct way to store and use cosmetics. Then the cosmetics makers have to comply with regulations. Keywords: Cosmetic traditional, Total Plate Count (TPC), mold (yeast) number, microbe