Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

The Role of Perceived Control as Mediator in Relationship between Parental Overprotection and Anxiety in Adolscent Nanie, Tirza Febe Dama; Widyorini, Endang
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 3 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v12i3.11991

Abstract

Anxiety is a condition that often occurs in children, adolescents, and adults. The impacts arising from anxiety, both non-clinical and clinical, are enormous and varied for life. There are many factors that influence developmental anxiety. This study aims to look at the role of perceived control as a mediator in the relationship between parental overprotection and anxiety in adolescents. The population in this study were adolescents aged 12-17 years, attending school in the city of Semarang, and living with their parents with a sample of 55 people participating. The research method used is a correlational quantitative method with the use of scale as a data collection method. There are three scales used in this study, namely the short-form overprotection sub-scale of the Egna Minnen Beträffande Uppfostran (s–EMBU), the Anxiety Control Questionnaire-Children Short Form (ACQ-C), and the anxiety sub-scale. Short version of the Revised Scale. Childhood Anxiety and Depression (RCADS). Data analysis using Regression Analysis Mediator F Hayes. The results obtained in this study are that there is a significant indirect relationship between parental overprotection and anxiety through perceived control (Bootstrap confidence interval range 0.779 to 1.546, not including a zero value) which means that perceived control is a mediator of the parental overprotection relationship to anxiety.Kecemasan merupakan kondisi yang banyak terjadi baik pada anak, remaja, maupun dewasa. Dampak yang timbul akibat kecemasan baik non klinis maupun klinis sangat besar dan bervariasi bagi kehidupan. Ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran dari perceived control sebagai mediator dalam hubungan antara parental overprotection dan kecemasan pada remaja. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja berusia 12-17 tahun, bersekolah di Kota Semarang, dan tinggal dengan orang tua dengan sampel yang berpartisipasi sebanyak 55 orang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif korelasional dengan penggunaan skala sebagai metode pengambilan data. Ada tiga skala yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu sub skala overprotection short-form of the Egna Minnen Beträffande Uppfostran (s–EMBU), Anxiety Control Questionnaire-Children Short Form (ACQ-C), dan sub skala kecemasan Shortened version of the Revised Child Anxiety and Depression Scale (RCADS). Analisis data dengan menggunakan Analisis Regresi Mediator F Hayes. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah adanya hubungan tidak langsung yang signifikan antara parental overprotection dan kecemasan melalui perceived control (Bootstrap rentang interval kepercayaan 0,779 sampai 1,546, tidak mencakup nilai nol) yang artinya perceived control menjadi mediator dari hubungan parental overprotection terhadap kecemasan.
Peran Working Memory pada Hubungan Sleep Problems dan Prestasi Akademik pada Remaja Ismawan, Shabrina Aprillita; Widyorini, Endang; Roswita, Maria Yang
JURNAL PSIKOLOGI Vol 21, No 2 (2025): Jurnal Psikologi
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jp.v21i1.24842

Abstract

Prestasi akademik pada remaja merupakan aspek penting yang dapat menjadi indikator dari kesejahteraan siswa dan perkembangan psikologisnya. Penelitian-penelitian sebelumnya menyatakan bahwa remaja dengan masalah tidur dapat berdampak pada defisit working memory mereka, dan remaja dengan defisit pada working memory cenderung memiliki prestasi akademik yang kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan di antara masalah tidur dengan prestasi akademik yang dimediasi oleh working memory pada remaja. Secara khusus, hipotesis pada penelitian ini yaitu working memory dapat berperan sebagai variabel mediator yang menghubungkan masalah tidur dengan prestasi akademik secara signifikan. Partisipan penelitian ini terdiri dari 258 siswa/i SMP (70 siswa laki-laki dan 188 siswa perempuan) dengan rentang usia 12 hingga 15 tahun. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan dokumentasi nilai rata-rata UAS, skala Working Memory Questionnaire dan skala Sleep Disturbance Scale for Children. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis jalur dengan bantuan aplikasi PROCESS versi 4.1. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan di antara masalah tidur dengan prestasi akademik melalui mediasi dari working memory (β = 0,021; LLCI = -0,035; ULCI = -0,006). Hal ini berarti, tanpa adanya working memory sebagai variabel mediator maka tidak ada hubungan langsung di antara masalah tidur dan prestasi akademik pada remaja.Kata kunci: masalah tidur, working memory, prestasi akademik, remaja
Mental Health Recovery in Domestic Violence Survivors with CBT: Findings from a Literature Review Solihah, Tsaniatus; Widyorini, Endang; Sulastri, Augustina
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 14, No 1 (2026): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v14i1.23361

Abstract

Domestic violence remains a pervasive issue with profound psychological consequences for survivors, often leading to trauma, anxiety, depression, PTSD, and a drastic reduction in self-esteem. Cognitive Behavioral Therapy (CBT) is widely recognized as an effective therapeutic intervention for addressing these psychological impacts. This study aims to explore the effectiveness of CBT in improving the psychological well-being of survivors of domestic violence, particularly focusing on its role in enhancing self-esteem, self-love, and mindfulness, as well as its ability to reduce negative symptoms such as trauma, PTSD, and depression. Using a systematic literature review methodology, the study analyzed twelve relevant studies published between 2019 and 2025. The findings reveal that CBT significantly improves positive psychological outcomes, including self-esteem and self-love, while also effectively alleviating symptoms of trauma, PTSD, and depression. Additionally, CBT fosters emotional regulation and enhances mindfulness, contributing to the survivor's overall well-being and resilience. The implications of this research suggest that CBT should be widely integrated into interventions for survivors of domestic violence, offering a structured and culturally sensitive approach to healing. Future research is recommended to explore the long-term effects of CBT and its application in diverse cultural contexts to strengthen its efficacy and impact.Kekerasan dalam rumah tangga tetap menjadi isu yang meluas dengan dampak psikologis yang mendalam bagi penyintasnya, sering kali menyebabkan trauma, kecemasan, depresi, PTSD, dan penurunan drastis dalam harga diri. Cognitive Behavioral Therapy (CBT) diakui secara luas sebagai intervensi terapeutik yang efektif untuk mengatasi dampak psikologis ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi efektivitas CBT dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis penyintas kekerasan dalam rumah tangga, dengan fokus pada perannya dalam meningkatkan harga diri, cinta diri, dan kesadaran penuh, serta kemampuannya untuk mengurangi gejala negatif seperti trauma, PTSD, dan depresi. Menggunakan metodologi tinjauan pustaka sistematis, penelitian ini menganalisis dua belas studi relevan yang diterbitkan antara 2019 dan 2025. Temuan penelitian menunjukkan bahwa CBT secara signifikan meningkatkan hasil psikologis positif, termasuk harga diri dan cinta diri, sekaligus efektif meredakan gejala trauma, PTSD, dan depresi. Selain itu, CBT mendukung regulasi emosional dan meningkatkan kesadaran penuh, yang berkontribusi pada kesejahteraan dan ketahanan penyintas secara keseluruhan. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa CBT sebaiknya diintegrasikan secara luas dalam intervensi bagi penyintas kekerasan dalam rumah tangga, menawarkan pendekatan yang terstruktur dan sensitif secara budaya untuk pemulihan. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk mengeksplorasi efek jangka panjang dari CBT dan penerapannya dalam konteks budaya yang beragam untuk memperkuat efektivitas dan dampaknya.
Father Involvement as a Psychological Resource: A Literature Review on Building Resilience and Career Confidence in Emerging Adults Taroreh, Febrina Meirel; Widyorini, Endang
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 16, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v16i1.15041

Abstract

This literature review explores the role of father involvement as a psychological resource in shaping the resilience and career confidence of emerging adults. As social and economic changes demand greater adaptability, understanding the father’s contribution to emotional and developmental outcomes becomes increasingly essential. Using a narrative literature review method, this study analyzed 25 empirical and theoretical articles published between 2014 and 2025, selected through keyword searches and snowballing techniques in Google Scholar and Scopus. The findings are organized into three main clusters: (1) father involvement as a psychological resource that enhances emotional regulation, self-confidence, and motivation; (2) resilience as a developmental outcome reflecting the influence of paternal warmth, autonomy support, and consistent engagement; and (3) career confidence as a capability strengthened by fathers’ encouragement and guidance in decision-making and self-belief. Across studies, father involvement emerges as a key determinant of adaptive functioning and emotional well-being, serving as a foundation for self-reliance and personal growth. The review concludes that fathers’ emotional presence and active participation play a transformative role in preparing young adults to navigate life challenges and career transitions. Father involvement, therefore, represents not only a familial relationship but also a form of psychological capital essential for developing resilient and capable future generations.