Claim Missing Document
Check
Articles

PEMBERIAN VARIASI KONSENTRASI EKSTRAK REBUNG BAMBU TALI (Gigantochloa apus) MENGAKIBATKAN PERBEDAAN PERTUMBUHAN TANAMAN BAYAM CABUT (Amaranthus tricolor L.) ., IB PUTU EKA WEDANTA; ., Dr.I Gusti Agung Nyoman Setiawan, M.Si.; ., Ida Ayu Putu Suryanti, S.Si., M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui perbedaan pertumbuhan tanaman bayam cabut (Amaranthus tricolor L.) akibat pemberian perlakuan dengan berbagai variasi konsentrasi ekstrak rebung bambu tali (Gigantochloa apus) dan (2) mengetahui konsentrasi ekstrak rebung bambu tali yang efektif untuk pertumbuhan tanaman bayam cabut. Jenis penelitian ini termasuk penelitian sungguhan (true experimental). Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah The Randomized Post Text Only Control Group Design. Perlakuan yang diberikan terdiri dari satu variabel bebas yaitu, pemberian variasi konsentrasi ekstrak rebung bambu tali yaitu: 0%, 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25%. Anlisis data pada penelitian ini menggunakan ANAVA satu arah dengan taraf signifikansi 5% dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan tanaman pada konsentasi ekstrak rebung bambu tali 25% memiliki biomassa tertinggi dengan berat kering 7,93gr, tinggi 49cm, jumlah daun 25,75 helai dari semua perlakuan, dan hasil Uji BNT menyatakan bahwa konsentrasi 5% merupakan konsentrasi yang paling efektif dengan beda rerata 0,80gr antara 0% dan 5%. Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan nyata pada pemberian ekstrak rebung bambu tali dengan konsentrasi yang berbeda.Kata Kunci : Konsentrasi, Amaranthus tricolor L., Gigantochloa apus, pertumbuhan. The purpose of this research were (1) perceive the difference of growth of edible amaranth plant (Amaranthus tricolor L.) due to treatment by given various concentration of string bamboo shoot (Gigantochloa apus) and (2) find out the effective concentration of string bamboo shoot extract to the growth of edible amaranth plant. This was a (true experimental) research with Randomized Post-Text-Only Control Group Design as the research method. The given treatment consisted of one independent variable that was, giving various concentration of string bamboo shoot extract, such as 0%, 5%, 10%, 15%, 20%, and 25%. Data analysis in this research used one way ANOVA with significance level of 5% and was continued with the test of Least Significance Different (LSD). The results showed that the edible amaranth plant at the concentration of 25% string bamboo shoot, had the highest biomass with dry weight of 7.93 gr, height 49 cm, leaves number in amount of 25.75 strands, from all the treatments, and BNT testing showed that most effective amount of concentration used was at 5% with average different of 0.80gr in ratio 0% and 5%. It can be concluded that there was significant difference in giving string bamboo shoot extract with different concentration on the growth of edible amaranth plant.keyword : Amaranthus tricolor L., concentration, growth, Gigantochloa apus.
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI JAMUR PENYEBAB PENYAKIT LAYU DAN ANTAGONISNYA PADA TANAMAN KENTANG YANG DIBUDIDAYAKAN DI BEDUGUL, BALI Ida Ayu Putu Suryanti; Yan Ramona; Meitini W. Proborini
Jurnal Biologi Udayana Vol 17 No 2 (2013): Jurnal Biologi
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.07 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jamur penyebab penyakit layu pada tanaman kentang dan mengisolasi antagonisnya dari daerah rhizosphere tanaman tersebut yang dibudidayakan di Desa Candikuning, Bedugul, Bali. Untuk mendeteksi patogen penyebab penyakit tersebut, pada penelitian diterapkan Postulat Koch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Fusarium oxysporum isolat A dan B merupakan dua isolat yang terindikasi sebagai penyebab penyakit layu pada tanaman kentang. Pada penelitian ini tiga isolat jamur antagonis (Trichoderma spp. isolat A, Trichoderma spp. isolat B, dan Aspergillus niger) berhasil diisolasi dari daerah rhizosphere tanaman kentang. Uji antagonis (in vitro) dengan menggunakan dual culture assay menunjukkan semua antagonis menghambat pertumbuhan jamur patogen Fusarium dengan persentase hambatan yang bervariasi antara 36,57 - 75,76%. Trichoderma spp. isolat A menunjukkan hasil terbaik dalam menghambat pertumbuhan jamur patogen, dengan persentase hambatan sebesar 75,76%. Sementara itu, persentase hambatan terkecil (36,57%) pada patogen teramati pada Aspergillus niger.
KECEPATAN REGENERASI EKOR KADAL (Mabouya multifasciata) PADA SUHU LINGKUNGAN BERBEDA I Kadek Hartawan .; Drs.I Ketut Artawan,M.Si .; Ida Ayu Putu Suryanti,S.Si.,M.Si .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 2 No. 1 (2015)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v2i1.5401

Abstract

Mekanisme regenerasi adalah kemampuan organisme untuk mengganti bagian-bagian tubuh yang hilang, baik karena luka, rusak maupun karena mengalami autotomi. Bangsa Lacertilia (cicak, tokek, dan kadal) melakukan mekanisme regenerasi ini pada bagian ekor. Proses regenerasi ekor bangsa Lacertilia (cicak, kadal, dan tokek) dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal salah satunya suhu lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap kecepatan regenerasi ekor kadal (Mabouya multifasciata). Rancangan penelitian ini menggunakan Quasi Eksperiment, dengan model Posttest Only, Non-Equivalent Control Group Design. Subyek dalam penelitian ini menggunakan 30 ekor kadal berjenis kelamin jantan. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif berdasarkan hasil data kecepatan regenerasi ekor kadal pada suhu lingkungan berbeda. Data penelitian yang diperoleh, dapat terlihat rerata ukuran ekor regenerat kadal yang terbentuk pada suhu 22 0C, 27 0C, dan 32 0C berurutan adalah 0.06 cm/hari, 0.11 cm/hari, dan 0.18 cm/hari. Kadal melakukan proses regenerasi ekor lebih intensif pada 8-28 hari setelah terjadi amputasi. Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa terdapat pengaruh variasi perlakuan suhu lingkungan terhadap kecepatan regenerasi ekor kadal (Mabouya multifasciata). Pada perlakuan pada suhu 32 0C menghasilkan kecepatan regenerasi yang maksimal yaitu dengan rata-rata pertumbuhan ukuran ekor 0.18 cm/hari.Kata Kunci : kadal, kecepatan regenerasi, suhu Regeneration mechanism is the ability of an organism to replace body parts missing, either because of injuries, damaged or because of a autotomi. Ordo Lacertilia (lizards, geckos, and lizards) perform this regeneration mechanism in the tail. The regeneration of the tail of the nation Lacertilia (lizard, lizard and gecko) is influenced by internal factors and external factors one of which is the temperature of the environment. This study aims to determine the effect of temperature on the speed of regeneration of the tail lizard (Mabouya multifasciata). The design of this study using a quasi experiment, with the model Posttest Only, Non-Equivalent Control Group Design. The subjects in this study using 30 male sex lizards. In this research using descriptive method based on the regeneration speed data lizards at different ambient temperatures. The research data obtained, it can be seen the average size regenerat lizard tail formed at a temperature of 22 0C, 27 0C and 32 0C sequence is 0.06 cm / day, 0.11 cm / day, and 018 cm / day. The process regeneration of Lizard tail is more intensive in 8-28 days after the amputation. Based on this study concluded that there are significant variations in the environmental temperature treatment to speed the regeneration of the tail lizard (Mabouya multifasciata). In the treatment at a temperature of 32 0C produces a maximum speed of regeneration that with an average growth of the tail size 0.18 cm / day.keyword : Lizard, regeneration speed, temperature
ANALISIS SPEKTRUM LIFE FORM DAN FISIOGNOMI SPESIES TUMBUHAN PADA KAWASAN VEGETASI DENGAN ALTITUDE BERBEDA DI BENTANGAN BUKIT DESA PENUKTUKAN (TEJAKULA) SAMPAI DESA SIAKIN (KINTAMANI) Ayu Seoulina .; Prof. Dr. Nyoman Wijana,M.Si .; Ida Ayu Putu Suryanti,S.Si.,M.Si .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 2 No. 1 (2015)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v2i1.5879

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui spektrum life form dan fisiognomi spesies tumbuhan pada kawasan vegetasi dengan altitude berbeda di bentangan bukit Desa Penuktukan (Tejakula)-Desa Siakin (Kintamani). Jenis penelitian ini adalah penelitian eksploratif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh spesies tumbuhan pada kawasan vegetasi dengan altitude berbeda, di bentangan bukit pada ketinggian 0 (mdpl), 800 (mdpl), dan 1.600 (mdpl). Teknik pengambilan sampel secara sistematik sampling. Pengumpulan data life form dengan pengamatan morfologi tumbuhan berdasarkan kategori life form menurut Raunkier. Pengumpulan data fisiognomi dengan cara melakukan pengamatan spesies tumbuhan berdasarkan kategori fisiognomi menurut Danserau. Data life form dan fisiognomi dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) Spektrum life form pada altitude yang berbeda menunjukkan life form Phanerophyte memiliki persentase tertinggi di setiap altitude. Pada altitude 0 mdpl (84%), 800 mdpl (85%), dan 1.600 mdpl (86%). (2) Fisiognomi kawasan vegetasi pada ketiga altitude memperlihatkan fisiognomi yang berbeda-beda. Pada altitude 0 mdpl menunjukkan fisiognomi 3 strata, altitude 800 mdpl menunjukkan fisiognomi 2 strata. Pada altitude 1.600 mdpl menunjukkan fisiognomi kawasan hutan yang terdiri dari 3 strata sedangkan kawasan perkebunan terdiri dari 1 strata. Kata Kunci : Kata Kunci: Life form, Fisiognomi, Vegetasi, Altitude The purpose of this research was to know the spectrum of life forms and physiognomy plant species on vegetation region with different altitude in the hill of Penuktukan village (Tejakula)-Siakin village (Kintamani). This research is a kind of exploratory research. The population in this research are all species of plants in the vegetation region with different altitude, on a stretch of hills at an altitude of 0 (masl), 800 (masl), 1.600 (masl). Technical sampling used systematic sampling. Data life form collected by observing morphology of plants according to life form category by Raunkier. Data physiognomy collected by observing species of plant according to physiognomy category by Danserau. Data life form and physiognomy analyzed descriptively. The result of this research indicate (1) The spectrum of life form at the different altitude showed Phanerophyte has the largest percentage in any altitude. At an altitude 0 masl (84%), 800 masl (85%), 1.600 masl (86%). (2) Physiognomy of vegetation region at different altitude showed different physionomy. At altitude 0 masl showed 3 strata, altitude of 800 masl showed 2 strata. At altitude of 1.600 masl showed the forst area consists of 3 strata and the plantation area consists of 1 strata.keyword : Key word: Life Form, Physiognomy, Vegetation, Altitude
ANALISIS KARAKTERISTIK KOMUNITAS TUMBUHAN DENGAN SUMMED DOMINANCE RATIO (SDR) DAN ORDINASI TEGAKAN BERBASIS ARAH KONTUR DI BUKIT PENULISAN, KECAMATAN KINTAMANI, BANGLI Tirta Pratiwi Ni Komang .; Prof. Dr. Nyoman Wijana,M.Si .; Ida Ayu Putu Suryanti,S.Si.,M.Si .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 2 No. 1 (2015)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v2i1.5959

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies tumbuhan yang menjadi karakteristik komunitas berdasarkan SDR dan pola ordinasi tegakan, pada arah kontur yang berbeda di Bukit Penulisan, Kintamani, Bangli. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuadrat, dengan ukuran 20x20 m untuk tumbuhan kategori mature, 10x10m untuk sapling, dan 1x1m untuk kategori seedling, yang diletakkan dengan teknik sistematic sampling. Analisis karekteristik dilakukan dengan penghitungan Summed Dominance Ratio (SDR) dari masing-masing spesies yang searah dan memotong arah kontur. Pola ordinasi tegakan dianalisis melalui statistik ekologi. Hasil penelitian menunjukkan (1) spesies tumbuhan yang menjadi karakteristik komunitas searah kontur adalah Pinus merkusii dengan SDR 15,49% dan karakteristik memotong kontur adalah Eucalyptus urophylla dengan SDR 10,06%, dan (2) Pola ordinasi yang terbentuk pada komunitas searah kontur dan memotong adalah pola kontinu.Kata Kunci : Karakteristik komunitas, SDR, Ordinasi tegakan, Bukit Penulisan The purpose of this research was to determine the species of plants which is characterized the community based on SDR and ordination of stands, on the different direction of contours in Penulisan Hills, Kintamani, Bangli. The research methods employed quadrat with plot size of 20x20m for mature category, 10x10m for sapling and 1x1m for seedling category. The placement of the plot followed sistematic sampling. The characteristic of plants community was analyzed by calculating the Summed Dominance Ratio (SDR) of each species on consisten dan consecutive countour of Penulisan Hills. Ordination of stands was analyzed by statistical ecology. The finding suggested that (1) Pinus merkusii with SDR value 15.49% was characterized the consisten countour of Penulisan Hills, while Eucalyptus urophylla with SDR value 10.06% characterized the consecutive countour, and The Ordination of stands on consisten dan consecutive countour was continuous.keyword : Characteristics of community, SDR, ordination of stands, Penulisan Hills
PEMBERIAN VARIASI BERAT KOMPOS DAUN ECENG GONDOK (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms) TERHADAP PERTUMBUHAN SAWI HIJAU (Brassica rapa var. parachinensis L.) I Luh Neni Ardani .; Dr. Ni Luh Putu Manik Widiyanti,S.Si,M .; Ida Ayu Putu Suryanti,S.Si.,M.Si .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 3 No. 1 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v3i1.7305

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pertumbuhan sawi hijau (Brassica rapa var. parachinensis) akibat pemberian variasi berat kompos daun eceng gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms) dan menentukan berat kompos daun eceng gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms) yang dapat menghasilkan berat kering tanaman sawi (Brassica rapa var. parachinensis L.) paling tinggi. Penelitian ini menggunakan daun Eceng Gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms) sebagai kompos untuk pertumbuhan Sawi Hijau (Brassica rapa var. parachinensis L.) dengan variasi berat 0 gram, 200 gram, 400 gram, 600 gram, dan 800 gram dalam setiap 3 kg tanah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan ulangan setiap perlakuan sebanyak 6 kali. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah tinggi tanaman, berat basah, berat kering, dan jumlah total daun. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan, diambil rerata dan dibuat grafik serta dianalisis dengan Analisis Varian (ANAVA) satu arah dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pertumbuhan sawi hijau (Brassica rapa var. parachinensis L.) akibat pemberian variasi berat kompos daun eceng gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms). Berat kompos daun eceng gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms) 400 gram dapat menghasilkan berat kering tanaman sawi (Brassica rapa var. parachinensis L.) paling tinggi yaitu 0,001 kg.Kata Kunci : Eceng Gondok, Kompos, Peningkatan, Pertumbuhan, Sawi Hijau The purpose of this research is to know the differences of growth of green mustard (Brassica rapa var. parachinensis) as a result the weight variation of leaves water hyacinth compost (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms) and determine the weight of the water hyacinth leaves compost (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms) which can result in the highest dry mustard (Brassica rapa var. parachinensis L.). This research were used the leaves of water hyacinth (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms) as compost for growth green mustard (Brassica rapa var. parachinensis L.) with weight variation 0 gram, 200 grams, 400 grams, 600 grams and 800 grams in 3 kg of soil. This research used Completely Randomized Design (CRD) and six times replication. The parameter was observed in this research are high crop, wet weight, dry weight, and total number of leaves. Data obtained from observation analyzed by One Way Analysis of Variance (ANOVA) and followed by a Significant Difference Test (SDT). The results of data analysis show that there are differences of growth of green mustard (Brassica rapa var. parachinensis L.) showed the increase of leaves water hyacinth compost (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms). Weight of leaves compost water hyacinth ( Eichhornia crassipes (Mart.) Solms ) 400 grams in highest dry mustard (Brassica rapa var. parachinensis L.) is 0,001 kg.keyword : Water Hyacinth, Compost, Improvement, Growth, Green Mustard
STUDI TENTANG STRUKTUR KOMUNITAS MOLUSKA BENTIK YANG HIDUP DI KAWASAN PANTAI PEMUTERAN KECAMATAN GEROKGAK Gusti Ngurah Yoga Pradipta .; Dr. Ida Bagus Jelantik Swasta,M.Si .; Ida Ayu Putu Suryanti,S.Si.,M.Si .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 3 No. 1 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v3i1.7488

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi, keanekaragaman dan kemelimpahan spesies moluska bentik yang hidup di kawasan pantai Pemuteran Kecamatan Gerokgak. Penelitian ini tergolong jenis penelitian deskriptif dan ekploratif. Penelitian ini menggunakan desain penelitian lapangan (field study) dan di lanjutkan dengan idemtifikasi di laboratorium. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh spesies moluska bentik yang hidup di pantai Pemuteran. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah spesies moluska bentik yang terdapat di dalam 15 kuadrat. Metode yang digunakan adalah metode kuadrat dengan teknik sistematik sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) komposisi spesies moluska bentik yang hidup di kawasan pantai Pemuteran terdiri dari 25 speseis dengan 173 individu, (2) moluska bentik yang hidup di pantai pemuteran memiliki indeks keanekaragaman sebesar 2,20 dan dinyatan keadalam kategori sedang, nilai indeks kekayaan spesies sebesar 4,66 nilai tersebut masih tergolong kategori sedang, nilai indeks kemerataan spesies sebesar 0,68 dan nilai indeks dominansi sebesar 0,07. (3) kemelimpahan relatif spesies tertinggi yaitu pada spesies Cypraea annulus dengan nilai sebesar 23,69 %, sedangkan kemelimpahan relatif terendah terdapat pada spesies Conus quercinus, Proxichione chemnitzi, Neritina oualaniensis masing-masing spesies tersebut memiliki nilai kelemimpahan relatif sebesar 0,57 %. Kepadatan spesies tertinggi terdapat pada spesies Cypraea annulus sebesar 2,73 /m2, kepadatan spesies terendah terdapat pada speseis Halgerda aurantiomaculata, Turbo cepoides, Conus chaldaeus masing-masing memiliki nilai kepadatan spesies yang sama yaitu 0,2 /m2. Kata Kunci : Kata Kunci : Keanekaragaman, Kemelimpahan, Moluska Bentik The study of the structure of mollusc bentic community which lives in pemuteran beach, gerokgak sub-district abstract the purpose of this stidy is to determine the composition, diversity, and variety of mollusc bentic species which lives in Pemuteran Beach, Gerokgak Sub-district. This study is a descriptive and explorative study. The design of this study is a field study design which continued by laboratory identification. The population of this study are the species of mollusc bentic in Pemuteran Beach. Meanwhile, the sample of this study is the species of mollusc bentic within 15 kuadrat. The method of this study is the kuadrat method with systematic sampling technique. The result of this study shows that (1)The composition of mollusc bentic in Pemuteran beach consists of 25 species and 173 individuals, (2)The mollusc bentic in Pemuteran Beach shows 2.20 diversity index which categorized as Medium. While the variety index is 4.46 which also categorized as medium. The distribution index is 0.68 meanwhile the dominant index is 0.07, (3) Cypraea annulus is the species of Mollusc Bentic with the highest variety index that is 23.69%. Meanwhile, Conus quescinus, Proxichione chemnitzi, Neritina oulaniensis are the species of mollusc bentic with the lowest variety index that is 0.57%. Cypraea annulus is the species with the highest distribution level that is 2.73/m2. On the other hand, Halgerda aurantiomaculata, Turbo cepoides, Conus chaidaneus are the species with the lowest distribution level that is 0.2/m2. keyword : Key words: Diversity, Variety, Mollusc Bentic
Antihiperglikemi Biji Lamtoro Gung (Leucaena leucocephala) terhadap Tikus Putih (Rattus norvegicus) yang di Induksi Glukosa Nyoman Ayu Tri Martriani .; Drs.I Ketut Artawan,M.Si .; Ida Ayu Putu Suryanti,S.Si.,M.Si .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 3 No. 1 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v3i1.7546

Abstract

Lamtoro gung dikenal sebagai pohon dengan berbagai kandungan dan mudah beradaptasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh dan dosis ekstrak biji lamtoro gung yang tepat berpengaruh terhadap penurunan kadar gula darah tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi glukosa. Penelitian ini berjenis Eksperimen sesungguhnya dengan data utama berupa selisih kadar gula awal dan akhirs serta dianalisis dengan uji ANAVA satu arah,uji Beda Nyata Terkecil, dan Uji Duncan pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian ini, yaitu: (1) Ekstrak biji lamtoro gung (Leucaena leucocephala) 1gr/kgBB, 2gr/kgBB dan 3gr/kgBB berpengaruh untuk menurunkan kadar glukosa darah dari tikus putih yang diinduksi glukosa karena flavonoid dan galaktomanan dengan efek menurunkan kadar glukosa darah melalui menghambat penyerapan alfa amilase dan alfa glukosidase, (2) Dosis ekstrak biji lamtoro gung (Leucaena leucocephala) 1gr/kgBB merupakan dosis yang paling efektif menurunkan kadar glukosa darah dari tikus putih karena kemampuan tubuh untuk menyerap obat herbal sudah maksimal.Kata Kunci : lamtoro gung, glukosa darah, ekstrak biji Lead tree known as a tree with various substances and adaptable. This research aims to determine the effect and dose of Lead tree seed extract precise effect on blood sugar levels drop Rattus norvegicus induced glucose. This research was the real experiment with key data as the blood glucoses difference and analyzed by one-way ANOVA, LSD, and the Duncan test at 5% significance level. The results, namely: (1) Lead tree (Leucaena leucocephala) seed extract 1g/kgBW, 2g/kgBW and 3g/kgBW effect of lowering blood glucose levels of rats induced glucose as flavonoids and galaktomanan by inhibiting the absorption of alpha-amylase and alpha-glucosidase, (2) dose of Lead tree (Leucaena leucocephala) seed extract 1g/kgBW is the most effective dose lowered blood glucose levels of the rats because the body's ability to absorb the herbal medicine has a maximum.keyword : Leucaena leucocephala, blood glucose, seed extract
STUDI KOMPARASI KEANEKARAGAMAN DAN KEMELIMPAHAN ECHINODERMATA PADA EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI KAWASAN PANTAI KEDUNGU DAN PANTAI MERTASARI Ni Putu Lilik Widiari .; Dr. Ida Bagus Jelantik Swasta,M.Si .; Ida Ayu Putu Suryanti,S.Si.,M.Si .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 3 No. 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v3i2.7888

Abstract

Penelitian mengenai komparasi keanekaragaman dan kemelimpahan echinodermata pada ekosistem terumbu karang di pantai Kedungu dan pantai Mertasari bertujuan untuk (1) mengetahui perbandingan keanekaragaman echinodermata pada ekosistem terumbu karang di kawasan Pantai Kedungu, Kediri,Tabanan dan di kawasan Pantai Mertasari, Sanur, Denpasar. (2) mengetahui perbandingan kemelimpahan echinodermata pada ekosistem terumbu karang di kawasan Pantai Kedungu, Kediri, Tabanan dan di kawasan Pantai Mertasari, Sanur, Denpasar. (3) mengetahui ada atau tidaknya perbedaan yang signifikan dalam hal keanekaragaman dan kemelimpahan echinodermata pada ekosistem terumbu karang di kedua kawasan pantai tersebut. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif eksploratoris. Rancangan penelitian ini adalah penelitian survei lapangan (field study) dan penelitian laboratorium Titik pengambilan sampel menggunakan metode transek. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Indeks diversitas (H’) spesies echinodermata di kawasan pantai Kedungu, Kediri, Tabanan tergolong sedang yaitu sebesar 1,038, kekayaan spesies (R) sebesar 1,4980, kemerataan spesies (E) sebesar 0,499 dan indeks dominasi (C) sebesar 0,5457 sedangkan indeks diversitas (H’) spesies echinodermata di kawasan pantai Mertasari, Sanur, Denpasar tergolong sedang yaitu sebesar 1,252, kekayaan spesies (R) sebesar 1,3854, kemerataan spesies (E) sebesar 0,643 dan indeks dominasi (C) sebesar 0,4293. (2) nilai kemelimpahan relatif (KR%) tertinggi di pantai Kedungu yaitu 72,8971% dari spesies Echinus sp. sedangkan pantai Mertasari sebesar 63,1578% dari spesies Echinus sp. (3) Terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal keanekaragaman dan kemelimpahan echinodermata antara pantai Kedungu, Kediri, Tabanan dan pantai Mertasari, Sanur, Denpasar Kata Kunci : keanekaragaman, kemelimpahan, echinodermata, pantai Kedungu, pantai Mertasari This study comparative research on the diversity and abundance of echinoderm at the coral reef ecosystem in the Kedungu beach and Mertasari beach aims at (1) comparing the diversity of echinoderms in the coral reef ecosystem in the area Kedungu Beach, Kediri, Tabanan and area of Mertasari Beach, Sanur, Denpasar. (2) comparing the abundance of echinoderm coral reef ecosystems in Kedungu Beach, Kediri, Tabanan and Mertasari Beach, Sanur, Denpasar. (3) determining whether there are significant differences in terms of diversity and abundance of echinoderms on coral reef ecosystems at both the beach area. This research is categorized as a descriptive study of exploratory. The design of this study is a field study and laboratory research. Sample of this study was taken by using transek. The results of this study showed that (1) Diversity index (H ') echinoderm in Kedungu, Kediri, Tabanan classified as average amount of 1.038, species wealth (R) was 1.4980, species evenness (E) of 0.499 and the dominance index (C) was at 0,5457 while the diversity index (H ') of Mertasari beach, Sanur, Denpasar was classified as average amount at 1.252, species wealth (R) was 1.3854, species evenness (E) was 0.643 and the dominance index (C) was 0,4293. (3) the highest values of relative abundance (KR%) was Kedungu beach which the amount was 72.8971% it was kind of the Echinus sp. while Mertasari beach which the amount was 63.1578% it was kind of the Echinus sp. (4) there is a significant differences in terms of diversity and abundance of echinoderms between the Kedungu beach, Kediri, Tabanan and Mertasari beach, Sanur, Denpasar keyword : diversity, abundance, echinoderms, Kedungu beach, Mertasasri beach
KOMBINASI AIR CUCIAN BERAS IR 64 DAN KOMPOS CAIR KULIT PISANG KEPOK (Musa acuminata) MENINGKATKAN PERTUMBUHAN TANAMAN CABAI MERAH BESAR (Capsicum annum L.) Ni Kadek Ria Paramita Lestari .; Prof. Dr. I Made Sutajaya,M.Kes. .; Ida Ayu Putu Suryanti,S.Si.,M.Si .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 3 No. 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v3i2.7929

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan pertumbuhan tanaman cabai merah besar (Capsicum annum L.) dengan pemberian air cucian beras IR 64, kompos cair kulit pisang kepok dan interaksi dari air cucian beras IR 64 dengan kompos cair kulit pisang kepok. Rancangan yang digunakan adalah rancangan faktorial 3x3 dengan 4 kali ulangan dengan volume 0 ml, 100 ml dan 200 ml. Parameter yang diamati adalah tinggi, jumlah daun, dan berat basah tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian air cucian beras, kompos cair kulit pisang kepok dan interaksi dari air cucian beras IR 64 dengan kompos cair kulit pisang kepok meningkatkan tinggi, jumlah daun, dan berat basah tanaman. Volume air cucian beras IR 64 terbaik adalah 200 ml dengan peningkatan sebesar 83,5%, volume kompos cair kulit pisang kepok terbaik adalah 100 ml dengan peningkatan sebesar 96,8%, dan interaksi antara 200 ml air cucian beras IR 64 dengan 100 ml kompos cair meningkat sebesar 113%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa interaksi antara air cucian beras IR 64 200 ml dan kompos cair kulit pisang kepok 100 ml paling optimal dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman cabai merah besar (Capsicum annum L.).Kata Kunci : Air cucian beras, kompos cair, kulit pisang kepok, pertumbuhan, cabai merah besar. This study aims to determine the increase in the growth of large red chili pepper plant (Capsicum annum L.) by giving IR 64 rice water, liquid compost banana peels kepok and a interaction of IR 64 rice water with liquid compost banana peels kepok (Musa acuminata). The design used was a 3x3 factorial design with four replications with a volume of 0 ml, 100 ml and 200 ml. Parameters measured were height, number of leaves and the plant fresh weight. The results showed that addition of IR 64 rice water, liquid compost banana peels kepok and a combination of IR 64 rice water with liquid compost banana peels kepok increase the height, number of leaves and the plant fresh weight. The volume of IR 64 rice water is best to 200 ml with an increase of 83.5%, the volume of liquid compost banana peels kepok is 100 ml with an increase of 96.8 %, and a interaction of 200 ml IR 64 rice water with 100 ml of liquid compost increased by 113 %. It can be concluded that the combination of IR 64 rice water and 200 ml of liquid compost banana peels 100 ml kepok most optimal in increasing plant growth large red chilli pepper ( Capsicum annum L. )keyword : Water washing rice, liquid compost, banana peels kepok, growth, big red chili
Co-Authors ., ANA MAULANA ., Desi Asrini Jumia Miarti ., Dewa Putu Surya d ., Dwi Agus Satyawati ., Gusti Ngurah Yoga Pradipta ., I Gede Surya Natha ., I Luh Neni Ardani ., I Made Dicky Satya Narayana ., I Putu Esha Darmawan ., I Wayan Eva Widi Pratama ., IB PUTU EKA WEDANTA ., Kadek Agus Priady Wahyu Winantha ., Kadek Sera Harlistya Udayani ., Ketut Eka Nudastra ., Made Dwi Oktaviani ., Ngakan Putu Ari Krisna Pratama ., Ni Made Widnyani ., Ni Putu Asrini ., Ni Putu Ayu Meita Kurniawati ., Ni Putu Hendrayani ., Ni Putu Indah Kumala Sari ., Ni Putu Lilik Widiari ., NURUL HIDAYAH ., Nyoman Ayu Tri Martriani ., Stanislaus Putu Mikael Mba Balu Ajeng Purnama Heny ANA MAULANA . Ayu Seoulina . Ayu Seoulina ., Ayu Seoulina Desak Made Citrawathi Desi Asrini Jumia Miarti . Dewa Putu Surya d . Drs.I Ketut Artawan,M.Si . Dwi Agus Satyawati . Gusti Ngurah Yoga Pradipta . I Gede Surya Natha . I Gusti Agung Nyoman Setiawan I Kadek Hartawan . I Kadek Hartawan ., I Kadek Hartawan I Luh Neni Ardani . I Made Dicky Satya Narayana . I Made Sutajaya I Nyoman Wijana I Putu Esha Darmawan . I Wayan Eva Widi Pratama . I Wayan Sukra Warpala IB PUTU EKA WEDANTA . Ida Bagus Jelantik Swasta Kadek Agus Priady Wahyu Winantha . Kadek Sera Harlistya Udayani . Ketut Eka Nudastra . Ketut Srie Marhaeni Julyasih Made Dwi Oktaviani . Meitini Proborini Wahyuni Ngakan Putu Ari Krisna Pratama . Ni Kadek Ria Paramita Lestari . NI LUH PUTU MANIK WIDIYANTI Ni Made Widnyani . Ni Putu Asrini . Ni Putu Ayu Meita Kurniawati . Ni Putu Hendrayani . Ni Putu Indah Kumala Sari . Ni Putu Lilik Widiari . Ni Putu Nila Ristiari Ni Putu Ristiati Nurul Hidayah . Nyoman Ayu Tri Martriani . Pradipta Utama, Putu Anggan Putu Anggan Pradipta Utama Putu Budi Adnyana Rachmadhani Rachmadhani Ristiari, Ni Putu Nila Stanislaus Putu Mikael Mba Balu . Sujana, P. Krisna Widyantara Tirta Pratiwi Ni Komang . Tirta Pratiwi Ni Komang ., Tirta Pratiwi Ni Komang Yan Ramona Yuliana, Ina