Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

CEGAH ANEMIA SANTRIWATI DI WILAYAH PONDOK PESANTREN KOTA SURABAYA Mairo, Queen Khoirun Nisa’; Jeniawaty, Sherly; Ginarsih, Yuni; Ngestiningrum, Ayesha Hendriana; Harumi, Ani Media; Alfiah, Siti; Purwanti, Dwi; Sari, Ira Rahayu Tiyar
MAJU : Indonesian Journal of Community Empowerment Vol. 2 No. 6 (2025): MAJU : Indonesian Journal of Community Empowerment, November 2025
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/maju.v2i6.1900

Abstract

Anemia remains a global public health problem and continues to pose a significant burden in many developing countries. Several national and regional studies have reported that the prevalence of anemia among adolescent girls ranges from 14% to 50%, depending on location and survey methods, with many studies showing rates exceeding 30% in certain populations. Female students (santriwati) living in Islamic boarding schools (pondok pesantren) are particularly vulnerable to anemia. Common contributing factors include inadequate iron intake, irregular communal eating practices, limited nutritional knowledge, excessive menstrual bleeding, and restricted access to health services. The implementation of the community engagement program consisted of three main stages: (1) Socialization and initial hemoglobin (Hb) screening to obtain a preliminary overview of anemia status; (2) Health education and interactive discussions delivered through lectures, question-and-answer sessions, and educational video presentations; and (3) Evaluation and post-activity monitoring through joint reflections involving both the boarding school administrators and the participants. The combination of Hb screening, interactive counseling sessions, leaflet-based educational media, and institutional support from the boarding schools proved effective in creating a conducive environment for promoting healthy behaviors. However, challenges such as limited availability of Hb testing equipment and negative perceptions toward iron supplementation still need to be addressed through continuous approaches and cross-sectoral collaboration.
PENGETAHUAN TERHADAP KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA PUTRI DI PONDOK PESANTREN Queen Khoirun Nisa’ Mairo; Islami Islami
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 5, No 2 (2014): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masa  remaja  merupakan  suatu  periode  rentan  kehidupan  manusia  yang  sangat  kritis terutama  terkait  dengan  kesehatan  reproduksinya.  Salah  satu  faktor  yang  berpengaruh terhadap  kesehatan  reproduksi  remaja  putri  adalah  pengetahuan.  Pondok  pesantren merupakan  lembaga  pendidikan  Islam  tertua  yang bercirikan  religious  dan  asrama  yang beberapa  diantaranya  tertutup  dari  informasi  luar,.  Pondok  pesantren  salafiyah  seperti pondok  pesantren  Darul  Falah  Pusat  merupakan  salah  satunya.  Tujuan   penelitian  ini adalah untuk mengetahui korelasi antara pengetahuan dengan kesehatan reproduksi remaja putri di pondok pesantren.Jenis  penelitian  ini  adalah  observasional  analitik  dengan  rancangan  cross  sectional. Subjek  penelitian  adalah  remaja  putri  di  pondok  pesantren  Darul  Falah  Pusat  Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur sebanyak 50 responden yang berusia 14-18 tahun. Analisis univariabel dilakukan dengan distribusi frekuensi dan analisis bivariabel dengan Sperman Hasil  analisis  data  menunjukkan  bahwa  remaja  yang  bermasalah  dalam  kesehatan reproduksi  76%  dan  24%  tidak  bermasalah,  dan  faktor  pengetahuan   (r=0,002)  memiliki korelasi dengan kesehatan reproduksi remaja putri di pondok pesantren. Dari  penelitian  ini  disimpulkan  bahwa  kesehatan  reproduksi  remaja  putri  di  pondok pesantren yang bermasalah masih tinggi, seperti keputihan dan kebersihan organ reproduksi dengan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi masih rendah.
Kecemasan, Riwayat Preeklampsia dan Kejadian Preeklampsia Pada Ibu Hamil Multigravida Firda Amalia Hardianti; Queen Khoirun Nisa Mairo
Jurnal Keperawatan Terapan Vol 4 No 1 (2018): Jurnal Keperawatan Terapan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31290/jkt.v(4)i(1)y(2018).page:21-26

Abstract

Ibu hamil dengan kecemasan tinggi dan memiliki riwayat preeklampsia berisiko mengalami preeklampsia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kecemasan dan riwayat preeklampsia dengan kejadian preeklampsia pada ibu hamil multigravida. Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan rancangan penelitian crossectional. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling sejumlah 72 responden. Pengumpulan data dengan kuesioner dan data rekam medis. Analisa data dihitung dengan menggunakan Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden (90 persen) responden yang preeklampsia mengalami kecemasan. Hasil uji statisik Chi Square didapatkan p sebesar 0,00. Ada hubungan antara kecemasan dan riwayat preeklampsia dengan kejadian preeklampsia pada ibu hamil multigravida.
EDUKASI KADER TENTANG GIZI SEIMBANG CALON PENGANTIN SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN STUNTING Queen Khoirun Nisa’ Mairo; Siti Alfiah; Sukesi Sukesi; Kasiati Kasiati; Ade Zakiya Tasman Munaf; Agustina Mar’atus Sholichah; Tatarini Ika Pipitcahyani; Dina Isfentiani; Rijanto Rijanto
MAJU : Indonesian Journal of Community Empowerment Vol. 3 No. 2 (2026): MAJU : Indonesian Journal of Community Empowerment, Maret 2026
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/maju.v3i2.2404

Abstract

Stunting remains a chronic nutritional problem that affects physical growth, cognitive development, and human resource quality. Prevention efforts should begin during the preconception period through improving nutritional knowledge among prospective brides and grooms. Community health cadres play a strategic role as health educators at the community level. This community service program aimed to enhance cadres’ awareness, commitment, and knowledge regarding balanced nutrition for prospective couples as a strategy to prevent stunting. A community-based participatory approach was employed through interactive education sessions, group discussions, case studies, demonstrations of balanced local food menus, and pre-test and post-test evaluations. A total of 35 health cadres participated in the program. Most participants were aged 31–50 years (57%) and had secondary education (66%). The proportion of cadres with good knowledge increased from 57% in the pre-test to 86% in the post-test. Qualitatively, cadres demonstrated improved awareness, active participation, and commitment to integrating nutrition education into routine posyandu activities and counseling for prospective couples. The program positively strengthened cadres’ capacity as health promotion agents and shows potential sustainability through community empowerment. Preconception nutrition education for cadres is recommended as a promotive and preventive strategy to accelerate stunting reduction at the community level.