Claim Missing Document
Check
Articles

STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN GUSHCLOUD INDONESIA DALAM MEMASARKAN PRODUK ES KRIM GLICO WINGS Angelia Esa Kalingga; Chatia Hastasari
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 5 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v2i5.16372

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui bagaimana strategi komunikasi pemasaran Gushcloud Indonesia dalam memasarkan produk es krim Glico Wings. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Informan dalam penelitian ini dipilih menggunakan teknik purposive sampling yaitu Business Development Executive dan Business Development Manager Gushcloud Indonesia untuk campaign es krim Glico Wings. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi. Teknik pemeriksan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber. Analisis data dimulai dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi pemasaran Gushcloud Indonesia dalam memasarkan produk es krim Glico Wings meliputi enam elemen bauran pemasaran, yaitu: (1) Ada limabelas jenis produk es krim Glico Wings yang dipromosikan oleh Guhscloud Indonesia. (2) Harga es krim Glico Wings dimulai dari Rp 1.000,00 sampai dengan Rp 12.000,00. (3) Es krim Glico Wings didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia yang meliputi Pulau Jawa, Sumatra dan Kalimantan serta tempat-tempat seperti Supermarket bahkan warung-warung kecil. (4) Promosi yang dilakukan oleh Gushcloud Indonesia memanfaatkan media sosial Blog, Instagram, dan Youtube milik digital influencer, promo potongan harga dan kompetisi berhadiah. (5) Ada empat digital influencer utama dalam campaign es krim Glico Wings yaitu Salshabilla, Arief Muhammad – Tiara Pangestika, Chandra Liow dan Anak Jajan. (6) Bukti Fisik, An attention-creating medium, perusahaan es krim Glico Wings melakukan diferensiasi pada bentuk produknya. As a message-creating medium, es krim Glico Wings membranding dirinya sebagai es krim nomor satu dari Jepang.Kata kunci: komunikasi, pemasaran, Gushcloud Indonesia 
ANALISIS KOMUNIKASI KELOMPOK PADA KOMUNITAS YOGYAKARTA MENGAJAR DALAM MEMBANGUN KOHESIVITAS ANALYSIS OF GROUP COMMUNICATION IN YOGYAKARTA MENGAJAR COMMUNITY IN BUILDING COHESIVENESS nabila ayu maharani; chatia hastasari
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 3, No 3 (2020): Lektur:Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v3i3.16931

Abstract

ANALISIS KOMUNIKASI KELOMPOK PADA KOMUNITAS YOGYAKARTA MENGAJAR DALAM MEMBANGUN KOHESIVITAS ANALYSIS OF GROUP COMMUNICATION IN YOGYAKARTA MENGAJAR COMMUNITY IN BUILDING COHESIVENESS Oleh: Nabila Ayu Maharani, 16419144026, Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakartanabila.ayu2016@student.uny.ac.id AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk 1) mengetahui proses komunikasi kelompok yang ada pada komunitas Yogyakarta Mengajar, dan 2) mengetahui hambatan proses komunikasi kelompok pada komunitas Yogyakarta Mengajar dalam membangun kohesivitas kelompok. Penelitian yang dilaksanakan di Kota Yogyakarta ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Informan dalam penelitian ini dipilih dengan menggunakan teknik purposive, yang diantaranya: ketua komunitas Yogyakarta Mengajar periode 2018 – 2019, ketua komunitas Yogyakarta Mengajar 2019 – 2020, pengurus komunitas Yogyakarta Mengajar 2019 – 2020, dan dua relawan anggota komunitas Yogyakarta Mengajar 2018 – 2019. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah wawancara dan studi dokumentasi. Data penelitian selanjutnya dianalisis menggunakan model interaktif milik Miles dan Huberman. Sedangkan untuk teknik keabsahan data, penelitian ini menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan: 1) komunikasi kelompok yang dilakukan relawan anggota komunitas Yogyakarta Mengajar berhasil membangun kohesivitas meski belum maksimal. Kohesivitas kelompok yang terbangun di setiap wilayah dampingan komunitas Yogyakarta Mengajar lebih besar dibandingkan dengan kohesivitas komunitas Yogyakarta Mengajar secara umum karena ukuran kelompok yang lebih kecil dan interaksi antar relawan yang lebih sering terjadi. 2) terdapat gangguan semantik, yaitu perbedaan penggunaan bahasa dan logat yang menjadi hambatan implementasi komunikasi kelompok antar relawan anggota. Hambatan ini juga terjadi ketika melakukan komunikasi dengan warga di sekitar wilayah dampingan komunitas Yogyakarta Mengajar.Kata Kunci: Komunikasi Kelompok, Kohesivitas Kelompok, Komunitas Sosial Yogyakarta. AbstractThe purpose of this study are to 1) to know the existing group communication procesess among Yogyakarta Mengajar community, and 2) find out the obstacles of group communication procesess within  Yogyakarta Mengajar community in building a group cohesiveness. This research, which was conducted in the city of Yogyakarta, used descriptive research with a qualitative approach. Informants in this study were selected using purposive techniques, which included: the head of the Yogyakarta Mengajar community from 2018 - 2019, the head of the Yogyakarta Mengajar community 2019 - 2020, the organizer of the Yogyakarta Mengajar community 2019 - 2020, and two volunteer members of the Yogyakarta Mengajar community 2018 - 2019. The data collection method in this research are interview and documentation study. Subsequent research data were analyzed using Miles and Huberman's interactive model. As for the data validity technique, this study uses source triangulation. The results showed: 1) group communication conducted by volunteers from the members of the Yogyakarta Mengajar community succeeded in building cohesiveness although it was not yet maximized. The group cohesiveness that is built in each area that is assisted by the Yogyakarta Mengajar community is greater than the cohesiveness of the Yogyakarta Teaching community in general because of the smaller group size and the more frequent interactions between volunteers. 2) there is a semantic disturbance, which is the difference of language and accent used that become obstacles of implementing group communication among volunteers. This obstacle also occurs when communicating with local people of the that is assisted by Yogyakarta Mengajar community.Keywords: Group Communication, Group Cohesiveness, Yogyakarta Social Community. 
ANALISIS SWOT STRATEGI KOMUNIKASI INTERNAL PEGAWAI PADA KANTOR CABANG BPJS KETENAGAKERJAAN KOTA YOGYAKARTA Dennis Inggil Graita; Chatia Hastasari
Lektur, Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1, No 1 (2018): Lektur, Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Departemen Ilmu Komunikasi UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v1i1.12623

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana  komunikasi internal pegawai Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaann Kota Yogyakarta dan bagaimana hasil analisis SWOT dari strategi komunikasi internal pada Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Kota Yogyakarta. Saat ini komunikasi internal pada sebuah organisasi merupakan sumber kekuatan keberhasilan sebuah organisasi. Komunikasi internal dapat membantu pegawainya dalam melakukan tugas, pekerjaannya agar lebih baik. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan sumber data primer terdiri dari 4 orang yaitu Kepala Bidang Umum dan SDM , Kepala Bidang Pelayanan dan 2 staff Bidang Umum dan SDM. Selanjutnya sumber data sekunder yang berjumlah 3 orang terdiri dari pelanggan Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Kota Yogyakarta. Penelitian dilakukan di Kantor BPJS Ketenagakerjaan yang beralamat di JL. Urip  Sumoharjo No. 106 Yogyakarta 55222. Hasil penelitian ini menunjukkan 1) Komunikasi internal yang diterapkan oleh para pegawai Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Kota Yogyakarta lebih dominan mengikuti pola peraturan dan kebijakan yang dibuat oleh kantor pusat. Namun demikian keterbatasan dalam wewenang pengambilan keputusan, tidak menjadi penghambat bagi mereka dalam mengembangkan dan mengimplementasikan ide-ide kreatif. 2) Hasil analisis SWOT pada strategi komunikasi internal pegawai Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Kota Yogyakarta terdiri dari : a) Kreativitas yang selalu dikembangkan menjadi sebuah motivasi bagi pegawai dalam  melakukan pekerjaannya. b) Dukungan dari pihak lain dalam pengembangan ide menjadikan kerja giat yang dilaksanakan oleh pegawai KC BPJS Ketenagakerjaan terus meningkat. c) Peningkatan kualitas pelayanan sehingga kepercayaan masyarakat terhadap BPJS terutama KC BPJS Kota Yogyakarta terus meningkat. d) Menjalin kerja sama dengan pihak perguruan tinggi dan Sekolah Menengah kejuruan untuk Program Kerja Lapangan (PKL) di KC BPJS Ketenagakerjaan Kota Yogyakarta. e) Mendidik siswa siswi yang melakukan program PKL dengan baik, sesuai dengan standard yang sudah ditetapkan.Kata Kunci :    Analisis SWOT, Komunikasi Internal, Strategi Komunikasi Internal, dan  BPJS Ketenagakerjaan Kota Yogyakarta
REPRESENTASI KETIDAKADILAN GENDER TERHADAP PEREMPUAN DALAM FILM MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES) Putri Pratiwi Adiningsih; Chatia Hastasari
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 5 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v2i5.16366

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: 1) representasi ketidakadilan gender terhadap perempuan pada film ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’ melalui pendekatan semiotika Roland Barthes; 2) pesan yang disampaikan melalui audiovisual kepada audiens film ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode semiotika Roland Barthes. Objek penelitian ini adalah film festival berjudul ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’ yang ditayangkan secara regular di bioskop Indonesia pada tahun 2018. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan studi pustaka terhadap konten yang terkandung pada film ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’ berdasarkan landasan teori yang ada. Validitas data yang diperoleh diuji menggunakan validitas teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) ketidakadilan gender terhadap perempuan direpresentasikan melalui empat bentuk, a) marginalisasi, digambarkan melalui pengabaian hak-hak perempuan yang dilakukan oleh masyarakat dan lembaga negara b) subordinasi, digambarkan melalui penomorduaan perempuan setelah laki-laki yang berakibat pemosisian perempuan pada ranah domestik, sedangkan laki-laki pada ranah publik c) stereotip, digambarkan melalui pengungkapan stigma perempuan berstatus janda dan perempuan memiliki sifat lemah dan d) kekerasan, digambarkan melalui tiga bentuk kekerasan yaitu verbal, seksual, dan fisik; 2) terdapat dua pesan yang disampaikan melalui tanda audiovisual: a¬) sistem patriarki terpelihara dalam kebudayaan, hal ini dikarenakan budaya memiliki unsur normatif yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia b) perempuan yang hidup di lingkungan patriarki harus bisa melindungi dirinya.Kata Kunci: Semiotika model Roland Barthes, representasi, ketidakadilan gender terhadap perempuan, dan film. ABSTRACTThis study aims to describe: 1) the representation of gender injustice against women in the film ‘Marlina The Murderer in Four Acts’ through Roland Barthes's semiotic approach; 2) messages delivered through audiovisuals to the audience of the film ‘Marlina The Murderer in Four Acts’. This research is a qualitative research using the Roland Barthes semiotics method. The object of this study is a festival film entitled ‘Marlina The Murderer in Four Acts’ which is aired regularly in Indonesian cinemas in 2018. Data collection techniques used are observation and literature study of the content contained in the film ‘Marlina The Murderer in Four Acts’ based on the existing theoretical basis. The validity of the data obtained was tested by using technical validation. The results showed that: 1) gender injustice against women is represented through four forms, a) marginalization, depicted through the neglect of women's rights by the citizen and state institution b) subordination, depicted through the subordination of women after men which results in the positioning of women in the realm of domestic, while men are in the public sphere c) stereotypes, depicted through the disclosure of the stigma of widowed women and the nature of women is being weak, and d) violence, depicted through three forms of violence namely verbal, sexual, and physical; 2) there are two messages conveyed through audiovisual signs: a) patriarchy system is maintained in the culture, this happens because culture has normative elements that regulate various aspects of human life b) women who live in patriarchal environment must be able to protect themselves.Keywords: Roland Barthes’ semiotics model, representation, gender injustice towards women, and film
PENERAPAN PATERNITY LEAVE SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DALAM KELUARGA (Studi pada Pegawai Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah Bantul) Irfan Sharif Lukman; Chatia Hastasari
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 5 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v2i5.16375

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan paternity leave yang dapat meningkatkan kualitas komunikasi interpersonal dalam keluarga dan untuk mengetahui manfaat penerapan paternity leave dalam keluarga saat di awal kelahiran bayi. Penelitian ini dilakukan pada Rumah Sakit Umum (RSU) PKU Muhammadiyah Bantul sebagai salah satu instansi yang menerapkan cuti paternity leave. Penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif ini menggunakan informan tiga  perawat laki-laki pada Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah Bantul yang mendapatkan cuti paternity leave. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik purposive sampling. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi sumber. Analisis data menggunakan tahap pengumpulan data, reduksi data, display data serta verifikasi dan penegasan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan paternity leave sebagai upaya meningkatkan kualitas komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh suami adalah 1) Komunikasi interaksional berupa interaksi sederhana seperti melakukan obrolan ringan seputar kesehatan istri, kondisi bayi dan makanan yang dikonsumsi istri sehingga mendukung pemberian ASI eksklusif untuk bayi, 2) Komunikasi stimulus-respon (S-R) berupa sentuhan ringan pada bayi, menggendong bayi, mengusap dan membelai bayi dan melantunkan ayat suci Al-Qur’an yang dapat memberikan rasa nyaman pada bayi, 3) Komunikasi ABX berupa pengertian dan toleransi satu sama lain, dengan memberi nasehat, menanyakan sesuatu hal sebelum dilakukan dan menjadi pendengar yang baik. Selain hal tersebut, terdapat manfaat diterapkannya paternity leave, 1) Paternal engagement, dimana ayah berinteraksi dan memiliki kontak langsung dengan bayi. Kontak langsung yang diberikan berupa sentuhan ringan dan usapan kepada bayi.  Hal ini dapat menjadi cikal kelekatan ayah dengan bayi, 2) Paternal accessibility, ayah dapat memberikan waktu lebih kepada istri dan buah hati tercinta. Akses waktu yang intensif selama dari suami kepada istri pasca persalinan dapat membantu istri dalam pemulihan mental dan fisik, 3) Paternal responsibility, merupakan tanggungjawab dari suami kepada istri dan anaknya. Hal ini dilakukan dengan memberi nasehat mengenai kesehatan istri dan bayi, memberi pilihan lokasi untuk periksa rutin istri dan bayi serta menimbulkan rasa nyaman pada sang istri. Kata Kunci: Paternity Leave, Komunikasi Interaksional, Komunikasi Stimulus-Respons, Komunikasi ABX.
Analisis strategi komunikasi pemasaran Preksu dan Hara Chicken di Yogyakarta Reiyugi Sabilla; Chatia Hastasari
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 3, No 4 (2020): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v3i4.17060

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi komunikasi pemasaran Preksu dan Hara Chicken beserta hambatannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Informan terdiri dari tiga orang pada bidang marketing Preksu dan Hara Chicken, menggunakan teknik purposive sampling, Pengumpulan data menggunakan wawancara semi terstruktur, observasi dan dokumentasi. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Analisis data menggunakan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan; Preksu dan Hara Chicken dalam menentukan strategi komunikasi pemasaran melakukan riset segmentasi serta menggunakan media online dan offline. Untuk marketing mix empat “P” ditemukan sebagai berikut; Product (Produk) keduanya melakukan riset dan inovasi. Price (Harga) pada Preksu 1) Mempertimbangkan HPP, kompetitor dan segmentasi, 2) Berkisar Rp. 3.000 - Rp.20.000. Pada Hara Chicken 1) Mempertimbangkan lokasi, HPP dan segmentasi, 2) Berkisar Rp.3000 - Rp.15.000, Place (Tempat) pada Preksu 1) Terdapat 5 gerai, 2) Lingkungan strategis, dekat dengan segmentasi, dan disekitarnya ada pelaku usaha kuliner. Sedangkan pada Hara Chicken. 1) Terdapat 4 gerai, 2) Lingkungan strategis, jumlah kompetitor rendah dan dekat dengan kos-kosan. Untuk Promotion (Promosi) pada Preksu, 1) Pesan berupa value Preksu, 2) Melakukan advertising, personal selling dan sales promotion, 3) Menggunakan influencer food vlogger. Sedangkan pada Hara Chicken 1) Pesan berisi tagline #benerandigeprek, 2) Melakukan advertising, personal selling dan sales promotion. 3) Kerjasama dengan pelaku usaha lainnya. Hambatan pada Preksu ialah engagement yang tidak sesuai dengan jumlah followers dari influencer food vlogger dan bentuk promosi yang sama dengan pelaku usaha lainnya. Pada Hara Chicken engagement yang tidak stabil pada sosial media.This research aims to describe Preksu and Hara Chicken's marketing communication strategies and their obstacles. This research uses a qualitative approach. The informant consists of three people in the field of marketing Preksu and Hara Chicken, using purposive sampling techniques, data collection using semi-structured interviews, observations and documentation. The validity of the data uses source triangulation. Analyze data using interactive models. The results showed; Preksu and Hara Chicken in determining marketing communication strategies to research segmentation and use online and offline media. For marketing mix four "P" are found as follows; Product both conduct research and innovation. Price on Preksu 1) Considering HPP, competitors and segmentation, 2) Ranging from Rp. 3.000 - Rp.20.000. At Hara Chicken 1) Considering location, HPP and segmentation, 2) Range from Rp.3000 - Rp.15.000, Place (Place) on Preksu 1) There are 5 outlets, 2) Strategic environment, close to segmentation, and surrounding culinary business. As for Hara Chicken. 1) There are 4 outlets, 2) Strategic environment, low number of competitors and close to costs. For Promotion on Preksu, 1) Message in the form of value Preksu, 2) Doing advertising, personal selling and sales promotion, 3) Using influencer food vlogger. While in Hara Chicken 1) Message contains tagline #benerandigeprek, 2) Doing advertising, personal selling and sales promotion. 3) Cooperation with other businesses. The obstacle to Preksu is engagement that does not match the number of followers of food vlogger influencers and the same form of promotion as other businesses. At Hara Chicken engagement is unstable on social media.
ANALISIS BINGKAI KASUS KORUPSI BUPATI JEPARA DALAM MEDIA DARING JAWAPOS.COM DAN SUARAMERDEKA.COM Ihsanul Fahmi; Chatia Hastasari
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 3, No 1 (2020): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v3i1.16828

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembingkaian berita kasus korupsi Bupati Jepara dalam media daring JawaPos.com dan SuaraMerdeka.com selama periode Desember  2018  sampai Januari 2019.  Penelitian  ini  menggunakan  pendekatan  kualitatif dengan metode analisis bingkai model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Objek penelitian ini adalah konten pemberitaan kasus korupsi Bupati Jepara yang diunggah antara bulan Desember 2018 sampai Januari 2019 di laman media daring JawaPos.com dan SuaraMerdeka.com. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi   dan   studi   pustaka.   Keabsahan   data   hasil   analisis   penelitian ini   diuji menggunakan triangulasi metode atau teknik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) JawaPos.com lebih intens memberitakan kasus korupsi Bupati Jepara dibandingkan SuaraMerdeka.com; 2) JawaPos.com  dan  SuaraMerdeka.com  lebih  banyak  memberitakan tema proses penyidikan dibanding tema lainnya (penggeledahan, penetapan sebagai tersangka, dan berita pendukung); 3) JawaPos.com membuat konstruksi berita yang tidak memihak Bupati Jepara; serta 4) SuaraMerdeka.com membuat konstruksi berita yang memihak Bupati Jepara. Kata kunci: Analisis bingkai Pan dan Kosicki, Berita kasus korupsi Bupati Jepara, JawaPos.com dan SuaraMerdeka.com ABSTRACTThe goal of this research is to describe how news about corruption case of Jepara Regent are framed in online media JawaPos.com and SuaraMerdeka.com within December 2018 until Januari 2019.  This  research  use  qualitative  approach  with  framing  analysis method by Zhongdan Pan and Gerald M. Kosicki. The object of this research are news about corruption case of Jepara Regent that uploaded from December 2018 until Januari 2019 in JawaPos.com and SuaraMerdeka.com's webpage. Data collection methods of this research include documentation and directory study. Validatity of research data are tested with methodological or technical triangulation. This research show that: 1) JawaPos.com‘s media coverage about corrupction case of Jepara Regent are more intensive than SuaraMerdeka.com; 2) both JawaPos.com and SuaraMerdeka.com’s are tend to bring up investigation process theme more than the other theme (search warrant, suspect confirmation, and supporting news); 3) JawaPos.com made news framework that didn’t take Jepara Regent side; and 4) SuaraMerdeka.com made news framework that take Jepara Regent side. Keywords: Framing analysis  by Pan  and Kosicki, Jepara Regent corruption  case, JawaPos.com and SuaraMerdeka.com
ANALISIS SWOT STRATEGI PROMOSI MUSEUM SONOBUDOYO DALAM MEMBANGUN CITRA POSITIF Ikrimah Abdurrahman; Chatia Hastasari
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 3, No 1 (2020): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v3i1.16824

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil  analisis SWOT  strategi promosi yang dilakukan oleh Museum Sonobudoyo. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif.   Informan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tiga orang dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu meliputi Kepala Museum Sonobudoyo, Kepala Seksi Bimbingan Informasi dan Preparasi Museum Sonobudoyo dan Staff Seksi Bimbingan Informasi dan Preparasi Museum Sonobudoyo. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan wawancara semi struktur, observasi dan dokumentasi. Pengujian keabsahan data pada penelitian ini menggunakan triangulasi sumber. Analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; a) kekuatan termasuk; Nilai historis dari Museum Sonobudoyo, Keanekaragaman koleksi museum. b) Sementara kelemahannya adalah; kurangnya konsistensi dalam melakukan promosi, kurangnya kreativitas. tidak tersedianya fasilitas dan penjual di Museumc) peluang adalah; dukungan pemerintah melalui Duta Wisata, komunitas yang mendukung kegiatan museum, Lokasi Museum Sonobudoyo, dukungan fasilitas dan infrastruktur pemerintah, Kerjasama dengan media dan lembaga. d) Ancaman yang dihadapi termasuk; daya saing museum, memperkenalkan museum kepada generasi muda, memunculkan citra positif museum di media dan publik kurang memiliki kesadaran dan pemahaman tentang museum. Strategi yang dapat diterapkan adalah 1) Memanfaatkan kolaborasi melalui komunitas untuk mempromosikan museum 2) Membangun divisi khusus yang berfokus pada promosi. 3) Membangun dan memelihara fasilitas museum 4) Mengelola promosi pariwisata melalui media dengan peristiwa positif 5) Meningkatkan sistem keamanan pada museum koleksi untuk mengatasi masalah keamanan.Kata kunci: Strategi Promosi, Analisis SWOT, Citra Destinasi, Museum SonobudoyoABSTRACTThis research aims to describe SWOT analysis of the promotional strategy carried out by the Sonobudoyo Museum. This research was conducted by using descriptive qualitative approach. The subjects of this research were three people and chosen by purposive sampling technique, which included the Head of the Sonobudoyo Museum, Head of the Sonobudoyo Museum's Information and Preparation Guidance Section and Staff of the Sonobudoyo Museum's Information and Preparation Section. The data collection is done by semi structure interview, observation and documentation. Triangulation Source was used to examine the data validity. The data analysis used in this research are data reduction, data display and conclusion. The results of this research shows that; a) strengths are including; The historical value of the Sonobudoyo Museum, Diversity of the museum’s collections. b) While the weaknesses are; lack of consistency in conducting promotions, lack of creativity. the unavailability of amenities and merchandise sellers in museum. c) opportunities are; government support through Tourism Ambassadors, communities that support museum activities, Sonobudoyo Museum Locations, government facilities and infrastructure support, Collaboration with media and agencies. d) Threats faced including; Museum competitiveness, Introducing the museum to the younger generation, bringing up the positive image of the museum in the media, publics are lacking of awareness and understanding of the museum. Strategies that can be applied are 1) Utilizing collaboration through community to promote the museum 2) Establishing a specific division that focuses on promotion 3) Establishing and maintaining museum amenities 4) Managing  tourism promotions  through  media  with  positive  events  5)  Improving  security  systems  on  museum’s collections to overcome security issue.Keywords: Promotional Strategy, SWOT Analysis, Destination Image, Sonobudoyo Museum
Family Communication in Indonesian Migrant Worker's Extended Family Hastasari, Chatia
Biokultur Vol. 12 No. 2 (2023): Indonesia's Society and Culture
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bk.v12i2.52416

Abstract

This study aims to know what the communication orientation (conversation and conformity orientation) that occurs in the migrant workers' extended family is; and what the obstacles to communication orientation that occur in the migrant workers' extended family are. The lack of job opportunities for women who only graduated from elementary school and junior high school also directly influences the number of female migrant workers working abroad every year. For female migrant workers who already have children, the role of extended families such as the presence of their parents is very important in helping their spouses (husbands) in caring for their children. Using a qualitative approach, the data were gained through the process of interviewing informants. Informants in this study were selected purposively, they were: a woman who looks after her grandchild, aged 58 years (hereinafter referred to X1) and her daughter-in-law who works as a migrant worker, aged 30 years (hereinafter referred to X2); a woman who works as a migrant worker, aged 36 years (hereinafter referred to X3) and her son, aged 18 years (hereinafter referred to X4). X1 has been living with her granddaughter for about 3 years since her daughter-in-law (X2) became a migrant worker in Taiwan in 2018. After the data from the interviews are collected, then by using a triangulation table, the data will be selected based on the needs and similarities of the interview results between informants. From the same data, it is then adjusted to the existing conceptual framework and conclusions are drawn. The results show communication orientation for conversation that occurs in migrant workers' extended family consists of discussions to decide working abroad; when grandmother told her child about her granddaughter's growth, from conversations about school choices to parenting; giving freedom to the child to be able to express and convey their wishes and make decisions based on his own considerations. Meanwhile, the conformity orientation consists of giving advice for the child to be careful in making decisions (think before acting); and behave politely and always maintain health. The advice given is usually in the form of the cultivation of discipline, rules regarding politeness, attitude and also the cultivation of values. Subsequently, the obstacles to communication orientation that occur in migrant worker extended family consist of grandparents' health and grandparents' ability to use technology. Keywords: Extended Family, grand parenting, family communication, and migrant worker
Engaging in Twitter thematic content analysis to understand the political messages of the Jokowi-Amin and Prabowo-Sandi success teams in the 2019 Indonesian presidential election Kulau, Febriansyah; Setiawan, Benni; Hastasari, Chatia
International Journal of Communication and Society Vol 4, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Association for Scientific Computing Electrical and Engineering (ASCEE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31763/ijcs.v4i1.293

Abstract

This article discusses religious and religious symbols narrated as political commodities in the 2019 presidential election on the twitter platform. The battle for narratives in the 2019 Indonesian presidential election was colored by the use of these issues on social media, this has led to increased sensitivity between religions and increasing issues of intolerance. For this reason this research has been conducted to investigate the categories of political messages narrated in tweets during the seven months of the 2019 presidential election campaign. Twitter, which was published on 23 September 2018 to 13 April 2019. based on the findings of this study, it shows that the success team of the two candidate pairs in narrating religious symbols and religious symbols is divided into 6 message categories. The message categories are Commodification of Religious Greetings, Clothing as a Religious Symbol, Title as a Religious Symbol, Salat and Nyekar as Political Commodities, An Expression of Gratitude as Political Commodities, House of Worship as a Place for Political Campaign.