Claim Missing Document
Check
Articles

Study Etnomatematika Betangker pada Acara Pernikahan di Desa Nanga Mahap Saidati, Saidati; Risalah, Dewi; Sandie, Sandie; Bahri, Saiful; Lestari, Emi Tipuk
Jurnal Basicedu Vol. 6 No. 5 (2022)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v6i5.3639

Abstract

Etnomatematika adalah pendekatan matematika melalui unsur budaya. Pendekatan matematika realistik melalui aktivitas nyata dengan unsur budaya khususnya penggunaan bahasa lokal sangat dibutuhkan masyarakat dalam memahami konsep matematika. Budaya mempunyai kaitan yang erat dalam kehidupan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara Betangker Terpal (Pembuatan Tenda) dalam acara pernikahan adat Melayu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep etnomatematika Betangker Terpal (Pembuatan Tenda) H-3 pada acara pernikahan Melayu di Desa Nanga Mahap yang dibuat dengan kayu dan ditutupi menggunakan terpal yang harus diselesaikan hari itu juga. Penelitian ini merupakan penelitian Studi kasus dengan pendekatan kualitatif di mana subjek penelitian adalah informasi yang diambil dari budaya Betangker Terpal (Pembuatan Tenda) pada acara pernikahan Adat Melayu Nanga Mahap, Sekadau, Kalimantan Barat. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dokumentasi dan kepustakaan. Observasi dilakukan untuk mengamati kegiatan pernikahan dalam proses Betangker Terpal (pembuatan tenda), wawancara dilakukan dengan masyarakat sekitar, dokumentasi sebagai penguat penelitian serta, study kepustakaan dilakukan untuk menentukan konsep matematika yang berikaitan dengan kegiatan pertunangan sampai pernikahan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sistem pembuatan betangker pada acara adat pernikahan memasukkan unsur matematis didalamnya. Dengan melalui tessellation (pengukuran), geometri, dan kesesuaian.
PEACE EDUCATION-BASED SOCIAL SCIENCE LEARNING THROUGH INTER-ETHNIC RELATIONSHIPS TO EMBED CHARACTER EDUCATION nur, syafrial; Bahri, Syaiful; Lestari, Emi Tipuk
Jurnal PIPSI (Jurnal Pendidikan IPS Indonesia) Vol 10, No 1 (2025): VOLUME 10 NUMBER 1 JANUARY 2025
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/jpipsi.v10i1.6270

Abstract

The purpose of this study is the implementation of peace education-based social studies learning through inter-ethnic social relations to instill character education values at SMP N 28 Pontianak City. This empirical study uses a qualitative approach, with the survay method as an instrument in this review. The data collection techniques used were interview and in-depth observation techniques. The data sources of this study are primary and secondary data. Data analysis used is descriptive qualitative data analysis that is by collecting from various relevant sources and discussing descriptively based on the results of observations and interviews.Research Results. The application of social studies based on peace education in this school has succeeded in embedding the value of tolerance, democracy and other character education values in students. Peace education-based social studies learning, being one of the ways used by teachers to be able to understand better the various forms of local cultural values and the meaning contained in each local wisdom of each ethnic group in the school environment as a learning resource. Peace education-based social studies learning by utilizing ethnic pluralism that exists in learners can help students' understanding of the material of Socio-Cultural Diversity in Society.
RETRACTED: Transformasi Pendidikan Digital di Sekolah Perbatasan Indonesia-Malaysia melalui Workshop Literasi AI Menggunakan Human-Machine Friendship Learning Model Bahri, Saiful; Lestari, Emi Tipuk; Nawawi, Nawawi
Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Asosiasi Pengelola Publikasi Ilmiah Perguruan Tinggi PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55506/arch.v4i2.172

Abstract

Setelah peninjauan yang cermat, teliti, dan penuh pertimbangan terhadap artikel yang diterbitkan dalam Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat dengan judul "Transformasi Pendidikan Digital di Sekolah Perbatasan Indonesia-Malaysia melalui Workshop Literasi AI Menggunakan Human-Machine Friendship Learning Model" Vol. 4 No. 2 (2025), hlm. 334-343, DOI: 10.55506/arch.v4i2.172. Makalah ini telah dinyatakan melanggar prinsip-prinsip Publikasi Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat dan telah ditarik. Artikel tersebut telah terjadi pelanggaran kontrak riset (kesanggupan tim riset) dan etika penelitian dan publikasi ilmiah berdasarkan surat Permohonan pencabutan Oleh Pusat Riset Pendidikan No. R-22464/III.7.6/TK.02.01/8/2025 Dokumen dan isinya telah dihapus dari Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, dan upaya yang wajar harus dilakukan untuk menghapus semua referensi ke artikel ini.
PEWARISAN BUDAYA RUMAH PANJAY MASYARAKAT ADAT DAYAK IBAN SUNGAI UTIK SEBAGAI SUMBER BELAJAR IPS Lestari, Emi Tipuk; Bahri, Saiful; Mardiana, Mardiana
JURNAL PENDIDIKAN DASAR Vol 13, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : STKIP Melawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46368/jpd.v13i1.3803

Abstract

Abstract: This research contributes theoretically to the development of the social studies curriculum by offering a local wisdom-based ethnopedagogical framework through the cultural inheritance of the Panjay House of Dayak Iban Sungai Utik. Rumah Panjay not only functions as a place to live, but also as a center of social life, culture, and informal education that reflects the values of local wisdom, solidarity, and environmental preservation. This finding shows the potential of integrating local cultural values into social studies learning as an effort to build a community-based contextual curriculum through an ethnopedagogical approach. The results show that cultural inheritance is carried out through daily practices, traditional rites, and intergenerational interactions within the Panjay House. The values contained in this culture, such as mutual cooperation, deliberative democracy, and nature conservation, are relevant to be integrated into social studies learning, especially at the junior high school level in the Merdeka Curriculum on the theme of social diversity and cultural preservation. Thus, Rumah Panjay can be a contextual learning resource that enriches learning materials and instills character values in students.Keywords: Cultural inheritance, Rumah Panjay, Dayak Iban, Learning Resources.Abstrak: Penelitian ini berkontribusi teoretis dalam pengembangan kurikulum IPS dengan menawarkan kerangka etnopedagogis berbasis kearifan lokal melalui pewarisan budaya Rumah Panjay Dayak Iban Sungai Utik. Rumah Panjay tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai pusat kehidupan sosial, budaya, dan pendidikan informal yang merefleksikan nilai-nilai kearifan lokal, solidaritas, dan pelestarian lingkungan. Temuan ini menunjukkan potensi integrasi nilai-nilai budaya lokal ke dalam pembelajaran IPS sebagai upaya membangun kurikulum kontekstual berbasis komunitas melalui pendekatan etnopedagogis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pewarisan budaya dilakukan melalui praktik sehari-hari, ritus adat, dan interaksi antargenerasi di dalam Rumah Panjay. Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya ini, seperti gotong royong, demokrasi musyawarah, serta pelestarian alam, relevan untuk diintegrasikan ke dalam pembelajaran IPS, khususnya pada jenjang SMP dalam Kurikulum Merdeka pada tema keberagaman sosial dan pelestarian budaya. Dengan demikian, Rumah Panjay dapat menjadi sumber belajar kontekstual yang memperkaya materi pembelajaran dan menanamkan nilai karakter kepada peserta didik. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis melalui penguatan model pembelajaran IPS berbasis budaya lokal yang selama ini kurang diangkat secara mendalam dalam kajian pendidikan formal. Keunikan penelitian ini terletak pada eksplorasi etnopedagogi Dayak Iban yang belum banyak digunakan sebagai dasar pengembangan kurikulum, sehingga menjawab celah literatur terkait pemanfaatan kearifan lokal sebagai pendekatan pedagogis dalam pembelajaran IPS.Kata Kunci: Pewarisan budaya, Rumah Panjay, Dayak Iban, Sumber Belajar
EFEKTIFITAS PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS LABORATORIUM PADA MAHASISWA PENDIDIKAN SEJARAH IKIP PGRI PONTIANAK suwarni, suwarni; Lestari, Emi Tipuk Lestari Tipuk
KARMAWIBANGGA Historical Studies Journal Vol. 3 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/fkip.v3i1.517

Abstract

The purpose of this study 1) Measuring learning outcomes in the control class, 2) Measuring learning outcomes in the experimental class, 3) Measuring the effect of learning outcomes in the control and experimental classes, 4) Measuring the influence of using the History Education laboratory for students. Method used is an experiment with a quasi experimental research design and a Posstest-Only Control Design. The results of this study were 1) The average student learning outcomes in the control class were 66.33 which was classified as sufficient, 2) The average learning outcomes of students who were taught or in the experimental class were 77.42 which were classified as good, 3) The average significant difference was The average learning outcomes of the control class and the experimental class used the t-test parametric statistical test. Because tcount> ttable or 4.43> 1.996, then Ha is accepted at the 5% significance level. So the conclusion is that there is a difference in the average value of the control class and the average value of the experimental class, 4) Based on calculations using the effect size, it is obtained that Es <80, or Es = 0.55, it can be concluded that the use of historical education laboratories is moderate and has an effect on student learning outcomes.  
PEWARISAN BUDAYA RUMAH PANJAY MASYARAKAT ADAT DAYAK IBAN SUNGAI UTIK SEBAGAI SUMBER BELAJAR IPS Lestari, Emi Tipuk; Bahri, Saiful; Mardiana, Mardiana
JURNAL PENDIDIKAN DASAR Vol. 13 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : STKIP Melawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46368/jpd.v13i1.3803

Abstract

Abstract: This research contributes theoretically to the development of the social studies curriculum by offering a local wisdom-based ethnopedagogical framework through the cultural inheritance of the Panjay House of Dayak Iban Sungai Utik. Rumah Panjay not only functions as a place to live, but also as a center of social life, culture, and informal education that reflects the values of local wisdom, solidarity, and environmental preservation. This finding shows the potential of integrating local cultural values into social studies learning as an effort to build a community-based contextual curriculum through an ethnopedagogical approach. The results show that cultural inheritance is carried out through daily practices, traditional rites, and intergenerational interactions within the Panjay House. The values contained in this culture, such as mutual cooperation, deliberative democracy, and nature conservation, are relevant to be integrated into social studies learning, especially at the junior high school level in the Merdeka Curriculum on the theme of social diversity and cultural preservation. Thus, Rumah Panjay can be a contextual learning resource that enriches learning materials and instills character values in students. Keywords: Cultural inheritance, Rumah Panjay, Dayak Iban, Learning Resources. Abstrak: Penelitian ini berkontribusi teoretis dalam pengembangan kurikulum IPS dengan menawarkan kerangka etnopedagogis berbasis kearifan lokal melalui pewarisan budaya Rumah Panjay Dayak Iban Sungai Utik. Rumah Panjay tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai pusat kehidupan sosial, budaya, dan pendidikan informal yang merefleksikan nilai-nilai kearifan lokal, solidaritas, dan pelestarian lingkungan. Temuan ini menunjukkan potensi integrasi nilai-nilai budaya lokal ke dalam pembelajaran IPS sebagai upaya membangun kurikulum kontekstual berbasis komunitas melalui pendekatan etnopedagogis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pewarisan budaya dilakukan melalui praktik sehari-hari, ritus adat, dan interaksi antargenerasi di dalam Rumah Panjay. Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya ini, seperti gotong royong, demokrasi musyawarah, serta pelestarian alam, relevan untuk diintegrasikan ke dalam pembelajaran IPS, khususnya pada jenjang SMP dalam Kurikulum Merdeka pada tema keberagaman sosial dan pelestarian budaya. Dengan demikian, Rumah Panjay dapat menjadi sumber belajar kontekstual yang memperkaya materi pembelajaran dan menanamkan nilai karakter kepada peserta didik. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis melalui penguatan model pembelajaran IPS berbasis budaya lokal yang selama ini kurang diangkat secara mendalam dalam kajian pendidikan formal. Keunikan penelitian ini terletak pada eksplorasi etnopedagogi Dayak Iban yang belum banyak digunakan sebagai dasar pengembangan kurikulum, sehingga menjawab celah literatur terkait pemanfaatan kearifan lokal sebagai pendekatan pedagogis dalam pembelajaran IPS.Kata Kunci: Pewarisan budaya, Rumah Panjay, Dayak Iban, Sumber Belajar
Membaca Ulang Sejarah Radio Auri Pc 2 Playen Dari Alat Propaganda Ke Memori Kolektif Sebagai Sumber Materi Sejarah Indonesia Rina; Konny Rio Mameru; Aswin Haryanto; Emi Tipuk Lestari
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 11 No 2 (2025): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v11i2.7439

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Radio AURI PC 2 Playen dalam konteks revolusi kemerdekaan Indonesia serta menjelaskan transformasinya dari alat propaganda perjuangan menjadi memori kolektif dan sumber materi sejarah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan dan studi lapangan. Data diperoleh melalui observasi situs, wawancara dengan tokoh masyarakat dan narasumber terkait, serta dokumentasi arsip dan literatur sejarah. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan teknik reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, disertai triangulasi sumber untuk menjaga keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Radio AURI PC 2 Playen memiliki peran strategis sebagai media komunikasi dan propaganda yang mendukung legitimasi Republik Indonesia, khususnya dalam penyebaran informasi Serangan Umum 1 Maret 1949. Seiring waktu, radio ini mengalami pergeseran makna menjadi simbol sejarah dan memori kolektif masyarakat lokal. Temuan ini menegaskan bahwa radio tidak hanya berfungsi sebagai media teknis, tetapi juga sebagai artefak historis yang membentuk kesadaran kebangsaan. Penelitian ini merekomendasikan pemanfaatan Radio AURI PC 2 Playen sebagai sumber pembelajaran sejarah kontekstual serta penguatan upaya pelestarian situs sejarah komunikasi di Indonesia.
PERAN STRATEGI MILITER DAN MANUVER POLITIK DALAM SERANGAN UMUM 1 MARET 1949 DI YOGYAKARTA Fitrianto, Ega Millenio; Lestari, Emi Tipuk
KRONIK : Journal of History Education and Historiography Vol 9 No 2 (2025): December
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The General Offensive of March 1, 1949, in Yogyakarta has often been portrayed primarily as a military achievement within Indonesia’s War of Independence. However, such interpretations tend to overlook its broader political function and strategic intent within the international diplomatic arena. This study aims to critically examine the General Offensive of March 1, 1949, as an integrated military–political strategy designed not merely to reclaim territory, but to counter Dutch claims of Republican collapse and to influence international opinion. Employing the historical method, this research is based on an in-depth analysis of archival documents, contemporary newspapers, military reports, and relevant secondary literature. A descriptive–analytical qualitative approach is used to compare Indonesian and Dutch narratives and to assess the interaction between military operations and political objectives. The findings demonstrate that the effectiveness of the General Offensive lay less in its temporary territorial control than in its symbolic and communicative impact. The operation functioned as a deliberate political signal aimed at international observers, reinforcing the continued existence and operational capacity of the Republic of Indonesia while undermining Dutch diplomatic narratives. This study argues that the General Offensive of March 1, 1949, should be understood as a strategic convergence of military action and political maneuvering rather than as a purely tactical success. By situating the offensive within its diplomatic and historiographical context, the article contributes to a more nuanced understanding of Indonesian military history and highlights the importance of political objectives in revolutionary warfare.
Makna Filosofi Kehidupan Dalam Makanan Tradisional Geblek Kulon Progo: Kajian Gastronomi Dan Nilai Budaya Lokal Rizqi Wiji Nurhidayah; Frisca Diana Aulia Putri; Emi Tipuk Lestari
Hikamatzu | Journal of Multidisciplinary Vol. 2 No. 2 (2025): Multidisciplinary Approach
Publisher : Hikamatzu | Journal of Multidisciplinary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna filosofi kehidupan yang terkandung dalam makanan tradisional geblek khas Kulon Progo melalui pendekatan gastronomi dan nilai budaya lokal. Geblek, sebagai makanan berbahan dasar tapioka yang identik dengan masyarakat pedesaan Kulon Progo, tidak hanya berfungsi sebagai konsumsi harian, tetapi juga sebagai simbol kesederhanaan, kebersamaan, dan ketulusan hidup masyarakat Jawa. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dengan metode observasi, wawancara mendalam, dan studi literatur untuk memahami nilai-nilai simbolik yang melekat pada proses pembuatan, penyajian, dan konsumsi geblek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa geblek merepresentasikan filosofi hidup masyarakat Kulon Progo yang menjunjung tinggi kerja keras, kesederhanaan, serta harmonisasi dengan alam dan sesama. Selain itu, kajian gastronomi menunjukkan bahwa pelestarian geblek sebagai warisan kuliner lokal dapat memperkuat identitas budaya serta menjadi potensi pengembangan wisata kuliner berbasis nilai tradisional. Dengan demikian, geblek tidak sekadar makanan, tetapi juga media ekspresi kultural dan simbol kehidupan yang mengandung nilai-nilai filosofis mendalam.
Ritual dan Pariwisata: Pengaruh Pemotongan Rambut Gimbal terhadap Peningkatan Wisata Budaya di Kawasan Candi Arjuna Putra, Agung Syah; Faidha Mauliya Khasanah; Dwi Rahyu Amalianti; Emi Tipuk Lestari
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.13146

Abstract

Ritual pemotongan rambut gimbal di kawasan Candi Arjuna memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam bagi masyarakat Dieng. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ritual ini terhadap peningkatan wisata budaya dengan tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur etnografis yang menganalisis sumber akademik dari tahun 2013 hingga 2025. Populasi mencakup seluruh publikasi akademik tentang ritual pemotongan rambut gimbal, Dieng Culture Festival, dan pariwisata budaya Jawa Tengah, dengan sampel dipilih melalui purposive sampling dari jurnal terakreditasi dan basis data akademik. Instrumen analisis data menggunakan analisis tematik dengan reduksi data, penyajian narasi tematik, dan triangulasi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual berfungsi ganda sebagai sarana pelestarian identitas budaya lokal sekaligus daya tarik pariwisata yang signifikan ketika dikelola secara partisipatif. Kesimpulannya, kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, komunitas lokal, dan industri wisata membuktikan bahwa pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata dapat berjalan selaras dengan prinsip keberlanjutan. Penelitian ini memberikan rekomendasi penting tentang pengembangan protokol kebijakan dan pembentukan lembaga pengelola lokal untuk menjaga keaslian ritual.