Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

PENGUATAN LITERASI DI SEKOLAH Superman Superman; Yulita Dewi Purmintasari; Rini Agustina
GERVASI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3, No 2 (2019): GERVASI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/gervasi.v3i2.1505

Abstract

Pokok permasalahan yang dialami mitra dalam kegiatan pengabdian ini ialah masih rendahnya minat baca siswa, sarana kegiatan literasi di sekolah masih minim ditandai dengan belum adanya perpustakaan yang representatif. Tujuan dilakukannya pengabdian ini ialah untuk meningkatkan kapasitas serta tata kelola kegiatan literasi di sekolah. Metode yang digunakan ialah dengan pembenahan sarana fisik dan pelatihan tata kelola program GLS. Hasil dari kegiatan pengabdian ini siswa memiliki minat literasi dengan disediakannya pojok literasi di kelas dan dibuatkanya perpustakaan yang memadai bagi siswa untuk belajar di perpustakaan. Adanya pojok literasi dan perpustakaan mendorong terlaksananya Gerakan Literasi Sekolah di SMP Pancasila Sungai Kakap.
Historisitas dan Perkembangan Budaya Masyarakat Etnis Madura di Kalimantan Barat Haris Firmansyah; Iwan Ramadhan; Hadi Wiyono; Superman Superman
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 8 No. 2 (2022): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jiis.v8i2.40831

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui historisitas dan perkembangan budaya masyarakat Madura di Kalimantan Barat. Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (Library Reseach). Teknik pengumpulan data dengan mengumpullkan dan mengkaji  sumber ilmiah dari buku dan jurnal ilmiah online. Langkah-langkah penelitian ini terdiri dari menyiapkan topik, eksplorasi informasi, menentukan fokus penelitian, pengumpulan sumber data, persiapan penyajian, dan penyusunan laporan. Hasil penelitian menunjukan bahwa sejarah Etnis Madura di Kalimantan Barat merupakan etnis pendatang yang berasal dari Daerah Bangkalan di Pulau Madura. Tujuan orang-orang Madura datang ke Kalimantan Barat dilatarbelakangi oleh faktor mata pencaharian yang mudah didapatkan dan faktor lahan yang cocok dijadikan sebagai lahan untuk bertani atau bercocok tanam. Masyarakat Etnis Madura di Kalimantan Barat sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, pekebun dan sebagainya. Perkembangan budaya dikaji dari sistem kekerabatan Etnis Madura pada umumnya sama dengan sistem kekerabatan etnis lainnya yang membedakannya adalah penyebutan atau istilah. Tradisi dan kesenian Etnis Madura tidak banyak yang dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sebagai suku pendatang, hal ini salah satunya dipengaruhi oleh faktor lingkungan sekitar yang bukan merupakan lingkungan asli dari Etnis Madura.
Masyarakat Bali di Kalimantan Barat Superman Superman; Yulita Dewi Purmintasari
HISTORIA : Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 9, No 1 (2021): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.259 KB) | DOI: 10.24127/hj.v9i1.2297

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran spesifik mengenai kehidupan masyarakat Bali di Kalimantan Barat khususnya di Sedahan Jaya. Adapun aspek yang diteliti ialah mengenai sejarah awal masyarakat Bali bermigrasi ke Kalimantan Barat dan menetap di Sedahan Jaya. Aspek lain yang juga diteliti ialah budaya Bali yang mereka bawa serta lestarikan di Sedahan Jaya. Metode yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif deskriptif. Masyarakat Bali yang ada di Sedahan Jaya telah melewati perjalanan panjang hingga akhirnya menetap. Mereka bertransmigrasi ke Kalimantan Barat dengan tujuan untuk memperbaiki kehidupan setelah di daerah asal mereka Karangasem Bali dilanda musibah letusan Gunung Agung. Di tempat yang baru mereka harus bertahan dengan lingkungan yang sangat berbeda dari tempat asal. Masyarakat Bali di Sedahan Jaya memegang teguh budaya Bali dan agama Hindu. Hal tersebut tercermin dari keseharian mereka yang tidak jauh berbeda dengan masyarakat yang ada di Bali sendiri.
PENGALAMAN TRANSMIGRASI DI INDONESIA (Studi di Desa Olak-Olak, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya) Andang Firmansyah; Superman Superman; Galuh Bayuardi
HISTORIA : Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 6, No 2 (2018): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.699 KB) | DOI: 10.24127/hj.v6i2.1086

Abstract

Kepadatan penduduk di Pulau Jawa dan Madura menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010 adalah 136.610.590 jiwa. Hal tersebut berbanding jauh dengan Pulau Kalimantan yang hanya 13.787.831 jiwa. Ketimpangan jumlah penduduk antara Pulau Jawa dan Madura dengan pulau lainnya sangat besar. Oleh sebab itu pemerataan penduduk terus menerus digalakkan salah satunya dengan program transmigrasi. Jauh sebelum negara Indonesia merdeka, program perpindahan penduduk ini sudah dilaksanakan, tentu saja dengan tujuan yang menguntungkan kolonialisme.Program perpindahan penduduk di Masa Kolonial gencar dilakukan pada saat dibukanya perkebunan. Kolonial Belanda menginginkan tenaga kerja yang murah serta mudah. Program ini kemudian berlanjut pada masa politik etis, walaupun tujuan awalnya untuk pemerataan jumlah penduduk akan tetapi banyak terjadi penyelewengan. Kemudian setelah Indonesia merdeka, masalah kepadatan penduduk di Pulau Jawa dan Madura masih menjadi perhatian serius pemerintah. Oleh sebab itu Pemerintahan Soekarno mencanang program transmigrasi pada tahun 1950 yang diselenggarakan oleh Dinas Transmigrasi (Jawatan Transmigrasi).Provinsi Kalimantan Barat khususnya Desa Olak-Olak merupakan salah satu tempat tujuan transmigrasi di Indonesia. Kelompok transmigrasi yang pertama datang pada tahun 1958 sampai dengan tahun 1959. Rata-rata transmigran ini berasal dari daerah Jawa Tengah dan sekitarnya. Oleh sebab itu budaya Jawa masih sangat kental ditemui di Desa Olak-Olak ini, akan tetapi mulai memudar pada generasi-generasi selanjutnya. Keadaan Desa Olak-Olak ini sampai sekarang masih dikatakan belum berkembang karena terhambat banyak faktor salah satunya adalah transportasi.
PERISTIWA MANGKOK MERAH DI KALIMANTAN BARAT TAHUN 1967 Superman Superman
HISTORIA : Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 5, No 1 (2017): HISTORIA: Jurnal Pembelajaran Sejarah dan Sejarah
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.004 KB) | DOI: 10.24127/hj.v5i1.728

Abstract

The involvement of a handful of Chinese society in the political movement around 1963 in West Kalimantan is an interesting thing to study. They assembled in PGRS-Paraku organization which was originally an opposition movement to launch “Ganyang  Malaysia”. But when the political map in Indonesia changed, PGRS-Paraku later declared a forbidden organization to be suppressed. This gave rise to a great conflict between Dayak and Chinese Communists. The Chinese that not a communist in land face of the impact. They had evacuated to safe places, especially in Singkawang. This incident resulted in the refugees have to start their lives over again due to leave their lives in the inland is sufficient before.
FRAGMENTASI, SEJARAH, HETEROGENITAS PENDUDUK, DAN BUDAYA KOTA PONTIANAK Bayuardi, Galuh; Firmansyah, Andang; Superman, Superman
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 18 No. 3 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4024.043 KB) | DOI: 10.52829/pw.6

Abstract

Pontianak merupakan kota madya di Indonesia. Secara geografis, lokasi Pontianak dekat dengan negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. Kondisi ini menyebabkan Pontianak sering dikunjungi pelancong dari negara tetangga, baik pengunjung yang memiliki urusan di Kota Pontianak, maupun yang sekadar singgah sebelum menuju destinasi lain di wilayah Indonesia. Jika ditelusuri dari sejarahnya, pada dasarnya Pontianak didesain sebagai kota perdagangan. Pontianak mengalami pembangunan yang cepat saat kedatangan VOC yang membuat kesepakatan dengan Kesultanan Pontianak. Sebagai tindaklanjut dari kesepakatan itu, mereka membangun kantor pemerintahan dan juga keraton untuk mendukung aktivitas politik di Pontianak. Seiring dengan pesatnya pentumbuhan Kota Pontianak, berbagai kelompok etnis menjadikan Pontianak sebagai kota yang heterogen. Kini, Pontianak dikunjungi berbagai etnis dari berbagai wilayah di Indonesia. Kelompok etnis yang tinggal di Pontianak di antaranya adalah Melayu, Dayak, Tionghoa, Jawa, Batak, Bugis, Madura, Banjar, Sunda, dan Bali. Berbagai etnis bergaul satu sama lain. Kondisi sosial heterogen di Pontianak tidak serta merta melahirkan pluralitas. Terkadang muncul sentimen kedaerahan baik itu klaim oleh penduduk lokal, maupun oleh mereka yang ditandai sebagai pendatang, meskipun pernyataan ini tidak terlihat secara langsung, tapi memiliki potensi masalah di kemudian hari.____________________________________________________________Pontianak is one of municipality in Indonesia. Geographicaly Pontianak location, is a region close to neighboring countries such as Malaysia and Singapore. This condition causes the Pontianak o en visited by travelers from neighboring countries either intentionally been to Pontianak Municipality and those who simply stopped to proceed to the main destinations in Indonesia other region. If traced far back on the history, basically Pontianak was designed to be a commercial city. Pontianak expertencing rapid development when VOC entrance and made an agreement with the ruler of Pontianak sultanate. As a follow up of the agreement, they established government offices and also the castle to support the political act wities in Pontianak. Along with the rapid growth of the Pontianak city, various ethnic groups from within and outside the island ofBorneo began to arrive. The arrival of the various ethnic groups making Pontianak as one of the cities where the population is heterogeneous. Today, Pontianak is much visited various ethnic groups from various regions in Indonesia. Ethnic groups who live in Pontianak, among others are Malay, Dayak, Chinese, Javanese, Batak, Bugis, Madurese, Banjar, Sunda, Bali, etc. Various ethnic coexistence between ethnic group and mingle with one another. Conditions heterogeneous society in Pontianak do not necessarily give birth to plurality. Sometimes it appears regionalist sentiment either of those claiming to be local residents as well as those who are considered immigrants even though it is not exposed directly but has the potential to become a problem in the future.
Rancangan Model Pembelajaran Sejarah Berbasis Nilai Tradisi dan Sejarah Lokal Januardi, Arif; Superman, Superman
EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/edukatif.v6i1.6369

Abstract

Pembelajaran sejarah saat ini masih cenderung berfokus pada hafalan dan belum optimal dalam menanamkan nilai-nilai esensial. Meskipun pembelajaran sejarah nasional berupaya memupuk semangat nasionalisme, pentingnya aspek kelokalan juga harus diperhatikan. Penelitian ini bertujuan merancang model pembelajaran sejarah berbasis nilai tradisi dan sejarah lokal untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap nilai-nilai lokal, cinta tanah air, dan keterampilan berpikir kritis. Metode yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (research and development) dengan model ADDIE, yang melibatkan tahap analisis, desain, development, implementasi, dan evaluasi. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri Kabupaten Sambas dengan melibatkan wawancara, angket, studi pustaka, dan observasi untuk menentukan kebutuhan siswa dan sekolah. Model ini memperkenalkan nilai-nilai tradisi sebagai bagian penting dari pembelajaran sejarah lokal, yang diharapkan dapat memperkaya pengalaman belajar siswa, memperkuat identitas budaya, dan merangsang kebanggaan terhadap warisan sejarah. Tantangan rancangan model ini mencakup pengembangan kurikulum yang sesuai dan kolaborasi dengan komunitas lokal, sementara guru perlu meningkatkan kreativitas dan mendapatkan pelatihan tentang nilai-nilai tradisi. Kelebihan model ini termasuk peningkatan pemahaman siswa tentang nilai lokal, cinta tanah air, dan keterampilan berpikir kritis, menjadikannya efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Tahap Development, Implementasi, dan Evaluasi akan dilanjutkan pada penelitian tahun kedua.
IMPLEMENTATION OF DIVERGENT THINKING IN EXPLORATION OF STUDENTS' CREATIVE EFFORTS IN READING HISTORICAL SOURCES FROM THE INTERNET Firmansyah, Haris; Kusnoto, Yuver; Superman, Superman; Atmaja, Thomy Sastra
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 26 No 1 (2023): JUNE
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2023v26n1i3

Abstract

In the digital era, learning history is more directed at reviving students' divergent thinking power. By applying this different way of thinking, teachers can use historical resources available on the internet. This research uses a Systematic Literature Review (SLR) to examine the idea of divergent thinking in exploring students' creative efforts in reading historical sources from the internet. Based on the results of the concept of developing different ways of thinking about historical sources, this is a form of student creativity to imagine the work of historians in using and evaluating historical sources to write history. Students can already see how ideas, especially initial ideas, that students share with historical sources shared by the teacher can lead to creative actions. And these results can be used as a benchmark for teachers on how to teach history based on the level of thinking ability and the way students learn. Abstrak: Pada era digital, pembelajaran sejarah lebih diarahkan untuk menghidupkan daya berpikir divergen siswa. Penerapan Cara berpikir berbeda ini guru dapat menggunakan sumber sejarah yang tersedia di internet. Penelitian ini menggunakan Systematic Literature Review (SLR), untuk mengkaji gagasan divirgen thinking eksplorasi usaha kreatif siswa dalam membaca sumber sejarah dari internet. Berdasarkan hasil konsep pengembangan cara berpikir yang berbeda dalam sumber sejarah ini adalah sebagai bentuk kreativitas siswa dalam rangka membayangkan karya sejarawan dalam menggunakan dan menilai sumber sejarah untuk keperluan penulisan sejarah. Siswa sudah dapat menampilkan bagaimana gagasan, gagasan awal yang siswa ceritakan dengan sumber sejarah yang dibagikan oleh guru sebagai tindakan kreatif. Dan hasil tersebut dapat dijadikan sebagai tolak ukur dari guru bagaimana seharusnya mengajar sejarah yang sesuai dengan tingkat kemampuan berpikir dan cara siswa belajar.
Development of History Learning Modules Based on Traditional Values and Local Wisdom in Sambas Januardi, Arif; Superman, Superman
Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Humaniora Vol 16, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j-psh.v16i1.92475

Abstract

This research addresses the lack of contextual historical learning materials that incorporate local culture, which often leads to students' low interest and limited understanding of regional history. Therefore, the study aims to develop a valid and effective history learning module based on traditional values and local wisdom of Sambas Regency. Using the ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) development model, the study involved validation by 3 material and media experts, followed by a limited trial on 35 eleventh-grade students at SMA Negeri 1 Sambas. The validation results showed a high level of validity with an average score of 93.03%. Effectiveness testing was conducted using the Normalized Gain (N-Gain) method, resulting in a score of 0.61, categorized as medium effectiveness based on Hake's (1999) criteria. The module integrates traditional values such as  saprahan,  tepung tawar, and Sambas Malay poetry to make history learning more engaging and locally relevant. The findings show that the module increases student participation and understanding of regional history. Therefore, it is recommended as a meaningful teaching alternative that also supports cultural preservation. Further improvements are needed to enhance interactivity and digital integration.
Integrasi Nilai-Nilai Tradisi Masyarakat Sambas dalam Pembelajaran Sejarah Januardi, Arif; Superman, Superman; Nur, Syafrial
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI), 2024 (2)
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/jppi.v4i2.604

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikan nilai-nilai tradisi masyarakat Sambas dalam pembelajaran sejarah untuk membuat materi pembelajaran lebih relevan dan bermakna. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi di Kabupaten Sambas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai tradisi, seperti nilai religius, sosial, pendidikan, ekonomi, dan ekologis dalam masyarakat Sambas memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari dan dapat diintegrasikan dalam pembelajaran sejarah untuk memperkaya konteks budaya. Pembahasan menyoroti bagaimana tradisi seperti "Majlis Adat" dan "Pantang Larang" dapat dimanfaatkan untuk mengajarkan sejarah lokal dengan cara yang lebih mendalam dan relevan. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan sejarah, tetapi juga menghargai nilai-nilai budaya yang mendasari praktik sosial dan adat di masyarakat mereka. Integrasi nilai-nilai tradisi dalam pembelajaran sejarah berpotensi meningkatkan efektivitas pendidikan sejarah dan memperkuat identitas budaya siswa, meskipun terdapat hambatan seperti keterbatasan sumber daya dan pelatihan guru. Dukungan berkelanjutan dari pemerintah dan komunitas sangat diperlukan untuk mengatasi hambatan ini dan memastikan keberhasilan penerapannya.