Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Gema Wiralodra

EKSPLORASI DAN KARAKTERISASI MORFOLOGI DAUN PLASMA NUTFAH MANGGA (Mangifera indica L.) LOKAL INDRAMAYU SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA GENETIK POTENSIAL Laila, Fadhillah; Yuliana, Eva
Gema Wiralodra Vol 11 No 2 (2020): Gema Wiralodra
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/gemawiralodra.v11i2.144

Abstract

Mangga (Mangifera indica L.) merupakan tanaman hortikultura yang banyak tumbuh di wilayah tropis. Indonesia memiliki bentang geografis yang beragam berpeluang memiliki sumberdaya genetik mangga yang beragam. Khusus di Jawa Barat, salah satu sentra terbaik mangga terdapat di Kabupaten Indramayu dengan jenis mangga lokal sebagai varietas mangga unggul daerah. Produktivitas Mangga di Indonesia relatif fluktuatif sedangkan permintaan akan buah tropika semakin meningkat terutama sebagai komoditas ekspor. Keberadaan plasma nutfah unggulan daerah perlu dilestarikan dan dimanfaatkan ditengah alihfungsi lahan dan kepunahan sumberdaya genetik melalui erosi genetik. Plasma nutfah tanaman merupakan sumber bahan genetik bagi program pemuliaan tanaman. Penerapan dalam program pemuliaan tanaman diantaranya untuk pengembangan galur tanaman, peningkatan populasi atau perbandingan studi seleksi dalam metode pemuliaan tanaman. Oleh karena itu perlu dilakukan pelestarian sumberdaya genetik mangga lokal unggulan daerah. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan koleksi, karakterisasi morfologi dan pelestarian sumberdaya genetik mangga serta menyusun deskripsi mangga lokal Indramayu. Penelitian ini akan dilakukan melalui metode survey convenience pada tiga lokasi perkebunan mangga di Indramayu yang diduga sebagai center of origin. Karakter yang diamati berupa 27 karakter morfologi mangga berdasarkan deskriptor dari IPGRI dan disajikan dalam bentuk statistik deskriptif. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2020 sebelum masa pembungaan sampai panen mangga. Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai keragaman morfologi varietas mangga lokal unggulan Indramayu sehingga dapat dievaluasi untuk pelestarian dan pemanfaatan sumber daya genetik
EKSPLORASI DAN KARAKTERISASI MORFOLOGI DAUN PLASMA NUTFAH MANGGA (Mangifera indica L.) LOKAL INDRAMAYU SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA GENETIK POTENSIAL Fadhillah Laila; Eva Yuliana
Gema Wiralodra Vol. 11 No. 2 (2020): Gema Wiralodra
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/gemawiralodra.v11i2.144

Abstract

Mangga (Mangifera indica L.) merupakan tanaman hortikultura yang banyak tumbuh di wilayah tropis. Indonesia memiliki bentang geografis yang beragam berpeluang memiliki sumberdaya genetik mangga yang beragam. Khusus di Jawa Barat, salah satu sentra terbaik mangga terdapat di Kabupaten Indramayu dengan jenis mangga lokal sebagai varietas mangga unggul daerah. Produktivitas Mangga di Indonesia relatif fluktuatif sedangkan permintaan akan buah tropika semakin meningkat terutama sebagai komoditas ekspor. Keberadaan plasma nutfah unggulan daerah perlu dilestarikan dan dimanfaatkan ditengah alihfungsi lahan dan kepunahan sumberdaya genetik melalui erosi genetik. Plasma nutfah tanaman merupakan sumber bahan genetik bagi program pemuliaan tanaman. Penerapan dalam program pemuliaan tanaman diantaranya untuk pengembangan galur tanaman, peningkatan populasi atau perbandingan studi seleksi dalam metode pemuliaan tanaman. Oleh karena itu perlu dilakukan pelestarian sumberdaya genetik mangga lokal unggulan daerah. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan koleksi, karakterisasi morfologi dan pelestarian sumberdaya genetik mangga serta menyusun deskripsi mangga lokal Indramayu. Penelitian ini akan dilakukan melalui metode survey convenience pada tiga lokasi perkebunan mangga di Indramayu yang diduga sebagai center of origin. Karakter yang diamati berupa 27 karakter morfologi mangga berdasarkan deskriptor dari IPGRI dan disajikan dalam bentuk statistik deskriptif. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2020 sebelum masa pembungaan sampai panen mangga. Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai keragaman morfologi varietas mangga lokal unggulan Indramayu sehingga dapat dievaluasi untuk pelestarian dan pemanfaatan sumber daya genetik
Deteksi Molekuler Burkholderia Glumae Pada Varietas Padi Mekongga Di Kecamatan Indramayu Fina Dwimartina; Fadhillah Laila; Faisal Al Asad
Gema Wiralodra Vol. 13 No. 1 (2022): Gema Wiralodra
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/gemawiralodra.v13i1.197

Abstract

Deteksi patogen penyebab penyakit tumbuhan dapat dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Deteksi secara langsung umumnya dilakukan dengan menggunakan metode serologi dan molekuler. Deteksi bakteri patogen dengan teknik molekuler dapat dilakukan dengan teknik polymerase chain reaction (PCR). Penyakit hawar malai yang disebabkan oleh Burkholderia glumae dilaporkan telah menginfeksi tanaman padi di Indonesia. B. glumae dapat terbawa benih sehingga berpotensi menyebar dengan cepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui wilayah sebar penyakit hawar malai pada padi varietas Mekongga di Kecamatan Indramayu. Metode yang dilakukan meliputi pengambilan sampel biji padi Mekongga di Kecamatan Indramayu, kemudian diuji secara molekuler. Penelitian ini dilakukan dalam waktu 12 bulan ketika suhu dan kelembapan tinggi serta menjelang panen pada tanaman padi. B. glumae pada biji padi diekstraksi menggunakan DNeasy Plant Mini Kit Qiagen, dideteksi menggunakan primer Hasebe dan Lida, kemudian dilakukan elektroforesis menggunakan 5µl produk PCR pada agarose 1.2 % di dalam Buffer TAE 1x, pada tegangan 70 V selama 40 menit. DNA ladder menggunakan 100 bp plus dari Thermo Scientific. Hasil amplifikasi PCR terhadap sampel biji padi menunjukkan sampel tersebut positif terinfeksi B. glumae. Hal ini dapat terjadi karena pada saat pengambilan sampel, Kecamatan Indramayu sedang memasuki musim kering, sehingga potensi berkembangnya penyakit hawar malai akan meningkat. Infeksi B. glumae akan meningkat pada suhu dan kelembapan tinggi, sehingga akan berpengaruh terhadap peningkatan insidensi penyakit hawar malai.
Identifikasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) pada Mangga Lokal Indramayu Faisal Al asad; Fadhillah Laila; Fina Dwimartina
Gema Wiralodra Vol. 13 No. 2 (2022): Gema Wiralodra
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/gemawiralodra.v13i2.275

Abstract

Mango (Mangifera indica L.) is one of Indonesia's leading horticultural commodities. The island of Java is the national center for mango production. Mango production in West Java is one of the largest in Indonesia. The Indramayu region is the largest mango production center in West Java. Demand for this commodity is increasing, especially exports, while mango production in the last five years has fluctuated. The way to maintain optimal and sustainable mango production is by using fertilization. One of the fertilization efforts that can be done is with Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF). The presence of AMF in host plants can help the uptake of nutrients, especially phosphorus which is very important in growth, especially in the generative phase of plants. However, not all AMF can be symbiotic with plants. Therefore, it is necessary to explore and identify AMF for its utilization. This study aimed to obtain information on the diversity of AMF in local mangoes from Indramayu. This research was conducted in Jatibarang District, Indramayu with a research time of 12 months and started after the rainy season. The results showed that two AMF genera were found in the local mango rhizosphere of Indramayu, namely the genus Glomus and Acaulospora. The number of AMF spores found per 20 g of soil was 37.67 in Lobener Village, 31.67 in Jatisawit Village, and 42.33 in Krasak Village. AMF colonization in Lobener Village was 34.44%, Jatisawit Village 23.33%, and Krasak Village 33.33%.