Yohanis F. La Kahija
Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro, Jl. Prof. Soedarto, SH, Tembalang, Semarang, 50275

Published : 54 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Mengajar Sembari Belajar: Sebuah Interpretative Phenomenological Analysis tentang Pengalaman Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar Ananda Purnamasari; Yohanis Franz La Kahija
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 (Oktober 2018)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.855 KB) | DOI: 10.14710/empati.2018.23486

Abstract

Gerakan Indonesia Mengajar adalah gerakan sosial yang dilaksanakan selama satu tahun oleh pengajar muda untuk membantu mengisi kekosongan guru di lokasi terpencil, sekaligus mendorong perkembangan daerah di lokasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami pengalaman pengajar muda yang berpartisipasi dalam Gerakan Indonesia Mengajar. Pendekatan kualitatif fenomenologis dengan analisis data Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) dipilih sebagai metode penelitian karena kesesuaiannya dengan tujuan penelitian. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam semi-terstruktur pada tiga orang pengajar muda yang ditempatkan di Banggai, Rote, dan Sangihe. Pada penelitian ini ditemukan tiga tema induk, yaitu (1) Konsep diri, (2) Makna menjadi pengajar muda, dan (3) Makna pendidikan anak, serta ditemukannya dua tema khusus, yaitu (1) Rasa nasionalisme, dan (2) Kelekatan dengan keluarga angkat. Partisipan penelitian ini mengungkapkan keinginannya untuk menjadi pengajar muda yang didasarkan oleh motivasi internal, serta motivasi eksternal. Pada penelitian ini juga ditemukan transformasi diri dan pembentukan konsep diri positif dalam pribadi pengajar muda, dan kemandirian masyarakat lokasi penempatan sebagai perubahan yang terjadi pada masyarakat tersebut dengan kehadiran pengajar muda. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran ilmiah dalam bidang psikologi sosial dan psikologi pendidikan.
BAGAIMANA PENGHAYAT KEJAWEN MEMAKNAI HIDUPNYA? : SEBUAH INTERPRETATIVE PHENOMENOLOGICAL ANALYSIS Pungki Ariawan Sukamto; Yohanis Franz La Kahija
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 (April 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.287 KB) | DOI: 10.14710/empati.2014.7522

Abstract

Penelitian ini bermaksud untuk menilik bagaimana pengalaman subjek yang menempuh jalan hidup sebagai penghayat Kejawen terkait dengan dinamika kehidupan yang terjadi. Tujuan dari penelitian ini adalah memahami dunia pengalaman subjek dalam proses memaknai hidupnya.Peneliti mendasarkan diri pada pendekatan fenomenologis, khususnya IPA (Interpretative Phenomenological Analysis). Pendekatan IPA dipilih karena memiliki prosedur analisis data yang terperinci. Prosedur tersebut bertitik fokus pada makna yang diperoleh subjek melalui kehidupan pribadi dan sosialnya. Subjek yang terlibat dalam penelitian berjumlah tiga orang laki-laki (lansia) yang berasal dari tiga kota, yaitu Semarang, Jogja, dan Solo.Berdasarkan hasil riset, peneliti menemukan bahwa pergumulan yang dilakukan subjek untuk memaknai hidupnya terdiri dari tiga tahapan, yaitu (1) proses pendalaman Kejawen; (2) perkembangan diri yang integratif; (3) upaya-upaya transformatif menuju integritas sosial. Esensi dari kebermaknaan hidup mereka merupakan proses integrasi diri menuju integritas sosial. Dengan demikian, integrasi ini bermula dari proses penempaan diri yang kemudian mengaktualisasi dalam masyarakat dan berpuncak pada integritas sosial. Selanjutnya, kajian mengenai tema ini tentu akan memberi sumbangan bagi kekayaan indigenous psychology (psikologi ulayat).
MAKNA CERITA DEWI RENGGANIS BAGI PENEMBANG SERAT MENAK DI PULAU LOMBOK Lalu Arman Rozika; Yohanis Franz La Kahija
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 (April 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.526 KB) | DOI: 10.14710/empati.2014.7517

Abstract

Penelitian ini bertujuan menggambarkan seperti apa penembang Serat Menak (SM) di pulau Lombok memaknai teks Cerita Dewi Rengganis (CDR). Metode penelitian yang digunakan yaitu metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Subjek penelitian berjumlah tiga orang penembang yang semenjak usia kanak-kanak telah mulai mengenal tradisi pepaosan dan SM. Metode utama yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara mendalam, sedangkan metode pendukungnya adalah observasi, catatanlapangan, dan materi audio.Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa makna CDR bagi penembang SM di pulau Lombok digambarkan dengan empat tema induk, yaitu (1) memaknai tokoh Rengganis, (2) nilai yang terdapat dalam CDR, (3) kemanfaatan CDR, dan (4) memaknai perpisahan. Setelah memahami isi kandungan dalam CDR, subjek mengamalkannya di dalam kehidupannya. Hasil penelitian mendapatkan bahwa makna CDR bagi pemaos yakni sebagai suara hati  (conscience). Saran untuk peneliti selanjutnya, yakni agar mampu menemukan literatur yang lebih lengkap mengenai tradisi pepaosan, SM, dan CDR, mengingat penelitian terhadap sastra lisan dan tulisan di pulau Lombok dapat dikatakan masih minim.
PENGALAMAN PROSES KREATIF SENIMAN: SEBUAH PENDEKATANINTERPRETATIVE PHENOMENOLOGICAL ANALYSIS Aloisius Ganjar Sudibyo; Yohanis Franz La Kahija
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 (April 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.701 KB) | DOI: 10.14710/empati.2014.7496

Abstract

Tujuan penelitian dengan studi fenomenologis ini, adalah untuk memahami pengalaman proses kreatif seniman. Dalam penelitian ini, proses kreatif didefinisikan sebagai munculnyasuatu tindakan atas produk baru yang tumbuh baik dari keunikan individu di satu pihak maupun dari kejadian, orang-orang, dan riwayat hidupnya dilain pihak.Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Interpretative Phenomenologycal Analysis (IPA). Metode ini dipilih karena adanya prosedur yang rinci dalam menganalisis data. Prosedur yang detail tersebut membuahkan kedalaman makna terhadap berbagai latar belakang, pengalaman, peristiwa unik, dan pemikiran yang dimiliki subjek melalui wawancara. Peneliti menemukan bahwa penghayatan dalam berkesenian merupakan wujud kristalisasi perjalanan proses kreatif sebagai titik tolak dalam diri seniman untuk memperkaya jalan proses kreatif. Temuan ini didasari atas pokok perjalanan melalui pembentukan diri, penciptaan karya, pendalaman profesi seniman, dan penghayatan dalam berkesenian merupakan bagian-bagian yang tidak bisa dipisahkan. Tema-tema tersebut telah menjadi kesatuan dalam memahami pengalaman proses kreatif secara utuh. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan berguna bagi perkembangan keilmuan psikologi dalam bidang indegeneous and cultural psychology.
MAKNA YOGA: STUDI INTERPRETATIVE PHENOMENOLOGICAL ANALYSIS PADA YOGI Aditya Bhaskara Yudha; Yohanis Franz La Kahija
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 (Januari 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.205 KB) | DOI: 10.14710/empati.2015.13036

Abstract

Penelitian ini bermaksud untuk mengerti tentang pengalaman subjek yang memilih jalan hidup sebagai pelatih yoga (yogi) terkait dengan dinamika kehidupannya. Tujuan dari penelitian ini adalah memahami pengalaman subjek dalam memaknai yoga. Peneliti menggunakan metode analisis dengan pendekatan fenomenologis, khususnya Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Pendekatan IPA dipilih karena memiliki prosedur analisis data yang terperinci dan terstruktur. Prosedur tersebut bertitik fokus pada makna yoga yang diperoleh subjek melalui perjalanan kehidupan pribadi dan pengalamannya menjalani yoga. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menemukan bahwa proses perjalanan yang dilakukan subjek untuk mendapatkan makna yoga terdiri dari tiga tahapan, yaitu (1) ketertarikan pada yoga; (2) proses peningkatan kualitas; (3) hasil mendalami yoga. Kesimpulan dari makna yoga bagi yogi merupakan proses untuk menemukan kedamaian. Kedamaian dapat tercapai ketika kualitas hidup meningkat menjadi lebih baik dengan upaya-upaya yang telah mereka lakukan dalam menjalani kehidupan.
Studi Fenomenologi tentang Makna Berkompetisi Pada Peserta Olimpiade Sains Dio Prafiranggi; Yohanis Franz La Kahija
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 (Agustus 2016)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.146 KB) | DOI: 10.14710/empati.2016.15373

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna kompetisi dalam ajang olimpiade sains nasional (OSN). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis. Subjek dalam penelitian ini adalah tiga siswa SMA yang pernah mengikuti olimpiade sains nasional (OSN) baik di tingkat kota, provinsi, dan nasional. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik wawancara. Hasil yang ditemukan peneliti dari penelitian ini berupa unit-unit makna, yaitu kesiapan menghadapi kompetisi, konsep diri, social support, effort, dan hasil pencapaian. Hal ini menyatakan bahwa makna berkompetisi pada siswa yang mengikuti olimpiade sains nasional (OSN) dipengaruhi oleh social support dan konsep diri. Selain mencari prestasi, peneliti juga menemukan bahwa makna berkompetisi dari ketiga subjek yaitu, mencari suasana baru, mengukur kemampuan diri dan pembuktian diri. Makna berkompetisi dan motivasi berprestasi yang dimiliki subjek tercermin dari sebuah hasil pencapaian prestasi dan juga usaha yang dilakukan.
ARTI MEMELIHARA TRADISI PADA SUKU SAMIN INTERPRETATIVE PHENOMENOLOGICAL ANALYSIS Amelilia Fauzia; Yohanis Franz La Kahija
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 8, Nomor 1, Tahun 2019 (Januari 2019)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.071 KB) | DOI: 10.14710/empati.2019.23598

Abstract

Suku Samin adalah sekelompok orang yang mengikuti ajaran Samin Surosentiko yang muncul pada masa kolonial Belanda. Masyarakat samin sebagai salah satu kelompok etnik yang ada di Indonesia tentu memiliki nilai-nilai budaya yang berbeda dengan masyarakat lainnya. Modernisasi dalam lingkup masyarakat tradisional akan menimbulkan implikasi terhadap masyarakat tersebut. Penelitian ini bertujuan memahami makna modernisasi bagi Ketua Adat suku Samin yang berada di daerah Tanduran dan untuk mengkonfirmasi bagaimana kebijakan yang diterima oleh sebagian penganut ajaran. Dalam penelitian ini, perkembangan jaman didefinisikan sebagai adanya kemajuan dalam kehidupan yaitu adanya teknologi dan kebijakan pemerintah. Pemilihan partisipan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria, yakni penduduk asli desa Tanduran dan sebagai kepala suku Samin. Metode penelitian menggunakan penelitian fenomenologis dengan menggunakan wawancara semi terstruktur sebagai metode pengumpulan data. Interpretative phenomenological analysis digunakan sebagai metode analisis data. Penelitian ini dapat menjadikan pengingat perlunya altruisme dan kerukunan dalam kehidupan dimana saat ini sebagai penganut ajaran yang ada di suku Samin sudah semakin pudar, mereka tetap dapat menjaga sikap altruisme dan kerukunan pada siapa saja. Keunikan pada penelitian ini adalah menunjukkan bahwa penganut ajaran di suku Samin memiliki integritas yang kuat dalam altruisme dan menyampingkan tradisi demi terciptanya kerukunan dengan masyarakat lain maupun pemerintah, dimana penganut ajaran sudah mulai menjadi masyarakat modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga tema induk, yaitu (1) pengutamaan kerukunan dalam berinteraksi, (2) pemeliharaan ajaran adat, (3) pemberian bantuan tanpa membedakan. 
MAKNA PEMAKAIAN GELAR KEBANGSAWANAN JAWA (Sebuah Interpretative Phenomenological Analysis) Mahendra Dwi Satrio Nugroho; Yohanis Franz La Kahija
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 (Agustus 2016)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.164 KB) | DOI: 10.14710/empati.2016.15394

Abstract

Penelitian ini bermaksud untuk melihat bagaimana gambaran pengalaman subjek sebagai seorang individu yang hidup dalam tradisi pewarisan gelar kebangsawanan Jawa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami arti pemakaian gelar kebangsawanan bagi kehidupan subjek. Peneliti mendasarkan diri pada pendekatan fenomenologis, khususnya IPA (Interpretative Phenomenological Analysis). Pendekatan IPA dipilih karena memiliki prosedur analisis data yang terperinci. Prosedur tersebut bertitik fokus pada eksplorasi pengalaman yang diperoleh subjek melalui kehidupan pribadi dan sosialnya. Subjek yang terlibat dalam penelitian berjumlah dua orang pria dan satu orang wanita yang mewarisi gelar kebangsawanan dari Keraton Mataram. Peneliti menemukan bahwa dalam pengalaman psikologis subjek selama memiliki gelar kebangsawanan, terdapat tiga fokus utama yang menggambarkan pemaknaan subjek terhadap pemakaian gelar kebangsawanan pada subjek, yaitu: kognisi sosial tentang diri, konsep diri sebagai priyayi, dan kepribadian berbudi pekerti luhur. Penelitian ini sampai pada kesimpulan bahwa proses pemaknaan gelar kebangsawanan terbentuk melalui kolaborasi dimensi sosial, psikologis dan moral individu yang berkesinambungan.dan memiliki arti sebagai warisan leluhur yang menjadi keharusan untuk diwariskan dan dipertahankan oleh generasi selanjutnya sebagai media pemahaman terhadap norma dan nilai adat. Terdapat berbagai aturan dan ketentuan yang dilalui subjek dalam menghayati peran sebagai pemilik gelar kebangsawanan. Hal inilah yang membuat subjek dapat memaknai gelar yang dimiliki.
PENGALAMAN MENJADI CAREGIVER ANAK TUNAGANDA: INTERPRETATIVE PHENOMENOLOGICAL ANALYSIS EMILIANA MILKA NURMALITA; Yohanis Franz La Kahija
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 (Oktober 2019)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.944 KB) | DOI: 10.14710/empati.2019.26526

Abstract

Mengasuh anak tunaganda merupakan hal yang jarang diminati individu untuk dijadikan karir, karena sulit untuk mengasuh anak-anak yang menderita gabungan dari dua atau lebih kelainan/kecacatan dalam segi fisik, mental, emosi dan sosial. Individu yang bekerja untuk mengasuh anak tunaganda bisa disebut sebagai caregiver, yaitu seseorang yang menyediakan bantuan dalam kegiatan dasar dalam kehidupan sehari-hari kepada orang yang tidak bisa melakukan aktivitas tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman menjadi caregiver anak tunaganda. Pemilihan partisipan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria caregiver anak tunaganda di Panti Asuhan Cacat Ganda (PACG) Bhakti Asih dan memiliki usia kerja lebih dari 5 tahun. Penelitian ini menggunakan wawancara semi terstruktur untuk mengambil data, dan menggunakan interpretative phenomenological analysis untuk analisis data. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga tema induk, yaitu (1) keinginan bekerja di Panti Asuhan Cacat Ganda (PACG), yang meliputi keinginan membantu anak-anak dan panggilan bekerja di PACG, (2) emosi yang dirasakan ketika bekerja, yang meliputi kesenangan dan tantangan dalam bekerja, serta dampak bekerja di PACG, (3) upaya untuk bertahan kerja, yang meliputi upaya menikmati pekerjaan dan dukungan dalam bekerja.
MAKNA PENGALAMAN SPIRITUAL PADA ROHANIWAN ISLAM Arina Haq Ratri; Yohanis Franz La Kahija
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 (Januari 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.027 KB) | DOI: 10.14710/empati.2014.7437

Abstract

Penelitian ini ingin melihat bagaimana pengalaman subjek yang memiliki peran sebagai rohaniwan Islam di masyarakat dalam memaknai proses pengembangan spiritual. Tujuan penelitian ini adalah memahami pengalaman setiap subjek dalam proses mendalami kehidupan spiritual. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Metode ini dipilih dengan pertimbangan bahwa IPA merupakan metode sistematis yang berfokus pada makna yang diperoleh subjek terhadap pengalaman, peristiwa khusus, dan keadaan yang dialami subjek. Peneliti menemukan bahwa proses yang dialami setiap subjek untuk mengoptimalkan kualitas spiritualnya terdiri dari: (1) ketertarikan untuk mendalami kehidupan spiritual; (2) proses individu mengembangkan kualitas spiritual; (3) manfaat menjalani kehidupan spiritual; (4) manifestasi mendalami kehidupan spiritual. Penelitian ini sampai pada kesimpulan bahwa makna pengalaman spiritual rohaniwan Islam adalah kebutuhan untuk menjalin kedekatan dengan Allah SWT (need of intimacy). Setiap subjek menjalani berbagai pengalamannya untuk mencapai apa yang diridai atau disenangi oleh Allah Subhanahuwata’ala (SWT). Pengalaman yang mereka lalui kental dengan pengabdian yang bersifat sukarela untuk mencapai kedekatan dengan Allah SWT.