Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Analisis Implementasi Layanan E-line, E-lan & L3vpn Berbasis Software Defined Network Menggunakan Nokia Network Services Platform Tadila Fadil; Ridha Muldina Negara; Tri Reza Gading
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Berkembangnya persaingan network operator di era cloud network dalam pemberi layanan yang sangat baik kepada user menjadi perhatian oleh para network operator. Permasalahan yang timbul adalah performansi jaringan, penambahan konfigurasi yang semakin kompleks, bagian kontrol pun semakin rumit, tidak fleksibel dan sulit diatur mengakibatkan network operator sulit untuk memberikan service innovation dan proses provisioning perangkat jaringan menjadi lambat.Situasi jaringan yang ada saat ini tidak terlepas dari IP/Optical network dan terdiri dari berbagai macam perangkat yang berbeda vendor, hal tersebut mempengaruhi efisiensi waktu dan juga biaya dari sebuah NMS (network management system) dalam melakukan service provisioning dan monitoring sebuah jaringan operator, namun saat ini teknologi SDN (software defined network) mengubah paradigma network operator dalam hal service provisioning dan monitoring sebuah jaringan.Pada tugas akhir ini akan dilakukan analisa perbandingan bagaimana membuat services E-Line, E-LAN dan L3VPN dengan menggunakan cara tradisional menggunakan CLI (Command Line Interface) dan dengan menggunakan Nokia NSP. Pada analisis ini juga membuktikan bahwa service yang telah dibuat ini dapat digunakan kemudian akan di kirimkan trafik dengan menggunakan traffic generator dan melihat nilai throughput, latency dan frame loss agar mencapai SLA (service level aggrement) yang di sepakati antara service provider dan pelanggan. Setelah dilakukan pengukuran pada 3 services dengan menggunakan trafik generator didapatkan hasil dengan nilai throughput yang diterima untuk 100 Mbps data yang dikirim sebesar 98,84 Mbps pada Frame Size 1518 bytes, 98,91 Mbps pada 2000 bytes dan 99,80 pada frame size 2100. Kemudian Hasil dari pengukuran latency berkisar antara 0.225-0.271 ms dengan maksimal durasi 10 detik dan Frame loss yang telah terukur adalah sebesar 0% frame loss yang membuktikan tidak ada frame loss yang terjadi Kata kunci : Nokia NSP, E-Line, E-LAN, L3VPN, SDN Abstract The evolve of network operator competition in the cloud network era in furnishing good service to user become an attention for the network operators. The issues that appear are that the performance of network, addition configuration that will become more complex, the control part become more complicated, unflexible and will be hard to handle and it leads the network operator become hard to provide service innovation and the process of network elements provisioning become more slower. This network situation right now was due in part to the IP/Optical network and consist by some types of element from different vendor, it affects the time efficiency and also the cost of NMS (Network Management System) in doing service provisioning and monitoring a network operator, but SDN (soft defined network) technology nowadays change the paradigm of network operator in service provisiocing and monitoring a network. In this final project, there will be a comparison analysis of how to make E-line, E-LAN and L3VPN services with traditional procedural using CLI (Command Line Interface) and Nokia NSP. This analysis also prove that the services can be use and then a traffic will be sent using traffic generator and see the throughput value, latency and frame loss so that it can reach SLA (Service Level Agreement) that is agreed by the service provider and customers. After a measurement of the 3 services using generator traffic, it can be concluded that with throughput value of 100 Mbps is 98,84 Mbps on 1518 bytes frame size, 98,91 Mbps on 2000 bytes frame size and 99,80 on 2100 bytes frame size. And the result of latency measurement is around ISSN : 2355-9365 e-Proceeding of Engineering : Vol.5, No.3 Desember 2018 | Page 4407 0.225-0.271 ms with maximum duration 10 seconds and measured frame loss is 0% frame loss that prove that there is no frame loss. Kata kunci : Nokia NSP, E-Line, E-LAN, L3VPN, SDN
Integrasi Intrusion Prevention System Dan Analisa Performansi Pada Software Defined Network Pande Putu Kika Adi Saputra; Ridha Muldina Negara Negara; Danu Dwi Sanjoyo
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Software Defined Network merupakan sebuah arsitektur jaringan yang memisahkan fungsi controlling dan fungsi forwarding sebuah perangkat jaringan, intinya adalah sentralisasi jaringan. Namun konsep jaringan yang tersentralisasi memiliki kelemahan dari segi keamanan control plane. Pada Tugas Akhir ini bertujuan menerapkan dan menganalisa pengaruh mekanisme keamanan dari segi performansi menggunakan Intrusion Prevention System (IPS) yang memiliki keunggulan dengan adanya mekanisme pemblokiran paket sebagai fungsi preventif. Pada penelitian ini telah dilakukan integrasi IPS pada jaringan SDN serta melakukan pengujian dan pengukuran terhadap pengaruh yang ditimbulkan dari segi performansi jaringan. Parameter yang digunakan adalah QoS antara lain delay, jitter, throughput, serta packet loss ratio. Selain itu juga dilakukan pengujian untuk mengukur batas ketahanan IDS Snort terhadap serangan dalam jumlah banyak. Dari pengujian yang telah dilakukan, jaringan SDN yang terintegrasi IPS dilihat dari hasil pengujian performansi parameter QoS cenderung lebih stabil, karena mampu memblokir paket serangan sehingga meminimalisir terjadinya penurunan performansi akibat adanya paket serangan yang masuk ketika pengiriman paket layanan. Selain itu kemampuan IPS dalam menganalisa paket yang masuk mengalami penurunan ketika jumlah paket serangan memasuki 9.000 paket/s. Kata Kunci: Software Defined Network (SDN), Intrusion Prevention System (IPS), Snort, Performansi, Ryu Abstract Software Defined Network is a network architecture that separates the functions of controlling and forwarding function of a network device, essentially is network centralization. However, the concept of a centralized network has a weakness in terms of security control plane. In this Final Project aims to apply and analyze the influence of security mechanisms in terms of performance using Intrusion Prevention System (IPS) which has advantages in the presence of packet blocking mechanism as a preventive function. In this study integration of IPS on the SDN network has been conducted and testing and measuring the effects caused in terms of network performance. The parameters used are QoS including delay, jitter, throughput, and packet loss ratio. In addition, testing is also done to measure the limits of IDS Snort resistance to attacks in large quantities. From the tests that have been done, SDN Network integrated with IPS is able to block the attack packets sent simultaneously with the service pack of video stream and VoIP. SDN network integrated with IPS seen from the results of QoS parameter performance testing tend to be more stable, because it is able to block the attack packets to minimize the decrease in performance due to the incoming packet attacks when the delivery of service packets.. In addition, the ability of IPS in analyzing incoming packets decreased when the number of attack packets entered 9,000 packets / s. Keywords: Software Defined Network (SDN), Intrusion Prevention System (IPS), Snort, Performance, Ryu
Analisis Performansi Perencanaan Lte-unlicensed Dengan Metode Supplemental Downlink Dan Carrier Aggregation Di Wilayah Jakarta Pusat Andi Achmad Akbar Wisani; Uke Kurniawan Usman; Ridha Muldina Negara
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah resmi membuka layanan akses internet berkecepatan tinggi yang kerap disebut 4G Long Term Evolution atau yang biasa disingkat LTE pada spektrum 1800 MHz. Komersialisasi 4G LTE pada frekuensi 1800 MHz yang telah dilakukan dipastikan akan berdampak pada ketersediaan spektrum di masa depan. Oleh karena itu diperlukan teknologi LTE Advanced yang mampu menggabungkan beberapa spektrum frekuensi. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan LTE in Unlicensed Spectrum (LTE-U) dengan metode Carrier Aggregation (CA). Pada Tugas Akhir ini perancangan LTE-U dibuat dengan 2 skenario, yaitu supplemental downlink dan carrier aggregation. Perancangan LTE-U ini dilakukan dengan menggunakan bandwidth 20 MHz di frekuensi licensed 1800 MHz (primary cell) dan 5 MHz di frekuensi unlicensed 2.4 GHz. Perancangan ini dilakukan dengan studi kasus wilayah Jakarta Pusat dengan menggunakan dengan Telkomsel sebagai operatornya. Perancangan ini dilakukan dengan metode planning by capacity dan planning by coverage. Pada Tugas Akhir ini didadapatkan bahwa metode yang paling cocok untuk diterapkan di wilayah Jakarta Pusat adalah metode carrier aggregation by capacity planning dengan jumlah eNodeB 36 site. Pada simulasi, metode ini memiliki rata-rata signal level sebesar -75.36 dBm, rata-rata CINR level sebesar 13.39 dB, presentase user connected 89.4%, serta rata-rata throughput sebesar 5570,69 Mbps. Keyword : LTE-U, WiFi, 1800MHz, 2.4 GHz, 5 GHz, Dimensioning
Implementasi Dan Analisis Performa Multi Protocol Label Switching - Virtual Private Network (mpls-vpn) Dengan Metode Generic Routing Encapsulation Pada Layanan Berbasis File Transfer Protocol (ftp) Audy Septarindra; Rendy Munadi; Ridha Muldina Negara
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Layanan berbasis IP semakin berkembang dan terintegrasi dengan baik. Untuk integrasi yang baik, salah satu faktor yang jadi bahasan adalah performa jaringan tersebut. Generic Routing Encapsulation (GRE) adalah salah satu mekanisme tunneling yang tersedia yang menggunakan IP sebagai protokol transport dan dapat digunakan untuk membawa banyak protokol penumpang yang berbeda. Terowongan bertindak sebagai jalur virtual point-to-point yang memiliki dua titik akhir yaitu tunnel source dan tunnel destination di setiap endpoint. Fitur ini menggunakan MPLS melalui Generic Routing Encapsulation untuk enkapsulasi paket MPLS dalam terowongan IP. Enkapsulasi MPLS paket dalam IP tunnels membuat link virtual point-to-point di seluruh jaringan non-MPLS. Parameter uji yaitu throughput, RTT Delay, dan Packet Loss menunjukkan penurunan performa dengan diberi tunnel GRE. Penurunan performa tersebut disebabkan oleh adanya penggunaan resource pada jaringan saat interkey exchange pada pembentukan tunnel GRE. Namun penurunan performa bisa saja tidak terjadi saat tidak adanya background traffic sehingga resource yang bisa digunakan masih tesedia. Kata kunci: Throughput, RTT Delay, Packet Loss, GRE, MPLS-VPN, FTP
Quality Of Service Pada Perangkat Client Menggunakan Platform Cloud Gaming Emago Yuanita Indah Putri; Ridha Muldina Negara; Sussi Sussi
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Cloud gaming merupakan pengembangan dari infrastuktur sebagai layanan pada jenis layanan Cloud Computing. Cloud gaming menjadi solusi dalam bermain game lebih efektif. Game dengan spesifikasi tinggi kini bisa dimainkan menggunakan perangkat biasa, dimanapun dan kapanpun. Pasar industri game ditafsirkan akan terus berkembang dari tahun ke tahun. Kini di Indonesia telah muncul platform cloud gaming pertama yaitu Emago. Emago memberikan kemudahan dalam bermain, hanya dengan tersambung internet dan berlangganan kita sudah bisa memainkan games. Dalam tugas akhir ini akan dijalankan cloud gaming Emago pada sebuah laptop. Untuk mendapatkan performa dari cloud gaming Emago ini, dilakukan pengujian Quality of Service pada dua jenis game yang berbeda dengan parameter delay, packet loss, throughput. Kata kunci: Cloud Computing, Cloud Gaming, Emago ABSTRACT Cloud gaming is the development of infrastructure as a service Cloud Computing service model. Cloud gaming appears to offer the solution in playing games easier. Games with high specifications can now be played using any kind of devices, wherever and whenever. In the coming years, the gaming industry market will continue to grow. Now in Indonesia has emerged the first cloud gaming Platform, Emago. Emago allows you to play games instantly, just with a internet-connected device and subscribe. In this research, Emago cloud gaming will run on a laptop. To test network performance, measure the Quality of Service values, delay, packet loss, and throughput on two different games. Keyword: Cloud Computing, Cloud Gaming, Emago
Analisis Performansi Routing Pada Layanan Multimedia Dalam Jaringan Terintegrasi Manet Menuju Lte Reza Lutfi Ananda; Rendy Munadi; Ridha Muldina Negara
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehandalan sistem komunikasi sangat dibutuhkan terutama dalam hal skalabilitas, mobilitas serta kecepatan data yang tinggi. Akan tetapi apa jadinya jika sistem komunikasi terjadi pada kondisi kurang ideal seperti di daerah dengan kondisi alam dan infrastruktur komunikasi yang kurang baik. MANET adalah teknologi yang dapat diterapkan pada kondisi yang tidak ideal dimana jaringan ini beroperasi dan mengatur diri sendiri tanpa adanya sentralisasi. Dalam penelitian ini dilakukan pengintegrasian antara jaringan MANET dan jaringan LTE guna meningkatkan coverage dan availability jaringan. Dalam topologi yang dirancang, terdapat node UE yang bertindak sebagai gateway pada jaringan MANET sehingga semua node yang berada pada jaringan MANET dapat terhubung ke jaringan LTE. Node UE tersebut memiliki 2 buah interface yang terhubung ke jaringan MANET dan ke jaringan LTE dimana dengan menggunakan proactive adhoc routing DSDV dan OLSR dijaringan MANET dan menggunakan static routing dijaringan LTE. Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa perancangan jaringan terintegrasi MANET-LTE berhasil dilakukan dengan memanfaatkan UE sebagai double interface yang dapat berperan seperti hal nya eNode-B. Berdasarkan perubahan jumlah node, rata-rata nilai throughput untuk routing DSDV sebesar 336,10 kbps dan routing OLSR sebesar 333,13 kbps. Rata-rata nilai delay untuk routing DSDV sebesar 367,35 ms dan routing OLSR sebesar 358,48 ms. Rata-rata nilai PDR untuk routing DSDV sebesar 32,18 % dan routing OLSR sebesar 31,92 %. Ratarata nilai Jitter untuk routing DSDV sebesar 52,64 ms dan routing OLSR sebesar 52,09 ms. Berdasarkan perubahan background traffic, rata-rata nilai throuhgput untuk routing DSDV sebesar 132,6 kbps dan routing OLSR sebesar 131,61 kbps. Rata-rata nilai Delay untuk routing DSDV sebesar 279,98 ms dan routing OLSR sebesar 271,77 ms. Rata-rata nilai PDR untuk routing DSDV sebesar 12,51% dan routing OLSR sebesar 12,4%. Rata-rata nilai Jitter untuk routing DSDV sebesar 23,62 ms dan routing OLSR sebesar 22,2 ms.Kata kunci : MANET, LTE, Parameter, Protokol Routing, QoS
Implementasi Algoritma Self-tuned Adaptive Routing Dan Link Aggregation Group Untuk Mencegah Congestion Pada Software Defined Network Nokia Yudha Widiyanto; Ridha Muldina Negara; Tri Reza Gading
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Situasi jaringan existing network operator yang ada saat ini tidak terlepas dari perangkat IP/Optical network dan terdiri dari berbagai macam perangkat yang berbeda vendor, hal tersebut mempengaruhi efisiensi waktu dan juga biaya yang di keluarkan oleh network operator dalam melakukan service provisioning dan monitoring sebuah jaringan, hal tersebut menyebabkan kompleksifitas jaringan sehingga apabila terjadi lonjakan trafik antara source dan destination, maka congestion pun tidak bisa dihindari. namun dewasa ini teknologi SDN (software defined network) mengubah paradigma network operator dalam hal service provisioning dan monitoring sebuah jaringan. Nokia NSP (network service platform) merupakan sebuah platform SDN yang berfungsi untuk melakukan service provisioning, monitoring, maintenance, service automation dan network optimization. Pada konsep jaringan tradisional, dimana fungsi path computation terdapat pada router itu sendiri, menyebabkan suatu link yang sering dilewati trafik mudah mengalami congestion di saat link yang lainnya tidak ter utilisasi dengan baik. Nokia NSP menerapkan konsep centralized PCE (Path Computation Element) yang memiliki tugas khusus sebagai path computation, dengan bantuan dari CPAA (control plane assurance appliance) yang bertugas memberikan data topologi jaringan secaranya menyeluruh sehingga Nokia NSP mampu melihat secara global kondisi network yang dikelolanya. Pada tugas akhir ini dilakukan simulasi dan analisa bagaimana Nokia NSP dapat memaksimalkan link utilization suatu link IP/MPLS (multi protocol label switching) network. Dengan menggunakan dua metode yaitu penambahan Service LAG (Link Aggregation Group) pada NE (network element) dan penggunakaan algoritma STAR (Self-Tuned Adaptive Routing). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performansi Nokia NSP dalam menangani permasalahan congestion. Dari hasil pengujian dan analisis, dapat disimpulkan bahwa ke dua metode untuk pencegahan congestion dapat di implementasikan dengan baik pada jaringan IP/MPLS menggunakan nokia NSP, dengan hasil link utilization yang paling baik adalah penggunaan algoritma STAR dengan hasil link utilization sebesar 46% dari total link antara endpoint 1 (source) ke endpoint 2 (destination) Kata kunci : Nokia NSP,PCEP,NOKIA 7750 SR,Link Aggregation Group, Algoritma STAR. Abstract The network situation of existing network operators today is inseparable from IP / Optical Network devices and consists of a variety of different devices, things that affect the time and cost of a network operator in providing network services and monitoring, causing complexity networks that occur between the source and destination, congestion can not be avoided. But today the SDN (software defined network) technology is changing the paradigm of network operators in terms of service provision and network monitoring. Nokia NSP (network service platform) is an SDN platform that is able to provide service, monitoring, maintenance, service automation and network optimization. In the traditional network concept, where the computation path function is located on the router itself, causing link on popular routes, can easily become congested while other links remain underutilized. Nokia NSP implements a centralized PCE (Path Computation Element) concept that has a specific task as path computation, with the help of CPAA (control plane assurance appliance) in charge of providing comprehensive network topology data so that Nokia NSP is able to manage network with globally view network conditions. ISSN : 2355-9365 e-Proceeding of Engineering : Vol.5, No.3 Desember 2018 | Page 4942 this final project is done simulation and analysis how Nokia NSP can maximize link utilization a link IP / MPLS (multi protocol label switching) network. Using two methods is the addition of Service LAG (Link Aggregation Group) on the NE (network element) and the use of STAR algorithm (Self-Tuned Adaptive Routing). This study aims to determine the performance of Nokia NSP in dealing with congestion problems. From the results of testing and analysis, it can be concluded that the two methods for preventing congestion can be implemented well on IP/MPLS network using nokia NSP, with the best link utilization result is the use of STAR algorithm with link utilization result of 46% of total link between endpoint 1 (source) to endpoint 2 (destination) Keywords : Nokia NSP,PCEP,NOKIA 7750 SR,Link Aggregation Group,Algoritma STAR.
Analisis Performansi Ftp Server, Mail Server, Dan Web Server Pada Container Docker, Lxc, Dan Lxd Adinda Riztia Putri; Rendy Munadi; Ridha Muldina Negara
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Teknologi containerization sebagi salah satu alternatif dalam virtualisasi terus berkembang. Fleksibilitas dan efektivitas yang ditawarkan oleh containerization bahkan kini telah terintegrasi dengan Cloud Computing, salah satunya adalah implementasi project Magnum dalam Open Stack sebagai salah satu solusi bagi large and scalable cloud. Container hadir dalam banyak nama, diantaranya yang paling banyak diadaptasi oleh enterprise dan paling banyak disebut adalah Doker, LXC, dan LXD. Penelitian ini akan membahas tentang performansi Docker, LXC, dan LXD ketika menjalankan layanan server yang paling popular di cloud, yaitu FTP Server, Mail Server, dan Web Server. Pengujian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui overall performance dari server yang dijalankan di dalam masing-masing container dibandingkan dengan server native. Selain itu, pengujian ini juga melihat performansi masing-masing layanan server yang diujikan berupa HTTP request yang dapat dilayani oleh Web Server dalam waktu tertentu, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesailkan FTP Request pada FTP request dan performansi berupa banyaknya pesan yang dapat dikirim sebuah mail server melalui SMTP Protocol. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat perbedaan performansi antara sistem native dengan sistem container Docker, LXC, dan LXD. Performansi sistem LXD menunjukkan hasil paling unggul dengan persentase 90,5% dibandingkan dengan native berdasarkan metric overall performance. Untuk pengujian FTP Server, LXD menunjukkan performansi yang unggul dari segi response time, sedangkan dari segi latency dan transfer rate menunjukkan LXC memiliki performansi yang terbaik di antara ketiganya. Pada pengujian Mail server, ketiga container memiliki selisih performansi yang cukup kecil bahkan jika dibandingkan dengan native, hanya terpaut di bawah 2%. Sedangkan pada pengujian web server, LXD menunjukkan performa yang baik jika digunakan untuk menjalankan webserver dengan concurrent level rendah. Untuk tingkat concurrent level yang lebih tinggi, LXC menunjukkan nilai yang paling stabil dan cepat diantara ketiganya. Kata kunci : Docker, LXC, LXD, cloud computing Abstract Containerization technology as an alternative in virtualization is developing. Flexibility and effectivity offered by containerization technology now is integrated with cloud computing, the implementation of Magnum project in OpenStack as one of the solution for large and scalable cloud. Container has many names, among them are Docker, LXC, and LXD, the most adapted container for enterprise. This research will reveal the performance of aforementioned container when running popular services on cloud, FTP Server, Mail Server, and Web Server. The testing is done with a purpose to know the overall performance of a server running on the top of each container compared to native server. Furthermore, the goal of this research is also to know the performance of each tested server’s service, such as HTTP request that can be served by a web server in a time, time needed to complete FTP request on FTP server and performance of how many messages that a Mail Server able to process by SMTP Protocol. Result of this research shows that there is a difference between native and Docker, LXC, and LXD performance system. Performance system of LXD show the most promising one with 90,5% compared to native based on overall performance metrix. While in FTP Server testing, LXD show the best result in term of response time, while in latency and transfer rate dominated by LXC. In email server testing, all of the container has a very little performance difference compared to native, below 2%. While in web server testing, LXD show a better result if running on a low concurrent level that is 2000 user at a time. For a higher concurrent level, LXC show a better and stable result compared to other containers. Keywords: Docker, LXC, LXD, cloud computing
Resource Usage Pada Perangkat Client Menggunakan Platform Cloud Gaming Emago Rifqi Fadillah Rahmadayansya; Ridha Muldina Negara; Sussi Sussi
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Game pada saat ini telah memasuki fasa next generation gaming. Dengan kemajuan industri game yang sangat cepat, maka game yang saat ini membutuhkan spesifikasi yang sangat tinggi, sehingga banyak para pemain game tidak mampu menjalankan game terbaru. Dengan itu telah dibuat teknologi cloud gaming, yang merupakan pengembangan dari cloud computing. Cloud gaming dapat menghasilkan sebuah aplikasi gaming interaktif yang membuat cloud mengeluarkan output video dan audio. Di Indonesia, terdapat server cloud gaming bernama Emago. Resource Usage merupakan faktor penting untuk mengukur apakah game layak dimainkan. Pengukuran Resource Usage pada cloud gaming bergantung pada bandwidth dan bitrate. Dengan adanya layanan cloud gaming, pengalaman bermain game pada komputer yang memliki spesifikasi rendah sangat ringan dan memiliki kualitas grafis yang cukup bagus. Hal ini dibuktikan dengan resource usage dengan bitrate 8 yang memekai hanya 3,06% CPU usage, 79,80 MB RAM usage pada game Grid : Autosport dan 2,29% CPU usage, 70,80 MB RAM usage pada game Steredenn. Dan nilai FPS pada bitrate 8 adalah 36,20 pada game Grid : Autosport dan 41,86 pada game Steredenn. Nilai resource usage dapat dikatakan sangat baik untuk memainkan game. Kata kunci: : Game, Cloud Gaming, Cloud Computing, Emago, Bitrate, Bandwidth ABSTRACT The game at this moment has entered the next generation gaming phase. With the advancement of the gaming industry very quickly, then the games that currently require very high specifications, so many gamers are not able to run the latest games. With it has been made cloud gaming technology, which is the development of cloud computing. Cloud gaming can produce an interactive gaming app that makes the cloud output video and audio. In Indonesia, there is a cloud gaming server named Emago. Resource Usage is an important factor for measuring whether games are worth playing. Resource Usage Measures on cloud gaming depend on bandwidth and bitrate. With the existence of cloud gaming service, the experience of playing games on computers that have low specifications is very light and has a pretty good graphics quality. This is evidenced by the usage resource with bitrate 8 which only 3.06% CPU usage, 79.80 MB RAM usage in Grid game: Autosport and 2.29% CPU usage, 70.80 MB RAM usage on Steredenn game. And the FPS value at bitrate 8 is 36.20 in the Grid: Autosport and 41.86 games on Steredenn. Resource usage can be said to be very good to play the game. Keyword : Cloud Gaming, Cloud Computing, Emago, Bitrate, Bandwidth
Evaluasi Performansi Protokol Routing Dsr Dan Aodv Pada Simulasi Jaringan Vehicular Ad-hoc Network (vanet) Untuk Keselamatan Transportasi Dengan Studi Kasus Mobil Perkotaan Puji Dwika Pradana; Ridha Muldina Negara; Favian Dewanta
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Vehicular Ad-Hoc Network (VANET) merupakan pengembangan dari Mobile Ad-Hoc Network (MANET) yang memungkinkan komunikasi Inter Vehicle Communication (IVC) dan atau Roadside-to-Vehicle (RVC). Karakteristik dasar VANET yaitu mobilitas node tinggi sehingga menyebabkan perubahan yang cepat pada topologi jaringan. Hal ini disebabkan karena topologi jaringan VANET sering berubah, mencari dan mempertahankan rute adalah hal terpenting pada VANET. Mengenai node atau kendaraan yang akan direpresentasikan yaitu menggunakan mobil jenis perkotaan. Beberapa hal yang dapat dibahas yaitu mengenai perbedaan masalah yang relevan terhadap komunikasi Vehicle-toVehicle (V2V), serta menganalisis solusi teknologi yang ada guna mengatasi masalah mengenai keselamatan transportasi. Routing protocol sangat berpengaruh terhadap performansi jaringan dan digunakan untuk menghadapi tantangan terkait topologi jaringan yang dinamis. Dari hasil simulasi diperoleh bahwa dalam lingkungan perkotaan, protokol routing DSR lebih baik dibandingkan AODV. Protokol routing DSR memiliki nilai performansi yang lebih baik pada parameter yang digunakan pada kondisi ketika terjadi insiden yaitu packet delivery ratio, average throughput , routing overhead, normalized routing load, dan end to end delay dengan nilai rata-rata 80.44%;82.01%, 431.61 kbps;436.63 kbps, 0.96;0.82, 1.06;0.96, dan 3.45 ms;3.51 ms, sedangkan pada AODV memiliki nilai rata-rata 77.84%;79.87%, 419.64 kbps;421.22 kbps, 1.48;1.16, 1.86;1.56, dan 3.56 ms;3.62 ms. Hal tersebut menunjukkan bahwa protokol routing DSR lebih unggul digunakan pada mobil jenis perkotaan dengan kondisi lingkungan perkotaan. Kata kunci: VANET, NS-2, DSR, AODV, Mobil Perkotaan.
Co-Authors ., Ridwan Abu Riza Sudiyatmoko Abu Riza Sudiyatmoko, Abu Riza Ade Nurhayati, Ade Adi Sucipto, Adi Adinda Riztia Putri Ahdan, Syaiful Ammatia Risty Ammatia Risty, Ammatia Ana Oktaviana Ana Oktaviana Ana Oktaviana, Ana Andi Achmad Akbar Wisani Andre Rizki Dewo Nugraha Anisia, Rianda Arif Faturrachman Arif Indra Irawan Arif Nur Hidayat Arif Nur Hidayat, Arif Nur Arifiana Satya Nastiti Arifin, Hasan Nur Asep Mulyana Asep Mulyana Assyifavi, Shofia Audy Septarindra Baihaqi, Mohammad Rifki Budiana, Mochamad Soebagja Danastri Ratna Nursanti Dewi Danu Dwi Sanjoyo Dewanto, Ramadhika Dimitri Mahayana DJOMI, MANZILA IZNIARDI Doan Perdana DWI ANDI NURMANTRIS Edgar Giovanni Ariestawan Elfarizi, Sayid Huseini Elsa Mustikawati Faishal Yusuf Baqir Fakhri Rahmatullah Faturrachman, Arif Favian Dewanta Febri Surya Hadi Goklas Giovanni Sitompul Haidlir Achmad Naqvi Halimah Tussyadiah Hamidi, Eki Ahmad Zaki Hardika Kusuma Putri Hurianti Vidyaningtyas I Gede Agus Surya Negara I Putu Yasa I Putu Yasa Icha Nurlaela Khoerotunisa Indrarini Dyah Irawati Iqbal Firda Rusdiansyah Jupriyadi, Jupriyadi Kharisma Bani Adam Kusuma Putri, Hardika Larasati, Harashta Tatimma Leanna Vidya Yovita Lenna Vidya Yovita Manzila Izniardi Djomi Mirdan Syahid Mulya Sudrajat Muhammad Al Makky Muhammad Dimas Arfianto Muhammad Dimas Arfianto, Muhammad Dimas Muhammad Fihri Muhammad Irfan Denatama Muhammad Irfan Denatama, Muhammad Irfan Muhammad, Zaid Mustikawati, Elsa Nachwan Mufti Adriansyah Nana Rachmana Syambas Nastiti, Arifiana Satya Negara, I Gede Agus Surya Nugraha, Andre Rizki Dewo Nurkahfi, Galih Nugraha Nyoman Bogi Aditya Karna Oki Marzuqi Pande Putu Kika Adi Saputra Parman Sukarno PRASETIA, RENDI DIAN Puji Dwika Pradana Putra, Made Adi Paramartha Putri Monika Rahadiansyah, Muhammad Fadhil Rahmat Yasirandi Rahmatullah, Fakhri Ramadhika Dewanto Ramadhika Dewanto Ratna Mayasari Rein Rachman Putra Rendy Munad Rendy Munadi Revan Faredha Aswariza Revan Faredha Aswariza, Revan Faredha Reza Lutfi Ananda Rianda Anisia Rianda Anisia Ridwan . Rifqi Fadillah Rahmadayansya Rio Guntur Utomo Rizka Darmawan Dwi Putra ROHMAT TULLOH Ruli Erinton Salwa Aulia Farida Y Sayid Huseini Elfarizi Setia Juli Irzal Ismail Sofia Naning Hertiana Sri Astuti Sri Astuti Sri Rezeki Sussi Tadila Fadil Toni Kusnandar Tri Reza Gading Tri Reza Gading Triani Wulandari Triani Wulandari Triartono, Zehan Uke Kurniawan Usman Veby Riza Fransiska Wasesa, Novan Purba Wildan Maulana Xavier Samuel MFP Yeni Sanovia Yuanita Indah Putri Yudha Widiyanto YULI SUN HARIYANI Zehan Triartono Zufar Dhiyaulhaq