Artikel ini menelaah representasi tubuh perempuan sebagai pengalaman penubuhan (embodiment) dalam novel Korpus Uterus (2025) dengan menggunakan perspektif feminisme eksistensialis Simone de Beauvoir dan pemikiran Toril Moi tentang tubuh, subjektivitas, dan konstruksi makna dalam teks sastra. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan teknik pembacaan kritis terhadap narasi, tokoh, dan konflik yang berkaitan dengan rahim, kehamilan, aborsi, serta kekerasan seksual. Analisis difokuskan pada bagaimana tubuh perempuan tidak hanya diposisikan sebagai entitas biologis, tetapi sebagai tubuh yang dinegosiasikan dan dikendalikan melalui relasi kuasa patriarkal. Hasil kajian menunjukkan bahwa tubuh perempuan dalam novel ini dapat dibaca sebagai tubuh yang bermakna, yakni tubuh yang diproduksi oleh bahasa, wacana, dan pengalaman hidup, bukan semata-mata oleh kodrat biologis. Novel ini memperlihatkan bahwa praktik aborsi dan penolakan terhadap kehamilan tidak dihadirkan sebagai tindakan amoral, melainkan sebagai ekspresi penubuhan yang lahir dari pengalaman traumatis, kemiskinan, dan ketimpangan gender. Novelty penelitian ini terletak pada pembacaan Korpus Uterus sebagai teks sastra yang menempatkan rahim bukan hanya sebagai simbol reproduksi, tetapi juga sebagai ruang konflik eksistensial dan politis tubuh perempuan. Dengan menggabungkan feminisme eksistensialis Beauvoir dan pendekatan antiesensialis Toril Moi, artikel ini menawarkan pemahaman baru bahwa tubuh perempuan dalam sastra Indonesia kontemporer merupakan medan perlawanan simbolik terhadap hegemoni moral, hukum, dan budaya patriarki.