Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

UTILIZATION OF ACADEMIC PAPERS IN FORMULATING REGIONAL REGULATIONS IN KUDUS REGENCY Naili Azizah
Legal Standing : Jurnal Ilmu Hukum Vol 4, No 2 (2020): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/ls.v4i2.3127

Abstract

This article examines the importance of using academic texts in the preparation ofRegional Regulations and the factors behind the inclusion of academic texts in thepreparation of regional regulations in Kudus district.The Regional Regulations studiedwere the Kudus Regency Regional Regulations in 2015, 2016, 2017, 2018, 2019, and2020.This article is non-doctrinal legal research and is a qualitative descriptive study.The data in this article uses data from in-depth interviews and documentationstudies.From this research, it was found that several factors became the factors for theinclusion of academic texts in the formation of the Kudus Regency Regional RegulationDraft, among others, because in Law Number 12 of 2011 concerning the Formation ofLaws and Regulations - Invitation recommends the inclusion of academic texts in thepreparation of a draft Regulation. Area.Also, the holder of authority from formingregulations who has a background in the field of law, and the involvement of academicswho are involved in helping the process of forming regional regulations in KudusRegency. particularly regarding the formation of laws and regulations is also one of thereasons for the inclusion of academic papers. There are also regional regulations thatdo not make use of academic texts, namely regional regulations on regional budgetsand regional expenditures, regional regulations on accountability for the APBD,regional regulations for amendments, and regional regulations on revocation.
Penyuluhan Hukum: Tentang Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana di Indonesia bagi Mahasiswa FH Universitas Muhammadiyah Kudus Naili Azizah
Borobudur Journal on Legal Services Vol 2 No 1 (2021): Vol 2 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.312 KB) | DOI: 10.31603/bjls.v2i1.7413

Abstract

Sistem pemidanaan dalam KUHP didasarkan pada asas legalitas yang mensyaratkan bahwa pidana dapat dijatuhkan apabila terpenuhi syarat adanya perbuatan dan kesalahan, hal mana mengakibatkan pemidanaan dalam KUHP dirasakan sangat kaku dalam menyelesaikan problematika penegakan hukum, sementara dari asas legalitas ini telah bergeser menjadi asas atau teori dualistis yang memisahkan tindak pidana dan pertanggungjawaban pidana. RKUHP secara eksplisit telah mengimplementasikan teori dualistis ini sebagai bagian sistem pemidanaan, sehingga hubungan antara kepastian hukum dan keadilan dapat diwujudkan secara seimbang dalam putusan hakim.
Environmental Protection Based on Islamic Law and Epistemology in Indonesia Sunardi; Trias Hernanda; Naili Azizah; Dian Rosita
Law and Justice Vol. 8 No. 1 (2023): Law and Justice
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/laj.v8i1.635

Abstract

Indonesia is the largest Muslim country in Southeast Asia. However, this does not guarantee that the implementation of a diverse Islamic life can run well, environmental damage is an example. As a result of the environmental damage, seasonal disasters always hit Indonesia. Based on Islamic epistemology, environmental damage is proof that environmental protection is not going well. If an understanding of Islam is really carried out properly, then humans will protect nature as if they take care of themselves, so the purpose of this study is to reveal the role of the meaning of Islamic epistemology in providing an understanding of environmental protection. This type of research uses normative legal research, namely legal research conducted based on statutory regulations and library materials. Related to this type of research, the approach used in this paper is a conceptual approach to law and a historical approach. The final result of this research is the role of understanding Islamic epistemology in helping environmental protection is very real and useful if it is understood more deeply and applied properly
Pembatasan Kegiatan Keagamaan oleh Pemerintah Daerah: Konstitusionalitas dan Prinsip Negara Hukum: Restrictions on Religious Activities by Local Governments: A Study on Constitutionality and the Rule of Law Principle Rifa'i, Iman Jalaludin; Azizah, Naili
Constitution Journal Vol. 4 No. 1 (2025): Constitution Journal June 2025
Publisher : UIN Kiai Haji Ahmad Sidiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/constitution.v4i1.134

Abstract

Decentralization under Law Number 23 of 2014 grants broad authority to local governments in managing social and religious affairs. However, practices such as the prohibition of Ahmadiyya Jamaah’s Jalsah Salanah by certain regional governments raise tensions between freedom of religion and the rule of law. This study aims to evaluate the legality and legitimacy of such restrictions using John Rawls’ theory of justice, particularly the principles of basic liberties and the difference principle. A normative juridical method is employed, with statutory, case-based, and conceptual approaches. The findings reveal that many local regulations lack a national legal basis, fail the proportionality test, and discriminate against minority groups without social compensation, thereby conflicting with Rawlsian principles. The study concludes that Rawlsian justice principles must be integrated into local legislative processes, judicial review mechanisms strengthened, and inclusive deliberative forums implemented to ensure regional autonomy aligns with constitutional supremacy. Practically, this research offers an evaluative framework for local policymakers and serves as a normative reference for the Supreme Court and Constitutional Court in reviewing potentially discriminatory local regulations. Abstrak Desentralisasi melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 memberikan kewenangan luas kepada pemerintah daerah dalam urusan sosial dan keagamaan. Namun, praktik pembatasan ibadah oleh beberapa Pemda, seperti pelarangan Jalsah Salanah Jamaah Ahmadiyah, menimbulkan konflik antara kebebasan beragama dan prinsip negara hukum. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi legalitas dan legitimasi pembatasan tersebut dengan teori keadilan John Rawls, khususnya prinsip kebebasan dasar dan difference principle. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, kasus, dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejumlah kebijakan daerah tidak berlandaskan hukum nasional, tidak proporsional, serta merugikan kelompok minoritas secara diskriminatif. Kesimpulannya, diperlukan integrasi prinsip keadilan Rawlsian dalam legislasi daerah, penguatan judicial review, dan forum deliberatif yang inklusif agar otonomi daerah tidak melanggar supremasi konstitusi. Penelitian ini berkontribusi dalam menyediakan kerangka evaluatif bagi pemerintah daerah dan menjadi rujukan normatif bagi Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dalam menilai keabsahan peraturan daerah yang potensial melanggar kebebasan beragama.
Pemilu Hijau: Analisis Kebijakan Pemasangan Media Kampanye yang Ramah Lingkungan pada Pemilu 2024 Azizah, Naili; Rosita, Dian; Sunardi, Sunardi; Syaharani, Pramitha
Ahmad Dahlan Legal Perspective Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/adlp.v5i1.10634

Abstract

Isu lingkungan menjadi isu yang strategis, pada pemilu 2024 masih ditemukan Alat Peraga Kampanye (APK) yang mengabaikan peraturan kampanye ramah lingkungan. Peraturan KPU Nomor 15 Tahun 2023 tentang Kampanye Pemilihan Umum memuat istilah Alat Peraga Kampanya (APK) dan Bahan Kampanye (BK). Dalam Peraturan kampanye APK dan BK dilarang dipasang di tempat ibadah, jalan protokol, sarana prasarana publik hingga pepohonan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis peraturan tentang larangan memasang APK dan BK di pepohonan dan membedahnya dengan konsep green election. Metode Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif yang akan melandaskan pada peraturan perundang-undangan dan bahan pustaka. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa masih terdapat APK yang terpasang di pohon dan menjadi sampah visual dan belum terdapat sanksi yang tegas terhadap partai atau calon yang diusung saat melanggar ketentuan peraturan KPU tentang pemasangan APK/ BK. Kesimpulan dalam penelitian ini yakni perlu adanya kampanye yang inovatif dengan memanfaatkan media sosial. Selain kampanye yang inovatif partai maupun calon dapat mengarusutamakan isu-isu lingkungan sebagai isu yang utama.
Penegakan Hukum pada Pelaku Tindak Pidana Penganiayaan Anak di Bawah Umur di Kabupaten Kudus Subakti, Muhammad Alfin; Sunardi, Sunardi; Azizah, Naili
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 8, No 3 (2025): July
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v8i3.48782

Abstract

This research uses an empirical juridical method, combining normative studies of laws and regulations with the realities of practice in the field. The research location was the Kudus District Court and the Kudus Women and Children Protection Network (JPPA). Data were collected through interviews, document studies, and observations of child abuse cases. The results indicate that child abuse crimes in Kudus range from minor to serious, and even resulting in death. Law enforcement is carried out through the juvenile criminal justice process, while adhering to the principles of child protection. However, its implementation still faces obstacles such as limited facilities, low public legal awareness, a permissive culture of violence, and suboptimal law enforcement officers. Efforts to strengthen child protection include improving coordination between law enforcement agencies, expanding the role of the community, and prioritizing restorative justice to safeguard children's interests. This research is expected to contribute theoretically to the development of juvenile criminal law and provide practical recommendations for improving the effectiveness of legal protection in Kudus Regency.
Implementation of the Green Constitution Concept in Local Regulations in Kudus Regency as an Effort to Support Sustainable Development Dian Rosita; Naili Azizah; Zuniarti
JUSTITIA JURNAL HUKUM Vol 9 No 2 (2025): Justitia Jurnal Hukum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/justitia.v9i2.28226

Abstract

The Green Constitution concept emphasizes that environmental protection is a constitutional mandate that must be reflected in every legal policy, including regional regulations. This research aims to analyze to what extent the Green Constitution concept has been adopted in Kudus Regency regional regulations, while also assessing the effectiveness of regional regulations in supporting law enforcement and compliance with environmental regulations. This research uses normative and empirical juridical methods with a qualitative approach. Data was obtained through a review of legislation, literature studies, as well as observations and interviews with policy makers and stakeholders in Kudus Regency. The research results show that normatively, a number of regional regulations have included provision related to environmental preservation, especially in spatial planning and waste management. However, empirically, its implementation has not been optimal because it is still limited to administrative aspects, weak law enforcement, minimal coordination between institutions, and low community participation. Nevertheless, there are positive initiatives by local governments in integrating sustainability principles through community-based programs. Thus, the implementation of the Green Constitution concept in Kudus Regency requires strengthening of legal substance, harmonization of regulations, and strengthening of implementation capacity so that regional regulations do not stop as normative texts, but truly become effective and equitable instruments for environmental protection.
PENERAPAN PERMAINAN EDUKATIF ULAR TANGGA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN PEDULI LINGKUNGAN PADA SISWA SEKOLAH DASAR DI KARANGAMPEL Mustika Fairus; Ika Tristanti; Naili Azizah; Yunita Andriyani; Nurul Iman; Ahmad Hariyanto
Jurnal Abdimas Indonesia Vol 6, No 2 (2024): JURNAL ABDIMAS INDONESIA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jai.v6i2.2723

Abstract

Isu lingkungan telah menjadi salah satu masalah global yang semakin mendesak untuk diselesaikan. Pemahaman edukasi terkait peduli lingkungan dengan pencegahan membuang sampah pada tempatnya dan sesuai jenisnya perlu dilakukan sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa SDN 1 Karangampel dalam pemilahan sampah organik dan anorganik melalui permainan ular tangga. Metode pembelajaran dilakukan melalui sosialisasi dan penerapan pembelajaran melalui media permainan ular tangga. Selama permainan, siswa dihadapkan pada pertanyaan seputar pengelolaan sampah dan jenis sampah. Hasil kegiatan edukasi peduli lingkungan mampu menunjukkan peningkatan pengetahuan siswa terkait dampak sampah  dari 36% menjadi 92% sedangkan pengetahuan cara pemilahan sampah dari 24% menjadi 86%. Pendekatan pembelajaran yang menyenangkan seperti permainan ular tangga, diharapkan siswa dapat lebih mudah mengingat dan mengaplikasikan pengetahuan tentang pengelolaan sampah dan menjaga lingkungan sekitar.
PENERAPAN KONSEP OMNIBUS LAW DI INDONESIA PASCA PUTUSAN INKONSTITUSINAL BERSYARAT Trias Hernanda; Hendra Setyadi Kurniaputra; Maslikan Maslikan; Naili Azizah
JURNAL KEADILAN HUKUM Vol 4, No 2 (2023): JURNAL KEADILAN HUKUM
Publisher : JURNAL KEADILAN HUKUM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Omnibus law adalah undang-undang yang menitikberatkan pada penyederhanaan jumlah regulasi, di Indonesia konsep ini merupakan konsep yang dianggap baru. Pengadopsian konsep omnibus law bertujuan untuk melakukan revisi undang-undang yang bermasalah dengan perizinan, hal ini dikarenakan Presiden Joko Widodo ingin membuka akses investasi sebesar-besaranya bagi investor, akan tetapi konsep ini dinilai teralu prematur dan tergesa-gesa, yang akibatnya menimbulkan konflik dan berakhir di Mahakamah Konstitusi lewat judicial review. Mahkamah Konstitusi akhirnya melahirkan keputusan inkonstitusional bersyarat, putusan tersebut bersifat final dan harus dipatuhi, akan tetapi pemerintah mengeluarkan intruksi lewat kementrian dalam negeri untuk tetap berpedoman terhadap Undang-Undang Cipta Kerja. Berdasarkan uraian tersebut tindakan pemerintah menimbulakn sebuah ketidakteraturan hukum (disorder law). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normative, data hukum yang digunakan berasal dari peraturan perundang-undangan, buku-buku, jurnal ilmiah dan sumber-sumber ataupun bahan dari media berita online dan Putusan Mahkamah Konstitusi.Kata Kunci: omnibus law, putusan inkonstitusional bersyarat, mahkamah konstitusiAbstractOmnibus law is a law that focuses on simplifying the number of regulations, in Indonesia this concept is a concept that is considered new. The adoption of this omnibus law concept is aimed at revising the law that has problems with licensing because President Joko Widodo wants to open access to investment as large as possible for investors, but this is considered too premature and hasty, which as a result causes conflicts and ends in the constitutional court. constitution through judicial review. The Constitutional Court finally issued a conditional decision, the decision is final and must be obeyed, but will issue a decision through the ministry of home affairs to remain guided by the Job Creation Act. Based on this action, the government created a legal disorder (disorder law). The research method used in this research is normative juridical, the legal data used comes from legislation, books, scientific journals, and sources or materials from online news media and the Constitutional Court Decision.Keywords: omnibus law, conditional unconstitutional decision, Constitutional Court
Analisis Kebijakan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2016 Tentang Tabungan Perumahan Rakyat Ditinjau dari Teori Tujuan Hukum Perspektif Gustav Radbruch Annis Muannisa; Naili Azizah; S Sunardi
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 20th University Research Colloquium 2025: Bidang Pendidikan, Humaniora dan Agama
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebijakan Tabungan Perumahan Rakyat masih mendapat berbagai tantangan terutama keraguan akan efektivitasnya dalam mewujudkan keadilan sosial. Keberhasilan suatu kebijakan tidak hanya diukur dari sisi teknis dan administratif, tetapi juga dari bagaimana kebijakan tersebut mampu mewujudkan tujuan utama dalam hukum. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Gustav Radbruch bahwa hukum harus mencerminkan tiga nilai utama, yakni keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan. Keutamaan penelitian ini terletak pada penggunaan teori tujuan hukum Gustav Radbruch yang jarang diaplikasikan dalam studi kebijakan publik bidang perumahan. Metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian hukum normatif menggunakan pendekatan perundang-undangan. Data yang digunakan pada penelitian ini yakni data sekunder (studi pustaka). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) berdasarkan teori tujuan hukum Gustav Radbruch mengandung tantangan terkait aspek keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan. Meskipun Tapera bertujuan memberikan akses perumahan yang lebih luas, kebijakan ini belum sepenuhnya adil, terutama bagi pekerja informal yang kesulitan memenuhi kewajiban iuran. Tapera memberikan kepastian hukum melalui aturan yang jelas, namun transparansi dan pengawasan dana perlu ditingkatkan. Meskipun memberikan manfaat sosial, kewajiban bagi Pekerja Mandiri yang telah memiliki rumah perlu dievaluasi, agar kebijakan ini lebih inklusif dan relevan dengan kondisi masyarakat yang beragam.