Yulia Sofiatin
Department Of Epidemiology And Biostatistics, Faculty Of Medicine Universitas Padjadjaran

Published : 24 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Socio-cultural aspects of non-communicable disease prevention in three villages in the West Java Erna Herawati; Yulia Sofiatin
Masyarakat, Kebudayaan dan Politik Vol. 34 No. 3 (2021): Masyarakat, Kebudayaan dan Politik
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (952.435 KB) | DOI: 10.20473/mkp.V34I32021.340-354

Abstract

Community responses to disease, including non-communicable diseases, are influenced by the socio-cultural system. The system shapes community knowledge and belief on diseases, as well as community attitude and practice towards prevention and treatment. Drawing on the case in West Java Province, this study aims at identifying socio-cultural aspects in preventing non-communicable diseases. This study was conducted by using a qualitative design. The data were collected through in-depth interviews and archival study. This study found four socio-cultural aspects related to disease and the prevention and treatment of disease in West Java: 1) knowledge and practice of medicine covered in a local knowledge system about the prevention and treatment of non-communicable diseases, 2) local institutions, involving social institutions ranging from families, mosque neighborhood groups, and recitation groups, 3) social actors involved, such as ustaz, traditional leaders, and youth groups, 4) local health communication, using visual and audiovisual aids. This study concludes that these four aspects must be considered in designing a socio-cultural-based non-communicable disease prevention strategy, to be effective and in accordance with the socio-cultural context in West Java.
Pola Keterlambatan Perkembangan Balita di daerah Pedesaan dan Perkotaan Bandung, serta Faktor-faktor yang Mempengaruhinya Eddy Fadlyana; Anna Alisjahbana; Ilsa Nelwan; Muchlisah Noor; Selly Selly; Yulia Sofiatin
Sari Pediatri Vol 4, No 4 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp4.4.2003.168-75

Abstract

Periode lima tahun pertama kehidupan akan menentukan kualitas hidup anak dikemudian hari. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui gambaran perkembanganbalita di daerah pedesaan dan perkotaan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.Tempat penelitian dipilih secara purposive di 4 wilayah puskesmas (2 perkotaan dan 2pedesaan), Kabupaten Bandung. Penelitian dilakukan secara cross sectional dengan subjekpenelitian anak balita yang sehat dan kooperatif pada saat pemeriksaan, serta orang tuamenyetujui ikut dalam penelitian. Subjek dibagi atas 2 kelompok umur perkembangan(< 2 th, dan 2-5 th), dipilih secara stratified random sampling dengan alokasi sampelditentukan secara proporsional. Tes perkembangan dilakukan oleh 3 dokter denganmenggunakan metode Munchener yang telah dimodifikasi dengan klasifikasi hasil tesnormal dan ada keterlambatan perkembangan. Lima aspek perkembangan yang dinilaiyaitu motorik kasar, motorik halus, persepsi, vokalisasi/pengertian bahasa, dan sosial.Selama periode penelitian sebanyak 498 balita memenuhi kriteria inklusi, terdiri dari227 (46%) laki-laki dan 271 (54%) perempuan. Balita yang mengalami keterlambatanperkembangan di daerah pedesaan sebesar 30% dan di perkotaan 19%, perbedaan inisecara statistik bermakna (p=0,012). Di daerah pedesaan pola keterlambatanperkembangan secara urutan dari yang paling banyak adalah aspek vokalisasi/pengertianbicara (66%), persepsi (38%), motorik halus (35%), motorik kasar (35%) dan sosial(1%). Sedangkan di daerah perkotaan adalah vokalisasi/ pengertian bahasa (58%),motorik halus (38%), persepsi (36%), motorik kasar (26%) dan sosial (12%). Faktorfaktoryang berhubungan dengan status perkembangan adalah umur anak, pendidikanibu, penghasilan keluarga dan tempat tinggal. Perlu dilakukan upaya untukmenanggulangi keterlambatan perkembangan balita di daerah pedesaan maupun diperkotaan terutama pada kelompok umur di bawah 2 tahun.
Peran Madu Sebagai Terapi Utama Penyembuhan Ulkus Diabetik Pada Lansia: Studi Kasus Puspita, Tantri; Kosasih, Cecep Eli; Juniarti, Neti; Sofiatin, Yulia
Jurnal Riset Kesehatan Nasional Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37294/jrkn.v9i1.642

Abstract

Diabetes melitus (DM) adalah penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat, terutama pada populasi lanjut usia. Salah satu komplikasi utama DM adalah ulkus diabetikum, yang sulit disembuhkan dan berisiko tinggi terhadap infeksi serta amputasi. Studi kasus ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas madu sebagai terapi topikal dalam perawatan ulkus kaki diabetikum pada pasien lansia. Seorang pasien laki-laki berusia 67 tahun dengan DM selama 1 tahun dan ulkus kaki diabetikum selama 8 minggu menerima perawatan luka menggunakan aplikasi madu secara topikal. Aplikasi madu dilakukan 1 sampai 3 kali sehari pada luka yang mengalami infeksi.. Observasi dilakukan terhadap perubahan ukuran luka, tanda-tanda infeksi, dan waktu penyembuhan. Hasil menunjukkan bahwa penyembuhan luka berlangsung dalam 8 minggu, dengan kemajuan penyembuhan yang lebih cepat saat luka diaplikasikan madu dibandingkan dengan penggunaan menggunakan antibiotik topikal. Fluktuasi kadar glukosa darah pasien (88–207 mg/dL) tercatat selama masa pengobatan, yang berpotensi memengaruhi waktu penyembuhan luka. Madu sebagai terapi topikal menunjukkan potensi yang menjanjikan dalam mempercepat penyembuhan ulkus diabetikum, dengan manfaat antibakteri yang membantu mencegah infeksi. Meskipun demikian, stabilitas kadar glukosa darah tetap menjadi faktor yang signifikan dalam keberhasilan terapi ini. Oleh karena itu, penggunaan madu sebaiknya dipadukan dengan pengelolaan glikemik yang optimal. Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi efektivitas madu pada populasi yang lebih luas dan dalam kondisi yang lebih terkontrol.   Kata Kunci: diabetes melitus, madu, perawatan luka
Penyuluhan Penyakit Tidak Menular (PTM) untuk Menumbuhkan Kesadaran Pencegahan pada Masyarakat di Desa Cipacing, Jawa Barat Herawati, Erna; Sofiatin, Yulia
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 4 (2021): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v5i4.4692

Abstract

ABSTRAKTingginya angka prevalensi penyakit tidak menular (PTM) di Indonesia, termasuk di Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, belum diikuti oleh kesadaran masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan; meski mereka mengetahui bahwa penyakit ini berdampak serius pada fisik dan sosial-ekonomi. Kegiatan sosialisasi mengenai pencegahan PTM ini bertujuan membangun kesadaran masyarakat pada pentingnya upaya pencegahan. Kegiatan ini dilakukan melalui penyuluhan dan pemeriksaan tekanan darah, gula darah, asam urat, dan kolesterol bagi warga masyarakat sebagai upaya deteksi dini pada risiko PTM. Hasil deteksi dini menunjukkan bahwa sebagian besar warga di Desa Cipacing memiliki risiko tinggi pada PTM terutama penyakit tekanan darah tinggi. Kombinasi penyuluhan dan pemeriksaan deteksi dini berdampak positif dalam membangun kesadaran para warga untuk melakukan pencegahan. Kegiatan ini telah mendorong masyarakat untuk melanjutkan kegiatan pencegahan PTM melalui Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM yang ada di tingkat RW.Kata Kunci: Sosialisasi, Pencegahan, Penyakit Tidak MenularCounseling on Non-Communicable Diseases (NCDs) to Raise Awareness of Prevention in the Community in Cipacing Village, West Java          ABSTRACTThe prevalence of non communibacle diseases (NCDs) in Indonesia is considerably high, including those in Cipacing village,  Jatinangor sub-district, Sumedang District in the West Java Province. Despite this fact, there is low awareness of prevention among the villagers, eventhough they aware of the serious impact of the diseases towards their health  and social-economic status. This activity aims at build awareness among villagers towards non-communicable diseases prevention. In this activity, combination of information dissemination and NCD scrining has effectively endorsed the villagers to build their awareness of the disease and has inspired them to initiate action for prevention. The scrining result showed that most of the villagers are at high risk of NCDs, in particular hypertension. This data has successfully endorsed the villagers to establish NCD scrining and mangement in their own neighborhood through Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM, a community-based activity of NCD prevention and management. Keywords: Information dissemination, Prevention, Non-communicable Diseases