Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

PERWUJUDAN KEADILAN DAN KEADILAN SOSIAL DALAM NEGARA HUKUM INDONESIA: Perjuangan yang Tidak Mudah Dioperasionalkan Purwanto, Purwanto
JURNAL HUKUM MEDIA BHAKTI Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Panca Bhakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32501/jhmb.v1i1.2

Abstract

Keadilan dan keadilan sosial memiliki sejarah pemikiran yang panjang dalam diskursus hukum dan negara. Negara merupakan figur sentral dalam perwujudan keadilan dan keadilan sosial. Dalam negara hukum Indonesia perwujudan keadilan dan keadilan sosial merupakan perjuangan yang tidak mudah dioperasionalkan. Metode`yang dipergunakan dalam kajian ini adalah yuridis normatif, dengan titikberat pada penulusuran studi pustaka. Dalam pembahasannya mengkonfirmasikan bahwa keadilan dan keadilan sosial memiliki pertemalian yang erat. Perwujudannya merupakan unsur utama, mendasar, paling rumit, luas, struktural dan abstrak. Keadilan sebagai kemauan yang bersifat tetap dan terus-menerus untuk memberikan kepada setiap orang, apa yang seharusnya diterima. Keadilan sosial selalu ditujukan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, melalui pemerataan sumber daya agar kesenjangan sosial ekonomi di tengah-tengah masyarakat dapat dikurangi.
KONTESTASI TERMINOLOGI DAN PENGAKUAN MASYARAKAT HUKUM ADAT DI INDONESIA Purwanto, Purwanto
JURNAL HUKUM MEDIA BHAKTI Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Panca Bhakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32501/jhmb.v1i2.10

Abstract

Kontestasi  terminologi  dan pengakuan Masyarakat Hukum Adat (MHA)  sesuatu yang urgen untuk didiskusikan secara  akademis. Acapkali  peristilahan  yang dilabelkan pada MHA masih berkonotasi negatif, khususnya dalam menghadapi hegemoni dan represitas negara. Praktik penamaan istilah  MHA semakin sering  dirujuk, apalagi  setelah   Konstitusi maupun berbagai perundang-undangan sektoral mempergunakan istilah MHA. Dinamika alas yuridis emperik  tentang  terminologi dan pengakuan MHA  berikut hak-haknya  dapat ditelusuri dari dimensi hukum Internasional dan hukum Nasional.
Study of Proportional Variation of Geopolymer Concrete which Self Compacting Concrete Purwanto P.; Himawan Indarto
JACEE (Journal of Advanced Civil and Environmental Engineering) Vol 2, No 2 (2019): October
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jacee.2.2.65-75

Abstract

Portland cement production process which is the conventional concrete constituent materials always has an impact on producing carbon dioxide (CO2) which will damage the environment. To maintain the continuity of development, while maintaining the environment, Portland cement substitution can be made with more environmentally friendly materials, namely fly ash. The substitution of fly ash material in concrete is known as geopolymer concrete. Fly ash is one of the industrial waste materials that can be used as geopolymer material. Fly ash is mineral residue in fine grains produced from coal combustion which is mashed at power plant power plant [15]. Many cement factories have used fly ash as mixture in cement, namely Portland Pozzolan Cement. Because fly ash contains SiO2, Al2O3, P2O3, and Fe2O3 which are quite high, so fly ash is considered capable of replacing cement completely.This study aims to obtain geopolymer concrete which has the best workability so that it is easy to work on (Workable Geopolymer Concrete / Self Compacting Geopolymer Concrete) and obtain the basic characteristics of geopolymer concrete material in the form of good workability and compressive strength. In this study, geopolymer concrete is composed of coarse aggregate, fine aggregate, fly ash type F, and activators in the form of NaOH and Na2SiO3 Be52. In making geopolymer concrete, additional ingredients such as superplastizer are added to increase the workability of geopolymer concrete. From this research, the results of concrete compressive strength above fc' 25 MPa and horizontal slump values reached 60 to 80 centimeters.
Analisis Yuridis terhadap Judicial Review Mahkamah Konstitusi dalam Kaitannya dengan Proses Penyidikan : Studi Kasus Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor : 130/PUU-XIII/2015 Rahmad Satria; Rizki Amalia Fitriani; Agustinus Astono; Purwanto
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2: Agustus (2022)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v2i2.67

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan judicial review yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi dengan terbitnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 130/PUU-XIII/2015 yang menimbulkan permasalahan dalam proses penegakan hukum, khususnya proses penyidikan. Metode yang digunakan adalah kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan ada tiga, antara lain studi pustaka, berupa kajian artikel-artikel yang menulis tentang judicial review yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi. Wawancara yang dilakukan pada beberapa Penyidik Polri dari Direktorat Reserse dan Kriminal Umum Polda Kalbar. Dokumentasi berupa rekaman wawancara. Hasil penelitian ini adalah tindakan judicial review yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi dengan terbitnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 130/PUU-XIII/2015 yang mewajibkan bagi Penyidik untuk memberitahukan dan menyerahkan surat perintah dimulainya penyidikan kepada Terlapor dalam waktu paling lambat 7 (tujuh) hari setelah dikeluarkannya surat perintah penyidikan menimbulkan permasalahan dalam proses penegakan hukum, khususnya proses penyidikan.
Analisis Yuridis Penyelesaian Perkara Perdata berdasarkan Hybrid Arbitration dan Arbitration: Suatu Tinjauan Perbandingan Hukum Purwanto; Rizki Amalia Fitriani; Yenny Aman Serah; Agustinus Astono; Weni Sentia Marsalena
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2: Agustus (2022)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v2i2.72

Abstract

Hybrid Arbitration adalah penyelenggaraan proses arbitrase yang juga menggunakan satu atau lebih bentuk Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS) lainnya, baik pada awal proses maupun selama proses penyelesaian sengketa perdata berlangsung.  kelebihan dari penggunaan metode hybrid arbitration ialah memberikan putusan yang final,  Lebih murah dan lebih efektif dari arbitrase atau pengadilan, dan Keluwesan proses dapat membantu menyelesaikan sengketa. Kelemahan  hybrid arbitration, antara lain: Para pihak mungkin tidak ingin menyelesaikan sengketa mereka secara damai,  rentan dan dapat ditantang serta  Para pihak khawatir bila Arbitrator mungkin tampak, dan mungkin benar-benar menjadi berat sebelah. Penyelesaian sengketa perdata menggunakan metode hybrid arbitration sebenarnya tidak berbeda jauh dengan metode penyelesaian sengketa perdata melalui arbitration karena metode hybrid arbitration merupakan penggabungan dari arbitrase dan mediasi. Perbedaannya hanya terletak pada mekanisme penyelesaian sengketa yang digunakan terlebih dahulu, apakah mediasi atau arbitrase. Penggunaan metode hybrid sebagai suatu metode penyelesaian sengketa di Indonesia memang masih tergolong baru.
Mewujudkan Keluarga Indonesia Anti Trafficking (KIAT) Melalui Penyuluhan Hukum Bagi Kelompok Kadarkum PKK Desa Yenny Aman Serah; Purwanto Purwanto; Temmy Hastian; Rini Setiawati; Adhytia Nugraha
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 7 No. 1 (2025): February
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v7i1.2511

Abstract

Program Keluarga Indonesia Anti Trafficking (KIAT) bertujuan meningkatkan literasi hukum dan kesadaran masyarakat dalam mencegah perdagangan manusia (TPPO), khususnya di Kelurahan Benua Mas, Kabupaten Bengkayang. Mitra utama dalam program ini adalah PKK Kelurahan Benua Mas yang memiliki peran strategis dalam pemberdayaan perempuan dan keluarga. Metode utama yang digunakan adalah penyuluhan hukum berbasis komunitas melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, simulasi kasus, serta pemanfaatan media digital seperti video edukasi dan grup WhatsApp. Hasil program menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap konsep TPPO, modus operandi pelaku, serta mekanisme perlindungan hukum, dengan peningkatan skor pemahaman hingga 55%. Pembentukan Kelompok Sadar Hukum (Kadarkum) PKK juga menjadi langkah strategis dalam keberlanjutan program. Kesimpulannya, program KIAT efektif dalam meningkatkan kesadaran hukum dan kapasitas komunitas dalam mencegah TPPO. Rekomendasi utama meliputi penguatan literasi digital bagi kader PKK, perluasan cakupan program ke wilayah lain, serta sinergi dengan pemangku kepentingan untuk kebijakan pencegahan TPPO yang lebih sistematis.  An Indonesian Anti-Trafficking Family (KIAT) Through Legal Counseling for the Kadarkum PKK Village Group  The Indonesian Anti-Trafficking Family (KIAT) program aims to enhance legal literacy and public awareness in preventing human trafficking (TPPO), particularly in Benua Mas Village, Bengkayang Regency. The main partner in this program is the Benua Mas PKK, which plays a strategic role in empowering women and families. The primary method used is community-based legal counseling through interactive lectures, group discussions, case simulations, and the use of digital media such as educational videos and WhatsApp groups. The program results show an increase in participants' understanding of TPPO concepts, perpetrators' modus operandi, and legal protection mechanisms, with knowledge scores improving by up to 55%. The formation of the PKK Legal Awareness Group (Kadarkum) is also a strategic step in ensuring the program's sustainability. In conclusion, the KIAT program effectively raises legal awareness and strengthens community capacity to prevent TPPO. Key recommendations include strengthening digital literacy for PKK members, expanding the program to other regions, and fostering synergy with stakeholders for a more systematic anti-trafficking policy.  
Strengthening Rule of Law in the Legislative Process in Indonesia Rahmad Satria; Purwanto Purwanto; Agustinus Astono
JURNAL AKTA Vol 13, No 2 (2026): June 2026
Publisher : Program Magister (S2) Kenotariatan, Fakultas Hukum, Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/akta.v13i2.52583

Abstract

The principle of rule of law is the main foundation of the state of law which requires that the process of forming laws be carried out in a constitutional, transparent, accountable, and participatory manner. However, in the practice of legislation in Indonesia, various laws often receive criticism due to weak procedural compliance, lack of meaningful public participation, and increasing formal testing in the Constitutional Court. This condition shows that there is a gap between the legal norms of the formation of laws and regulations and the actual practice of legislation. This study aims to analyze and evaluate the strengthening of the principle of rule of law in the legislative process in Indonesia by examining the relationship between the normative framework of law-making and the institutional practice of law-making. This study uses the doctrinal-socio-legal research method with a qualitative approach, which combines normative analysis of laws and regulations and the principles of the state of law with empirical analysis based on official documents of the legislation process, including academic manuscripts, minutes of DPR meetings, list of problem inventories, and statements of the DPR and the Government in the Constitutional Court's decision. The data is analyzed qualitatively through legal reasoning and content analysis. The results of the study show that although the regulatory framework for the formation of laws has accommodated the principle of rule of law, its implementation is still formalistic and does not fully guarantee meaningful public participation. This study concludes that strengthening the rule of law in the legislative process requires procedural reform and strengthening accountability mechanisms to ensure the quality of constitutional and democratic legislation.
Antinomy of Investment Law: Problems of Ideology, Framework and Regulatory Conflict Purwanto Purwanto; Markus Yohanis Hage
JURNAL AKTA Vol 13, No 2 (2026): June 2026
Publisher : Program Magister (S2) Kenotariatan, Fakultas Hukum, Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/akta.v13i2.54502

Abstract

The development of investment in Indonesia began in the 1960s with the enactment of Law No. 1 of 1967 concerning Foreign Investment and Law No. 6 of 1968 concerning Domestic Investment. This research is classified as doctrinal research, namely research that understands law as the principles of truth and justice that are natural and universally applicable. The data sources for this research consist of primary and secondary data. The analysis techniques in this research include normative and ideological interpretations of laws and constitutional documents. This analysis aims to uncover the meaning of the values contained in investment legal norms and their relationship to the ideology they carry. The ideology that accompanies investment, namely the elite social construction that does not provide opportunities for people's economic empowerment towards independence and productivity. The idea of designing 'what' will be achieved through investment, 'how' the idea is expressed in the form of legal institutions/institutions, and 'to what extent' the process of understanding and deepening of these institutions and institutions, is a dialectical circle of struggle between the economic elite and the power elite. The source of the idea is capitalist liberal ideology, the locus of market thinking that makes profit a never-ending and never-culminating pursuit.
Pendampingan Pengelolaan Keuangan Berbasis Digital Finance Syariah Pada Yayasan Fathu Minal Fityan Reni Dwi Widyastuti; Aris Setiawan; Wilda Sari; Ekawati Ekawati; Purwanto Purwanto
SEMAR (Jurnal Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni bagi Masyarakat) Vol 12, No 1 (2023): Mei
Publisher : LPPM UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/semar.v12i1.69228

Abstract

Pengelolaan keuangan sangat penting dilakukan oleh berbagai pihak termasuk pondok pesantren. Namum pada kenyataanya masih terdapat banyak pondok pesantren yang belum dapat melakukan pengelolaan keuangan dikarenakan oleh berbagai factor. Diantaranya adalah kurangnya pemahaman pengurus pondok pesantren dalam melakukan pengelolaan keuangan yang baik dan benar. Tujuan dari program pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk memberikan pelatihan dan pendampingan pengelolaan keuangan berbasis akuntansi syariah pada pondok pesantren. Pengabdian dilaksanakan pada Yayasan Fathu Minal Fytian Kalimantan Barat. Pelatihan dan pengelolaan keuangan yang dilakukan berbasis Digital Finance Syariah dengan menggunakan Aplikasi SYIAR. Kegiatan PKM ini diawali dengan proses survei permasalahan, penyuluhan atau penyampaian materi, dan pendampingan dalam praktik administrasi dan pengelolaan keuangan. Setelah program ini selesai diharapkan pengelola pondok pesantren dapat melakukan pengelolaan keuangan dengan baik menggunakan aplikasi digital. Kata kunci : Pengelolaan Keuangan; Digital Finance Syariah; SYIAR
Peran Mediasi Adat Dayak Kanayat’n dalam Menyelesaikan Kasus Pencurian Purwanto Purwanto; Agustinus Astono
BANI Arbitration and Law Journal Vol. 2 No. 2 (2026): BANI Arbitration and Law Journal, Volume 2, Issue 2, April 2026
Publisher : Badan Arbitrase Nasional Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63400/balj.v2i2.8

Abstract

AbstrakKasus pencurian di Indonesia terus meningkat dan menjadi tantangan bagi sistem peradilan pidana yang sering kali tidak mempertimbangkan aspek keadilan restoratif. Dalam masyarakat adat Dayak Kanayat’n, penyelesaian kasus pencurian tidak hanya mengandalkan sistem hukum negara, tetapi juga melalui mekanisme mediasi adat yang berorientasi pada pemulihan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran mediasi adat Dayak Kanayat’n dalam penyelesaian kasus pencurian serta efektivitasnya sebagai alternatif penyelesaian sengketa di luar peradilan negara. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif-yuridis dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, termasuk Musyawarah Adat Dayak Kanayat’n Tahun 2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pranata adat seperti Timanggong, Pasirah, dan Pangaraga berperan sebagai mediator yang tidak hanya memfasilitasi dialog antara pihak bersengketa, tetapi juga memiliki wewenang dalam menetapkan putusan berdasarkan hukum adat. Proses mediasi adat melibatkan tahapan pengaduan, pemanggilan, musyawarah mufakat, serta sumpah adat jika diperlukan. Sanksi adat yang diberikan bersifat simbolik dan bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan sosial, berbeda dengan sistem peradilan pidana yang cenderung retributif. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada analisis mendalam terhadap integrasi mediasi adat dalam konsep keadilan restoratif, yang dapat menjadi model penyelesaian sengketa berbasis kearifan lokal. Temuan ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pembuat kebijakan dalam mengakui dan mengakomodasi hukum adat dalam sistem hukum nasional. AbstractTheft cases in Indonesia continue to rise, posing a challenge to the criminal justice system, which often does not take restorative justice aspects into account. In the Dayak Kanayat'n indigenous community, the resolution of theft cases does not rely solely on the state legal system but also on customary mediation mechanisms that are oriented toward social recovery. This study aims to analyze the role of Dayak Kanayat'n customary mediation in resolving theft cases and its effectiveness as an alternative dispute resolution method outside the state courts. The research method used is normative-juridical legal research with a qualitative approach. Data were obtained through a literature review of primary and secondary legal materials, including the 2010 Dayak Kanayat'n Customary Deliberation. The study's findings indicate that customary institutions such as Timanggong, Pasirah, and Pangaraga act as mediators who not only facilitate dialogue between disputing parties but also have the authority to render decisions based on customary law. The customary mediation process involves several stages, including complaints, summons, consensus deliberation, and, if necessary, a customary oath. The sanctions imposed under customary law are symbolic and aim to restore social balance, in contrast to the criminal justice system, which tends to be retributive. The novelty of this study lies in its in-depth analysis of the integration of customary mediation within the concept of restorative justice, offering a model for dispute resolution based on local wisdom. These findings are expected to serve as a reference for policymakers in recognizing and incorporating customary law into the national legal system.