Muh. Ilham Usman, Muh. Ilham
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene

Published : 28 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

FENOMENA ZIARAH MAKAM WALI DALAM MASYARAKAT MANDAR Mukhlis Latif; Muh Ilham Usman
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 19, No 2 (2021)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v19i2.4975

Abstract

This paper presents the results of research on the phenomenon of the pilgrimage to the graves of wali’s in the Mandarese community of the South Sulawesi. This study used a descriptive qualitative method to describe the behavior of pilgrimage to the graves of the wali’s by the Mandarese community by observing the graves of Syekh Abdul Mannan, Syekh Abdurrahim Kamaluddin and Imam Lapeo. Data were collected using interview and observation methods, as well as conducting a Focus Group Discussion (FGD) in Majene. The research was conducted from March to October 2020. The results of the study found that the Mandarese society always made pilgrimages to the tomb of Syekh Abdul Mannan (as the first propagator of Islam in the Banggae area), the tomb of Syekh Abdurrahim Kamaluddin (as the first spreader of Islam in the Binuang-Tinambung area), and the tomb of Imam Lapeo (Mandarese Islamic preacher who is believed to have karamah) because the Mandarnese society made the tomb as religious tourism, the grave as a place where prayers are answered, a place to receive blessings, and also as a place to study Islamic history in the Mandarnese region.Artikel ini menyajikan hasil penelitian tentang fenomena ziarah makam wali dalam masyarakat Mandar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk mendeskripsikan perilaku ziarah ke makam wali oleh masyarakat Mandar dengan mengamati makam Syekh Abdul Mannan, Syekh Abdurrahim Kamaluddin dan Imam Lapeo. Data dikumpulkan dengan metode wawancara, dan observasi, serta melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) di Majene. Penelitian dilakukan mulai dari Maret s/d Oktober 2020. Hasil penelitian mendapatkan bahwa masyarakat Mandar senantiasa melakukan ziarah ke makam Syekh Abdul Mannan (sebagai penyebar Islam pertama kali di daerah Banggae), makam Syekh Abdurrahim Kamaluddin (sebagai penyebar Islam pertama kali di daerah Binuang-Tinambung), dan  makam Imam Lapeo (Pendakwah Islam Mandar yang dipercaya mempunyai karamah) disebabkan masyarakat Mandar menjadikan makam sebagai wisata religi, tempat mustajab berdoa, tempat mendapat berkah, dan juga sebagai tempat belajar sejarah Islam di wilayah Mandar. 
SUFISME DAN NEO-SUFISME DALAM PUSARAN CENDIKIAWAN MUSLIM Muhammad Ilham Usman
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 6 No 2 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.054 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v6i2.7173

Abstract

In the modern era, human being frequently encounter a number of problems in terms of modernization. The welfare, which is fully of materialistic things, does not contribute to the happiness of the people apart  from people background or different level in the community. In this regards, this article mainly concern on Sufism in the Islam discipline. Sufism itself tries to emphazise the purification of spirituality based on universal values. This effort will then be implemented through different practices toward soul purification such as tarekat and suluk. These practices are alive in the community not only in the rural area but also in the urban context. However, these lead to bring the community in the traditional ascetism as well as in the religious understanding. The latest then will be named as neo-sufism.
Meneroka Pemikiran Ibn Taymiyah: Kritik Terhadap Filsafat dan Tasawuf Muh Ilham Usman
Rausyan Fikr: Jurnal Ilmu Studi Ushuluddin dan Filsafat Vol. 16 No. 1 (2020): Januari-Juni 2020
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.851 KB) | DOI: 10.24239/rsy.v16i1.533

Abstract

This paper presents the results of the thought of Ibn Taymiyya who criticized philosophy and Sufism. This study uses the thought of character that reveal ideas that have been born by a Muslim scholar. By using a historical approach that sees the Moslem scholars as a historical person who takes part in social reality. The results of the study found that Ibn Taymiyya criticized philosophy in term of Aristotelian logic which had been widely used by Muslim scholars at the time. Whereas in Sufism, Ibn Taymiyya was not entirely Sufis, only he made his criticism of the philosophical Sufism figures and the tarekat practitioners who developed in his day. Tulisan ini menyajikan hasil pemikiran Ibn Taymiyyah yang melakukan kritik terhadap filsafat dan tasawu. Penelitian ini menggunakan pemikiran kajian tokoh yakni mengungkap gagasan dan ide yang pernah dilahiran oleh seorang tokoh. Dengan menggunakan pendekatan historis yakni melihat sang tokoh sebagai manusia sejarah yang berkiprah dalam realitas sosial. Hasil kajian menemukan bahwa Ibn Taymiyah tidak sepenuhnya anti-tasawuf, malahan ia sangat mengapresiasi beberapa sufi awal, hanya saja ia melancarkan kritiknya terhadap para tokoh tasawuf falsafi dan para pengamal tarekat yang berkembangn pada zamannya.
Membangun Persaudaraan Beda Agama muh ilham usman
Tasamuh: Jurnal Studi Islam Vol 14 No 2 (2022): Tasamuh: Jurnal Studi Islam
Publisher : LPPM IAIN Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47945/tasamuh.v14i2.644

Abstract

Abstrak Tulisan ini menyajikan hasil penelitian tentang peran imam kampung, ustaz, tokoh agama dan tokoh desa dalam membangun kedamaian, keharmonisan dan persaudaraan beda agama di Karave. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk melihat persaudaraan beda agama yang erat di desa tersebut. Hasil penelitian menemukan bahwa kedamaian, keharmonisan dan persaudaraan beda agama terjalin erat disebabkan peran tokoh agama yang bekerja sama dengan tokoh kampung/desa sebagai juru damai jika terjadi perselisihan di tengah-tengah masyarakat. Tokoh agama dan desa juga berperan sebagai konsolidator dalam merawat desa. Serta Tokoh agama dan desa juga berperan sebagai cultural broker. Kata Kunci: Damai; Harmoni; Persaudaraan; Multi-agama Abstract This paper presents the results of research on the role of village priests, ustaz, religious leaders and village leaders in building peace, harmony and brotherhood of different religions in Karave. This study uses a qualitative method to see the close interfaith brotherhood in the village. The results of the study found that peace, harmony and brotherhood of different religions were closely intertwined due to the role of religious leaders who cooperated with village/village leaders as peacemakers in the event of a dispute in the community. Religious and village leaders also act as consolidators in caring for the village. And religious and village leaders also act as cultural brokers. Keywords: Peace, Harmony, Brotherhood, Multi-religion
Etika Politik dalam Al-Qur’an : (Suatu Kajian Tafsir Tah{li>li QS. al-Nisa/4:58) Muh. Adnan; Muh. Ilham Usman
PAPPASANG Vol. 4 No. 2 (2022): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jiat.v4i2.444

Abstract

Penelitian ini terfokus pada etika politik dalam Al-Qur’an surah al- Nisa>/4:58, pada ayat ini dikemukakan dua aspek prinsip dasar etika politik yaitu amanah dan keadilan. Umat Islam perlu berpegang pada dua prinsip ini, agar mampu mewujudkan sistem pemerintahan yang bersih dari berbagai bentuk penyalahgunaan jabatan, serta menerapkan keadilan bagi semua pihak. Penelitian ini berjenis kepustakaan dengan menggunakan pendekatan teologis. Sumber rujukan yang dipakai berasal dari berbagai buku-buku, artikel, penelitian terdahulu yang memiliki kaitan dengan tema etika politik. Data yang telah terkumpul dari berbagai sumber akan dianalisis dan diurai berdasarkan metode tafsir tah}li>li, mulai dari kosa kata, hubungan antar ayat, asba>bun nuzu>l, kandungan ayat, serta hukum yang dihasilkan oleh ayat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Islam telah mengatur etika politik melalui dua prinsip yakni: 1.) Menjaga Amanah sebagai bentuk kejujuran dalam menjalankan tugas.2.) Berlaku Adil untuk mewujudkan kesetaraan semua pihak di hadapan hukum. Berlandaskan analisis penafsiran QS.al-Nisa>/4:58 Allah swt. telah memerintahkan kepada manusia untuk mampu menjaga amanah, serta memutuskan perkara diantara manusia secara adil tanpa ada pihak yang merasa dicurangi. Nilai-nilai etika harus dijunjung tinggi dalam menjalankan tugas dan bertanggungjawab pada amanah yang telah dipercayakan. Implikasi pada penelitian ini ialah, orang-orang yang masuk di dunia politik harus mengerti ilmu tentang etika menyangkut baik dan buruk sebuah tindakan, khususnya aspek memegang amanah dan memberi keputusan dengan seadil-adilnya yang telah dipaparkan dalam QS.al-Nisa>/4:58, sebagai bentuk menjalankan perintah Al-Qur’an demi meraih kemaslahatan umum.
SILSILAH DAN PERKEMBANGAN TAREKAT DI SULAWESI BARAT: STUDI KASUS TAREKAT KHALWATIYAH SAMMAN DAN TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH (TQN) Muh. Ilham Usman; Muhlis Latif
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 8 NO. 2 DECEMBER 2022
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v8i2.25172

Abstract

Abstrak:Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan eksistensi dan jalur silsilah Tarekat Khalwatiyah Samman dan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) yang berkembang di Sulawesi Barat dan bertahan hingga detik ini. Tujuan penelitian ini untuk melengkapi penelitian-penelitian terdahulu tentang organisasi tarekat dalam mengembangkan ajaran Islam di Sulawesi Barat. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Sumber data diperoleh dari hasil wawancara para mursyid, khalifah dan juga dari unsur pengikut tarekat. Kemudian juga dilakukan pengumpulan data dengan melakukan Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian telah menemukan bahwa genealogi Tarekat Khalwatiyah Samman yang berpusat di Campalagian, Sulawesi Barat berbeda dengan silsilah Tarekat Khalwatiyah Samman di Pattene’ dan Leppa Komae, Sulawesi Selatan. Sedangkan genealogi Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) yang berpusat di Mapilli berasal dari silsilah Annangguru Adam yang diterima dari KH. Sutomo Syamsuddin al-Asrari (mursyid TQN di Makassar), yang juga diterima dari TQN di Suryalaya. Abstract:This article aims to describe the existence and lineage of the tarekat Khalwatiyah Samman and the tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN that developed in West Sulawesi and have survived to this day. The purpose of this study is to complement previous studies on tarekat organizations in developing Islamic teachings in West Sulawesi. This research is field research with a qualitative approach. Sources of data were obtained from interviews with murshids, caliphs, and also from followers. Then also carried out data collection by conducting focus group discussions (FGD). The results of the study have found that the genealogy of the tarekat Khalwatiyah Samman which is based in Campalagian, West Sulawesi is different from the genealogy of the Khalwatiyah Samman in Pattene' and Leppa Komae, South Sulawesi. While the genealogy of the tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) which is based in Mapilli comes from the genealogy of annangguru Adam received from KH. Sutomo Syamsuddin al-Asrari (murshid of TQN in Makassar), who was also received from TQN in Suryalaya.
VISITING TUAN TOSALAMA’S GRAVE IN BULO-BULO MANDAR: Max Scheler’s Value Hierarchy Perspective Muh Ilham Usman; Abu Muslim
Al-Qalam Vol 29, No 1 (2023)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v29i1.1248

Abstract

AbstractThe purpose of this article is to examine the tradition of visiting Tuan Tosalama ri Bulo-bulo's grave and to learn more about the phenomenon of this practice. Observation and in-depth interviews were used in a descriptive qualitative methodology. Additionally, the data were examined using Max Scheler's value hierarchy methodology. The findings demonstrated that Tuan Tosalama ri Bulo-bulo, who lived in the 16th century, was thought to be the one who first spread Islam in the confederation area of Karua Tiparittiqna Uhai (eight drops of water from the mountain). The inhabitants of Bulo- bulo regularly visit the graves as pilgrims who have been purified. As a sign of appreciation and a salute to Tuan Tosalama ri Bulo-bulo, it has even become a yearly custom in the area following the rice harvest. Not only is visiting the tombs a ritual, but it also has philosophical benefits, including spiritual, psychological, and recreational ones. The abundance of cakes and food served in each house highlights the pleasure value of having fun. This pilgrimage tradition's main benefit is that it serves as a meeting place for migrants returning home and residents of Bulo-bulo. Following their visit to Tuan Tosalama ri Bulo-bulo's grave, pilgrims are said to experience inner peace, according to psychological values. While traveling, pilgrims develop spiritually and exhibit religious values. 
Paham Neo-Platonis dan Negara Kesejahteraan: Kritik Sir Muhammad Iqbal Terhadap Kesadaran Umat Islam Muh. Ilham Usman
PAPPASANG Vol. 5 No. 1 (2023): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jiat.v5i1.449

Abstract

Abstract This article describes Muhammad Iqbal's thoughts in fighting for Indian Muslims with strategies that were in accordance with the conditions and situation of the Indian people at that time. This research uses library research method. The results of the study found that Muhammad Iqbal through Islamic thought, literature and philosophy voiced that Muslims everywhere must rise from the downturn and decline of Islam from British colonialism. And also Muhammad Iqbal became a pioneering figure in the early establishment of the Pakistani state to save Indian Muslims who were always secondary. Abstrak Artikel ini mendeskripsikan pemikiran Muhammad Iqbal dalam memperjuangkan umat Islam India dengan strategi yang sesuai dengan kondisi dan situasi rakyat India kala itu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan. Adapun hasil penelitian menemukan bahwa Muhammad Iqbal lewat pemikiran, sastra dan filsafat Islam menyuarakan bahwa umat Islam di manapun mesti bangkit dari keterpurukan dan kemunduran Islam dari kolonialisme Inggris. Dan juga Muhammad Iqbal menjadi tokoh perintis awal berdirinya negara Pakistan untuk menyelamatkan umat Islam India yang selalu dinomorduakan.  
Gerakan Pembaruan dan Pemurnian Islam: (Doktrin, Gerakan dan Imajinasi Menuju Masa Keemasan Syafaat, Abdul Rafi; Usman, Muh. Ilham
PAPPASANG Vol. 5 No. 2 (2023): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jiat.v5i2.634

Abstract

Abstrak Secara artifisial gerakan pembaruan dan pemurnian Islam merupakan gerakan sosial keagamaan yang di latar belakangi oleh anggapan bahwa pengaruh hegemoni barat telah membuat ajaran islam telah menyimpang dari ajaran islam yang benar. Gerakan ini mengupayakan pencarian kemurnian terhadap ajaran islam yang sesuai dengan al-Qur’an dan Hadis. Gerakan ini mengimajinasikan islam akan kembali mendapatan masa keemasan seperti yang pernah terjadi di masa lalu pada zaman Rasulullah dan para sahabat yang dianggap sebagai islam yang ideal, murni, dan otentik. Terdapat dua tema besar dalam memahami bentuk dan tujuan dari gerakan ini dalam lanskap sosiologis: Pertama, Upaya pembaruan dan pemurnian ini memiiki akar Doktrinal sebagai bentuk gerakan sosial. Kedua, implikasi dari doktrin ini sering kali kali berhadapan atau bahkan bertentangan dengan persoalan budaya lokal, mordenitas. Gerakan ini juga sering kali dikaitkan dengan beberapa isu global seperti, Terorisme, Modernisasi, Islamic Local Knowledge, Gerakan Fundamentalisme-Radikal dan, Fasisme Sipil di era kontemporer ini. Kata kunci : gerakan sosial, doktrinal, sosiologis, kontemporer. Abstract Artificially, the movement for reform and cleansing of Islam is a socio-religious movement motivated by the notion that the influence of western hegemony has made Islamic teachings deviate from true Islamic teachings. This movement strives to seek the purity of Islamic teachings in accordance with the Qur'an and Hadith. This movement imagines that Islam will return to its golden age as it did in the past during the time of the Prophet and his companions, who were considered ideal, pure, and authentic Muslims. There are two major themes in understanding the form and purpose of this movement in the sociological landscape: First, this renewal effort has doctrinal roots as a form of social movement. Second, the implications of this teaching are that it often confronts or even conflicts with local cultural issues (mordenitas. This movement is also often associated with several global issues such as Terrorism, Modernization, Islamic Local Knowledge, the radical-fundamentalist movement, and Civil Fascism in this contemporary era. Keywords: social movement, doctrinal, sociological, contemporary.
ISLAM AND AGRARIAN: STUDY ON NAHDHATUL ULAMA'S RELIGIOUS SOCIAL THOUGHT Usman, Muh Ilham
Jurnal Adabiyah Vol 19 No 2 (2019): December (Islamic Studies)
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jad.v17i119i2a5

Abstract

The objective of this research is to elaborate on Islam and agrarian on Nahdlatul Ulama's thought of religion. The method of this research is descriptive qualitative and library research. The result of this study reveals that NU as a social organization involved in struggling Indonesia to expel the colonial and to increase social life level with agrarian reinforcement as well. The cause of the Nahdhatul Ulama involved is on its ideology method related to the reality of Indonesian society. The ideologies of Nahdhatul Ulama are (1). To make Indonesia a peaceful country (Dār al-Salām), not Dār al-harb (unpeaceful country); (2). Going back to Khittah 1926: NU as Jam’iyah Diniyyah wal Ijtimā‘iyyah, not Jam’iyyah Siyāsiyyah; and (3). Ahlu Sunnah wal jama’ah (ASWAJA) as Manhaj al-Fikr (way of thinking).Keywords: Nahdlatul Ulama; Ahlu Sunnah wal Jama'ah; Agrarian; Manhaj al-Fikr; a way of thinking. الملخص يعرض هذا البحث نتائج البحث فى الفكر الإسلامي عند نهضة العلماء عن الإسلام والزراعة، ويستخدم الطريقة الوصفية النوعية والدراسة المكتبية. وجدت نتائج البحث ان نهضة العلماء تمثل  اجتماعية تشارك في الدفاع عن الدولة الإندونيسية بالمشاركة في طرد الغزاة وهي تساهم فى تحسين حياة الناس من خلال تعزيز الشؤون الزراعية. ولقد شاركت هذه ال في كل هذه الأنشطة لأن أسس تفكيرها أو أساليب تفكيرها لا يمكن فصلها عن واقع المجتمع الإندونيسي. أما الأسس الفكرية التي تعتمد عليها نهضة العلماء، هي (1) جعل إندونيسيا دار السلام وليست دار الحرب. (2) الرجوع إلى الخطة سنة 1926 التي تنص على أن نهضة العلماء كالمنظمة الدينية والاجتماعية ليست منظمة سياسية. (3) جعل منهج أهل السنة والجماعة منهجا فكريا سائدا.الكلمات الرئيسية: نهضة العلماء, وأهل السنة و الجماعة, والزراعة, منهج الفكر.AbstrakTulisan ini menyajikan hasil penelitian tentang pemikiran keislaman Nahdlatul Ulama tentang Islam dan agraria. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menemukan bahwa Nahdlatul Ulama sebagai organisasi sosial kemasyarakatan turut terlibat dalam memperjuangkan negara Indonesia dalam mengusir penjajah serta turut andil dalam meningkatkan taraf kehidupan masyarakat lewat penguatan agraria. Organisasi Nahdlatul Ulama ikut terlibat disebabkan alas pikir atau metode berpikirnya tidak bisa dipisahkan dari realitas masyarakat Indonesia. Adapun alas pikir Nahdlatul Ulama yakni (1). Menjadikan Indonesia sebagai Dar al-Salam, bukan Dar al-Harb; (2). Kembali Ke Khittah 26: NU sebagai Jam'iyah Diniyyah wal Ijtimaiyyah, bukan Jam'iyah Siyasiyah; dan (3). Ahlu sunnah wal jama'ah (ASWAJA) sebagai Manhaj al-Fikr.Kata kunci: Nahdlatul Ulama, Ahlu Sunnah wal Jama'ah, Agraria, Manhaj al-Fikr.