Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Klasifikasi Emosi Tokoh Utama dalam Novel Lintang Gumebyar Karya Indarpati Rachel Pricila Ariespa; Emil Septia; Armet
Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 (2023): Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran
Publisher : Bale Literasi: Lembaga Riset, Pelatihan & Edukasi, Sosial, Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/alinea.v3i1.446

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pertama, klasifikasi emosi tokoh utama yang terdapat dalam novel Lintang Gumebyar karya Indarpati. Kedua, menceritakan pahitnya kehidupan seorang gadis yang memiliki mimpi yang tinggi. Namun, persekongkolan antara ibunya dan seorang pria membuat mimpinya sirna. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak terhadap suatu rangsangan dari luar dan dalam diri manusia yang memiliki unsur kegembiraan, kemarahan, ketakutan, dan kesedihan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis. Teknik pengabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi. Teknik triangulasi peneliti merajuk kepada teknik keabsahan data primer dengan jalan mengumpulkan data lain yang bersesuaian berdasarkan penelitian lainnya. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan aspek emosi tokoh utama dalam novel Lintang Gumebyar karya Indarpati adalah rasa bersalah, rasa bersalah yang dipendam, rasa malu, kesedihan, kebencian, dan cinta. Aspek emosi yang paling dominan adalah kesedihan dan kebencian. Aspek kesedihan merupakan emosi yang paling menonjol dalam novel ini, terlihat saat tokoh Lintang memberi tahu kepada Ibunya bahwa ia hamil. Lirih, nyaris menangis, menunduk tak berani menatap mata ibunya. Aspek kebencian juga terlihat saat tokoh Lintang muak dan risih dengan segala perhatian Kukuh. Lintang merasa risih karena mengetahui Kukuh yang sudah beristri. Meski pun Lintang belum pernah berpacaran, bukan berarti Lintang tidak tahu sikap seorang lelaki yang sedang jatuh hati.
KETIDAKADILAN GENDER DALAM NOVEL HILDA: CINTA, LUKA DAN PERJUANGAN KARYA MUYASSAROTUL HAFIDZOH Titin Ayuning; Samsiarni; Emil Septia
Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 (2023): Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran
Publisher : Bale Literasi: Lembaga Riset, Pelatihan & Edukasi, Sosial, Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/alinea.v3i1.448

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya ketidakadilan gender terhadap perempuan di dalam novel Hilda: Cinta, Luka dan Perjuangan karya Muyassarotul Hafidzoh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk ketidakadilan gender dalam novel Hilda: Cinta, Luka dan Perjuangan karya Muyassarotul Hafidzoh dan faktor penyebab ketidakadilan gender dalam novel Hilda: Cinta, Luka dan Perjuangan karya Muyassarotul Hafidzoh. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode content analysis. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara: membaca dan memahami, menandai dan mengumpulkan, mengiventarisasikan data, mengidentifikasi data dan mengklasifikasikan data. Teknik pengabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi peneliti. Berdasarkan analisis data dan pembahasan bahwa bentuk ketidakadilan gender dan faktor penyebab terjadinya dalam novel Hilda: Cinta, Luka dan Perjuangan karya Muyassarotul Hafidzoh ditemukan lima bentuk ketidakadilan gender dan penyebab terjadinya yang meliputi: 1) marginalisasi pada tokoh Hilda berupa pembatasan hak sebagai seorang siswa dan seorang korban pemerkosaan, 2) subordinasi pada tokoh Hilda direndahkan posisinya sebagai seorang perempuan, 3) stereotip pada tokoh Hilda diberikan penandaan sebagai perempuan kotor oleh teman sekolahnya, 4) kekerasan pada tokoh Hillda berupa pemerkosaan yang dilakukan oleh salah satu teman sekolahnya, 5) beban kerja pada tokoh Hilda yang harus mengirimkan tulisan opini dan bekerja di toko bangunan untuk membayar biaya kuliahnya.
Nilai-Nilai Multikultural Dalam Novel Merindu Cahaya De Amstel Karya Arumi Ekowati Dalila Ursila; Wahyudi Rahmat; Emil Septia
Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajaran Vol. 3 No. 2 (2023): Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran
Publisher : Bale Literasi: Lembaga Riset, Pelatihan & Edukasi, Sosial, Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/alinea.v3i2.451

Abstract

Penelitian ini di latarbelakangi karena adanya permasalahan yang mengambarkan nilai-nilai multikultural yang terdapat dalam novel Merindu Cahaya De Amstel Karya Arumi E. nilai-nilai multikultural digambarkan melalui aktivitas tokoh dan alur cerita yang terdapat dalam novel. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai multikultural dalam novel Merindu Cahaya De Amstel Karya Arumi E. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif karena data penelitian berupa teks atau kata-kata dengan menggunakan metode deskriptif analisis. Data penelitian ini adalah berupa kata-kata, Kutipan kalimat dan wacana tentang nilai-nilai multikultural dalam novel Merindu Cahaya De Amstel Karya Arumi E. Data dikumpulkan melalui langkah- langkah sebagai berikut: membaca, menandai mencatat data, menginventarisasikan semua data yang berhubungan dengan nilai-nilai multikultural dalam novel Merindu Cahaya De Amstel Karya Arumi E. Setelah itu data dianalisis dan membuat kesimpulan hasil penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa nilai-nilai multikultural yang terdapat dalam novel Merindu Cahaya di Amstel Karya Arumi E adalah sebagai berikut: (a) multikultural isolasionis. Nilai mulikultural yang dapat dilihat pada tokoh Nico dan Khadijah. (b) multikultural akomodatif. Hal ini dapat dilihat pada tokoh Khadijah dan Nico dimana mereka yang memiliki budaya yang berbeda tetapi berusaha untuk melakukan penyesuaian terhadap budaya masing-masing agartidk terjad kesalahpahaman. (c) multikultural mandiri, dimana Khadijah yang mengambil keputusan unutk menjadi mualaf dan menempuh hidup secara mandiri ditengah-tengah kehidupan keluarga dan budaya yang didominan oleh budaya Barat. (d) Multikultural Kritis atau Interaktif, yang diperlihatkan pada tokoh Pieter, Pieter yang mengikuti jejak Khadijah untuk menjadi mualaf dan tidak peduli pada pendapat orang lain selagi tidak merugiakan dan menggangu orang tersebut. (e) multikultural kosmopolitan yaitu diperlihatkan pada tokoh Khadijah. Pilihan Khadijah unuk mualaf membvuat dirnya dikucilkan dari keluarga, tapi hal tersebut tidak menurutkan niatnya Khadijah unuk tetap memperdalam ilmu agamnya.
Aspek Transendental Raja’ Dalam Novel Berselimut Surban Cinta Karya Irwanto Al- Krienciehie: Tinjauan Sastra Profetik Nia Wedia; Emil Septia; Armet
Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajaran Vol. 3 No. 2 (2023): Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran
Publisher : Bale Literasi: Lembaga Riset, Pelatihan & Edukasi, Sosial, Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/alinea.v3i2.663

Abstract

This research was conducted to determine the transcendental aspect of the king' in the novel Berselimut Surban Cinta by Irwanto al-Krienciehie through a review of prophetic literature. Novels that have religious value can be used to make people (readers) aware to always draw closer to God. The transcendental aspect of the king' describes a form of hope to the Creator. The purpose of this study is to describe the transcendental aspect of the king' in the novel Berselimut Surban Cinta. This type of research used qualitative research. The method used in this research is descriptive analysis method. The data in this study are in the form of words, sentences and discourses that describe the transcendental aspects of the king'. Based on the analysis of the research data it can be concluded that the transcendental aspect of the king' involves a hope, supplication or prayer to God. This hope in God is in the form of hoping for help, protection, healing or blessings in life. The transcendental aspect in the novel covered in turbans of love by Irwanto al-Krienciehie can be seen from the attitudes of the characters, such as always worshiping and always praying.