Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : EDUSAINS

PERBEDAAN KETERAMPILAN GENERIK SAINS ANTARA SISWA YANG MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERSTRUKTUR DENGAN SISWA YANG MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING PADA KONSEP SEL Zulfiani, Zulfiani; Octaviana, Hesty; Miranto, Sujiyo
EDUSAINS Vol 7, No 2 (2015): Edusains
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.742 KB) | DOI: 10.15408/es.v7i2.1405

Abstract

AbstractThis research aims to determine the difference between the science generic skills of students that using structured inquiry learning models with students that using guided inquiry learning models. The research was conducted in SMAN 74 Jakarta in grade XI. The method that used is quasi-experiment by using purposive sampling technique. These samples included 32 people for each experiment class I and experiment class II. Science generic skills of students that using guided inquiry learning models is better than students that using structured inquiry learning models. Percentage achievement of science generic skills in the experiment class I is 69.7% moderate criteria and the experiment class II is 74.37% moderate criteria. In the experiment class I, the highest percentage of science generic skills acquired by building concepts aspect with 98.44% and the lowest percentage acquired by causation aspect with 44.53%, while the experiment class II get the highest percentage of science generic skills acquired by building concepts aspect with 82.81%, and the lowest percentage acquired by causation aspect with 50.78%. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan Keterampilan Generik Sains antara siswa yang menggunakan model pembelajaran Inkuiri Terstruktur dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 74 Jakarta pada kelas XI. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen, dengan pengambilan sampel menggunakan teknik Purposive Sampling. Sampel penelitian berjumlah 32 orang pada kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II. Hasil penelitian yang didapat Keterampilan Generik Sains siswa yang menggunakan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing lebih baik daripada siswa yang menggunakan model pembelajaran Inkuiri Terstruktur. Persentase ketercapaian Keterampilan Generik Sains pada kelas eksperimen I sebesar 69,7% dengan kriteria sedang dan pada kelas eksperimen II sebesar 74,37% dengan kriteria sedang. Pada kelas eksperimen I persentase Keterampilan Generik Sains tertinggi diperoleh aspek membangun konsep dengan persentase 98,44% dan terendah diperoleh aspek hukum sebab akibat dengan persentase 44,53%, sedangkan pada kelas eksperimen II persentase Keterampilan Generik Sains tertinggi diperoleh aspek membangun konsep dengan persentase 82,81% dan terendah diperoleh aspek hukum sebab akibat dengan persentase 50,78%.Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v7i2.1405
INTEGRASI KONSEP-KONSEP PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH MENENGAH Sujiyo Miranto
EDUSAINS Vol 9, No 1 (2017): EDUSAINS
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/es.v9i1.5364

Abstract

Abstract This writing aims to provide a solution on how to integrate the concepts of environmental education at the level of secondary school. Chiras (1985) states that the environmental damage that occurs at this time is caused more by human frontier mentality. The frontier mentality based on the basic attitude of man, namely:  1) view the world as a source of unlimited; 2) the view that human being is not apart from nature; and 3) the view that nature as something that needs to be mastered. Education in secondary schools can play an active role to build a society so that it is able to apply the principles of sustainability and environmental ethics. The conclusion that can be drawn from the writings of her above are:  1) School can be used as a means of support in implementing an environmental education by the way directing its resources to improve the attitudes, awareness, knowledge and behavior of rational and responsible for environmental issues; (2) Environmental education can be integrated to all subject matter contained in the secondary schools. Keywords: Environmental Education Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk memberikan solusi tentang cara mengintegrasikan konsep-konsep pendidikan lingkungan pada jenjang sekolah menengah. Chiras (1985) menyatakan bahwa akar dari kerusakan lingkungan yang terjadi pada saat ini lebih banyak disebabkan oleh manusia yang bermental frontier. Mentalitas frontier ini berdasarkan atas sikap dasar manusia, yaitu: (1) melihat dunia sebagai sumber yang tidak terbatas; (2) berpandangan bahwa manusia terlepas dari alam; dan (3) berpandangan bahwa alam sebagai suatu yang perlu dikuasai.  Pendidikan pada jenjang pendidikan menengah dapat berperan aktif untuk membangun masyarakat  sehingga mampu  menerapkan prinsip pembangunan keberlanjutan dan etika lingkungan. Kesimpulan yang dapat diambil dari tulisan dia atas adalah: (1)  Sekolah dapat digunakan  menjadi sarana pendukung dalam melaksanakan pendidikan lingkungan dengan cara mengarahkan sumber daya yang dimilikinya untuk meningkatkan sikap, kesadaran dan pengetahuan serta tingkah laku yang rasional dan bertanggungjawab terhadap masalah-masalah lingkungan; (2) Pendidikan lingkungan hidup dapat diintegrasikan kepada seluruh materi pelajaran yang terdapat di sekolah menengah. Kata Kunci: Pendidikan Lingkungan  Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v9i1.5364  
ANALISIS ISI BUKU SEKOLAH ELEKTRONIK (BSE) BIOLOGI KELAS XI SEMESTER 1 BERDASARKAN LITERASI SAINS Hila Lailatul Q; Eny Supriyati Rosyidatun; Sujiyo Miranto
EDUSAINS Vol 7, No 1 (2015): Edusains
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.051 KB) | DOI: 10.15408/es.v7i1.1403

Abstract

Abstract This research aimed to provide information about the scope of science literacy in Buku Sekolah Elektronik (BSE) or electronic school books of biology for grade XI in Tangerang Selatan. The instrument used to analyze the text of courses on biology books, which were taken by multistage sampling technique, was scientific literacy sheet categories adopted from John Wilkinson previously developed by Chiappetta, Fillman, and Sethna. The scientific literacy categories used in this research: science as a body of knowledge; science as a way of investigating; science as thinking; and interaction between science, technology, and society. Agreement of two observers was implemented to ensure the level of reliability of the findings analysis which later determined as coefficient of agreement (Koefisien Kesepakatan/KK). Results showed that the scope of scientific literacy of the analyzed BSE emphasize on the category of science as the body of knowledge (82.7%) and the lowest was the category of interaction between science, technology and society (0.8%). AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi ruang lingkup literasi sains pada buku sekolah elektronik (BSE) biologi SMA kelas XI yang digunakan oleh siswa-siswa SMAN di Kota Tangerang Selatan. Instrumen yang digunakan untuk menganalisis teks materi pelajaran pada buku ajar biologi yang diambil berdasarkan teknik multistage sampling adalah lembar kategori literasi sains yang diadopsi dari John Wilkinson yang sebelumnya telah dikembangkan oleh Chiappetta, Fillman, dan Sethna. Kategori literasi sains yang digunakan pada penelitian ini adalah: sains sebagai batang tubuh pengetahuan; sains sebagai cara untuk menyelidiki; sains sebagai cara berpikir; serta interaksi antara sains, teknologi, dan masyarakat. Untuk menjamin tingkat reliabilitas hasil analisis, dilakukan kesepakatan antara pengamat I dan pengamat II untuk kemudian ditentukan koefisien kesepakatan (KK). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ruang lingkup literasi sains pada ke dua buku BSE yang dianalisis lebih menekankan kepada kategori sains sebagai batang tubuh pengetahuan dengan rata-rata persentase sebesar 82,7% dan persentase proporsi kategori literasi sains yang paling rendah adalah kategori sains interaksi antara sains, teknologi dan masyarakat, sebesar 0,8%.Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v7i1.1403