Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

NEGATIVE PEACE KONFLIK AZERBAIJAN DAN ARMENIA DI KAWASAN NAGORNO-KARABAKH PADA 2023-2024 Firdaus, Muhammad Ikhsan; Anggresti, Refatika; Hanggarini, Peni
Mondial: Jurnal Hubungan Internasional Vol 2, No 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Al-azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/mondial.v2i2.4869

Abstract

Sejak 1988 Nagorno-Karabakh menjadi wilayah rebutan antara Azerbaijan dengan Armenia. Penelitian ini mengkaji konsep negative peace dalam konflik Azerbaijan-Armenia pasca serangan terakhir Azerbaijan pada 20 September 2023, yang dimana serangan ini memenangkan Azerbaijan, dan membuat Azerbaijan kembali menguasai Nagorno-Karabakh. Azerbaijan berupaya merebut kembali Nagorno-Karabakh untuk memulihkan kedaulatan, sementara Armenia melakukannya demi kepentingan etnis dan stabilitas domestik. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan mempelajari dokumen, yang tersedia. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa konflik ini masih berada pada fase negative peace, kondisi dimana kekerasan berhenti, tapi tanpa menyelesaikan akar masalah konflik Nagorno-Karabakh. Belum adanya sistem, atau kesepakatan damai antara Azerbaijan dengan Armenia juga membuat konflik ini masih pada tahap negative peace.
Intervensi China dalam Mediasi Perdamaian Arab Saudi dengan Iran Laksana, Canta Bayu; Hanggarini, Peni
Mondial: Jurnal Hubungan Internasional Vol 2, No 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Al-azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/mondial.v2i2.4390

Abstract

This paper aims to analyze China’s intervention in mediating peace between Saudi Arabia and Iran. The discussion focuses on China's soft power strategy as a mediator between these two Middle Eastern countries, which have long experienced tense relations. This issue is considered significant, as the success of the mediation not only affects regional stability but also reflects shifting global power dynamics and highlights China's growing role in international geopolitics. The research adopts a qualitative method, employing Joseph Nye’s soft power theory as an analytical framework to understand how China builds its influence through non-coercive means, particularly economic cooperation and diplomacy. Data were collected through literature review and analyzed using descriptive qualitative techniques. The findings indicate that China’s success as a mediator is largely attributed to its economic diplomacy and neutral stance, which fostered trust from both parties. These results underscore the importance of soft power in expanding global influence and present a viable alternative to conflict resolution that does not rely on military force. This study contributes to the field of international relations and Middle Eastern geopolitics by emphasizing the necessity of strengthening non-coercive diplomacy as a means to maintain regional stability and build long-term peace.
Diplomasi Perdamaian China di Timur Tengah: Kepentingan Strategis dan Stabilitas Kawasan Laksana, Canta Bayu; Hanggarini, Peni
Sociale : Journal of Social and Political Sciences Vol 2 No 1 (2026): Social Science for Improve
Publisher : Yayasan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sisi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis transformasi diplomasi perdamaian China di kawasan Timur Tengah dalam perspektif Soft Power dan Neorealisme. Studi ini berfokus pada dua kasus utama, yakni mediasi rekonsiliasi Arab Saudi–Iran tahun 2023 dan fasilitasi Deklarasi Beijing antara Fatah–Hamas tahun 2024. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur serta analisis data sekunder dari publikasi akademik dan statistik perdagangan The Observatory of Economic Complexity (OEC) periode 2010–2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan signifikan volume perdagangan China dengan Timur Tengah—mencapai sekitar US$460 miliar pada 2023—telah memperkuat daya tawar politik Beijing di kawasan. Dalam konflik antarnegara (inter-state) seperti Arab Saudi–Iran, diplomasi China terbukti efektif karena didukung leverage ekonomi dan ketergantungan energi yang tinggi. Sebaliknya, dalam konflik intra-negara yang melibatkan aktor non-negara seperti Fatah–Hamas, efektivitas diplomasi cenderung bersifat normatif dan simbolik akibat keterbatasan instrumen penekan yang mengikat. Temuan ini menegaskan bahwa aktivisme diplomatik China bukan semata-mata didorong oleh idealisme perdamaian, melainkan oleh kalkulasi rasional untuk mengamankan kepentingan strategis, khususnya keamanan energi dan keberlanjutan Belt and Road Initiative (BRI). Secara teoretis, penelitian ini memperlihatkan bahwa China menerapkan strategi soft balancing untuk menyeimbangkan hegemoni Amerika Serikat tanpa konfrontasi militer langsung. Dengan demikian, diplomasi perdamaian China menjadi instrumen penting dalam membentuk stabilitas kawasan sekaligus memperkuat posisinya sebagai kekuatan besar alternatif dalam tatanan dunia multipolar.
SOSIALISASI NILAI-NILAI ANTIKORUPSI SEBAGAI PERWUJUDAN BELA NEGARA PADA GURU SEKOLAH DASAR Hanggarini, Peni
Journal of Community Empowerment Vol 5, No 1 (2026): Maret
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v5i1.38432

Abstract

ABSTRAK                                                                                     Pembinaan karakter untuk mencegah berkembangnya budaya korupsi sebenarnya dapat dilakukan sedini mungkin yaitu terhadap siswa-siswi di tingkat Sekolah Dasar (SD). Namun kendala utama pendidikan antikorupsi pada usia SD adalah faktor daya nalar siswa yang masih kurang dewasa sehingga peran guru dan materi yang sesuai sangat penting. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh dosen antikorupsi Universitas Paramadina Jakarta ini bertujuan menanamkan nilai-nilai antikorupsi kepada guru SD Avicenna Jagakarsa Jakarta Selatan sebagai bagian dari pendidikan karakter yang mencerminkan semangat bela negara. Guru-guru SD yang telah paham nilai-nilai tersebut diharapkan dapat membentuk karakter para siswa. Program sosialisasi nilai-nilai antikorupsi ini dilaksanakan secara hybrid yaitu melalui materi video dan diskusi secara langsung di SD Avicenna Jagakarsa Jakarta Selatan yang telah mengajarkan nilai-nilai kepemimpinan melalui program Leader in Me.  Kegiatan berlangsung selama satu bulan sejak April hingga Mei 2024, dengan melibatkan 30 guru SD. Berdasarkan evaluasi kegiatan, sosialisasi telah meningkatkan pemahaman para guru terhadap nilai-nilai antikorupsi sebesar antara 10 % hingga 20 % serta telah meningkatkan lahirnya gagasan-gagasan pengajaran nilai-nilai antikorupsi di sekolah hingga sebesar 10 %. Program Leader in Me yang merupakan program pembentukan karakter kepemimpinan, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang telah diterapkan secara berkelanjutan di sekolah, dapat disinergikan pula dengan pembentukan nilai-nilai antikorupsi sebagai perwujudan bela negara.Kata kunci: Bela Negara; Guru Sekolah Dasar; Nilai Antikorupsi; Pendidikan Karakter. ABSTRACT.Character development to prevent the development of a corrupt culture can begin as early as possible, specifically with students in elementary school. However, the main obstacle to anti-corruption teaching at the elementary school is the kids are immature, thus the participation of teachers and proper material is critical. The community service activity organized by an anti-corruption lecturer at Universitas Paramadina Jakarta intends to instill anti-corruption values in the teachers of SD Avicenna Jagakarsa in South Jakarta as part of character education that represents the spirit of defending the country. Elementary school teachers who understand these values are expected to shape the character of their students This anti-corruption socialization program was implemented in a hybrid method, including video materials and live discussions at SD Avicenna Jagakarsa in South Jakarta, which had previously taught leadership values through the Leader in Me program. The activity conducted for one month, from April to May 2024, and involved 30 elementary school instructors. According to the evaluation of the activities, socialization increased teachers’ comprehension of anti-corruption values by 10 % to 20 % and raised the new ideas for teaching anti-corruption values in schools by 10%. The Leader in Me program, which has been successfully applied in schools to develop leadership character, discipline, and responsibility, can also be used to foster anti-corruption qualities as a form of national defense. Keywords: Defending The Country; Elementary School Teachers; Anti-Corruption Values, Character Education.