Hanifa Rahma
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam Bandung

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Sistem Penghantaran Nanostructured Lipid Carrier (NLC) Mengandung Senyawa Antioksidan N. Resa Nurul Pazrian; Hanifa Rahma; Gita Cahya Eka Darma
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.13648

Abstract

Abstract. Free radicals are unstable atoms or molecules with a high level of reactivity caused by the existence of one or more unpaired electrons in their outermost structure. Antioxidants are required to reduce free radical activity because antioxidant compounds can donate electrons to stabilise free radicals. However, because antioxidants are rapidly hydrolyzed and have low stability, the use of the relatively new "lipid-based delivery system" technology can protect and preserve antioxidant stability. Lipid carriers can boost antioxidant penetration in the skin, providing adequate activity, due to their capacity to precisely control the release of drugs or active substances on the target. Systematics Literature Review (SLR) reviewed publications from reliable databases that carried out the exclusion and inclusion criteria. The research found several studies on antioxidant chemicals were included in NLC systems. The NLC system formulation comprises both solid and liquid lipids that have been stabilised using surfactants. The creation of the NLC system has demonstrated that it is still capable of providing antioxidant activity for active chemicals, as seen by the IC50 values. Abstrak. Radikal bebas adalah atom atau molekul yang tidak stabil dan memiliki tingkat reaktivitas tinggi karena memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan pada kulit terluarnya sehingga diperlukan antioksidan untuk dapat meredam aktivitas radikal bebas, karena senyawa antioksidan dapat mendonorkan elektronnya untuk menstabilkan radikal bebas. Namun antioksidan mudah terhidrolisis dan memiliki stabilitas yang buruk sehingga dilakukan Penerapan teknologi “sistem penghantaran berbasis lipid” yang relatif baru dapat melindungi dan menjaga stabilitas antioksidan. Pembawa lipid dapat meningkatkan penetrasi antioksidan pada kulit, sehingga aktivitas yang diinginkan dapat terjamin, karena kemampuannya dalam mengontrol pelepasan obat atau senyawa aktif secara tepat pada target. Kajian dilakukan dengan Systematics Literature Review (SLR) terhadap artikel yang diperoleh pada database bereputasi yang memenuhi kriteria eksklusi dan inklusi. Hasil kajian menunjukan banyak penelitian senyawa antioksidan yang dikembangkan kedalam sistem NLC. Formulasi sistem NLC menggunakan solid lipid dan likuid lipid yang distabilkan dengan penambahan surfaktan. Pengembangan sistem NLC terbukti masih dapat memberikan aktivitas antioksidan senyawa aktif dilihat dari nilai IC50.
Karakterisasi Minyak Nilam serta Evaluasi Sediaan Nanoemulsi Minyak Nilam (Pogostemon cablin Benth) Natasya Delarespita; Aulia Fikri Hidayat; Hanifa Rahma
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14219

Abstract

Abstract. Patchouli is one of the natural ingredients that can be utilized in the health sector, one of which is as an antimicrobial. Essential oil contained in patchouli plants (Pogostemon cablin Benth) is known to have antimicrobial activity in the form of patchouli alcohol compounds. This study aims to determine the characteristics of patchouli oil and evaluate a good patchouli oil nanoemulsion preparation. This research began with characterizing patchouli oil and continued with formulating patchouli oil nanoemulsion preparations. The results of the study obtained good patchouli oil characteristics including organoleptic test, specific gravity, refractive index, solubility in 90% ethanol, and compound content analysis using GC-MS by producing content patchouli alcohol compounds of 57.17%. The resulting patchouli oil nanoemulsion preparation has good characteristics and meets the evaluation requirements including organoleptic, homogeneity, pH, viscosity and rheology, % transmittance value, and particle size. Abstrak. Nilam merupakan salah satu bahan alam yang dapat dimanfaatkan dalam bidang kesehatan salah satunya sebagai antimikroba. Minyak atsiri yang terkandung dalam tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) dikenal memiliki aktivitas antimikroba berupa senyawa patchouli alcohol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik minyak nilam serta evaluasi sediaan nanoemulsi minyak nilam yang baik. Penelitian ini diawali dengan melakukan karakterisasi minyak nilam dan dilanjutkan dengan melakukan formulasi sediaan nanoemulsi minyak nilam. Hasil penelitian diperoleh karakteristik minyak nilam yang baik meliputi uji organoleptis, bobot jenis, indeks bias, kelarutan dalam etanol 90%, dan analisis kandungan senyawa menggunakan GC-MS dengan menghasilkan adanya kandungan senyawa patchouli alcohol sebesar 57,17%. Sediaan nanoemulsi minyak nilam yang dihasilkan memiliki karakteristik yang baik dan memenuhi persyaratan evaluasi meliputi organoleptis, homogenitas, pH, viskositas dan rheologi, nilai % transmittan, dan ukuran partikel.
Sistem Penghantaran Nanostructured Lipid Carrier (NLC) Minyak Almond (oleum amygdalae) dan Asam Glikolat sebagai Antioksidan Rahmadita Sopyanti; Hanifa Rahma; Farendina Suarantika
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14308

Abstract

Abstract. Nanostructured Lipid Carrier (NLC) is the second generation of lipid nanocarriers developed to increase stability and effectiveness in drug delivery. The general formulation of NLC consists of a combination of solid lipids and liquid lipids. The additional components in the NLC formulation are surfactants which can reduce surface tension. The group of non-ionic surfactants most commonly used for NLC development, for example Poloxamer, Tween, Span, PEG-40 stearate because they have an ionic charge so they do not cause irritation. The use of non-ionic surfactants with a large HLB such as Poloxamer can make the system more hydrophilic and increasing the concentration of non-ionic surfactants can also affect the adsorption of active ingredients. The study was carried out using a Systematic Literature Review (SLR) on articles obtained from reputable databases that met the inclusion and exclusion criteria. The results of the study show that many studies of NLC preparation formulations using poloxamer surfactants produce smaller particle size characteristics. Abstrak. Nanostructured Lipid Carrier (NLC) merupakan generasi kedua dari nanokarier lipid yang dikembangkan untuk meningkatkan kestabilan dan efektivitas dalam penghantaran obat. Formulasi umum NLC terdiri dari kombinasi antara lipid padat dan lipid cair. Adapun komponen tambahan dalam formulasi NLC, yaitu surfaktan yang mampu menurunkan tegangan permukaan. Golongan surfaktan non ionik paling umum digunakan untuk pengembangan NLC contohnya Poloxamer, Tween, Span, PEG-40 stearat sebab memiliki muatan ion sehingga tidak menyebabkan iritasi. Penggunaan surfaktan non ionik dengan HLB besar seperti Poloxamer dapat membuat sistem menjadi lebih hidrofilik dan peningkatan konsentrasi surfaktan non ionik juga dapat mempengaruhi penjerapan bahan aktif. Kajian dilakukan dengan Systematics Literature Review (SLR) terhadap artikel yang diperoleh pada database bereputasi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil kajian menunjukkan banyak penelitian formulasi sediaan NLC menggunakan surfaktan poloxamer menghasilkan karakteristik ukuran partikel yang lebih kecil.
Potensi Minyak Alami sebagai Bahan Aktif Anti-Jerawat dalam Berbagai Bentuk Sediaan Chika Puspitasari; Hanifa Rahma; Dina Mulyanti
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14324

Abstract

Abstract. The skin is the most obvious and largest visible organ in humans, one of the skin problems that often appears is acne. Treatment with natural ingredients is more in demand among the community compared to treatment using chemicals. The use of natural ingredients is widely used by the people of Indonesia as a basic ingredient for cosmetics and skin care. This study aims to find out the various types of natural oils that have the potential as active ingredients in overcoming acne problems and to determine the effectiveness of various forms of preparations containing natural oils as anti-acne active ingredients. The type of research used in this study is systematic Literature Review (SLR). Literature searches are carried out through Google Scholar, Science Direct, Pubmed using Indonesian keywords and English keywords according to the word to be searched. The data obtained was then analyzed and compiled to obtain information about the dosage form of several natural oils that have the potential to be anti-acne. The results of literature studies show that natural oils derived from cinnamon plants, citronella, fennel, cloves, black cumin, tea tree, oregano and rosmery have antibacterial activity that causes acne and some of these natural oils have strong antibacterial activity against acne-causing bacteria. The effective dosage form contains natural oils as an anti-acne active ingredient depending on the skin type, the active substance and the purpose of use to be made which will later produce an effective preparation. Abstrak. Kulit adalah organ yang tampak paling jelas dan terbesar pada manusia, salah satu masalah pada kulit yang sering muncul yaitu jerawat. Pengobatan dengan bahan alam lebih diminati pada kalangan masyarakat dibandingkan dengan pengobatan menggunakan bahan kimia. Penggunaan bahan alami banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai bahan dasar kosmetik dan perawatan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai jenis minyak alami yang memiliki potensi sebagai bahan aktif dalam mengatasi masalah jerawat dan untuk mengetahui efektifitas berbagai bentuk sediaan yang mengandung minyak alami sebagai bahan aktif anti-jerawat. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah systematic Literature Review (SLR). Penelusuran pustaka dilakukan melalui Google Scholar, Science Direct, Pubmed dengan menggunakan kata kunci bahasa indonesia serta kata kunci bahasa inggris sesuai dengan kata yang akan dicari. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisa dan disusun untuk memperoleh informasi tentang bentuk sediaan dari beberapa minyak alami yang berpotensi sebagai antijerawat. Hasil studi literatur menunjukan minyak alami yang berasal dari tanaman kayu manis, serai wangi, adas, cengkeh, jintan hitam, tea tree, oregano dan rosmery memiliki aktivitas antibakteri penyebab jerawat serta sebagian minyak alami tersebut memiliki aktivitas antibakteri yang kuat terhadap bakteri penyebab jerawat. Bentuk sediaan yang efektif mengandung minyak alami sebagai bahan aktif anti-jerawat tergantung jenis kulit, zat aktif dan tujuan penggunaan yang akan dibuat yang nantinya akan menghasilkan sediaan efektif.
Penapisan Fitokimia dan Karakterisasi Simplisia Biji Kopi Robusta (Coffea canephora Pierre ex A. Froehner) Assyifa Destiara Lintang Putri; Hanifa Rahma; Budi Prabowo Soewondo
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14371

Abstract

Abstract. Robusta coffee (Coffea canephora Pierre ex A. Froehner) is a plant containing caffeine which is classified as strong, the caffeine content in coffee is an antioxidant that can prevent premature aging of the skin. Caffeine has many benefits in medicine. Caffeine can exfoliate dead skin cells, smooth the skin, nourish the skin, eliminate body odor, remove acne scars, and protect the skin from UV rays. Robusta coffee beans contain alkaloids, tannins, saponins, and polyphenols. Polyphenols in robusta coffee beans can be used as antioxidants to trap free radicals. This study aims to identify the content of compounds contained in the simplisia and determine the characterization of robusta coffee bean simplisia. The results obtained in testing the characterization of simplisia determination of drying shrinkage, water content, water soluble juice content, ethanol soluble juice content, total ash content, and acid insoluble ash content have met the requirements. In robusta coffee bean simplisia contains secondary metabolite compounds Alkaloids, polyphenolics, flavonoids, tannins, saponins, quinine Monoterpen- sesqueterpen, and triterpenoid-steroids. Abstrak. Kopi robusta (Coffea canephora Pierre ex A. Froehner) merupakan tanaman mengandung kafein yang tergolong kuat, kandungan kafein dalam kopi merupakan antioksidan yang dapat mencegah penuaan dini pada kulit. Kafein memiliki banyak manfaat dalam pengobatan. Kafein dapat mengelupaskan sel-sel kulit mati, menghaluskan kulit, menutrisi kulit, menghilangkan bau badan, menghilangkan bekas jerawat, dan melindungi kulit dari sinar UV. Biji kopi robusta mengandung senyawa alkaloid, tanin, saponin, dan polifenol.Polifenol dalam biji kopi robusta dapat digunakan sebagai antioksidan untuk menjebak radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan senyawa yang terdapat di dalam simplisia dan mengetahui karakterisasi pada simplisia biji kopi robusta. Hasil yang di dapat pada pengujian karakterisasi simplisia penetapan susut pengeringan, kadar air, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, kadar abu total, dan kadar abu tidak larut asam sudah memenuhi persyaratan. Pada simplisia biji kopi robusta mengadung seyawa metabolite sekunder Alkaloid, polifenolat, flavonoid, tannin, saponin, kuinin Monoterpen- sesqueterpen, dan triterpenoid-steroid.
P-Glikoprotein sebagai Transporter Effluks yang Dapat Mempengaruhi Absorpsi Obat Oral Millati Hanifa Suparno; Fitrianti Darusman; Hanifa Rahma
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14438

Abstract

Abstract. Oral drug administration is the most frequent route of administration for drug delivery systems. Oral drug administration designates members of the ATP binding cassette (ABC) transporter superfamily. In competitive inhibitors, when a substrate attempts to bind to the P-gp protein transport site for translocation, the competitive inhibitor competes with the drug substrate to occupy all accessible protein transport sites, so that P-gp cannot bind to the drug substrate...whereas in non-competitive inhibitors, the inhibitor binds to all osteris modulation sites and non-competitively inhibits protein efflux...Because of this non-competitive inhibitors are also known as non-transport inhibitors. Drug or substrate can enter the cell membrane through filtration, simple diffusion, or specialized transport..Drug efflux begins with drug identification by P-gp followed by ATP binding and hydrolysis..The energy generated from ATP hydrolysis is used to remove the substrate from the cell membrane through the central aperture.There are three models of P-gp-mediated drug efflux, namely the classical pore pump model, hydrophobic vacuum cleaner (HVC) model, and flippase model. Abstrak. Administrasi obat secara oral adalah rute pemberian yang paling sering untuk sistem penghantaran obat. Pemberian obat oral menunjuk anggota dari superfamily ATP binding cassette (ABC) transporter. 80% obat yang menghasilkan efek sistema oral.Pada inhibitor kompetitif, ketika substrat mencoba berikatan dengan situs transpor protein P-gp untuk translokasi, inhibitor kompetitif bersaing dengan substrat obat untuk menempati semua situs transpor protein yang dapat diakses, sehingga P-gp tidak dapat berikatan dengan substrat obat..Sedangkan pada inhibitor non-kompetitif, inhibitor berikatan dengan semua situs modulasi osteris dan secara non-kompetitif menghambat efluks protein..Karena itu inhibitor non-kompetitif juga dikenal sebagai inhibitor non-transport .Obat atau substrat dapat memasuki membran sel melalui filtrasi, difusi sederhana, atau transpor khusus..Efluks obat diawali dengan identifikasi obat oleh P-gp yang dilanjutkan dengan pengikatan dan hidrolisis ATP..Energi yang dihasilkan dari hidrolisis ATP digunakan untuk mengeluarkan substrat dari membran sel melalui lubang pusat (central aperture).Terdapat tiga model efluks obat yang dimediasi P-gp, yaitu classical pore pump model, hydrophobic vacuum cleaner (HVC) model, dan flippase model.
Formulasi Sediaan Nanoemulsi Minyak Biji Rosehip Ratnasari; Aulia Fikri Hidayat; Hanifa Rahma
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14563

Abstract

Abstract. The skin is the outermost organ of the body which plays a role in the process of protecting against UV radiation which can trigger ROS (Reactive Oxygen Species). Rosehip seed oil (Rosa canina L.) has activity as an antioxidant which can be used to ward off ROS because it is rich in polyunsaturated fatty acids (especially linoleic acid and alpha-linolenic acid), so it can function as an antioxidant. This research aims to develop a formula and evaluate a nanoemulsion preparation containing rosehip seed oil. To increase the penetration ability and effectiveness of the active compound, it was developed into a nanoemulsion preparation. This research aims to determine the antioxidant activity and determine the optimum formulation and antioxidant activity of the rosehip seed oil nanoemulsion preparation. Optimization of the nanoemulsion formula was carried out using surfactant (Tween 80), cosurfactant (PPG), preservatives (methyl and propyl paraben), and aquabidest. Nanoemulsions were evaluated through physical tests that met characteristics including globule size, PDI, and were stable without phase separation based on heating cooling, centrifugation, and freeze thaw tests and antioxidant tests using the DPPH method. The rosehip seed oil nanoemulsion formula that was successfully prepared consisted of 3% rosehip seed oil, 30% Tween 80, 15% propylene glycol, 0.18% methyl paraben, and 0.02% propyl paraben. The nanoemulsion is bright yellow; clear; distinctive smell; globule size 9.167 ± 0.058 nm; and polydispersity index 0.135 ± 0.0788 nm. The results of the antioxidant activity test of rosehip seed oil nanoemulsion showed that rosehip seed oil had an IC50 value of 15,684 ± 2,106 ppm. Abstrak. radiasi sinar UV yang dapat memicu ROS (Reactive Oxygen Species). Minyak biji rosehip (Rosa canina L.) ini memiliki aktivitas sebagai antioksidan yang dapat digunakan untuk menangkal ROS karena mengandung kaya akan asam lemak tak jenuh ganda (terutama asam linoleat dan asam alfa-linolenat), sehingga dapat berfungsi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formula dan mengevaluasi sediaan nanoemulsi yang mengandung minyak biji rosehip. Untuk meningkatkan kemampuan penetrasi dan efektivitas senyawa aktif, maka dikembangkan menjadi sediaan nanoemulsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan mengetahui formulasi optimum serta aktivitas antioksidan dari sediaan nanoemulsi minyak biji rosehip tersebut. Optimasi formula nanoemulsi dilakukan menggunakan surfaktan (Tween 80), kosurfaktan (PPG), pengawet (metil dan propil paraben), dan aquabidest. Nanoemulsi dievaluasi melalui uji fisik yang memenuhi karakteristik meliputi ukuran globul, PDI, dan stabil tidak ada pemisahan fasa berdasarkan pengujian heating cooling, sentrifugasi, dan freeze thaw dan uji antioksidan dengan menggunakan metode DPPH. Formula nanoemulsi minyak biji rosehip yang berhasil dibuat terdiri dari minyak biji rosehip 3%, Tween 80 30%, propilen glikol 15%, metil paraben 0,18%, dan propil paraben 0,02%. Nanoemulsi berwarna kuning cerah; jernih; berbau khas; ukuran globul 9,167 ± 0,058 nm; dan indeks polidispersitas 0,135 ± 0,0788 nm. Hasil uji aktivitas antioksidan nanoemulsi minyak biji rosehip menunjukan bahwa minyak biji rosehip memiliki nilai IC50 15,684± 2,106 ppm.
Sintesis Nanogel Berbasis Alginat Dialdehid Berbasis Ekstrak Kulit Manggis Mahabbah Auliya; Arlina Prima Putri; Hanifa Rahma
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14778

Abstract

Abstract. Free radicals come from molecules that are unstable due to unpaired electrons. Antioxidants to stabilize free radicals is one of the methods using antioxidants that are able to donate electrons. One example of natural materials that can be used as antioxidants is mangosteen rind (Garcinia Mangostan L.) which contains xanthone compounds that act as antioxidants. The large particle size makes the preparation difficult to penetrate, so to increase the penetration ability and effectiveness of antioxidants, formulation in the form of nanogels is carried out. For this reason, this study aims to determine how the nanogel formula of alginate dialdehyde-based mangosteen peel extract and how it is characterized based on organoleptic test, homogentity test, and % Transmittance test. Nanogel preparations in each formula have the same characteristics, namely clear and transparent and have good homogeneity, good transmittance values are produced in formula F2 with a % transmittance value of 94.2 ± 1.2 and F3 with a % transmittance value of 93.7 ± 1.5. Abstrak. Radikal bebas berasal dari molekul yang tidak stabil akibat elektron yang tidak berpasangan. Antioksidan untuk menstabilkan radikal bebas salah satu metodenya menggunakan antioksidan yang mampu menyumbangkan elektron. Salah satu contoh contoh bahan alam yang dapat digunakan sebagai antioksidan adalah kulit manggis manggis (Garcinia Mangostan L.) yang mengandung senyawa xanton berperan sebagai antioksidan. Dalam ukuran partikel yang besar membuat sediaan sulut unutk berpenetrasi, maka untuk meningkatkan kemampuan penetrasi dan efektivitas antioksidan dilakukan formulasi dalam bentuk nanogel. Untuk itu dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana formula nanogel dari ekstrak kulit manggis berbasis alginat dialdehid dan bagaimana karakterisasinya berdasarkan uji organoleptis, uji homogentitas, dan uji % Transmitan. Sediaan nanogel pada setiap formula memiliki karakteristik yang sama yaitu jernih dan transparan dan memiliki kehomogenitasan yang baik, nilai transmitan yang baik dihasilkan pada formula F2 dengan nilai % transmitan 94,2±1,2 dan F3 dengan nilai % transmitan 93,7±1,5
Formulasi dan Karakterisasi Nanoemulgel yang Berpotensi sebagai Antijerawat Pedriantini Iqlima Subekti; Hanifa Rahma; Sani Ega Priani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15017

Abstract

Abstract. Acne is a chronic inflammatory skin disease of the pilosebaceous unit that occurs due to sebum accumulation and hyperkeratinization of the pilosebaceous ducts, resulting in the accumulation of acne-causing bacteria that cause inflammation. Acne-causing bacteria include Cutibacterium acnes, Staphylococcus aureus, and Staphylococcus epidermidis. Nanoemulgel can be a carrier for active ingredients with limited penetration into the skin because of its small size, making it easier to penetrate the skin barrier. This literature review aims to provide information about nanoemulgel formulations that have good properties and to determine the antibacterial activity against acne-causing bacteria based on in vitro tests. The method used is a systematic literature review (SLR) using Scopus-indexed international journals and Sinta-indexed national journals. Based on the results of the study, the optimum nanoemulgel formula uses surfactant tween 80, cosurfactant using short-chain alcohol type (PEG 400, propyleneglycol, span 80, and sorbitol), while the gelling agent that is often used is carbopol-940. Increasing the concentration of active ingredients and the variation of excipients can increase the antibacterial activity of nanoemulgel preparations. Abstrak. Jerawat merupakan penyakit kulit peradangan kronis pada unit pilosebasea yang terjadi akibat penumpukan sebum dan hiperkeratinisasi saluran pilosebasea sehingga terjadi akumulasi bakteri penyebab jerawat yang akan menyebabkan inflamasi. Bakteri penyebab jerawat diantaranya adalah Cutibacterium acnes, Staphylococcus aureus, dan Staphylococcus epidermidis. Nanoemulgel dapat menjadi pembawa bahan aktif yang memiliki keterbatasan untuk dapat berpenetrasi kedalam kulit karena memiliki ukuran yang kecil sehingga lebih mudah untuk menembus barrier kulit. Kajian Pustaka ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang formulasi nanoemulgel yang memiliki karakteristik yang baik, serta untuk mengetahui aktivitas antibakteri terhadap bakteri penyebab jerawat berdasarkan uji in vitro. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) menggunakan jurnal internasional terindeks Scopus dan jurnal nasional terindeks Sinta. Berdasarkan hasil kajian menunjukkan bahwa formula nanoemulgel yang optimum menggunakan surfaktan tween 80, kosurfaktan menggunakan tipe alkohol rantai pendek (PEG 400, propilenglikol, span 80, dan sorbitol), sedangkan gelling agent yang sering digunakan adalah carbopol-940. Peningkatan konsentrasi bahan aktif dan variasi eksipien dapat meningkatkan aktivitas antibakteri sediaan nanoemulgel.
Potensi Bahan Alam Penghambat Enzim Tirosinase sebagai Pemutih Kulit dalam Bentuk Sediaan Krim Kosmetika Imola Septhialika Mardhatilla; Dina Mulyanti; Hanifa Rahma
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15089

Abstract

Abstract. Whitening cream is a cosmetic preparation that is used on the surface of the skin to change the skin color to be white and bright from the original skin. Researchers developed cosmetics derived from natural ingredients that are considered to have few side effects. This study was carried out using the Systematic Literature Review (SLR) method with the aim of finding out natural ingredients that can produce whitening effects. The results of the study showed that castor tint sap had a very strong affinity in inhibiting the activity of the tyrosinase enzyme, with a value of 39.37 nm. In honey extract and tea extract, IC50 values were obtained above 1000 μg/ml so that it was very weak in inhibiting the activity of the tyrosinase enzyme. Cashew leaf extract showed tyrosinase inhibition activity at a concentration of 0.100 mg/mL. Then in 25 plants in Mpumalanga province, South Africa, an IC50 of 200 μg/ml was obtained. Kenaf leaf extract is effective in inhibiting the activity of tyrosinase enzymes, both at the monophenolase stage (30.28 ± 3.90%) and diphenolase (11.40 ± 0.29%). In S. siliquosum, it was obtained (IC50: 65.0 μg equivalent of gallic acid per ml). Then three types of brown seaweed (Sargassum) were obtained with a value of 64.72 ± 0.46%. Rorippa nasturtium-aquaticum plants, Clausena anisata, Chenopodium album L., and Cassipourea flanaganii, obtained IC50 values between 1.42 and 1.55 μg/mL. And corn cob extract obtained an IC50 value of 12.45 μg/mL. Abstrak. Krim pemutih merupakan sediaan kosmetika yang digunakan pada permukaan kulit untuk mengubah warna kulit menjadi putih dan cerah dari kulit aslinya. Peneliti mengembangkan kosmetika berasal dari bahan alam yang dianggap memiliki efek samping yang sedikit. Kajian ini dilakukan dengan metode Systematic Literature Review (SLR) bertujuan untuk mengetahui bahan alam yang dapat menghasilkan efek memutihkan. Hasil kajian menunjukkan bahwa getah jarak tintir memiliki afinitas sangat kuat dalam menghambat aktivitas enzim tirosinase, dengan nilai 39,37 nm. Pada ekstrak madu dan ekstrak teh didapatkan nilai IC50 di atas 1000 μg/ml sehingga sangat lemah dalam menghambat aktivitas enzim tirosinase. Ekstrak daun jambu mete menunjukkan aktivitas penghambatan tirosinase pada konsentrasi 0,100 mg/mL. Lalu pada 25 tanaman di provinsi Mpumalanga, Afrika Selatan didapatkan IC50 yaitu 200 μg/ml. Ekstrak daun kenaf efektif dalam menghambat aktivitas enzim tirosinase, baik pada tahap monofenolase (30,28 ± 3,90%) maupun difenolase (11,40 ± 0,29%). Pada S. siliquosum didapatkan (IC50 65,0 μg setara asam galat per ml). Lalu tiga jenis rumput laut coklat (Sargassum) didapatkan nilai 64,72 ± 0,46%. Tumbuhan Rorippa nasturtium-aquaticum, Clausena anisata, Chenopodium album L., dan Cassipourea flanaganii, didapatkan nilai IC50 antara 1,42 dan 1,55 μg/mL. Serta ekstrak tongkol jagung didapatkan nilai IC50 12,45 μg/mL.