Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Penggunaan Complementary and Alternative Medicine pada Penyakit Hipertensi Selama Pandemi Covid-19 di Samarinda Made Ermayani
Malahayati Nursing Journal Vol 5, No 9 (2023): Volume 5 Nomor 9 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v5i9.7470

Abstract

ABSTRAK Hipertensi adalah penyakit yang membutuhkan penanganan seumur hidup. Pendekatan non-farmakologis dengan menggunakan Complementary And Alternative Medicine (CAM)  merupakan salah satu pengobatan yang sering digunakan oleh masyarakat Indonesia. Complementary And Alternative Medicine adalah istilah nonspesifik yang mengacu pada berbagai terapi yang tidak dianggap sebagai bagian dari pengobatan konvensional. Pandemi COVID-19 menyebabkan penurunan jumlah kunjungan masyarakat ke pelayanan kesehatan, yang dapat menyebabkan masyarakat lebih memilih penggunaan CAM untuk mengelola penyakit hipertensinya. Mengetahui penggunaan CAM pada penyakit hipertensi selama pandemi Covid-19 Di Samarinda. Penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian adalah deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional study. Metode sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah responden adalah 102 responden. Analisa data menggunakan uji univariat. Hasil analisis yang disajikan meliputi frekuensi dan persentase. Sebelum pandemi Covid-19, 44,1% responden yang menggunakan CAM, tapi selama pandemi Covid-19 persentase responden yang menggunakan CAM meningkat menjadi 50%. Faktor eksternal responden menggunakan CAM karena rekomendasi dari keluarga/teman/tetangga (74%), sedangkan faktor internal karena menganggap CAM efek sampingnya lebih sedikit (49%). Obat herbal merupakan jenis CAM yang paling banyak digunakan oleh responden yaitu 53% responden, dan terdapat 24% responden yang menggunakan tindakan pijat. Terdapat peningkatan penggunaan CAM selama pandemik Covid-19. Kata Kunci: Complementary and Alternative Medicine, Hipertensi, Covid-19 ABSTRACT Hypertension is a disease that requires a  lifelong treatment. The non-pharmacological Complementary And Alternative Medicine (CAM) is one of the treatments that is often used by the Indonesian people. Complementary and Alternative Medicine is a nonspecific term that refers to a variety of therapies that are not considered part of conventional medicine. The COVID-19 pandemic has caused a decrease in the number of public visits to health services, which may cause people to prefer the use of CAM to manage their hypertension. To determine the use of CAM in hypertension during the Covid-19 pandemic in Samarinda. This research is a descriptive analytic study with a quantitative approach that uses a cross sectional study design. The sampling method used is purposive sampling with the number of respondents is 102 respondents. Univariate test used  for data analysis which presented include frequency and percentage. Before the Covid-19 pandemic, 44.1% of respondents used CAM, but during the Covid-19 pandemic the percentage of respondents using CAM increased to 50%. External factors of respondents using CAM because of recommendations from family/friends/neighbors (74%), while internal factors because they consider CAM to have fewer side effects (49%). Herbal medicine is the most widely used type of CAM by 53% of respondents, and there are 24% of respondents used massage as their CAM. There is an increase in the use of CAM during the Covid-19 pandemic. Keyword: Complementary And Alternative Medicine, Hypertension, Covid-19
Penggunaan complementary and alternative medicine pada penyakit hipertensi selama pandemi covid-19: The use of complementary and alternative medicine in hypertension disease during the covid-19 pandemic Ermayani, Made; Pratiwi, Gracia Herny; Tetty, Vinsensia
Bali Medika Jurnal Vol 9 No 2 (2022): Special Issue Bali Medika Jurnal Vol 9 No 2 Oktober 2022
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v9i2.221

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit yang membutuhkan pengobatan yang lama dan dapat menimbulkan komplikasi pada organ vital tubuh. Salah satu tindakan nonfarmakologi yang sering dilakukan oleh penderita hipertensi adalah dengan menggunakan obat tradisional. Sejak pandemi COVID-19, masyarakat lebih memilih penggunaan obat tradisional untuk mengelola penyakit hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan obat tradisional pada penyakit hipertensi selama pandemi Covid-19 Di Kelurahan Jawa Samarinda. Penelitian ini mengunakan metode deskriptif kuantitatif dengan jenis penelitian menggunakan rancangan cross sectional study. Metode sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah responden adalah 65 responden. Analisa data menggunakan uji univariat. Hasil menunjukkan bahwa responden sebagian besar berusia 56-65 tahun, jenis kelamin perempuan, bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga, tingkat sosial ekonomi rendah, tidak merokok, tidak pernah melakukan olahraga; memiliki riwayat keturunan hipertensi; dan lama menderita hipertensi 3-5 tahun. Sebelum pandemi Covid-19, sebanyak 33,8% responden menggunakan obat tradisional, tapi selama pandemi Covid-19 persentase responden yang menggunakan obat tradisional meningkat menjadi 43,1%. Faktor eksternal responden menggunakan obat tradisional karena rekomendasi dari keluarga/teman/tetangga (66%), sedangkan faktor internal karena menganggap obat tradisional lebih murah (60%). Jenis obat tradisional yang paling banyak digunakan oleh responden adalah mentimun (26%). Kesimpulannya, terdapat peningkatan penggunaan obat tradisional selama pandemik Covid-19.   Hypertension is a disease that requires a long treatment and can cause complications in the body's vital organs. One of the non-pharmacological actions that are often carried out by people with hypertension is using traditional medicine. Since the COVID-19 pandemic, people have preferred to use traditional medicines to manage hypertension. Objective: To determine the use of traditional medicine in hypertension during the Covid-19 pandemic in the Samarinda Java Village. This research used descriptive quantitative method with a cross-sectional study design. The sampling method used is purposive sampling with the number of respondents is 65 respondents. Data analysis using a univariate test. Results showed that most of the respondents were 56-65 years old, female gender, worked as housewives, low socioeconomic level, did not smoke, never did sports; have a hereditary history of hypertension; and have had hypertension for 3-5 years. Before the Covid-19 pandemic, 33.8% of respondents used traditional medicines, but during the Covid-19 pandemic, the percentage of respondents who used traditional medicines increased to 43.1%. External factors of respondents using traditional medicine because of recommendations from family/friends/neighbors (66%), while internal factors because they think traditional medicine is cheaper (60%). The most common type of traditional medicine used by respondents was cucumber (26%). In Conclusion, there is an increase in the use of traditional medicines during the Covid-19 pandemic.
PROGRAM PEMBINAAN KESEHATAN TENTANG PENYAKIT TIDAK MENULAR PADA MASYARAKAT KELURAHAN JAWA SAMARINDA Tambi, Imelda Feneranda Seravia; Ermayani, Made
Jurnal Pengabdiaan Masyarakat Kasih (JPMK) Vol 5 No 2 (2024): April
Publisher : JPMK : Jurnal Pengabdian Masyarakat Kasih Published by Unit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (UPPM) STIKES Dirgahayu Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52841/jpmk.v5i2.435

Abstract

Penyakit tidak menular (PTM), juga dikenal sebagai penyakit kronis, tidak ditularkan dari orang ke orang. Penyakit tidak menular mempunyai durasi yang panjang dan umumnya berkembang lambat. Meningkatnya kasus PTM secara signifikan diperkirakan akan menambah beban masyarakat dan pemerintah. Untuk itu, dibutuhkan komitmen bersama dalam menurunkan morbiditas, mortalitas dan disabilitas PTM melalui intensifikasi pencegahan dan pengendalian menuju Indonesia Sehat. Upaya yang telah dilakukan pemerintah adalah dengan manajemen terpadu program P2PTM. Untuk mendukung program pemerintah maka dibutuhkan juga program pembinaan masyarakat dengan memberikan pendidikan kesehatan sebagai upaya promotif dan preventif; dan keterampilan penanganan PTM di lingkungan rumah sebagai upaya preventif dan kuratif. Kementrian Kesehatan RI telah menguraikan lima target capaian dalam RPJM 2020-2040, terdapat target yang membutuhkan keterlibatan dan dukungan masyarakat terkait PTM yaitu peningkatan pengendalian penyakit dan penguatan gerakan masyarakat hidup sehat (Germas). Kehadiran komunitas dalam hal ini masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan dan faktor risiko PTM dalam mengurangi mortalitas dan morbiditas. Pengenalan awal gejala PTM, demi mempercepat proses rujukan dan proses transfer pasien ke rumah sakit menjadi hal yang sangat penting di dalam penanganan PTM. Terdapat peningkatan pengetahuan peserta kegiatan sebelum dan sesudah diberikan pengabdian kepada masyarakat antara lain : Pendidikan Kesehatan Mengenai Obat Herbal Untuk Hipertensi, Pelatihan PMR, Pendidikan Kesehatan Sedentary Lifestyle.
CEGAH DIABETES SEJAK REMAJA: PEMERIKSAAN INDEKS MASSA TUBUH DAN GULA DARAH SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Ermayani, Made; Tambi, Imelda Feneranda Seravia; Veronike
Jurnal Pengabdiaan Masyarakat Kasih (JPMK) Vol 6 No 1 (2024): October
Publisher : JPMK : Jurnal Pengabdian Masyarakat Kasih Published by Unit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (UPPM) STIKES Dirgahayu Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52841/jpmk.v6i1.610

Abstract

Kesehatan remaja sangat penting untuk kualitas hidup masa depan, dengan pola makan yang tidak sehat seperti konsumsi gula dan fast food, meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Program pengabdian masyarakat yang melibatkan pemeriksaan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan kadar gula darah diharapkan dapat meningkatkan kesadaran kesehatan remaja dan mendorong perilaku hidup sehat guna mencegah penyakit kronis di masa depan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini mencakup pemeriksaan IMT dan gula darah menggunakan peralatan yang memenuhi standar kesehatan yaitu timbangan digital dan glucometer. Prosesnya dimulai dengan sosialisasi, dilanjutkan dengan pengukuran IMT dan gula darah, diikuti dengan edukasi tentang pola makan sehat, aktivitas fisik, serta pencegahan obesitas dan diabetes. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa seluruh siswa (26 orang) memiliki kadar gula darah sewaktu dalam rentang normal. Namun, terdapat lima siswa (19%) yang memiliki IMT dalam kategori gemuk atau obesitas, sementara sebagian besar siswa berada dalam kategori IMT normal. Hasil pemeriksaan IMT dan gula darah di SMP Katolik I WR Soepratman menunjukkan sebagian besar siswa memiliki status gizi baik, meski ada beberapa siswa obesitas, yang memerlukan langkah pencegahan seperti edukasi pola hidup sehat, pemantauan IMT, pemeriksaan rutin, dan program kesehatan berkelanjutan untuk mengurangi risiko obesitas dan penyakit kronis.
Evaluasi Tugas dan Kompetensi Kader Posyandu Balita di Kelurahan Jawa Kota Samarinda Aprilia Nuryanti; Made Ermayani
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 3 No. 2 (2019): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v3i2.491

Abstract

Jumlah balita (0-4 tahun) pada tahun 2015 di Kota Samarinda adalah jumlah kelompok umur tertinggi kedua setelah usia 25-29 tahun. Pemerintah menyelenggarakan program kesehatan anak melalui Puskesmas. Puskesmas memiliki wilayah binaan kesehatan anak berupa Posyandu Balita. Puskesmas memiliki kader-kader kesehatan anak di masing-masing Pada pelaksanaannya di lapangan tugas kader tidak optimal dan menemukan beberapa kendala. Kendala yang terjadi mungkin dapat menyebabkan pencapaian program yang diharapkan oleh Puskesmas dan pemerintah kurang optimal. Oleh sebab itu, perlu penelusuran evaluasi tugas kader kesehatan anak dalam melaksanakan program kesehatan anak melalui puskesmas sebagai tangan panjang pemerintah. Evaluasi bermanfaat untuk mengembangkan pelatihan dan penyuluhan yang diperlukan bagi para kader untuk meningkatkan kompetensi mereka. Diskusi kelompok terarah dengan kader adalah salah satu upaya menelusuri dan mengevaluasi pelaksanaan tugas yang telah dilakukan kader kesehatan anak serta menemukan kendala-kendala teknis selama melaksanakan tugasnya. Hasil diskusi dianalisis dan ditarik tema-tema yang menjadi isu strategis evaluasi tugas kader kesehatan anak. FGD diikuti oleh 16 partisipan dan dua orang Pembina dari Puskesmas. Hasil FGD menunjukkan bahwa pelaksanaan tugas administrasi kader dapat dilakukan dengan baik, pelaporan dan sosialisasi program dari Pemerintah disampaikan kepada kader melalui pertemuan di Puskesmas. Kendala yang terjadi selama kader bertugas di Posyandu adalah keterbatasan jumlah kader karena ada kader kesehatan anak yang merangkap sebagai kader kesehatan lansia. Karena jumlah yang kurang maka tugas dua meja harus dilakukan oleh seorang kader sehingga ada penugasan yang dobel. Kader mengatakan masalah di lapangan lainnya adalah kurangnya kepercayaan orang tua kepada kader karena keterbatasan kader dalam pengetahuan gangguan tumbuh kembang anak dan kurang terbukanya/ penolakan orang tua untuk membawa anak ke Posyandu. Saran yang dapat dilakukan oleh Puskesmas adalah mengevaluasi pencapaian pengetahuan dan keterampilan kader, pendampingan dalam kunjungan ke rumah warga yang bermasalah dan mengambangkan topik penyuluhan bagi kader dengan bekerja sama dengan instansi pendidikan tinggi kesehatan. Bagi institusi pendidikan agar dapat melaksanakan penyuluhan dan pelatihan bagi kader dengan bersinergi dengan Puskesmas dalam pemilihan topik. 
Peningkatan Pengetahuan Kader Posyandu Balita di Kelurahan Jawa Kota Samarinda tentang Tumbuh Kembang dan Kegawatdaruratan Anak melalui Pendidikan Kesehatan Made Ermayani; Aprilia Nuryanti; Agnesia Winda Kurniati
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 3 No. 2 (2019): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v3i2.501

Abstract

Data kependudukan kota Samarinda tahun 2015 menunjukkan bahwa kelompok balita menduduki kelompok umur tertinggi kedua setelah usia 25-29 tahun. Jumlah 84.756 jiwa kelompok balita memerlukan perhatian khusus pada masalah pertumbuhan perkembangan dan kesehatannya. Pemantauan pertumbuhan balita sangat penting dilakukan untuk mengetahui adanya gangguan pertumbuhan (growth faltering) secara dini. Masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan balita di berbagai tempat seperti Posyandu, Polindes, Puskesmas atau sarana pelayanan kesehatan yang lain. Jumlah Posyandu sebanyak 75 buah di Kecamatan Samarinda Ulu. Puskesmas memiliki kader-kader kesehatan anak di masing-masing Posyandu yang seharusnya memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan dalam deteksi dini tumbuh kembang anak, tidak hanya secara administratif melakukan pekerjaan dalam kegiatan Posyandu. Penyuluhan tentang pemantauan tumbuh kembang dan kesehatan anak perlu dilakukan kepada kader agar mereka memiliki pengetahuan yang cukup banyak untuk disampaikan kepada orang tua saat membawa anak ke Posyandu karena tidak jarang orang tua balita dan kader menghadapi masalah kesehatan anak misalnya penyakit pada anak dan kondisi kegawatdaruratan pada anak. Masalah yang sering dihadapi sehari-hari seperti anak demam, kejang, diare, mimisan, luka, perdarahan, dan lain-lain. Kader posyandu balita sudah mendapatkan sosialisasi dan pelatihan mengenai pelaksanaan pelayanan posyandu 5 meja, pelatihan tentang pemantauan tumbuh kembang dan pijat bayi. Namun dalam pelaksanaannya mengalami beberapa kendala dan tidak semua kader mengikuti. Berdasarkan hasil focus group discussion sebelumnya parakader menyatakan membutuhkan penyuluhan tentang tumbuh kembang balita, kesehatan anak dan kegawatdaruratan anak. Metode pelaksanaan kegiatan adalah penyuluhan secara klasikal denga pre- dan post-test tentang tumbuh kembang dan pertolongan kegawatdaruratan anak. Saat penyuluhan berlangsung juga dilakukan diskusi dan tanya jawab terkait materi. Pelaksanaan kegiatan secara berseri pada tanggal 14 September dan 12 Oktober 2018 yang dihadiri 17 orang kader. Perbandingan nilai pre dan post tes pengetahuan kader tentang tumbuh kembang anak mengalami peningkatan mean dari 63 (nilai min 50, maks 80) meningkat menjadi mean 75 (nilai min 60, maks 90). Nilai pre- dan post-tes pengetahuan kader tentang kegawatdaruratan anak meningkat signifikan dari mean 66 (nilai min 50, maks 80) menjadi mean 83,6 (nilai min 60, maks 100). Kader rutin mendapatkan sosialisasi dan penyuluhan program dari Puskesmas rata-rata tentang topik tumbuh kembang anak, vaksinasi dan program nasional lain. Kegawatdaruratan pada anak adalah materi baru bagi kader. Rata-rata pengetahuan kader setelah dilakukan penyuluhan adalah dalam kategori baik pada topik tersebut. Upaya peningkatan pengetahuan bagi kader sangat diperlukan dengan berbagai metode. Pelatihan lanjutan perlu dilakukan agar kader memiliki keterampilan teknis terkait pemeriksaan tumbuh kembang anak dan pertolongan kegawatdaruratan pada masalah kesehatan anak.