Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PENGEMBANGAN FORMAT DOKUMENTASI ASUHAN KEPERAWATAN BERBASIS STANDARDIZED NURSING LANGUAGE (SNL) NANDA-I, NOC DAN NIC DI RUANG RAWAT INAP made ermayani; aprilia nuryanti
MNJ (Mahakam Nursing Journal) Vol 2 No 2 (2017): Nov 2017
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.363 KB)

Abstract

Abstract The extent area of nursing, the number of nursing school, and the place of nursing service in Indonesia or overseas will need a nursing language classification system that is standardized (Standardized Nursing Language/SNL) to formulate nursing diagnoses, purpose, and intervention nursing. This research aims to develop documentation format based on based SNL- Nanda I, NOC and NIC in the surgical medical room. The first step is exploration documentation nursing, the second stage are test, try, and evaluation. Purposive sampling was used to obtain participants. Method collecting data used FGD, sheet of observation quality of nursing care format, and quality of documentation nursing. The first FGD involved six nurses, the second FGD involved six nursing management of hospital and 11 nurses from medical surgery room. The result was good category for all indicators (functionality 82.39; efficiency 85.80; usability 82.95) and documentation nursing care quality using SNL NANDA-I, NOC and NIC showed that all indicators was good (completeness >86.16; accuracy >90; relevance >91.36; novelty 100). Hospital needs to consider the application of documentation format using nursing language standarized with NANDA-I, NOC and NIC at all room. Nurses need to improve ability in using SNL NANDA-I, NOC and NIC appropiately. Keywords: nursing care documentation format, NANDA-I, NOC and NIC Abstrak Luasnya area keperawatan dan banyaknya institusi pendidikan serta tempat pelayanan keperawatan di Indonesia maupun luar negeri, maka akan membutuhkan suatu sistem klasifikasi bahasa keperawatan yang terstandar (Standardized Nursing Language/ SNL) untuk merumuskan diagnosis keperawatan, tujuan dan intervensi keperawatan. Tujuan penelitian untuk mengembangkan format dokumentasi berdasar SNL Nanda-I, NOC dan NIC di ruang perawatan medikal medah. Tahap pertama adalah eksplorasi dokumentasi keperawatan dan tahap kedua adalah uji coba dan evaluasi. Purposive sampling digunakan dalam pemilihan partisipan. Metode pengumpulan data melalui FGD, lembar observasi mutu format asuhan keperawatan dan mutu dokumentasi keperawatan. FGD pertama melibatkan enam perawat pelaksana, FGD kedua melibatkan enam dari jajaran manajemen keperawatan RS dan 11 orang perawat dari ruang perawatan medikal bedah dalam uji coba format. Mutu format asuhan keperawatan dalam kategori baik untuk semua indikator (functionality 82,39; efficiency 85,80; usability 82,95) dan mutu dokumentasi asuhan keperawatan menggunakan SNL NANDA-I, NOC dan NIC menunjukkan semua indikator dalam kategori baik (kelengkapan >86,16; akurasi >90; relevansi >91,36; kebaruan seluruhnya 100). RS perlu mempertimbangkan penerapan format dokumentasi menggunakan bahasa standar keperawatan menurut NANDA-I, NOC dan NIC di semua ruang perawatan. Perawat perlu terus menggali kemampuan dalam menggunakan SNL NANDA-I, NOC dan NIC yang aplikatif sesuai setting pelayanannya. Kata kunci: format dokumentasi asuhan keperawatan, NANDA-I, NOC dan NIC
The Influence of Breastfeeding On Nutritional Status, and the Frequency of Children Experience Tropical Diseases during the Covid 19 Pandemic in Samarinda Ida Ayu Kade Sri Widiastuti; Ruminem Ruminem; Rita Puspa Sari; Made Ermayani; Bahtiar Bahtiar
Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan Vol 6, No 1 (2023): JKPBK Juni 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/j.kes.pasmi.kal.v6i1.10852

Abstract

Warm temperatures, humidity, and high rainfall are factors in the high incidence of infectious diseases in the tropics. This condition is certainly risky for children's health. COVID-19 pandemic also adds to the risk of endangering the health of children in the golden period. In the golden period, infants and toddlers need adequate nutritional intake. Many factors hinder the provision of nutrition (ASI), one of which is the COVID 19 pandemic. Inadequate nutritional intake can lead to suboptimal growth and development of children, decreased immunity. The purpose of this study was to determine the effect of breastfeeding on nutritional status, and the frequency of children experiencing tropical diseases during the COVID 19 pandemic. Methods: Quantitative study with a categorical analytic research design. with a cross-sectional analytic approach. The sampling technique used a purposive sampling technique and the data collection tool was a questionnaire to measure the frequency of illness. Nutritional status measurement used anthropometric assessment. Conclusion: there is a significant relationship between breastfeeding and nutritional status and the frequency of illness in children. Recomedations:Therefore it is Important to campaign more intensively on the importance of breastfeeding for children's nutritional adequacy.
Penggunaan Complementary and Alternative Medicine pada Penyakit Hipertensi Selama Pandemi Covid-19 di Samarinda Made Ermayani
Malahayati Nursing Journal Vol 5, No 9 (2023): Volume 5 Nomor 9 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v5i9.7470

Abstract

ABSTRAK Hipertensi adalah penyakit yang membutuhkan penanganan seumur hidup. Pendekatan non-farmakologis dengan menggunakan Complementary And Alternative Medicine (CAM)  merupakan salah satu pengobatan yang sering digunakan oleh masyarakat Indonesia. Complementary And Alternative Medicine adalah istilah nonspesifik yang mengacu pada berbagai terapi yang tidak dianggap sebagai bagian dari pengobatan konvensional. Pandemi COVID-19 menyebabkan penurunan jumlah kunjungan masyarakat ke pelayanan kesehatan, yang dapat menyebabkan masyarakat lebih memilih penggunaan CAM untuk mengelola penyakit hipertensinya. Mengetahui penggunaan CAM pada penyakit hipertensi selama pandemi Covid-19 Di Samarinda. Penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian adalah deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional study. Metode sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah responden adalah 102 responden. Analisa data menggunakan uji univariat. Hasil analisis yang disajikan meliputi frekuensi dan persentase. Sebelum pandemi Covid-19, 44,1% responden yang menggunakan CAM, tapi selama pandemi Covid-19 persentase responden yang menggunakan CAM meningkat menjadi 50%. Faktor eksternal responden menggunakan CAM karena rekomendasi dari keluarga/teman/tetangga (74%), sedangkan faktor internal karena menganggap CAM efek sampingnya lebih sedikit (49%). Obat herbal merupakan jenis CAM yang paling banyak digunakan oleh responden yaitu 53% responden, dan terdapat 24% responden yang menggunakan tindakan pijat. Terdapat peningkatan penggunaan CAM selama pandemik Covid-19. Kata Kunci: Complementary and Alternative Medicine, Hipertensi, Covid-19 ABSTRACT Hypertension is a disease that requires a  lifelong treatment. The non-pharmacological Complementary And Alternative Medicine (CAM) is one of the treatments that is often used by the Indonesian people. Complementary and Alternative Medicine is a nonspecific term that refers to a variety of therapies that are not considered part of conventional medicine. The COVID-19 pandemic has caused a decrease in the number of public visits to health services, which may cause people to prefer the use of CAM to manage their hypertension. To determine the use of CAM in hypertension during the Covid-19 pandemic in Samarinda. This research is a descriptive analytic study with a quantitative approach that uses a cross sectional study design. The sampling method used is purposive sampling with the number of respondents is 102 respondents. Univariate test used  for data analysis which presented include frequency and percentage. Before the Covid-19 pandemic, 44.1% of respondents used CAM, but during the Covid-19 pandemic the percentage of respondents using CAM increased to 50%. External factors of respondents using CAM because of recommendations from family/friends/neighbors (74%), while internal factors because they consider CAM to have fewer side effects (49%). Herbal medicine is the most widely used type of CAM by 53% of respondents, and there are 24% of respondents used massage as their CAM. There is an increase in the use of CAM during the Covid-19 pandemic. Keyword: Complementary And Alternative Medicine, Hypertension, Covid-19
Penggunaan complementary and alternative medicine pada penyakit hipertensi selama pandemi covid-19: The use of complementary and alternative medicine in hypertension disease during the covid-19 pandemic Ermayani, Made; Pratiwi, Gracia Herny; Tetty, Vinsensia
Bali Medika Jurnal Vol 9 No 2 (2022): Special Issue Bali Medika Jurnal Vol 9 No 2 Oktober 2022
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v9i2.221

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit yang membutuhkan pengobatan yang lama dan dapat menimbulkan komplikasi pada organ vital tubuh. Salah satu tindakan nonfarmakologi yang sering dilakukan oleh penderita hipertensi adalah dengan menggunakan obat tradisional. Sejak pandemi COVID-19, masyarakat lebih memilih penggunaan obat tradisional untuk mengelola penyakit hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan obat tradisional pada penyakit hipertensi selama pandemi Covid-19 Di Kelurahan Jawa Samarinda. Penelitian ini mengunakan metode deskriptif kuantitatif dengan jenis penelitian menggunakan rancangan cross sectional study. Metode sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah responden adalah 65 responden. Analisa data menggunakan uji univariat. Hasil menunjukkan bahwa responden sebagian besar berusia 56-65 tahun, jenis kelamin perempuan, bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga, tingkat sosial ekonomi rendah, tidak merokok, tidak pernah melakukan olahraga; memiliki riwayat keturunan hipertensi; dan lama menderita hipertensi 3-5 tahun. Sebelum pandemi Covid-19, sebanyak 33,8% responden menggunakan obat tradisional, tapi selama pandemi Covid-19 persentase responden yang menggunakan obat tradisional meningkat menjadi 43,1%. Faktor eksternal responden menggunakan obat tradisional karena rekomendasi dari keluarga/teman/tetangga (66%), sedangkan faktor internal karena menganggap obat tradisional lebih murah (60%). Jenis obat tradisional yang paling banyak digunakan oleh responden adalah mentimun (26%). Kesimpulannya, terdapat peningkatan penggunaan obat tradisional selama pandemik Covid-19.   Hypertension is a disease that requires a long treatment and can cause complications in the body's vital organs. One of the non-pharmacological actions that are often carried out by people with hypertension is using traditional medicine. Since the COVID-19 pandemic, people have preferred to use traditional medicines to manage hypertension. Objective: To determine the use of traditional medicine in hypertension during the Covid-19 pandemic in the Samarinda Java Village. This research used descriptive quantitative method with a cross-sectional study design. The sampling method used is purposive sampling with the number of respondents is 65 respondents. Data analysis using a univariate test. Results showed that most of the respondents were 56-65 years old, female gender, worked as housewives, low socioeconomic level, did not smoke, never did sports; have a hereditary history of hypertension; and have had hypertension for 3-5 years. Before the Covid-19 pandemic, 33.8% of respondents used traditional medicines, but during the Covid-19 pandemic, the percentage of respondents who used traditional medicines increased to 43.1%. External factors of respondents using traditional medicine because of recommendations from family/friends/neighbors (66%), while internal factors because they think traditional medicine is cheaper (60%). The most common type of traditional medicine used by respondents was cucumber (26%). In Conclusion, there is an increase in the use of traditional medicines during the Covid-19 pandemic.
PROGRAM PEMBINAAN KESEHATAN TENTANG PENYAKIT TIDAK MENULAR PADA MASYARAKAT KELURAHAN JAWA SAMARINDA Tambi, Imelda Feneranda Seravia; Ermayani, Made
Jurnal Pengabdiaan Masyarakat Kasih (JPMK) Vol 5 No 2 (2024): April
Publisher : JPMK : Jurnal Pengabdian Masyarakat Kasih Published by Unit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (UPPM) STIKES Dirgahayu Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52841/jpmk.v5i2.435

Abstract

Penyakit tidak menular (PTM), juga dikenal sebagai penyakit kronis, tidak ditularkan dari orang ke orang. Penyakit tidak menular mempunyai durasi yang panjang dan umumnya berkembang lambat. Meningkatnya kasus PTM secara signifikan diperkirakan akan menambah beban masyarakat dan pemerintah. Untuk itu, dibutuhkan komitmen bersama dalam menurunkan morbiditas, mortalitas dan disabilitas PTM melalui intensifikasi pencegahan dan pengendalian menuju Indonesia Sehat. Upaya yang telah dilakukan pemerintah adalah dengan manajemen terpadu program P2PTM. Untuk mendukung program pemerintah maka dibutuhkan juga program pembinaan masyarakat dengan memberikan pendidikan kesehatan sebagai upaya promotif dan preventif; dan keterampilan penanganan PTM di lingkungan rumah sebagai upaya preventif dan kuratif. Kementrian Kesehatan RI telah menguraikan lima target capaian dalam RPJM 2020-2040, terdapat target yang membutuhkan keterlibatan dan dukungan masyarakat terkait PTM yaitu peningkatan pengendalian penyakit dan penguatan gerakan masyarakat hidup sehat (Germas). Kehadiran komunitas dalam hal ini masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan dan faktor risiko PTM dalam mengurangi mortalitas dan morbiditas. Pengenalan awal gejala PTM, demi mempercepat proses rujukan dan proses transfer pasien ke rumah sakit menjadi hal yang sangat penting di dalam penanganan PTM. Terdapat peningkatan pengetahuan peserta kegiatan sebelum dan sesudah diberikan pengabdian kepada masyarakat antara lain : Pendidikan Kesehatan Mengenai Obat Herbal Untuk Hipertensi, Pelatihan PMR, Pendidikan Kesehatan Sedentary Lifestyle.
CEGAH DIABETES SEJAK REMAJA: PEMERIKSAAN INDEKS MASSA TUBUH DAN GULA DARAH SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Ermayani, Made; Tambi, Imelda Feneranda Seravia; Veronike
Jurnal Pengabdiaan Masyarakat Kasih (JPMK) Vol 6 No 1 (2024): October
Publisher : JPMK : Jurnal Pengabdian Masyarakat Kasih Published by Unit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (UPPM) STIKES Dirgahayu Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52841/jpmk.v6i1.610

Abstract

Kesehatan remaja sangat penting untuk kualitas hidup masa depan, dengan pola makan yang tidak sehat seperti konsumsi gula dan fast food, meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Program pengabdian masyarakat yang melibatkan pemeriksaan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan kadar gula darah diharapkan dapat meningkatkan kesadaran kesehatan remaja dan mendorong perilaku hidup sehat guna mencegah penyakit kronis di masa depan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini mencakup pemeriksaan IMT dan gula darah menggunakan peralatan yang memenuhi standar kesehatan yaitu timbangan digital dan glucometer. Prosesnya dimulai dengan sosialisasi, dilanjutkan dengan pengukuran IMT dan gula darah, diikuti dengan edukasi tentang pola makan sehat, aktivitas fisik, serta pencegahan obesitas dan diabetes. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa seluruh siswa (26 orang) memiliki kadar gula darah sewaktu dalam rentang normal. Namun, terdapat lima siswa (19%) yang memiliki IMT dalam kategori gemuk atau obesitas, sementara sebagian besar siswa berada dalam kategori IMT normal. Hasil pemeriksaan IMT dan gula darah di SMP Katolik I WR Soepratman menunjukkan sebagian besar siswa memiliki status gizi baik, meski ada beberapa siswa obesitas, yang memerlukan langkah pencegahan seperti edukasi pola hidup sehat, pemantauan IMT, pemeriksaan rutin, dan program kesehatan berkelanjutan untuk mengurangi risiko obesitas dan penyakit kronis.