Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

ANALISIS ZONASI GENANGAN DI PARIT MAYOR PONTIANAK TIMUR Bonny Surya; Hari Wibowo; Eko Yulianto
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 8, No 2 (2021): JeLAST Juni 2021
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v8i2.49177

Abstract

Daerah aliran Parit Mayor yang berada di Pontianak Timur mengalami pertumbuhan yang cukup pesat dari tahun ke tahun, hal ini mengakibatkan perlunya dilakukan analisis lebih lanjut pada saluran tersebut, supaya kapasitas tampung dari saluran Parit Mayor dapat diketahui, dan akan digunakan sebagai acuan untuk perencanaan pembangunan permukiman yang lebih baik di masa mendatang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui zonasi genangan yang terjadi di daerah aliran Parit Mayor yang diakibatkan oleh pengaruh pasang surut air laut dan debit curah hujan periode ulang 2 tahun, 5 tahun, dan 10 tahun. Analisis genangan digunakan program HEC-RAS untuk memodelkan genangan yang terjadi di saluran, pemodelan yang dilakukan yaitu, pemodelan genangan pada saat pasang tertinggi ditambah dengan debit hujan periode ulang 2 tahun, 5 tahun, dan 10 tahun. Hasil penelitian menunjukan bahwa saluran Parit Mayor sudah tidak mampu menampung debit yang diakibatkan oleh pasang tertinggi dan debit curah hujan periode ulang 2 tahun, 5 tahun, dan 10 tahu.Kata Kunci: HEC-RAS, Parit Mayor, Saluran, Zonasi Genangan
KAJIAN SEDIMENTASI TERHADAP KAPASITAS SALURAN DRAINASE SUNGAI BANGKONG KOTA PONTIANAK Muhammad Fauzi; Hari Wibowo; Eko Yulianto
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 7, No 3 (2020): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2020
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v7i3.44632

Abstract

Salah satu kawasan kota yang mengalami genangan adalah daerah Sungai Bangkong, tepatnya di Jalan Ali Anyang Kecamatan Pontianak Kota. Kawasan ini merupakan daerah dengan penduduk yang padat serta perkantoran. Adanya genangan di daeah ini dirasakan pada saat air pasang disertai hujan. Untuk mengetahui apakah kapasitas saluran mampu menampung debit rencana atau tidak dengan menggunakan metode rasional serta angkutan sedimen dasar menggunakan metode Van Rijn dan Meyer Peter Muller (MPM), Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, melakukan pengukuran dan inventarisasi saluran secara langsung pada objek penelitian. Evaluasi kapasitas saluran dilakukan untuk mengkaji kemampuan saluran drainase terhadap debit rencana. Berdasarkan hasil evaluasi bahwa saluran pada segmen 1, 2 dan 3 yang berada di Jalan Alianyang sudah tidak mampu menampung curah hujan. Angkutan sedimen dasar (bed load) pada saluran drainase Alianyang digunakan metode Metode Meyer-Peter-Muller untuk Segmen 1 yaitu 19,736 kg/m/hari, Segmen 2 yaitu 0,079 kg/m.hari dan Segmen 3 yaitu 0,032 kg/m.hari, untuk hasil angkutan sedimen pada segmen 1 diabaikan karena terjadinya kekeliruan pada saat pengambilan sampel sedimen, yang membuat perbedaan hasil yang terlalu besar.
ANALISA GEOMETRI SUNGAI TERHADAP DEBIT ALIRAN PADA SALURAN ALUVIAL Chandra Sucipta; Hari Wibowo; Danang Gunarto
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 6, No 3 (2019): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2019
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.083 KB) | DOI: 10.26418/jelast.v6i3.36526

Abstract

Sungai mempunyai karakteristik dan bentuk yang berbeda-beda, ini disebabkan karena banyaknya faktor-faktor terutama faktor geometrik sungai. Untuk mengetahui faktor ini salah satu caranya adalah menghitung debit aliran. Rumus menghitung debit aliran (Q) adalah kecepatan aliran rata-rata (V) dikali luas penampang basah aliran (A). Debit sungai juga bisa didapatkan menggunakan data lapangan yang nantinya akan menjadi suatu model rumus matematik yang disederhanakan dengan program komputer. Model rumus matematik ini adalah hubungan dua atau lebih variabel, yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan analisis hidrologi. Apabila model persamaan matematik yang cocok sudah dapat ditentukan, selanjutnya menentukan koefisien korelasi. Besarnya koefisien korelasi antara debit aliran (Q), luas penampang (A), lebar sungai (b), kedalaman sungai (h) dan kemiringan sungai (S) yang didapat dari analisa regresi menunjukan bahwa perubahan debit aliran dipengaruhi oleh perubahan luas penampang, lebar, kedalaman dan kemiringan sungai. Dengan mengoptimalkan koefisien ini dari masing-masing variabel bebas ini diperoleh suatu rumusan untuk menganalisis debit aliran sungai aluvial yaitu : Q = -3,911 + 1,170 A – 0,465 b + 10,397 h + 1819,616 S dan diperoleh nilai korelasinya R2 = 0,930.Kata kunci : debit, analisa regresi, variabel, hidrologi.
PERLAWANAN TERHADAP ALIRAN PADA SALURAN ALAMI Agus Setiyadi; Hari Wibowo; Danang Gunarto
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 6, No 3 (2019): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2019
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v6i3.36889

Abstract

Saluran aluvial merupakan badan sungai yang mengangkut air dan juga sedimen. Perlawanan terhadap aliranpada  perubahan  saluran  aluvial  dengan  kondisi  aliran  dan  sedimen  dapat  menyebabkan  bentuk  konfigurasidasar  sungai.  Bentuk  konfigurasi  dasar  mempunyai  pengaruh  terhadap perubahan  kekasaran  pada  saluran.Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji hubungan bentuk konfigurasi dasar yang terjadi di dasar saluran ,menggunakan  nilai  koefisien  kekasaran  Manning  dalam  hubungan  dengan  bentuk  konfigurasi  dasar,  sertamembandingkan rumusan Manning terhadap rumusan penelitian yang ada. Metode penelitian yang digunakanadalah  metode  current  meter  3  titik.  Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa perlawanan  aliran  akibat  unsurkekasaran butiran dan perlawanan bentuk dasar akan berpengaruh terhadap nilai koefisien kekasaran Manning.Nilai  koefisien  kekasaran  Manning  akan  menurun  jika  tanpa  adanya  bentuk  dasar.  Nilai pengukuran  yangsama atau mendekati dengan nilai Manning diperoleh melalui perhitungan menggunakan rumusan Bajourunas(0,027) dan Limerinos (0,028).Kata kunci: saluran aluvial, bentuk konfigurasi dasar, koefisien kekasaran Manning.
KAJIAN DRAINASE PERKOTAAN STUDI KASUS SALURAN DRAINASE JALAN MT HARYONO Satrio Ardyansyah; Hari Wibowo; Danang Gunarto
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 7, No 3 (2020): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2020
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v7i3.42603

Abstract

Wilayah Kota Pontianak khususnya pada daerah lokasi kali ini merupakan sebuah daerah yang memiliki kawasan perkantoran dan kawasan pendidikan, beberapa infrastruktur dan fasilitas fisik penting seperti adanya tempat ibadah, bangunan perkantoran, bangunan sekolah, dan bangunan fasilitas olahraga. Perubahan tata guna lahan karena pembangunan yang semakin pesat di daerah tersebut dapat mengurangi daerah resapan yang juga mengakibatkan terjadinya banjir atau genangan. Metode perhitungan banjir rencana studi kasus drainase kali ini menggunakan Metode Rasional dengan kala ulang 2 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, melakukan pengukuran dan inventarisasi saluran secara langsung pada objek penelitian. Evaluasi kapasitas saluran dilakukan untuk mengkaji kemampuan saluran drainase terhadap debit rencana. Berdasarkan hasil evaluasi bahwa saluran di Jalan Jend. Ahmad Yani, Jalan M Sohor tidak terjadi peluapan. Sedangkan di Jalan MT Haryono  hanya 1 segmen saluran (S4-KN) yang tidak terjadi peluapan, pada sisa segmen lainnya diperlukan perencanaan ulang saluran agar didapatkan dimensi yang optimal dalam menampung debit rancana.Kata kunci : evaluasi kapasitas drainase perkotaan.
KOEFESIEN KORELASI PERHITUNGAN KECEPATAN ARUS PELAMPUNG DAN CURRENT METER Munif Ade Afla; Hari Wibowo; Eko Yulianto
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 7, No 3 (2020): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2020
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v7i3.42549

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya kecepatan aliran. Faktor koreksi Pelampung dan korelasi kecepatan arus dengan menggunakan pelampung dan Current meter dalam bentuk persamaan empiris. Kecepatan rata-rata aliran maksimum Currrent meter dengan jarak 1-5 meter  pada saat kondisi pasang sebesar  0.022 m/det, 0.022 m/det, 0.012 m/det, 0.009 m/det, 0.009 m/det. sedangkan pada saat kondisi surut jarak kecepatan rata-rata jarak 1-5 meter Current meter 0.022 m/det 0.022 m/det, 0.012 m/det, 0.011 m/det, 0.016 m/det. Kecepatan rata-rata pelampung maksimum saat kondisi pasang dengan jarak 1-5 meter adalah 0.004 m/det, 0.004 m/det, 0.009 m/det 0.007 m/det, 0.012 m/det, dan pada saat kondisi surut jarak 5-1 meter sebesar, 0.003 m/det, 0.003 m/det, 0.005 m/det, 0.004 m/det, 0.006 m/det. Faktor koreksi pelampung sebesar 0.91. korelasi persamaan regresi linear pengukuran pelampung dan Current meter pada saat kondisi Pasang ) = -12.545 dan Pelampung ) = 0.015 dan nilai R2 Sebesar 0.9393, R sebesar 0.967. Sedangkan untuk kondisi Surut di peroleh Persamaan persamaan Current meter  ) = -16.366  dan Pelampung   ) = 0.0215 dan nilai R2 sebesar 0.9862 dan nilai R sebesar 0.993 dengan bentuk regresi logaritma.   Kata kunci: Kecepatan, Korelasi, Pelampung, Pengukuran parit Raya Sungai  
The Legal Status of Circumstantial Evidence in the Context of Criminal Cases in Indonesia Hari Wibowo; Dodi Jaya Wardana; Levina Yustitianingtyas; Hasnan Bachtiar
JUSTISI Vol. 10 No. 3 (2024): JUSTISI
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/js.v10i3.3307

Abstract

In practice, there are several instances of criminal decisions that are not in accordance with the law. In such instances, the judge interprets the law or legal findings based on circumstantial evidence. As a result, the action taken does not achieve the highest degree of justice and legal certainty in a decision. This is because the decision is not based on the minimum requirements of two pieces of evidence that must be met in terms of evidence to impose a sentence. The objective of this research was to analyze the legal status of circumstantial evidence in the context of criminal cases. Our research findings indicate that the philosophy of circumstantial evidence, as it pertains to criminal procedural law, represents a form of evidence that can be considered by judges in relation to the absence of facts that are not directly visible by eyewitnesses. This evidence is intended to provide a comprehensive depiction of the truth of an event, thereby facilitating the acceptance of a reasonable account of events. Establishing circumstantial evidence is distinct from providing instructions, however. To do so, one must obtain clues from facts presented at trial in the form of witness statements, letters and statements of the accused. The ius constituendum application of circumstantial evidence in the process of proving a criminal case is to provide the judge with the authority to utilise circumstantial evidence in the process of proving a crime as an additional legal means of evidence in sentencing. The role of indirect evidence in the imposition of criminal penalties is a doctrine that is confined to be the domain of legal experts.
PENGARUH MORFOLOGI DAN LITOLOGI KAWASAN KARST KABUPATEN REMBANG TERHADAP POTENSI HUNIAN GUA PRASEJARAH Hari Wibowo; J. Susetyo Edy Yuwono; Indah Asikin Nurani
Naditira Widya Vol. 14 No. 1 (2020): Naditira Widya Volume 14 Nomor 1 April Tahun 2020
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan karst di Kabupaten Rembang adalah bagian dari Karst Perbukitan Rembang yang membentang dari Jawa Tengah hingga ke Pulau Madura. Di bagian Jawa lainnya terdapat pula barisan karst Gunung Sewu sebagai salah satu kawasan karst Pegunungan Selatan Jawa. Tidak seperti situs-situs arkeologi di Gunung Sewu yang telah diteliti secara intensif, kawasan karst Rembang di gugusan utara belum banyak diteliti. Hal inilah yang menggaris bawahi pentingnya penelitian arkeologi di kawasan karst di perbukitan Rembang, yaitu untuk menjajaki potensi gua-guanya sebagai hunian prasejarah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan penalaran induktif, dengan memakai variabel potensi gua, dan dilakukan dengan teknik survei gemorfologis dan arkeologis. Hasil survei kemudian dibagi menjadi tiga variabel pengharkatan, yaitu kandungan arkeologis gua, aksesibilitas, dan morfologi gua. Dalam penelitian lapangan terdapat 41 titik gua yang menjadi objek pengamatan, dan beberapa di antara gua-gua tersebut memenuhi tingkat probabilitas untuk dihuni. Namun demikian, tentu saja untuk membuktikan gua-gua ini benar-benar dihuni atau tidak pada masa prasejarah diperlukan penelitian lebih lanjut. Lebih lanjut, jika dibandingkan dengan segmen-segmen di sebelah barat dan timurnya, potensi arkeologi kawasan karst Rembang, dalam pengertian situs-situs guanya, termasuk rendah. The karst region in Kabupaten Rembang is part of the Rembang Karst Zone that stretches from Central Java to Madura Island. Another mountain range of karst, the Gunung Sewu, lies on the southern region of Java. Unlike the archeological sites of Gunung Sewu that have been intensively investigated, the Rembang karst region in the northern ranges has not been much studied. This underlines the importance of archeological research in the karst region of Rembang, which is to explore the potentiality of its caves as prehistoric dwellings. This research employs descriptive method with inductive reasoning, using potential variables of a cave, and carried out with geomorphological and archaeological survey techniques. Survey results are further divided into three criteria, i.e. archaeological findings in caves, accessibility, and cave morphology. The field observation was focussed on 41 caves, and several of them indicated the probability of inhabitation. Nevertheless, further researches are required to prove whether these caves were inhabited or not during the prehistoric period. Furthermore, in terms of cave sites when compared to the west and east segments, the archaeological potency of Rembang karst regions is low.