Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Konjungsi ‘Jeung’ dalam Bahasa Sunda: Kajian atas Perilaku Sintaksis dan Semantisnya Dian Budiarti
Pendekar : Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol. 2 No. 06 (2024): Desember : Jurnal Pendidikan Berkarakter
Publisher : LPPM Politeknik Pratama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51903/pendekar.v2i06.811

Abstract

Memiliki intensitas penggunaan yang tinggi dalam menghubungkan sekurang-kurangnya dua kata, frasa, klausa, atau kalimat dalam bahasa Sunda, perilaku sintaksis dan semantis dari konjungsi ‘jeung’ menjadi penting untuk dikaji guna membantu para pemelajar bahasa Sunda dalam memahami dan mengaplikasikan konjungsi tersebut scarab tepat pada sebuah kalimat. Adapun data yang digunakan pada kajian ini adalah berupa data intuitif, yakni berupa intuisi kebahasaan peneliti selaku penutur asli bahasa Sunda. Data tersebut dideskripsikan dan kemudian diuji keabsahannya melalui teknik cakap tansemuka dengan seorang penutur asli bahasa Sunda lain sebelum akhirnya ditarik kesimpulan menjadi sebuah rumusan kaidah.
“Apa Kabar, Ukht?”: Budaya Penggunaan Kosakata Bahasa Arab oleh Aktivis Rohis Dian Budiarti
Pendekar : Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol. 2 No. 06 (2024): Desember : Jurnal Pendidikan Berkarakter
Publisher : LPPM Politeknik Pratama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51903/pendekar.v2i06.812

Abstract

Penggunaan kosakata bahasa Arab oleh para aktivis rohis di Indonesia untuk berkomunikasi sehari-hari merupakan fenomena yang cukup sering ditemukan. Akan tetapi, penelitian akan hal tersebut masih sangat terbatas sehingga menjadi menarik untuk dikembangkan. Artikel ini bertujuan untuk mempresentasikan hasil analisis terhadap perspektif para aktivis rohis dan nonrohis terhadap penggunaan kosakata bahasa Arab untuk berkomunikasi dan untuk menginvestigasi apakah penggunaan kosakata bahasa Arab merefleksikan identitas seorang aktivis rohis. Data diperoleh dengan mendistribusikan kuesioner secara daring kepada masing-masing 15 aktivis rohis dan nonrohis dan melaksanakan interviu dengan 2 orang dari masing-masing kategori tersebut guna membantu menghasilkan interpretasi yang lebih dalam. Penelitian ini menemukan bahwa secama umum, baik para aktivis rohis maupun nonrohis menggunakan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam konteks ritual. Akan tetapi, sebagian besar dari para aktivis rohis terbiasa menggunakannya secara lebih ketika berkomunikasi dengan sesama lingkungannya. Adapun alasan-alasan penggunaannya di antaranya adalah sebagai upaya 1) penyesuaian diri dengan lingkungan, 2) pemberian kesan yang lebih sopan, 3) pemertahanan ketepatan maksud dari suatu perkataan dan 4) pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Dengan demikian, penggunaan bahasa Arab untuk berkomunikasi sehari-hari tampaknya memberikan kesan ekslusif tersendiri, sehingga hal tersebut dapat dikatakan menjadi salah satu refleksi identitas budaya para aktivis rohis.
Hedges in Interfaith Discourse: A Case Study of Indonesian Religious Figures in A Podcast Dialogue Dian Budiarti; Rizki Erdayani
Linguistik Indonesia Vol. 44 No. 1 (2026): Linguistik Indonesia
Publisher : Masyarakat Linguistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/li.v44i1.903

Abstract

This study investigates the use of hedges in an interfaith podcast dialogue featuring six religious figures representing Indonesia’s officially recognized religions. Specifically, it examines the types and functions of hedging in spoken religious discourse using data collected from an episode of the LOGIN podcast. All utterances containing hedging devices were identified and categorized into structural types, and their pragmatic roles were analyzed through qualitative descriptive methods grounded in pragmatic theory. The findings reveal that there are three major types of hedges that are actively used to manage interpersonal dynamics and negotiate meaning in a pluralistic context. Shields were the most frequent type (38.89%), followed by attribution markers (33.33%) and approximators (27.78%). Functionally, hedges performed epistemic, affective, and discourse-management role, which allow speakers to express uncertainty, soften claims, and maintain dialogic openness. These strategies helped speakers express their convictions while respecting differing beliefs for fostering mutual understanding. It is expected that this study contributes to the understanding of how hedging operates in religiously diverse, media-mediated interactions, and highlights its pragmatic value in maintaining a tolerant interfaith dialogue.
Illocutionary Acts in Kenny Sebastian's Stand-Up Comedy YouTube Videos Risnawati, Ela; Kustanti, Dewi; Budiarti, Dian
Wanastra: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 17 No. 1 (2025): March
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/wanastra.v17i1.11947

Abstract

This research identified the use of illocutionary acts in Kenny Sebastian’s stand-up comedy performances on YouTube, focusing on their role in humor and audience engagement. The research employs a qualitative descriptive method by analyzing three performances, identifying 198 illocutionary acts consisting of representatives (67), directives (54), commissives (11), expressives (49), and declarations (17). Data were categorized using Austin and Searle’s (1979) classification. The findings show that representatives, as the most frequent type, function to criticize, reflect, and describe situations humorously. Directives engage the audience by prompting responses, while expressives convey emotions such as amusement, sarcasm, or gratitude. Commissives contribute to comedic exaggeration through promises or refusals, and declarations create dramatic or authoritative comedic effects. These results highlight how illocutionary acts shape comedic narratives and enhance audience interaction. Future research could explore how different comedy styles or cultural contexts affect the use of speech acts in stand-up comedy.