Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Aplikasi Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) asal Akar Bambu sebagai Solusi Alternatif terhadap Kelangkaan Pupuk dan Defisiensi Unsur Hara di Desa Glagahwero Kabupaten Jember May , Annisa; Putri Syahroni, Maulid Dia; Nur Alissa, Siti; Alamsyah Al Ayyubi, Galih; Adinda Salsabila, Inas; Arifandi, Afif; Musthofa Fadhil Satria, Achmad; Sabrina Putri Priyanto, Armeilia; Yuliantari, Lusiana; Raziqul Ahmada Hirzi Gibrani Luqman, Muhammad; Sucipto, Irwanto; Wildan Muchlison
AKSILAR: Akselerasi Luaran Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Volume 3 Nomor 1, 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/aksilar.v3i1.6414

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, sebagai upaya memberikan solusi terhadap permasalahan kelangkaan pupuk subsidi dan defisiensi unsur hara pada tanaman padi. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam memanfaatkan sumber daya lokal berupa akar bambu sebagai bahan dasar pembuatan pupuk hayati Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). Metode pelaksanaan meliputi tahap sosialisasi, pelatihan pembuatan, pengaplikasian, serta monitoring dan evaluasi PGPR pada lahan padi. Pelatihan dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan Kelompok Tani Tirtoagung sebagai mitra utama. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan terhadap pemahaman petani mengenai konsep dasar PGPR dengan nilai rata-rata pre-test sebesar 56% meningkat menjadi 89% pada post-test. Seluruh peserta berhasil memproduksi PGPR secara mandiri dan mengaplikasikannya di lahan dengan dosis 1 liter PGPR per 10 liter air pada umur tanaman 15, 30, dan 45 HST. Hasil pengamatan lapangan menunjukkan peningkatan pertumbuhan vegetatif tanaman, jumlah anakan produktif, serta kondisi tanah yang lebih gembur. Kegiatan ini membuktikan bahwa penerapan PGPR berbasis akar bambu mampu menjadi alternatif solusi yang ekonomis dan ramah lingkungan dalam menghadapi kelangkaan pupuk sekaligus meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas pertanian berkelanjutan di Desa Glagahwero.
Effect of Aerated and Non-Aerated Compost Tea at Different Concentrations on Early Growth of Maize (Zea mays L.) Rachmandhika, Yusuf; Muhlison, Wildan; Sucipto, Irwanto; Pusparani, Syafina; Saputra, Tri Wahyu; Ristiyana, Suci
International Journal on Food, Agriculture and Natural Resources Vol 6, No 4 (2025): IJ-FANRES
Publisher : Food, Agriculture and Natural Resources - NETWORKS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46676/ij-fanres.v6i4.568

Abstract

Declining soil fertility caused by the continuous use of chemical fertilizers has encouraged the development of sustainable and environmentally friendly nutrient management strategies. Compost tea, a liquid extract derived from mature compost, has gained attention due to its potential to supply readily available nutrients and beneficial microorganisms. This study aimed to evaluate the compost tea production process and assess the effects of aerated compost tea (ACT) and non-aerated compost tea (NACT) at different application concentrations on the early growth of maize (Zea mays L.). The experiment was conducted under controlled conditions in November 2025 using maize as the test plant. Compost tea was prepared by extracting mature compost in water at a ratio of 1:5, with aeration applied for ACT and without aeration for NACT over a three-day fermentation period. Treatments consisted of ACT and NACT applied at concentrations of 30 ml and 60 ml, along with a control. Plant growth parameters, including plant height and root length, were observed during the early growth phase (2–7 days after planting). The results showed that compost tea application significantly affected maize growth during the early growth stage (P < 0.05). Aerated compost tea generally produced better growth responses than non-aerated compost tea, particularly at lower concentrations. The ACT treatment at 30 ml resulted in the highest plant height and root length, while higher concentrations, especially NACT at 60 ml, tended to suppress plant growth. These findings indicate that compost tea primarily functions as an early growth stimulant and that excessive application may reduce its effectiveness. In conclusion, aerated compost tea at low concentrations is more effective in promoting early maize growth than non-aerated compost tea. Proper optimization of compost tea concentration and application strategy is essential to maximize its benefits within sustainable agricultural systems.
EVALUASI BERBAGAI MEDIA FERMENTASI SUBSTRAT PADAT UNTUK KUANTITAS DAN KUALITAS Trichoderma asperellum SECARA IN VITRO: EVALUATION OF VARIOUS SOLID-STATE FERMENTATION MEDIA FOR THE QUANTITY AND QUALITY OF Trichoderma asperellum IN VITRO Wafa, Ali; Pramudita, Aulia Putri; Tanzil, Ahmad Ilham; Sucipto, Irwanto; Pusparani, Syafina; Muhtadi, Much. Misbah
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 14 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2026.014.2.4

Abstract

Trichoderma asperellum merupakan jamur yang bersifat antagonis terhadap jamur patogen tanaman dan telah banyak dimanfaatkan dalam industri biopestisida dan biofertilizer. Pada skala industri, pengembangan T. asperellum umumnya dilakukan melalui fermentasi substrat padat menggunakan media yang sesuai. Oleh karena itu, diperlukan penelitian untuk menentukan jenis media padat yang tepat dalam mendukung produksi konidia T. asperellum, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kuantitas dan kualitas T. asperellum pada berbagai media substrat padat. Media fermentasi yang digunakan terdiri atas beras jagung, gandum, millet, serta kombinasi beras jagung–millet, gandum–millet, dan gandum–beras jagung. T. asperellum diinkubasi selama 7 hari dalam labu Erlenmeyer dan kantong plastik tahan panas. Parameter yang diamati meliputi biomassa, kerapatan konidia, dan persentase perkecambahan konidia setelah 24 jam inkubasi. Biomassa tertinggi diperoleh pada media  beras jagung dalam labu Erlenmeyer dengan rerata 8,06 g. Kerapatan konidia tertinggi diperoleh pada media millet, dengan rerata 17,64 spora/mL, sedangkan persentase perkecambahan konidia tertinggi diperoleh pada media beras jagung, dengan rerata 91,58%. Berdasarkan keseluruhan hasil tersebut, beras jagung merupakan media yang paling sesuai untuk produksi T. asperellum.