Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Meningkatkan Kemampuan Guru Mengembangkan Model Pembelajaran Inovatif melalui PKM Syarifuddin Syarifuddin; Mario Mario; Muhammad Ilyas Thamrin; Ahmad Zaki
Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat SEMINAR NASIONAL 2022:PROSIDING EDISI 8
Publisher : Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Program PKM dilakukan dengan metode memberikan pelatihan, bimbingan, dan pendampingan kepada peserta mengenai pelatihan pengembangan model pembelajaran inovatif yang dilakukan secara luring. Tujuan pelaksanaan PKM yaitu (1) untuk meningkatkan kompetensi dan pengetahuan peserta mengenai pengembangan model pembelajaran, (2) untuk meningkatkan pengetahuan mengenai pengembangan model pembelajaran inovatif, (3) untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan peserta mengintergrasikan model pembelajaran inovatif, dan (4) peserta dapat mengimplementasikan pelaksanaan model pembelajaran inovatif dalam proses pembelajaran. Kegiatan PKM dilaksanakan hari Jumat s.d. Sabtu tanggal 28 s.d. 29 Oktober 2022 di SMK Negeri Paku Kecamatan Binuang, Kabupaten Polman, Provinsi Sulawesi Barat kemudian dilanjutkan dengan pembimbingan dan pendampingan kepada peserta secara luring. Peserta kegiatan PKM adalah guru-guru sekolah Paku Kecamatan Binuang, Kabupaten Polman, Provinsi Sulawesi Barat. Materi yang disajikan dalam kegiatan PKM yaitu (1) teori & konsep: model pembelajaran, (2) pengembangan model pembelajaran inovatif, dan (3) implementasi model pembelajaran inovatif dalam pembelajaran di sekolah. Hasil yang diperoleh dalam kegiatan program PKM yaitu (1) meningkatnya kompetensi dan pengetahuan peserta mengenai pengembangan model pembelajaran, (2) meningkatnya pengetahuan mengenai model pembelajaran inovatif, (3) meningkatnya kemampuan dan keterampilan peserta mengintergrasikan model pembelajaran inovatif dan (4) peserta dapat mengimplementasikan pelaksanaan model pembelajaran inovatif dalam proses pembelajaran. Luaran kegiatan PKM yaitu (1) laporan hasil pelaksanaan PKM, (2) artikel ilmiah yang dipublikasikan dalam prosiding ber-ISBN dari seminar nasional, (3) artikel pada media massa cetak/elektronik, (4) video yang kegiatan yang dipublikasikan secara luas pada media online youtube, dan (5) adanya peningkatan keberdayaan mitra sesuai permasalahan yang dihadapi. Kata kunci: PKM, Model Pembelajaran Inovatif, Pelatihan & Bimbingan
Dampak Pernikahan di Bawah Umur Terhadap Kesejahteraan Rumah Tangga di Lingkungan Cilallang Kelurahan Pangali-ali Kabupaten Majene Fitra Angriani Fitra; Ashari Ismail Ashari; Mario Mario
Jurnal Sosialisasi: Jurnal Hasil Pemikiran, Penelitian dan Pengembangan Keilmuan Sosiologi Pendidikan Volume 10, Nomor 1 Maret 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/sosialisasi.v1i1.39351

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan agar mengetahui (1) apa faktor- faktor yang menyebabkan pernikahan di bawah umur di Lingkungan Cilallang, Kelurahan Pangali-ali, Kabupaten Majene, (2) Dampak pernikahan di bawah umur terhadap kesejahteraan rumah tangga di Lingkungan Cilallang, Kelurahan Pangali -ali, Kabupaen Majene. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Faktor-faktor pernikahan di bawah umur yaitu faktor pendidikan, faktor orang tua, faktor kemauan sendiri dan faktor MBA (Marriage By Acident), (2) Dampak pernikahan di bawah umur antara lain; dampak terhadap ekonomi karena penghasilan yang tidak menentu bahkan ada keluarga yang keduanya tidak bekerja yang menyebabkan keluarga mereka mengalami ekonomi yang rendah, dampak terhadap pendidikan yaitu putus sekolah, dampak psikologis yaitu menderita karena belum memiliki kesiapan mental untuk menghadapi masalah yang timbul setelah menikah dan dampak sosial yaitu perceraian. Kemudian dampak pernikahan di bawah umur kesejahteraan terhadap kesejahteraan rumah tangga yaitu keluarga yang menikah di bawah umur berada pada tingkat kesejahteraan yang berbeda-beda yaitu keluarga pra sejahtera sebab belum mampu memenuhi kebutuhan pokok seperti pangan, sandang, papan dan kesehatan secara terus menerus, keluarga sejahtera tahapan Saya yang telah mampu memenuhi kebutuhan dasarnya namun belum mampu memenuhi kebutuhan sosio dan psikologisnya secara keseluruhan dan keluarga sejahtera tahapan II karena telah mampu memenuhi kebutuhan dasar serta sosio dan psikologisnya, namun belum mampu memenuhi semua kebutuhan menyimpan dan memperoleh informasi serta kebutuhan perkembangannya. 
Solidaritas Pa’Taksi di Desa Tetewatu Kecamatan Lilirilau Kabupaten Soppeng Idham Irwansyah; Mario Mario; Zulham Wijaya
Seminar Nasional LP2M UNM SEMNAS 2019 : PROSIDING EDISI 6
Publisher : Seminar Nasional LP2M UNM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.619 KB)

Abstract

Abstract. This research aims to know (1) Form of solidarity Pa’'Taksi in the village Tetewatu Lilirilau District of Soppeng District (2) factors that encourage and (3) factors that impede the solidarity Pa 'Taksi in the village Tetewatu District Lilirilau District Soppeng.The type of research used is a qualitative descriptive that illustrates how the solidarity relationship of fellow Pa'Taksi in the village Tetewatu District Lilirilau subdistrict Soppeng. The technique of determining the informant using the purposive sampling technique by selecting an informant of 8 people as Pa'Taksi to facilitate researchers in obtaining information.The results of the study showed that the solidarity form of fellow Pa'taksi in the village of Tetewatu district of the district of Soppeng is a mechanical solidarity, it is seen from the collective work of mutual mutually and embedded flavors Empathy among them. The close relationship between them is also based on the norm and customs prevailing in the local village. The factors that promote solidarity are the common moral responsibilities, and the intensity of meetings between them. While the inhibitory factor is an understanding of common ideals, economic factors and a different psychic and psychological factors Keywords: Solidrity, Pa’Taksi
Pelatihan Pekerja Sosial Bagi Komunitas Literasi Education Corner Sopian Tamrin; Mario Mario; Idham Irwansyah; Najamuddin Najamuddin; Saifuddin Saifuddin
Humanis Vol. 22, No. 1 Juni 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/humanis.v22i1.45112

Abstract

Ikhtiar dalam meningkatkan keterampilan kerja sosial dan pengembangan literasi Pemuda dan mahasiswa di Komunitas Education Corner, adalah tanggungjawab pengurus Komunitas Education Corner sendiri. Oleh karena   itu, sekiranya kami mencoba untuk menfasilitasi dengan melakukan pelatihan kerja sosial dan strategi pengembangan literasi dengan menghadirkan orang yang kompeten. Melihat lemahnya kompetensi manajerial kerja sosial dan pengembangan literasi dalam internal komunitas maupun masyarakat. Oleh karena itu, model pelatihan menjadi kebutuhan mendasar untuk menjalankan komunitas ini lebih lanjut.Tujuan pengabdian ini adalah terpenuhinya keterampilan manajerial kerja sosial dan pengembangan literasi yang kompeten dan berkomitmen tinggi. Sehubungan dengan hal ini maka perlu pelatihan dan pengembangan yang lebih komprehensif dengan menghadirkan pegiat kerja sosial dan literasi yang berpengalaman. Terkhusus bagi pemuda dan mahasiswa sebagai pekerja sosial yang profesional dalam meningkatkan keterampilan dan pengembangan literasi, pelatihan ini dapat memperkuat kapasitas sebagai pekerja sosial profesional memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas dan aksesibilitas layanan kerja sosial dalam bidang literasi.Abstract. Efforts to enhance social work skills and literacy development among youth and students in the Education Corner community are the responsibility of the Education Corner community leaders themselves. Therefore, we aim to facilitate this process by providing training on social work and literacy development strategies with competent trainers. Given the weak managerial competence in social work and literacy development within the internal community and society, a training model becomes a fundamental need to advance this community further. The objective of this service is to fulfill the need for competent and highly committed managerial skills in social work and literacy development. To achieve this, a more comprehensive training and development program is necessary, with experienced social workers and literacy activists as trainers. Specifically for youth and students working as professional social workers, this training can strengthen their capacity and contribute to improving the quality and accessibility of social work services in the literacy field.
Sosialisasi Membangun Kesadaran Anti Perundungan di SMP Kartika Makassar Salwia Salwia; Mario Mario; Ulfa Utami Mappe; Muhammad Akhsa Wahda; Sunaniah Sunaniah
Jurnal Hasil-Hasil Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2024): Volume 03 Nomor 02 (Oktober 2024)
Publisher : Jurusan Matematika FMIPA UNM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35580/jhp2m.v3i2.4793

Abstract

Perundungan merujuk pada tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk menciptakan perasaan tidak nyaman bagi orang lain, melalui berbagai bentuk seperti mencaci, merendahkan, mencela, memberikan julukan, menendang, mendorong, merampas uang, menghindar, dan menolak untuk berteman merupakan bentuk nyata dalam tindakan. Kegiatan PKM ini bertujuan untuk mensosialisasikan pemahaman mengenai bentuk dan bahaya perundungan dilingkungan sekolah, dengan pendekatan yang menyenangkan melalui permainan edukatif. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pemahaman dan meningkatkan pengetahuan mengenai perundungan, tetapi juga mendorong peserta untuk mengimplementasikan upaya pencegahan perundungan di sekolah serta membangun kesadaran anti-perundungan dikalangan siswa. Sasaran dari kegiatan ini adalah guru dan siswa di SMP Kartika Makassar. Hasil dari kegiatan ini diharapkan siswa mampu mengenali dan memahami berbagai bentuk perundungan serta cara pencegahan dan penanganannya dilingkungan sekolah. Luaran/output dari kegiatan PKM ini meliputi peningkatan pengetahuan peserta, publikasi artikel ilmiah, serta pelaksanaan PKM yang dipublikasikan di media online.
Pencegahan Stunting Sejak Dini di Kabupaten Enrekang Musrayani Usman; Andi Selvi Yusni Tasari; Andi Muhammad Arif Haris; Mario Mario
KREATIF: Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/kreatif.v5i2.6352

Abstract

This community service program was carried out to improve parenting literacy in the prevention of stunting in Buntu Batu Subdistrict, Enrekang Regency, through a participatory, community-based approach. Referring to the theories of child development ecology, community empowerment, and health literacy, the activities included dialogical education, focus group discussions, door-to-door counseling, and the distribution of locally adapted educational leaflets. The “3T” model (Regular, Monitored, Involved) was developed as a household-based educational innovation to enhance collective awareness and behavioral change in families. Pre-test and post-test results showed a significant increase in participants' understanding of the definition, causes, and long-term impacts of stunting, as well as preventive strategies. This program demonstrates that contextual and relational educational approaches can effectively overcome socio-cultural barriers and reach vulnerable groups excluded from formal forums. These findings highlight the importance of strengthening local educational hubs such as Posyandu and PKK as agents of change. The implications of this initiative suggest that integrating local cultural approaches with community participation can build a healthy, sustainable, and community-rooted parenting ecosystem.
Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Komunitas di Desa Lasitae: Model Pemberdayaan Melalui Pendekatan Participatory Action Research (PAR) Arsyad Genda; Musrayani Usman; Andi Muhammad Arif Haris; Mario Mario; Andi Anggraini Marabintan; Sahrul Ramadhan; Andi Fadilah Aryani; Askar Askar
KREATIF: Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara Vol. 5 No. 4 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/kreatif.v5i4.8538

Abstract

This community service activity aimed to enhance the capacity of local cadres and parents in community-based early childhood education (PAUD) in Lasitae Village, Barru Regency, South Sulawesi. The program was implemented through a Participatory Action Research (PAR) approach, which actively involved coastal communities in planning, training, mentoring, and evaluation. The pre–post test results showed a significant increase in knowledge (55.4→81.5; +46.9%), skills (57.8→84.3; +45.8%), and participatory attitudes (62.3→82.3; +32.0%). Community engagement also rose from an average of 35.4% to 79.0%, marked by the establishment of the local initiative “Kelas Cerita Bahari” (Maritime Story Class) and active collaboration among cadres, teachers, and parents. Learning products such as the storybook Ikan Parappo dan Ombak Ramah (“Parappo Fish and the Friendly Waves”) and the song Marennu’ Ri Lautta (“Joy of the Sea”) strengthened the integration of maritime cultural values into the PAUD curriculum. These results demonstrate that community-based education and the funds of knowledge approach effectively build critical awareness, strengthen social capital, and promote sustainable early childhood education rooted in local culture. The program recommends replicating this model in other coastal villages to strengthen a participatory and socially just education ecosystem.
Coastal Lab Anak Nelayan di Desa Lasitae Kabupaten Barru: Belajar, Berkarya, Melestarikan Musrayani Usman; Ainun Jariah Yusuf; Andi Annisar Dzati Iffah; Mario Mario; Nadya Elvira; Nur Annisa
KREATIF: Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara Vol. 5 No. 4 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/kreatif.v5i4.8549

Abstract

The Coastal Lab for Fishers’ Children program was developed to address limited access to non-formal education, the absence of cultural expression spaces, and low ecological literacy in the coastal community of Lasitae Village, Barru Regency. Activities were conducted from June to September 2025 using a Participatory Action Research (PAR) approach that positioned children, parents, community leaders, and volunteers as active subjects from planning through reflection. Core interventions included: interactive reading classes and a marine-themed literacy corner (contextual literacy), art workshops/art corner (maritime cultural expression), and conservation education (simple experiments, a Mini Waste Bank, and coastal campaigns). Evaluation employed pre–post tests, participatory observation, attendance logs, and FGDs, analyzed using descriptive–thematic methods. Findings indicate substantial improvements in knowledge (55.4%→81.5%; ↑46.9%), skills (57.8%→84.3%; ↑45.8%), and community participation (35.4%→79.0%; ↑43.6%). In addition, social capital was fostered, marked by increased family logistical support, learning assistance, and participation in beach festivals and children’s art exhibitions (≥20 works). In the ecological domain, the Mini Waste Bank collected approximately 125 kg of sorted waste in three months and spurred household waste segregation adoption (>70% of respondents). The results affirm that a community-based learning model integrating literacy, arts, and conservation within a PAR framework effectively enhances cognitive, affective, and social outcomes while cultivating ownership and sustainability through village policy. The model is recommended for replication in other coastal villages with strengthened local cadres and triple helix partnerships.