Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Resepsi Fungsional Al-Quran dalam Tradisi Nariyahan di PP. Putri Mahyajatul Qurro' Kunir, Wonodadi Blitar Nadhiroh, Lailatun; Aini, Adrika Fithrotul
MAGHZA Vol 9 No 1 (2024): Januari - Juni 2024
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v9i1.8625

Abstract

Functional Reception of the Quran is a study of living Quran that discusses the acceptance and response of the community to an action or tradition which is then associated with the Quran. This paper aims to explain the functional session of the Quran contained in the Nariyahan tradition in PP. Putri Mahyajatul Qurro' Kunir Wonodadi Blitar. This article uses a descriptive-qualitative method with an emic approach to the study of living Quran also focuses on the sociological theory offered by Peter L. Berger with social construction analysis. From this research, it can be seen that there are three moments in interpreting a tradition, which: (1) The moment of externalization, because it is factored by the rules of caregivers, which directs the students to follow this series of Nariyahan traditions carefully, they experience adjustments in carrying out the series of traditions; (2) The moment of objectivation of the students experiencing awareness of the advice to support, follow, live and believe that there is faḍilah in each of these traditional compositions. In addition, in the implementation of this reception they also realized that this practice is a form of effort to get the pleasure of Allah SWT. so that they gain wisdom for what they do; and (3) In the moment of internalization, each individual has a varied point of view in interpreting the functional reception of the Qur'an in the tradition. For example, gaining peace of mind, disciplining yourself, actively worshiping, increasing diligent in studying, getting blessings and the pleasure of teachers, solution providers and much more.
NARASI SASTRA, CITRA PEREMPUAN PRIBUMI DAN GERAKAN FEMINIS PRA KEMERDEKAAN Agus Sulton; Adrika Fithrotul Aini
Sasando Vol 5 No 1 (2022): SASANDO VOL 5 NO 1 APRIL 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Pancasakti Tegal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24905/sasando.v5i1.173

Abstract

Sebelum kemerdekaan Indonesia, organisasi-organisasi perempuan sudah cukup berkembang. Secara keseluruhan tujuan utama organisasi tersebut adalah membangun kekuatan harkat dan martabat sebagai perempuan. Dalam konteks pra kemerdekaan, diskriminasi perempuan umum dijumpai di dalam kehidupan sosial, seperti pergundikan, minimnya akses terhadap pendidikan, upah kerja yang murah, pembatasan akses di sektor publik, dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap sisi lain, bahwa perlawanan terhadap diskriminasi perempuan tidak hanya lahir dari organisasi perempuan, tetapi Mas Marco menciptakan teks-teks sastra yang bertujuan untuk membuka kesadaran identitas perempuan terhadap pembaca dan mengecam keras bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Hasil penelitian ini menemukan, bahwa teks-teks pemahaman menyoal perempuan cukup efektif disajikan melalui bentuk sastra. Sastra dengan leluasa menyajikan narasi tokoh perempuan panutan yang konteksnya tidak jauh dari peristiwa pembacanya. Teks-teks sastra Mas Marco bisa menjadi modal pembacanya untuk akumulasi di dunia kontekstual. Jadi, kekuatan gerakan perempuan tidak hanya dilakukan dalam bentuk organisasi terstruktur tetapi menyajikan teks narasi sastra sama-sama mempunyai potensi untuk menciptakan kesadaran pada seseorang.
Manuskrip Mushaf Al-Qur’an dan Dinamika Pedagogik Pesantren: Analisis Kodikologi dan Tekstologi terhadap Manuskrip Al-Qur’an KH. Ilyas Penarip Mojokerto Ika Maula Nur Fauziyah; Abad Badruzaman; Thoriqul Aziz; Adrika Fithrotul Aini
Jurnal Semiotika Quran Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v6i1.31775

Abstract

Pesantren pada abad ke-19 tidak hanya berfungsi sebagai pusat transmisi keilmuan Islam, tetapi juga sebagai ruang produksi dan tempat transmisi naskah keagamaan yang berperan dalam pembentukan budaya literasi. Namun, kajian manuskrip Al-Qur’an di Indonesia selama ini cenderung berhenti pada deskripsi kodikologis dan tekstologis, tanpa mengaitkannya secara memadai dengan dinamika pedagogik pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik kodikologis dan tekstologis manuskrip mushaf Al-Qur’an KH. Ilyas Penarip di Pesantren Ash-Sholichiyyah Mojokerto, serta mereposisinya sebagai bagian dari infrastruktur pedagogik pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis kodikologi dan tekstologi, yang diperkuat dengan pembacaan konteks historis dan fungsi edukatif manuskrip. Hasil kajian menghasilkan: Pertama, dari segi kodikologi, manuskrip berusia lebih dari dua abad dalam kondisi naskah tidak utuh 30 juz. Ditulis menggunakan tinta warna hitam dan merah yang dituangkan pada kertas Eropa ber-watermark. Kedua, dari segi tekstologi, Manuskrip mushaf ini menggunakan bentuk rasm campuran, yakni ustmaniy dan imla'i. Tanda waqaf umumnya menggunakan tanda waqaf muthlaq. Manuskrip ini juga menggunakan banyak scholia dan simbol-simbol yang terletak pada akhir ayat yang mengindikasikan praktik penandaan pedagogik. Temuan ini menegaskan bahwa manuskrip tersebut tidak hanya merupakan artefak tekstual, melainkan juga medium pembelajaran dan transmisi keilmuan. Penelitian ini menawarkan pendekatan integratif yang menghubungkan studi manuskrip dengan sejarah pedagogik pesantren di Nusantara.
Dialektika Agama: Harmoni dalam Jemaat Ahmadiyah Studi Living Qur’ān dan Konstruksi Damai di Kelurahan Gondrong Kenanga Tangerang Banten Adrika Fithrotul Aini
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 14 No. 2 (2015): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v14i2.9654

Abstract

Within vast intolerant attitudes toward Jemaat Ahmadiyah, thecommunity at Gondrong Kenanga, Tangerang, Banten, appears to respectand highly support dissimilarity. Gondrong Kenanga is a place where manyreligious people reside, such as Ahmadiyah, NU, Muhamadiyah and others.They live together without conflict, but in harmony and peaceful condition.This article will discribe a concept of peace belonging to Ahmadiyah atGondrong Kenanga, in which it bases on the Qur’ānic doctrine that relatedto pluralism and harmony.