Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Dari ‘illah ke maqasid: formula dinamisasi hukum Islam di era kekinian melalui pengembangan konsep maqasid Badruzaman, Abad
IJTIHAD Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan Vol 14, No 1 (2014): IJTIHAD Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article has been pushed by the fact that the reading of classical texts does not involve the conciousness that the texts present not in a hollow space, but in a chamber having its own language, culture, values, social institutions and other patterns of social relations. This is a pure library study; all data sources are in the form of written materials related to the topic that has been set. Then these concepts, with the help of modern literature, are developed in line with the present context. Three things formulated in this study are: the concept of ‘illah, maqasid, and the development of maqasid concepts in order to make Islamic law remain dynamic. The content and the range of meaning of each of the five maqasid formulated by al-Syatibi can bedeveloped due to the demands of the present context. Therefore, the development of content and range of meaning is carried out by this paper. The author put a great effort to put a number of Qur’anic verses as the guide and giver of moral messages. Themes such as religious freedom, the maintenance of natural resources from exploitation and extermination, gender equality, nourishing the generations from neglect, oppression and poverty, and must enable the common sense in all things, in the opinion of the author are able to fill all of the content as well as expand the range of concepts of maqasid in the contemporary era.
Mangapa Nabi Saw. Berpoligami: Kajian Normatif-Historis Badruzaman, Abad
Research Collections Book Collections 2013
Publisher : Research Collections

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Muhammad Saw. adalah puncak segala kesempurnaan insani (insân kâmil). Tunjuk satu sifat terpuji! Kita akan menemukan puncak kesempurnaan sifat tersebut pada diri Muhammad. Sifat terpuji apa pun yang kita tunjuk, sifat utama mana pun yang kita sebut, semua akan bermuara pada sosok Muhammad sebagai puncak keterpujian dan keutamaan. Sebanyak apa pun pujian yang kita sampaikan, setinggi apa pun sanjungan yang kita beri- kan untuk Muhammad; semuanya tidak akan mampu meng- gambarkan keagungan, keluhuran dan kemuliaan akhlak serta pribadi Muhammad. Al-Qur‘an menyimpulkan tutur-laku serta sikap Muhammad dalam ayat:  Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung(QS al-Qalam/68: 4). Mengenai ayat ini Sayyid Quthb menulis dalam Fi Zhilâl al- Qur‘ân:Segenap alam-wujud mengamini pujian ini. Pujian yang memenuhi segenap wujud. Tidak ada pena yang sanggup menorehkan pujian ini. Tidak ada gambaran yang mampu  mengungkapkan sanjungan ini. Ini adalah sebuah kesaksian dari Tuhan, dalam kagung an-Nya, atas hamba-Nya. Sungguh sebuah pujian yang agung, dari Yang Mahaagung, untuk pribadi berbudi pekerti agung.1 Membincang pribadi Muhammad ibarat menyelami lautan nan luas. Mutiara yang ditemukan di dasarnya hanyalah satu dari sekian mutiara yang jumlahnya tak terhingga. Keindahan dasar laut yang terlihat di sekitar penyelam hanyalah satu dari berjuta panorama lautan yang mahakaya. Membicarakan manusia agung bernama Muhammad Saw. ibarat kerkelana di hamparan sahara yang teramat luas. Sebelum seluruh hamparan sahara terjelajahi, si pengelana mungkin sudah tutup usia. Segala kekaguman dan pujian kita tentang sosok Muhammad tidak lebih dari sebutir mutiara di antara mutiara-mutiara keagungan beliau yang tidak terhingga jumlahnya. Atau ibarat sebutir pasir di tengah hamparan sahara kemuliaan beliau yang tidak berbatas. Semua shalawat dan salam yang dipanjatkan umat Islam untuk Muhammad Saw. tidak akan mampu memenuhi hak beliau untuk dipuji, diagungkan dan dimuliakan. Betapa tidak, Allah dan malaikat-Nya sekali pun memanjatkan shalawat untuk pribadi agung itu (QS al-Ahzâb/: 56).Predikat apa pun yang disandangkan kepada beliau, padaakhirnya akan bermuara pada sosok kepribadian dan keagungan akhlaknya. Akhlak mulia dan budi pekerti luhur yang dimiliki oleh baginda Rasulullah merupakan kunci sukses dakwah yangdiemban oleh beliau.  1Sayyid Quthb, Fî Zhilâl al-Qur‘ân, Kairo: Dâr al-Syurûq, cet. XVI, 1990, jilid 6, hal. 3656  Sejarah Muhammad Saw. setelah diangkat menjadi nabi dan rasul, tepatnya perjuangan beliau pada masa-masa awal di Mekah, merupakan masa-masa sulit dalam perjalanan dakwah Islam. Masa di mana penentangan, cercaan, cemoohan, bahkan ganggu- an fisik tidak jarang diperagakan oleh kaum musyrik Mekah. Yaitu orang-orang yang dulu, sebelum Muhammad menyatakan diri sebagai utusan Allah, kerap memuji beliau akan keindahan dan kemuliaan akhlaknya. Tentu mereka masih ingat ketika menjuluki Muhammad sebagai al-Amîn (orang yang jujur terpercaya). Namun begitulah, para peng gede Quraisy dan pentolan kaum musyrik Mekah lebih melihat Muhammad sebagai ancaman ketimbang pembawa kebaikan bagi mereka.Namun ternyata penentangan, cercaan dan cemoohanterhadap Muhammad bukan hanya terjadi sewaktu ia masih hidup. Pasca meninggal dunia, bahkan jauh setelah ia tiada hingga sekarang pun penentangan, cercaan dan cemoohan itu terus bermunculan.Kisah kecintaan kita kepada Rasulullah Saw. pernah diusik dan dilecehkan. Anda tentu masih ingat, lebih dari dua puluh tahun yang lalu majalah Monitor menempatkan Muhammad Saw. pada ur utan kesebelas dari manusia-manusia yang paling digandrungi para pembaca majalah itu. Muhammad Saw., yang selama ini kita tempatkan para urutan pertama dalam hati, tiba- tiba para pembaca Monitor menempatkannya pada ur utan kesebelas. Para pembaca Monitor memang tidak dapat dipaksa untuk memilih Muhammad sebagai orang yang dicintai dan dikagumi. Namun sikap pemilik dan jajaran redaksi majalah itu yang patut kita sayangkan, mengapa tokoh sekaliber Muhammad  disejajarkan dengan Zainuddin MZ atau Iwan Fals? Seandainya pun Muhammad menempati urutan pertama, kita tidak akan begitu saja merasa senang melihatnya sebab orang-orang yang berada di bawahnya bukanlah orang-orang selevel beliau.Selain majalah Monitor, yang pernah menjadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai sumber cemoohan dan permainan adalah Salman Rushdie. Ribuan orang berjalan di jalan-jalan kota London di bawah hujan salju yang lebat. Ada di antara mereka yang membawa anak-anak kecil di dadanya. Mereka berasal dari berbagai bangsa. Pada hari-hari biasa mereka menjalani ke- hidupan pada komunitas yang berbeda dengan cara yang ber- beda. Tetapi hari itu mereka dipersatukan oleh kemarahan yang sama: Seorang manusia bernama Salman Rushdie telah menjadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai bahan cemoohan dan permainan.Ya, dari dulu hingga sekarang, dan juga di masa yang akan datang, Muhammad dengan segala keagungan dan kemuliaannya, akan tetap menjadi bahan cemoohan dan permainan orang- orang yang mata-hatinya entah terbuat dari apa. Salah satu sisi dari kehidupan Muhammad yang kerap dijadikan bahan cemoohan dan penghinaan adalah kenyataan bahwa dia beristri lebih dari satu. Bagi mereka, kenyataan ini menunjukkan bahwa Muhammad Saw. adalah seorang penggila sex.Sebelum menepis tuduhan tersebut, perhatikan data danfakta ini:1.   Hingga usia 25 Muhammad Saw. tidak menikah.2.   Pada usia 25-50 Muhammad Saw. menikah dengan hanya seorang istri, yakni Khadîjah. Usia Khadijah 15 tahun lebih tua. Sebelum menikah dengan Muhammad Saw., Khadîjah  pernah menikah dua kali. Dari pernikahannya terdahulu ia memiliki banyak anak.3.   Pada usia 50-52 Muhammad Saw. tidak beristri sama sekali, karena sedih dan setia kepada istri pertamanya, Khadîjah, yang sudah meninggal dunia.4.   Dari usia 52-60 Muhammad Saw. menikah dengan beberapa istri, bukan atas dorongan syahwat melainkan karena faktor- faktor politik, keagamaan, dan sosial.Pertanyaannya, mungkinkah syahwat muncul secara tiba- tiba pada diri Muhammad Saw. di usia 52? Jika Muhammad Saw. seorang penggila wanita, mengapa ia lebih memilih menikah dengan seorang janda 15 tahun lebih tua yang pernah menikah dua kali sebelumnya, lalu hidup bersamanya selama kurun 25 tahun secara monogami? Jika Muhammad Saw. tidak bisa hidup tanpa seks, mengapa setelah Khadîjah meninggal, Muhammad Saw. tidak menikah selama dua tahun?Catat baik-baik, setelah dua tahun hidup sendiri, MuhammadSaw. kemudian menikah dengan Sawdah yang berusia 80. Sawdah adalah janda Muslimah pertama. Nabi Saw. hendak memuliakan- nya dengan menikahinya sendiri, tidak menyuruh para sahabat untuk menikahinya. Memberi teladan memang jauh lebih baik daripada menyuruh ini itu. Hingga di sini, satu hal menarik untuk dicatat, yaitu bahwa Muhammad menikah dengan dua cara: Pertama, Muhammad sebagai seorang rajul (laki-laki), dan kedua, Muhammad sebagai seorang rasûl (rasul, utusan Allah). Yang pertama adalah pernikahannya dengan Khadîjah, sedang yang kedua adalah pernikahannya dengan istri-istrinya yang lain pasca Khadîjah. Dalam posisi Muhammad Saw. sebagai seorang rasul,  pastilah apa yang dia perbuat—tidak terkecuali pernikahan— mengandung nilai risalah. Dalam posisi Muhammad Saw. sebagai rasul, tidak ada tindakan, perbuatan dan ucapannya yang keluar dari koridor kerasulan.Sejatinya Muhammad saw. bukan satu-satunya nabi yang berpoligami. Para nabi dan rasul terdahulu juga banyak yang berpoligami, seperti Nabi Ibrâhîm, Dâwud, dan Sulaymân. Hal ini tertulis dalam kitab-kitab suci samawi. Tapi aneh sekali, Barat tetap saja menghina Muhammad sebagai pria hobi kawin, padahal mereka tahu dan mengakui kitab-kitab suci yang mereka anut melaporkan bahwa nabi-nabi terdahulu juga beristri banyak. Seperti kata peribahasa, kuman di seberang lautan nampak jelas, gajah di pelupuk mata tak terlihat!Yang jelas, Muhammad adalah Muhammad. Manusia agung dalam sejarah manusia dan kemanusiaannya. Pujian setinggi apa pun yang kita berikan padanya, tidak akan memenuhi hak beliau atas pujian yang seharusnya. Cemoohan dan penghinaan senista apa pun yang dilemparkan sementara orang terhadap beliau, sama sekali tidak akan mengurangi keagungan, kemuliaan dan keluhur- an beliau barang sejengkal.Buku ini terlalu kecil untuk mengungkap kebesaran pribadi Muhammad; terlalu sederhana untuk menunjukkan keagungan budi-pekertinya. Buku ini tak lebih setitik pasir di hamparan padang sahara kemuliaan Sang Rasul yang tiada batas. Maafkan kami ya Nabi. Kami cuma pintar mengaku diri sebagai umatmu. Tapi ketika harga dirimu dicederai, kemuliaanmu dilukai, kehormatanmu dilecehkan, kami tak mampu berbuat selain mengutuk para penghina itu dalam kalbu. Maafkan kami ya  Rasul. Kami hanya pandai menyebut namamu sebagai idola. Tapi saat namamu diolok-olok, sosokmu dikarikaturkan, keluhuranmu direndahkan, kesucianmu diremehkan, kami tak bisa selain mengurut dada.Meski kecil, buku ini mengusung harapan besar; mem- bangkitkan kembali kecintaan serta kebanggaan pembaca—dan ter utama penulis—pada Sang Nabi pembawa rahmat bagi semesta. Meski mini, buku ini tetap memang gul asa mulia; mencerahkan hati dan pikiran orang-orang yang menatap Muhammad dengan sinis, orang-orang yang memandang sosok agung itu bukan dengan mata hati tapi dengan iri-dengki.Kepada Penerbit dan semua pihak yang berperan (langsung atau tidak langsung) atas terbitnya buku ini saya ucapkan terimakasih.Demikian, semoga apa yang tertuang dalam buku ini ber- manfaat bagi pembaca. Dari pembaca, manfaat itu mudah- mudahan memanjang kepada orang yang bertanya tentang isi buku ini, dan begitu seterusnya.Shallû ‘alâ al-Nabi!
ETIKA BERKOMUNIKASI: Kajian Tematik Term Qaul dalam al-Qur’an Badruzaman, Abad
Episteme: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 9, No 1 (2014)
Publisher : Episteme: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai pedoman hidup umat Muslim, al-Qur`an dipercaya mengandung ajaran dasar bagi segenap aktivitas para pemeluknya. Al-Qur`an diyakini bukan hanya berisi ajaran tentang hubungan manusia dengan Tuhannya, tapi juga mengandung aturan tentang hubungan manusia dengan semesta serta dengan sesamanya. Tulisan ini akan mengintrodusir beberapa etika yang harus diindahkan setiap orang dalam berhubungan lewat komunikasi dengan sesamanya. Tulisan difokuskan pada penelusuran term qaul beserta yang mendahului dan atau mengiringinya dalam al-Qur`an. Dengan demikian, secara metode tulisan ini bersifat tematik. Yakni menjadikan term qaul dalam al-Qur`an—dengan berbagai konteks awalnya—sebagai tema kajian, kemudian disarikan nilai-nilai universalnya untuk dijadikan landasan normatif dalam berkomunikasi antar sesama. As a way of Moslems life, Qur’an is believed to contain the basic teaching for all activities of the adherents. Qur`an is believed to not only contain the doctrine of man relationship with God, but also contains rules about the human relationship with the universe and with each other. This study will introduce some of the ethics that should be ignored everyone in touch with each other through communication. This study focused on searching of qaul term and that precede or accompany in the Qur`an. Thus, in metodologically, this study is thematically. Which make qaul term in Qur`an initially-with a variety of contexts-as a theme study, then abstracted universal values to be used as a normative foundation in communication between each other.
MODEL PEMBACAAN BARU KONSEP MAKIYYAH-MADANIYYAH Badruzaman, Abad
Episteme: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 10, No 1 (2015)
Publisher : Episteme: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dakwah Nabi Saw melewati dua periode: Mekkah dan Madinah. Pada tiap periode, ayat-ayat turun memantau, memandu dan merespon apa yang terjadi di ranah realitas. Ayat yang turun pada periode Mekkah dikenal dengan ayat makiyyah, sedangkan yang turun pada periode Madinah disebut ayat madaniyyah. Ayat makiyyah memiliki karakteristik sendiri yang membedakannya dari ayat-ayat madaniyyah. Pun sebaliknya. Karakteristik ini menegaskan satu hal: al-Qur`an memperhatikan dan pada tingkatan tertentu, mengakomodir kekhasan masyarakat yang menjadi objek khithâb-nya. Kajian makiyyah-madaniyyah dari masa ke masa dapat dikatakan tidak menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam hal pendekatan atau sekup pengembangan wawasannya. Pembahasan makiyyah-madaniyyah dalam kajian ulum al-Qur’an pada umumnya masih berkutat di tataran normatif. Padahal sejatinya konsep makiyyah-madaniyyah memberi peluang sangat lebar bagi pengembangan dan pendekatan-pendekatan lainnya seperti pendekatan sosiologis dan historis. Religious proselytizing of Prophet Saw passed two periods: Mecca and Medina. In each period, the verses down monitor, guide and respond to what is happening in the reality. The verse that fell in the period Mecca is makiyyah, while the verse feel in the period Medina is madaniyyah. The verse makiyyah has characteristics that distinguish with the verses madaniyah. This characteristic confirms one thing: al-Qur’an attention and to a certain extent, to accommodate the peculiarities of the people who became the object of his khithâb. The study of makiyyah-madaniyyah from time to time it can be said not indicate any significant changes in term of approach or development insights. In other said, discussion about makiyyah-madaniyyah in the study of ulum al-Qur’an in general are still normative level. Whereas, essentially the concept of makiyyah-madaniyyah give opportunities for development and another approaches such as sociological and historical approach.
THE LOCALITY OF TAFSÎR AL-AZHÂR HAMKA: An Analitical Study of Surah Âli ‘Imrân Interpretation Badruzaman, Abad; Aziz, Thoriqul
ULUL ALBAB Jurnal Studi Islam Vol 21, No 1 (2020): Tafsir and Hadith
Publisher : Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.724 KB) | DOI: 10.18860/ua.v21i1.8703

Abstract

Recently, many tafsîr (interpretive) studies in Indonesia have been directed to the works of "children of the nation" in the local-regional level and Indonesian-language tafsîr. Most of Archipelago-nuanced tafsîr nowadays are used as research objects, from thesis level to dissertation. This article will use Tafsîr al-Azhâr Hamka as the object by emphasizing on the locality aspect by using surah Ali ‘Imrân as the sample. Locality can be included in the Adabî-Ijtima‘î style (social). Therefore, as a foundation methodology, the style will be firstly discussed in general. This study uses analytical descriptive by citing Karl Mannheim’s theory of Sociology. The result is that locality is found in Tafsir al-Azhâr in surah Ali ‘Imrân i.e. locality in language and socio-culture. This locality shows that Hamka is a mufasir (interpreter) who always contextualizes important themes inside a verse so that the meaning and message of the verse are easily understood and applied in the real community where Hamka lives in.
Dari ‘illah ke maqasid: formula dinamisasi hukum Islam di era kekinian melalui pengembangan konsep maqasid Abad Badruzaman
Ijtihad : Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan Vol 14, No 1 (2014)
Publisher : State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijtihad.v14i1.65-80

Abstract

This article has been pushed by the fact that the reading of classical texts does not involve the conciousness that the texts present not in a hollow space, but in a chamber having its own language, culture, values, social institutions and other patterns of social relations. This is a pure library study; all data sources are in the form of written materials related to the topic that has been set. Then these concepts, with the help of modern literature, are developed in line with the present context. Three things formulated in this study are: the concept of ‘illah, maqasid, and the development of maqasid concepts in order to make Islamic law remain dynamic. The content and the range of meaning of each of the five maqasid formulated by al-Syatibi can bedeveloped due to the demands of the present context. Therefore, the development of content and range of meaning is carried out by this paper. The author put a great effort to put a number of Qur’anic verses as the guide and giver of moral messages. Themes such as religious freedom, the maintenance of natural resources from exploitation and extermination, gender equality, nourishing the generations from neglect, oppression and poverty, and must enable the common sense in all things, in the opinion of the author are able to fill all of the content as well as expand the range of concepts of maqasid in the contemporary era.
ETIKA BERKOMUNIKASI: Kajian Tematik Term Qaul dalam al-Qur’an Abad Badruzaman
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 9 No 1 (2014)
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2014.9.1.177-204

Abstract

Sebagai pedoman hidup umat Muslim, al-Qur`an dipercaya mengandung ajaran dasar bagi segenap aktivitas para pemeluknya. Al-Qur`an diyakini bukan hanya berisi ajaran tentang hubungan manusia dengan Tuhannya, tapi juga mengandung aturan tentang hubungan manusia dengan semesta serta dengan sesamanya. Tulisan ini akan mengintrodusir beberapa etika yang harus diindahkan setiap orang dalam berhubungan lewat komunikasi dengan sesamanya. Tulisan difokuskan pada penelusuran term qaul beserta yang mendahului dan atau mengiringinya dalam al-Qur`an. Dengan demikian, secara metode tulisan ini bersifat tematik. Yakni menjadikan term qaul dalam al-Qur`an—dengan berbagai konteks awalnya—sebagai tema kajian, kemudian disarikan nilai-nilai universalnya untuk dijadikan landasan normatif dalam berkomunikasi antar sesama. As a way of Moslems life, Qur’an is believed to contain the basic teaching for all activities of the adherents. Qur`an is believed to not only contain the doctrine of man relationship with God, but also contains rules about the human relationship with the universe and with each other. This study will introduce some of the ethics that should be ignored everyone in touch with each other through communication. This study focused on searching of qaul term and that precede or accompany in the Qur`an. Thus, in metodologically, this study is thematically. Which make qaul term in Qur`an initially-with a variety of contexts-as a theme study, then abstracted universal values to be used as a normative foundation in communication between each other.
MODEL PEMBACAAN BARU KONSEP MAKIYYAH-MADANIYYAH Abad Badruzaman
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 10 No 1 (2015)
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2015.10.1.53-76

Abstract

Dakwah Nabi Saw melewati dua periode: Mekkah dan Madinah. Pada tiap periode, ayat-ayat turun memantau, memandu dan merespon apa yang terjadi di ranah realitas. Ayat yang turun pada periode Mekkah dikenal dengan ayat makiyyah, sedangkan yang turun pada periode Madinah disebut ayat madaniyyah. Ayat makiyyah memiliki karakteristik sendiri yang membedakannya dari ayat-ayat madaniyyah. Pun sebaliknya. Karakteristik ini menegaskan satu hal: al-Qur`an memperhatikan dan pada tingkatan tertentu, mengakomodir kekhasan masyarakat yang menjadi objek khithâb-nya. Kajian makiyyah-madaniyyah dari masa ke masa dapat dikatakan tidak menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam hal pendekatan atau sekup pengembangan wawasannya. Pembahasan makiyyah-madaniyyah dalam kajian ulum al-Qur’an pada umumnya masih berkutat di tataran normatif. Padahal sejatinya konsep makiyyah-madaniyyah memberi peluang sangat lebar bagi pengembangan dan pendekatan-pendekatan lainnya seperti pendekatan sosiologis dan historis. Religious proselytizing of Prophet Saw passed two periods: Mecca and Medina. In each period, the verses down monitor, guide and respond to what is happening in the reality. The verse that fell in the period Mecca is makiyyah, while the verse feel in the period Medina is madaniyyah. The verse makiyyah has characteristics that distinguish with the verses madaniyah. This characteristic confirms one thing: al-Qur’an attention and to a certain extent, to accommodate the peculiarities of the people who became the object of his khithâb. The study of makiyyah-madaniyyah from time to time it can be said not indicate any significant changes in term of approach or development insights. In other said, discussion about makiyyah-madaniyyah in the study of ulum al-Qur’an in general are still normative level. Whereas, essentially the concept of makiyyah-madaniyyah give opportunities for development and another approaches such as sociological and historical approach.
Philanthropic Esoteric in Fayd al-Rahman Interpretation by Kiai Shalih Darat Thoriqul Aziz; Abad Badruzaman
Millati: Journal of Islamic Studies and Humanities Vol 5, No 1 (2020): Trends of Islamic Thought, Literature, and History on The Changing World Order
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/mlt.v5i1.98-119

Abstract

Salah satu ajaran al-Quran yang juga menjadi basis dalam ajaran Islam ialah tentang filantropi. Telah banyak mufasir yang menafsirkan filantropi dalam karyanya masing-masing sebagai jawaban atas problem sosial yang dihadapi pada masanya. Artikel ini membahas tentang filantropi  dalam tafsir Fayd al-Rahman karya Kiai Shalih Darat Semarang. Dalam artikel ini digunakan metode deskriptis-analitis dengan meminjam teori sosiologi pengetahun Karl Mannheim sebagai pisau analisinya. Kiai Shalih Darat memiliki gaya penafsiran yang berbeda dengan mufasir lain yakni dengan ciri khas nuansa sufi-ishari. Kiai Shalih Darat mengaplikasikan corak penafsirannya dalam menafsirkan ayat-ayat filantropi. Bentuk-bentuk filantropi dalam Fayd al-Rahman antara lain zakat, sedekah, dan infaq. Sebagaimana ciri khas penfasiran sufi-ishari, Kiai Shalih Darat menafsirkan ayat-ayat filantropi dengan mengadopsi dua makna sekaligus (dhahir-batin). Namun sisi esoteric (batin) lebih diutamakannya.  Dalam penafsirannya tersebut, Kiai Shalih Darat mencoba untuk menjawab problem sosial yang ia hadapi di kota Semarang. Kehidupan Semarang saat itu identic dengan menjamurnya tindak a-moral pada diri masyarakatnya, sehingga perlu untuk adanya pembinaan hati untuk menjadi masyarakat yang bermoral.
Khiṭāb ‘Ilm Al-Nafs Al-Ṣūfī: Tatabbu' Al-Judhūr Wa Al-Naẓariyyāt Wa Al-Taṭbīqāt Rizqa Ahmadi; Abad Badruzaman
Refleksi Vol 20, No 1 (2021): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v20i1.20435

Abstract

Sufi Psychology studies continue to be explored for the sake of scientific independence. The inhibiting factor of this study is the differences in terms of paradigmatic characters of the two disciplines. The Psychology that tends towards empirical-positivism is different from Sufism which tends to be subjective-personal. However, this fact did not reduce the efforts of the scholars to build a bridge between of the two. Recent psychology studies have placed spirituality as an important element so that the Transpersonal Psychology and Humanistic Psychology schools emerged. Likewise, contemporary Sufism studies are increasingly contextual to various socio-cultural problems and are not limited to the study of the doctrines and teachings of rigorous Sufi orders. Through a literature review that is presented descriptively with a historical-thematic approach, this paper presents Sufi Psychology as a synthesis between the two disciplines. Substantially, Sufi psychology has existed in early Islamic tradition. The nature of Sufi psychology is also scattered in the Sufi tradition that developed in the 3rd and 4th centuries of Hijriyah. As for the epistemic formula, the term Sufi Psychology can be found in the studies of Javad Nur Bakhsy, Robert Frager, Amir Najjar, and Lynn Wilcox. The theme of heart, self, and soul is the main topic of this study. In practical terms, theories of Sufi Psychology can complement findings that have not been widely disclosed in psychology, especially regarding psychiatric symptoms that are observed not only from behavioral assessments, as well as their relationship to transcendent elements.