Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Efektifitas Buli-Buli Hangat Untuk Meningkatkan Suhu Tubuh Pada Pasien Hipotermi Pasca Operasi Hikmal Akbar; Septian Mixrova Sebayang; Wilis Sukmaningtyas
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i1.87

Abstract

Salah satu komplikasi yang muncul setelah tindakan anestesi adalah hipotermi salah satu penghangatan dengan konduksi panas adalah dengan menggunakan terapi kompres hangat. Buli-buli hangat untukpengembalian suhu tubuh. Penelitian tentang efektivitas pemberian buli-buli terhadap hipotermia pada pasien post operasi. Pemberian kompres hangat pada daerah tubuh akan memberikan sinyal ke hipotalamus melalui spinal cord. Ketika reseptor yang peka terhadap panas di hipotalamus dirangsang, sistem efektor mengeluarkan sinyal yang memulai berkeringat dan vasodilatasi perifer. Perubahan ukuran pembuluh darah akan memperlancar sirkulasi oksigenisasi mencegah terjadinya spasme otot, memberikan rasa hangat. Program ini bertujuan untuk mengetahui seberapa efektif pemberian buli-buli hangat pada pasien hipotermi pasca operasi dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga pasien dalam menangani hipotermia melalui metode ceramah, demonstrasi, dan penggunaan media visual seperti video. Jumlah peserta yang terlibat sebanyak 30 Pasien yang diberi pre-test dan post-test untuk mengevaluasi peningkatan suhu tubuh pasien. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam peningkatan suhu tubuh setelah pemberian buli-buli hangat. Dengan adanya program ini, diharapkan dapat meningkatkankeselamatan pada pasien yang mengalami hipotermia post operasi. Selain itu, program ini juga menghasilkan media edukasi seperti video untuk digunakan oleh masyarakat luas.
Gambaran Mual Dan Muntah Pada Pasien Pasca Operasi Dengan Anestesi Umum Pada Bedah Orif Di Rumah Sakit Umum Daerah Koja Jakarta Utara Aslam Amanullah; Danang Tri Yudono; Septian Mixrova Sebayang
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i1.88

Abstract

Pada tindakan bedah ORIF dapat menggunakan anestesi umum dengan kelebihan untuk mendapatkan kenyamanan pada pasiennya. Sebagian besar pasien mengalami pemulihan dari anestesi dan pembedahan tanpa kejadian-kejadian khusus, tetapi ada sebagian kecil yang mengalami komplikasi diantaranya mual dan muntah.Tujuan penelitian untuk mengetahui Mengetahui gambaran mual dan muntah pada pasien pasca anestesi umum pada bedah ORIF berdasarkan karakteristik meliputi usia, jenis kelamin, dan lama durasi operasi di Rumah Sakit Umum Daerah Koja Jakarta Utara. Metode penelitian ini deskriptif, Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, Pendekatan dalam penelitian ini yaitu pendekatan cross sectional. Insturemen yang digunakan adalah dari lembar kuesioner. Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data menggunakan lembar observasi mual dan muntah di ruang pasca anestesi dari 15-60 menit. Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan dari bulan Juli sampai dengan bulan Agustus. Sampel penelitian ini berjumlah 55 responden menggunakan total sampling. Lokasi penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Koja. Data dianalisis menggunakan tehnik analisis univariat. Hasil analisis penelitian menunjukan bahwa ada variasi yang cukup besar dalam usia, jenis kelamin, dan durasi operasi di antara responden. Gejala mual muntah cenderung lebih banyak terjadi pada interval waktu awal (15 menit), dan kemudian menurun secara signifikan pada interval waktu yang lebih lama.
Gambaran Terjadinya Nyeri Tenggorokan Pasca Anastesi General Yang Diberikan Dexametasone Di Charitas Hospital Palembang Ria Anggrina; Septian Mixrova Sebayang; Wilis Sukmaningtyas
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i1.89

Abstract

General anestesi merupakan tindakan menghilangkan rasa sakit secara sentral disertai hilangnya kesadaran (reversible). Tindakan general anestesi terdapat beberapa teknik yang dapat dilakukan adalah general anestesi denggan teknik intravena anestesi dan general anestesi dengan inhalasi yaitu dengan face mask (sungkup muka) dan dengan teknik intubasi yaitu pemasangan endotrecheal tube atau gabungan keduanya inhalasi dan intravena. penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran terjadinya nyeri tenggorokan pasca general anastesi yang diberikan dexametasone di Charitas Hospital Palembang. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan sampel 72 responden post general anastesi.dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa responden dengan rentang usia adalah dewasa muda 20-44 tahun sebanyak 72 peserta (100.0%). Jenis kelamin sebagian besar responden adalah perempuan sebanyak 61 peserta (84.7%) dan laki-laki sebanyak 11 responden (15.3%). Ukuran ETT sebagian besar responden adalah ukuran 7 sebanyak 61 peserta (84.7%) dan ukuran ETT nomor 7,5 sebanyak 11 responden (15.3%), responden dengan nyeri ringan sebanyak 68 responden (94,4%), responden dengan nyeri sedang sebanyak 4 responden (5,6%). Diharapakan pasien dengan post operasi dengan general anastesi menggunakan ETT tidak mengalami nyeri hebat sehingga pasien lebih Nyaman.
Hubungan Waktu Tunggu Terhadap Kecemasan Pada Pasien Sectio Caesarea Dengan Teknik Spinal Anestesi Namilawati Namilawati; Septian Mixrova Sebayang; Arlyana Hikmanti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.297

Abstract

Sectio caesarea dengan teknik spinal anestesi sering menimbulkan kecemasan pada pasien akibat waktu tunggu sebelum operasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan waktu tunggu terhadap tingkat kecemasan pada pasien sectio caesarea dengan teknik spinal anestesi di Rumah Sakit Islam Fatimah Cilacap. Penelitian menggunakan desain kuantitatif observasional dengan pendekatan cross sectional dan jumlah sampel sebanyak 43 responden dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner APAIS dan analisis data dengan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berusia 26-35 tahun (67.4%), belum pernah menjalani pembedahan (53.5%), berpendidikan SMA (62.8%), memiliki waktu tunggu ≤30 menit (76.7%) dan tingkat kecemasan sedang (76.7%). Uji Spearman Rank menunjukkan p value 0.002 (p<0.05) dengan koefisien korelasi r: 0,0452 yang berarti terdapat hubungan signifikan dengan kekuatan korelasi sedang antara waktu tunggu dan kecemasan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi rumah sakit dan penata anestesi dalam mengelola waktu tunggu untuk mengurangi kecemasan pasien.
Pengaruh Audiovisual Persiapan Saddle Block Regional Anestesi Terhadap Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Tingkat II Keperawatan Anestesiologi Universitas Harapan Bangsa Wahyu Dwi Prakoso; Tophan Heri Wibowo; Septian Mixrova Sebayang
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.364

Abstract

Media audiovisual memberikan pesan pembelajaran baik secara audio dan visual yang mencakup konsep, prinsip, persiapan, dan teori aplikasi pengetahuan untuk membantu pemahaman materi pelajaran seperti persiapan saddle block regional anestesi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh audiovisual persiapan saddle block regional anestesi terhadap tingkat pengetahuan mahasiswa tingkat II keperawatan anestesiologi  universitas harapan bangsa. Metode penelitian ini menggunakan quasi-eksperimen, di mana grup kontrol pre-test dan post-test digunakan. Cluster random sampling digunakan untuk memilih 68 mahasiswa dari universitas harapan nasional. Data dikumpulkan melalui kuesioner untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi. Kelompok intervensi sebelum intervensi mean pre test tingkat pengetahuan yaitu 74,15 dan setelah diberikan intervensi mean post test tingkat pengetahuan yaitu 93,91. Kelompok kontrol sebelum diberikan intervensi mean pre test tingkat pengetahuan yaitu 68,82 dan setelah diberikan inervensi, Rata-rata tingkat pengetahuan setelah ujian adalah 76,03. Uji Wilcoxon menunjukkan bahwa kelompok intervensi memiliki p-value 0.000 kurang dari 0,05 membuktikan ada perbedaan antara sebelum dan sesudah penggunaan lalu lintas audiovisual; sebaliknya, kelompok kontrol memiliki p-value 0,06 lebih dari 0,05, yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan sebelum dan sesudah penggunaan lembaran. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa p-value 0,000 kurang dari 0,05 membuktikan bahwa ada perbedaan antara kelompok intervensi dan kontrol. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa ada pengaruh yang signifikan pada peningkatan pengetahuan mahasiswa. Oleh sebab itu, media audiovisual termasuk dalam jenis media yang memiliki kapasitas untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa.
Implementasi Aromaterapi Lavender Terhadap Intensitas Nyeri pada Pasien Post Sectio Caesarea Imas Setiani; Ns. Martyarini Budi Setyawati; Septian Mixrova Sebayang
Jurnal Inovasi Global Vol. 2 No. 8 (2024): Jurnal Inovasi Global
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jig.v2i8.152

Abstract

Sectio caesarea (SC) dapat menyebabkan nyeri akut dan meningkatkan hormon stres, yang berdampak pada takikardia, hipertensi, perubahan respon imun, serta aktivitas sehari - hari, sehingga meningkatkan morbiditas dan mortalitas pasca operasi. Untuk mengatasi nyeri ini, terapi farmakologi dan non farmakologi, termasuk aromaterapi lavender dapat digunakan. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk mengimplementasikan aromaterapi lavender guna mengurangi nyeri pada pasien post SC. Metode yang digunakan meliputi beberapa tahapan: Pre-implementasi: mengukur intensitas nyeri menggunakan Visual Analog Scale (VAS) untuk mendapatkan data awal. Implementasi: memberikan aromaterapi lavender dengan menggunakan diffuser. Lavender essential oil sebanyak 5 tetes dicampur dengan 200 ml air dan dihubungkan ke listrik. Pasien diminta untuk menghirup aroma lavender selama 10-15 menit. Post-implementasi: melakukan observasi ulang dan pengukuran intensitas nyeri setelah pemberian aromaterapi, menggunakan VAS.  Evaluasi: membandingkan intensitas nyeri sebelum dan setelah pemberian aromaterapi untuk menilai efektivitas intervensi. Hasil pengabdian masyarakat yang dilakukan di RSUD 45 Kuningan menunjukkan hasil yaitu dari 30 peserta, sebelum implementasi, 26 peserta (86,7%) mengalami nyeri sedang dan 4 peserta (13,3%) mengalami nyeri berat. Setelah implementasi aromaterapi lavender, 17 peserta (56,7%) mengalami penurunan menjadi nyeri sedang, dan 13 peserta (43,3%) mengalami nyeri ringan. Hasil ini menunjukkan bahwa aromaterapi lavender dapat diaplikasikan dalam menurunkan intensitas nyeri pada pasien post SC.
Hubungan Status Perokok dengan Saturasi Oksigen pada Pasien Intra Operasi dengan General Anestesi Inhalasi Fikri Rizal NH; Septian Mixrova Sebayang; Danang Tri Yudono
Jurnal Inovasi Global Vol. 2 No. 9 (2024): Jurnal Inovasi Global
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jig.v2i9.176

Abstract

Dampak yang mungkin timbul pada pasien perokok adalah penurunan kadar oksigen dalam aliran darah. Kondisi ini dapat mempengaruhi jalannya prosedur anestesi dan pembedahan karena kestabilan hemodinamik, termasuk pentingnya menjaga tingkat saturasi oksigen dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status perokok dengan saturasi oksigen pada pasien intra operasi dengan general anastesi inhalasi di RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimen dengan desain penelitian Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang akan menjalani operasi dengan tindakan general anestesi inhalasi, sampel dalam penelitian ini diambil dengan cara consecutive sampling 69 sampel. Analisa data menggunakan uji Chi square, p-value 0,00 (p-value<0,050. Hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh responden dengan status merokok terdapat 36 orang (52,2%) dengan saturasi <95% dan 3 orang (4,3%) dengan saturasi oksigen ≥95%, responden dengan status tidak merokok diperoleh hasil 1 orang (1,4%) dengan saturasi oksigen <95% dan 29 orang (42%) dengan saturasi oksigen ≥95%,. Dapat disimpulkan dari hasil penelitian Distribusi karakteristik responden tertinggi berdasarkan usia terdapat pada usia 20-44 tahun sebanyak 42 responden (60,9%), berdasarkan jenis kelamin tertinggi pada responden laki-laki sebanyak 39 responden (56,5%), berdasarkan jenis tindakan GA tertinggi pada GA ETT sebanyak 33 responden (47,8%), berdasarkan responden yang memiliki riwayat merokok sebanyak 39 responden (56,5%), berdasarkan saturasi oksigen intra operasi tertinggi pada nilai <95% sebanyak 37 responden (53,6).
Edukasi Dan Implementasi Relaksasi Guided Imagery Untuk Mengurangi Nyeri Pada Pasien Dewasa Post Operasi Viola Santesa; Septian Mixrova Sebayang; Arlyana Hikmanti
Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 6 No 3 (2026): Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/kolaborasi.v6i3.887

Abstract

Introduction: Postoperative pain is a common complication experienced by patients and is generally managed using pharmacological analgesics, which may cause side effects. Therefore, nonpharmacological approaches such as guided imagery are needed as complementary interventions in pain management. Objective: The purpose of this service was to increase knowledge and reduce pain levels among adult postoperative patients through education and implementation of guided imagery at RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. Method: This public service was conducted with 30 adult postoperative patients experiencing mild to moderate pain. The activity included health education using leaflets and the implementation of guided imagery through a 15-minute audio recording. Knowledge levels were assessed using pre-test and post-test questionnaires, whereas pain intensity was measured with the Numeric Rating Scale (NRS). Result: The study showed that patient knowledge increased, with the proportion in the poor category declining from 93.3% and the majority reaching the good category (83.3%). Pain intensity also decreased from moderate pain (70%) to mild pain (76.7%) post-intervention. Conclusion: Guided imagery education and implementation were effective in improving patient knowledge and reducing postoperative pain, supporting its potential use as a nonpharmacological intervention in hospital-based pain management services.
Edukasi Teknik Heimlich Maneuver Untuk Peningkatan Pengetahuan Siswa Dalam Penanganan Pertama Tersedak di SMA Negeri 3 Purwokerto Moh Firhan Bawafi Yulian; Septian Mixrova Sebayang; Indri Heri Susanti
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 4 No. 4 (2026): Juli
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v4i4.1354

Abstract

Proyek pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa di SMA Negeri 3 Purwokerto mengenai teknik Heimlich, yang merupakan teknik pertolongan pertama penting untuk menangani kasus tersedak. Kegiatan ini melibatkan 30 siswa yang merupakan anggota aktif Palang Merah Remaja (PMR), dengan mayoritas peserta berusia antara 15 hingga 17 tahun, didominasi oleh perempuan (70%), dan mayoritas berasal dari kelas XI (73,3%). Edukasi disampaikan melalui media PowerPoint dan leaflet edukatif, serta metode demonstrasi dan visual interaktif yang melibatkan simulasi langsung. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan peserta setelah edukasi diberikan. Sebelum edukasi, hanya 23,3% peserta yang memiliki pengetahuan dalam kategori baik, sedangkan setelah edukasi, 90% peserta berada pada kategori baik. Selain itu, keterlibatan aktif peserta dalam simulasi memperkuat kemampuan mereka dalam menerapkan langkah-langkah Heimlich Maneuver secara tepat dan tanggap dalam situasi darurat. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan edukasi berbasis media visual dan demonstrasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan serta keterampilan siswa PMR dalam menangani kasus tersedak.
Analisis faktor - faktor yang berhubungan dengan kejadian hipotensi pasca spinal anestesi pada pasien Sectio Caesarea Sumarno; Septian Mixrova Sebayang; Made Suandika
THE JOURNAL OF Nursing Management Issues Vol. 3 No. 1 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/nmi.v3i1.3371

Abstract

Background: Hypotension is a common complication following spinal anesthesia in patients undergoing cesarean section and can affect both the mother and the fetus. Purpose: To identify the factors associated with the incidence of hypotension following spinal anesthesia at Hajjah Andi Depu General Hospital in Polewali Mandar. Method: Observational analytical design with a cross-sectional approach. The study sample consisted of 129 patients undergoing cesarean section under spinal anesthesia, selected using purposive sampling. Data were collected through observation and documentation, including age, preload fluid volume, intraoperative bleeding, and incidence of hypotension. Data analysis used the Chi-Square test and Fisher’s Exact Test with a significance level of p<0.05. Results: Hypotension occurred in 67 respondents (51.9%). There was a significant association between age (p<0.001), preload volume (p=0.038), and intraoperative blood loss (p<0.001) and the incidence of hypotension following spinal anesthesia. The risk of hypotension was higher in patients with a preload of <500 ml and intraoperative blood loss of ≥500 ml. Conclusion: Age, preload volume, and intraoperative blood loss were associated with the incidence of post-spinal anesthesia hypotension in patients undergoing cesarean section.   Keywords: Cesarean Section; Fluid Preload; Hypotension; Spinal Anesthesia.   Pendahuluan: Hipotensi merupakan komplikasi yang sering terjadi setelah spinal anestesi pada pasien Sectio Caesarea dan dapat memengaruhi kondisi ibu maupun janin. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipotensi pasca spinal anestesi di RSUD Hajjah Andi Depu Polewali Mandar. Metode: Desain analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 129 pasien Sectio Caesarea dengan spinal anestesi yang dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi meliputi usia, jumlah cairan preload, perdarahan intraoperatif, dan kejadian hipotensi. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan Fisher Exact Test dengan tingkat kemaknaan p<0.05. Hasil: Kejadian hipotensi terjadi pada 67 responden (51.9%). Terdapat hubungan bermakna antara usia (p<0.001), jumlah cairan preload (p=0.038), dan perdarahan intraoperatif (p<0.001) dengan kejadian hipotensi pasca spinal anestesi. Risiko hipotensi lebih tinggi pada pasien dengan preload <500 ml dan perdarahan ≥500 ml. Simpulan: Usia, jumlah cairan preload, dan perdarahan intraoperatif berhubungan dengan kejadian hipotensi pasca spinal anestesi pada pasien Sectio Caesarea.   Kata kunci: HipotensI; Preload Cairan; Sectio Caesarea; Spinal Anestesi.