Claim Missing Document
Check
Articles

PENGGUNAAN LAHAN DAN MONOGRAM BERBASIS CITRA DRONE DI WILAYAH KAMPUS AKADEMI KOMUNITAS PETERNAKAN KECAMATAN JORONG KABUPATEN TANAH LAUT Muhammad Taufiqul Hakim; Suyanto Suyanto; Udiansyah Udiansyah
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i2.12308

Abstract

The land use map produced from remote sensing technology was made with unmanned aerial vehicles which are very important as the basis for planning. The process of interpreting drone images, there are still problems due to the unavailability of drone image monograms. This research aims to analyze land use and obtain a monogram model using drone imagery in The Campus Area of Farming Community Academy Jorong Subdistrick Tanah Laut Regency. The primary data includes parameters: object identification, interpretation key description, land use type, coordinate position and area. Secondary data was obtained from searching literature and reading sources related to research and supporting data. Determining the sampling point using purposive sampling technique. Purposive sampling is a non-random sampling technique in which the researcher determines sampling by establishing special characteristics or with certain considerations. In this study the sampling point was determined by digitizing results. The results of land use that can be identified from drone imagery at the study site with an area of 10.3 ha obtained 7 types, namely buildings, secondary natural forest, plantation forest, mixed garden, open land, palm plantations, and ponds the largest land use is oil palm plantations with a percentage of 64.76% because based on the spatial layout of the research location it is included in the plantation area plantation forest land use with a percentage of 13.63% and the smallest land use is a pond with a percentage of 0.25%. Drone imagery has many advantages over other images because it makes it easier for the interpreter to recognize an object that is more detailed and sharp, from 60 points an accuracy level of 92% is obtained from the total points. Based on the interpretation of objects from drone imagery, 9 models of land use monograms were obtained and tree identification obtained 25 tree speciesPeta penggunaan lahan yang dihasilkan dari teknologi penginderaan jauh dibuat dengan pesawat tanpa awak (drone) yang sangat penting menjadi dasar penyusunan perencanaan. Proses interpretasi citra drone masih terkendala karena tidak tersedianya monogram citra drone. Peneltian ini bertujuan menganalisis penggunaan lahan dan memperoleh model monogram menggunakan citra drone di Wilayah Kampus Akademi Komunitas Peternakan Jorong Kabupaten Tanah Laut. Data primer meliputi parameter: identifikasi objek, deskripsi kunci interpretasi, tipe penggunaan lahan, posisi koordinat dan luasannya. Data sekunder didapatkan dari penelusuran literatur dan sumber bacaan yang berhubungan dengan penelitian dan data penunjangnya. Penentuan titik sampling menggunakan tenik purposive sampling. Purposive sampling merupakan teknik non random sampling dimana peneliti menentukan pengambilan sampel dengan cara menetapkan ciri-ciri khusus atau dengan pertimbangan tertentu. Pada penelitian ini titik sampling ditentukan dengan hasil digitasi. Hasil penggunaan lahan yang dapat diidentifikasi dari citra drone pada lokasi penelitian dengan luas 10,3 ha didapatkan 7 jenis, yaitu bangunan, hutan alam sekunder, hutan tanaman, kebun campuran, lahan terbuka, perkebunan sawit, dan kolam penggunaan lahan yang terluas perkebunan sawit dengan persentase 64,76 % karena berdasarkan dengan tata ruang wilayah lokasi penelitian termasuk kedalam kawasan peruntukan perkebunan. Penggunaan lahan hutan tanaman dengan persentase 13.63% dan penggunaan lahan paling kecil yaitu kolam dengan persentase 0,25 %. Citra drone memiliki banyak kelebihan dari citra yang lain karena dapat mempermudah interpreter untuk mengenal suatu objek yang lebih detail dan tajam, dari 60 titik didapatkan tingkat ketelitian sebesar 92 % dari total keselurahan titik. Berdasarkan penafsiran objek dari citra drone didaptkan 9 model monogram penggunaan lahan dan identifikasi pohon didapatkan 25 jenis pohon.
KESALAHAN POSISI PENGUKURAN PAL BATAS KHDTK ULM PADA PENGGUNAAN GPS GARMIN TIPE GPSMAP 60s DAN 64s TERHADAP GPS TRIMBLE GeoXT 3000 Series Agus Wardoyo; Udiansyah Udiansyah; Suyanto Suyanto
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i4.8888

Abstract

The satellite system used for navigation and positioning is called the Global Positioning System (GPS). The GPS Garmin 60s and 64 have similar weaknesses to other GPS models, but their main advantage is their user-friendly interface, allowing anyone to operate them and quickly determine their geographic coordinates. On the other hand, the Trimble GeoXT 3000 Series offers the advantage of higher GPS accuracy. It includes advanced features such as integrated cellular data, which enables voice calls using a handheld device, and it can also be used for taking photos.  The research aims to analyze the positional errors of the Garmin GPS models 60s and 64s compared to the Trimble GeoXT 3000 Series in boundary measurement within the ULM KHDTK area. The data processing method involves using descriptive statistics to determine the differences in actual position distances between the two sets of sampled coordinate points. The primary data collected consists of 40 sample points spaced 100 meters apart.  The results of this study indicate that the positional errors of the GPSMAP 60s and GPS Garmin 64s devices compared to the Trimble GeoXT 3000 Series have mean values of 6.747 meters and 5.318 meters, respectively. With a 95% confidence level, the range of positional errors is between 6.10 meters and 7.39 meters for the GPSMAP 60s and between 4.63 meters and 6.01 meters for the GPS Garmin 64s.Sistem satelit sebagai navigasi dan penentuan terhadap posisi yang dimiliki dan banyak negara yang mengelolanya yaitu Global Positioning System (GPS). Kelemahan GPS Garmin 60s dan 64 hampir sama dengan GPS model lainnya dimana kelebihannya sendiri yaitu setiap orang yang berada di manapun bisa mengoperasikan GPS karena mudah digunakan, dan bisa mengetahui posisi koordinat geografis dengancepat. Namun, kelebihan Trimble GeoXT 3000 Series yaitu posisi GPS yang didapat lebih tinggi dimana fitur canggih yang tersedia berupa data seluler yang terintegrasi yang bisa digunakan sebagai panggilan suara dengan satu alat genggam serta bisa digunakan untuk pengambilan foto. Tujuan dilakukannya penelitian yaitu untuk menganalisis kesalahan posisi penggunaan alat GPS TIPE 60s dan 64s GARMIN terhadap GPS TRIMBLE GeoXT 3000 Series pada pengukuran pal batas. Wilayah KHDTK ULM. Metode pengolahan data menggunakan statistik deskriptif untuk mengetahui perbedaan jarak posisi yang nyata pada rata-rata dari kedua sumber sampel titik koordinat tersebut. Data yang dikumpulkan yaitu data primer berupa titik sampel sebanyak 40 titik yang berjarak 100 m. Hasil penelitian ini yaitu kesalahan posisi alat GPS GPSMAP 60s dan GPS Garmin 64s terhadap Trimble GeoXT 3000 Series dengan nilai rata-rata hitung sebesar 6,747 m dan 5,318 m, dan kisaran dengan tingkat kepercayaan 95% maka kisaran kesalahan posisi sebesar 6,10 m sampai dengan 7,39 m pada GPSMAP 60s. 4,63 m sampai 6,01 m pada GPS Garmin 64s.
EVALUASI POSISI SEBAGIAN PAL BATAS KAWASAN HUTAN DENGAN TUJUAN KHUSUS PENDIDIKAN DAN PELATIHAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Dicky Ganesa; Suyanto Suyanto; Syam'ani Syam'ani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 3 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 3 Edisi Juni 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i3.9171

Abstract

 Re-evaluation of forest area boundaries is an important process in forest management that aims to ensure that the forest area boundaries determined are still relevant and in accordance with current conditions. Based on the results of boundary reconstruction, it shows that the location of the ULM Special Purpose Forest Area (KHDTK) boundary pal in the field does not follow natural boundaries such as foothills and ridges but in the middle of the hillside. This makes it difficult to ascertain the location of the boundary pal that can be known by field officers and the public. The purpose of this study was to analyze the results of the installation of KHDTK boundary pals (boundary reconstruction) against the characteristics of natural boundaries in the KHDTK area of Lambung Mangkurat University. This study used overlay method combined with field observation. The results of this study showed that at 76 coordinate points of the boundary pal position, there were findings that showed a discrepancy between the position of the boundary pal that had been set and the proper limit. Boundary Pal Position in Accordance with Predetermined Limits: Of the 76 coordinate points, there are only 8 boundary pal positions that correspond to the predetermined limit. A total of 49 pieces with an average distance difference of approximately 53.41 meters. Boundary pals are found outside the forest area and there are 19 boundary pals.Evaluasi ulang tata batas kawasan hutan adalah proses yang penting dalam pengelolaan hutan yang bertujuan untuk memastikan bahwa batas kawasan hutan yang ditetapkan masih relevan dan sesuai dengan kondisi terkini. Berdasarkan hasil rekontruksi batas menunjukan bahwa lokasi pal batas Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) ULM di lapangan tidak mengikuti batas alam seperti kaki bukit dan punggung bukit melainkan pada tengah lereng bukit.  Hal tersebut menyulitkan kepastian lokasi pal batas yang dapat dikenal oleh petugas lapangan maupun masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hasil pemasangan pal batas KHDTK (Rekonstruksi batas) terhadap karakteristik batas alam di wilayah KHDTK Universitas Lambung Mangkurat. Penelitian ini menggunakan metode overlay dikombinasikan dengan  observasi lapangan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada 76 titik koordinat posisi pal batas, terdapat temuan yang menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara posisi pal batas yang telah ditetapkan dengan batas yang semestinya. Posisi Pal Batas yang Sesuai dengan Batas yang Telah Ditentukan: Dari 76 titik koordinat, hanya terdapat 8 posisi pal batas yang sesuai dengan batas yang telah ditetapkan. Sebanyak 49 buah dengan rata-rata selisih jarak kurang lebih 53,41 meter. Pal batas ditemukan berada diluar kawasan hutan dan terdapat 19 buah pal batas.
Einventory of Land Ownership Based on Drone Images in Free Space Transmission Line 150 Kv High Voltage Airlines Kandangan – Incomer Tower T.01 – T.11 Inventarisasi Kepemilikan Tanah Berbasis Citra Drone Di Ruang Bebas Jalur Transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi 150 KV Kandangan - Incomer Tower T.01 - T.11 Abdul Halid Ary; Mufidah Asy'ari; Suyanto Suyanto
Jurnal Sylva Scienteae Vol 8, No 3 (2025): Jurnal Sylva Scienteae Vol 8 No 3 Edisi Juni 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v8i3.9506

Abstract

ABSTRACT. Forest area is one of the uncertainties that hinders the effectiveness of forest governance. This uncertainty triggers land tenure conflicts with various parties. Forest land tenure issues are related to the implementation of development programs in the electricity sector. Expansion of SUTT network transmission across land, buildings and residents' crops so residents are given compensation and compensation. This study aims to analysis data on land ownership under the transmission line of SUTT 150 kV Kandangan – Incomer from T.01 - T.11. This study used an inventory method using drone imagery in the Kandangan and Padang Batung Districts. The results of study regarding the inventory of drone image-based land ownership in free space of SUTT 150 kV Kandangan - incomer from tower t.01 - t.11 totaled 113 people including 1 PLN land and 1 government land. Land legality status in the form of SPPT totaled 91 people with 82%, SHM totaled 19 people with 17% and grant letters 1 person with 1%. There are 5 buildings, 2 permanent buildings (P), 1 semi-permanent building (SP) and 2 non-permanent buildings (NP). The largest land ownership boundary area T.09 – T.10, that is 2,030.26 m2, The smallest land ownership boundary area T.07 – T.08, that is 12.37 m2. There are 121 function areas consisting of 10 residential areas (KPPm), 87 wetland agriculture (PLB) and 24 dry land agriculture (PLK). The results of this study are useful for PT PLN (Persero) as a provider of compensation funds so that these funds are received by the residents concerned.ABSTRAK. Areal kawasan hutan adalah salah satu ketidakpastian yang menghambat efektifitas tata kelola hutan. Ketidakpastian ini memicu konflik tenurial lahan dengan berbagai pihak. Persoalan tenurial lahan hutan berkaitan dengan pelaksanaan program pembangunan di bidang kelistrikan. Perluasan transmisi jaringan SUTT melintasi tanah, bangunan dan tanaman warga sehingga untuk mempercepat pembebasan lahan, warga diberikan ganti rugi dan kompensasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis data kepemilikan tanah yang berada di bawah jalur transmisi SUTT 150 kV Kandangan – Incomer dari T.01 - T.11. Penelitian ini menggunakan metode inventarisasi menggunakan citra drone pada wilayah Kecamatan Kandangan dan Padang Batung. Hasil penelitian mengenai inventarisasi kepemilikan tanah berbasis citra drone di ruang bebas jalur transmisi SUTT 150 kV kandangan – incomer dari tower t.01 – t.11 berjumlah 113 orang termasuk 1 tanah PLN dan 1 tanah pemerintah. Status legalitas tanah berupa SPPT berjumlah 91 orang dengan persentase 82%, SHM berjumlah 19 orang dengan persentase 17% dan surat hibah 1 orang dengan persentase 1%. Terdapat 5 bangunan yaitu 2 bangunan permanen (P), 1 bangunan semi permanen (SP) dan 2 bangunan non permanen (NP). Luas batas kepemilikan tanah terbesar terdapat pada T.09 – T.10 yaitu 2.030,26 m2 sedangkan luas batas kepemilikan tanah terkecil terdapat pada T.07 – T.08 yaitu 12,37 m2. Fungsi kawasan berjumlah 121 fungsi terdiri dari 10 kawasan peruntukkan permukiman (KPPm), 87 pertanian lahan basah (PLB) dan 24 pertanian lahan kering (PLK). Hasil dari penelitian ini berguna untuk PT.PLN (Persero) sebagai pemberi dana kompensasi agar dana tersebut diterima oleh warga yang bersangkutan.
Co-Authors Abdul Ghofur Abdul Halid Ary Achmad Syamsu Hidayat Agus Hadi Pranata Agus Tri Djayanto Agus Wardoyo Ahmad Jauhari Ahmad Kurnain Aipansyah - Athailllah Mursyid Atikah Wulansari Bambang Joko Priatmadi Bambang Wira Adi Saputra Danang Biyatmoko Devy Ryas Ayu Novryanti Dicky Ganesa Didi Julkurnain Didik Triwibowo Dika Aditya Nugraha Dimas Zulfian Nugroho Eko Rini Indrayatie Emmy Lilimantik Emmy Sri Mahreda Fatmawati Fatmawati Febtu Arisandi Gregorius Teofilus Monroe Gusti M. Hatta Gusti Rusmayadi Gusti Syeransyah Rudy Hafizianor Hafizianor Idiannor Mahyudin Ilma Hadryanti Isma Sari Isma Sari Jeriels Matatula, Jeriels Joko Agus Pamuji Wibowo Kissinger Kissinger Kurniawan Basuki Melitania Puspitasari Mochamad Arief Soendjoto Mochamad Arief Soendjoto Mochamad Arief Soendjoto Mochamad Arief Soendjoto Mufidah Asy’ari Muhammad Ruslan Muhammad Syamsudin Noor Muhammad Taufiqul Hakim Mustika Wati Nandang Romansah Nor Hamdi Norhalimah Norhalimah Nur Fauzan Nurul Hasanah Pandu Yudha Adi Putra Wirabuana Regina Amelia Putri Rif’ah Hakim Rina Kanti Saifullah Saifullah Satria Purbaya Selamet Adie Rachman Septrianetha Septrianetha Setia Budi Peran Setya Etika Mulyasari Suhaili Asmawi Supandi Supandi Supandi Supandi Syaiful Bahri Syamani D. Ali syamsu Alam Syarifuddin Kadir Taufik Hidayat Tomi Utomo Ubai Dillah Udiansyah Udiansyah, Udiansyah Wahyuni Ilham Wiji Astutik Alawiyah Yudha Hadiyanto Eka Saputra Yudha Hardiyanto Eka Saputra Yudha Hardiyanto Eka Saputra Yusanto Nugroho Yusanto Nugroho Yusanto Nugroho Yusanto Nugroho Yusuf Yuliadi